Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
LETA BERTEMU TEMAN LAMA


__ADS_3

Leta memarkir mobilnya diparkiran sebuah mall di Jakarta.


"Ayok mbak turun." ajak Leta melepaskan seatbelnya dan membuka pintu mobil, Naya melakukan hal yang sama.


Naya memang pernah ke mall bersama dengan Rafa, meskipun begitu dia tetap saja takjub, mending cuma takjub, ini sampai bibirnya terbuka.


"Bener kata mas Rafa, mbak Naya ini kampungan sekali orangnya." batin Leta melihat ekspresi berlebihan Naya.


"Mbak Leta, ini mallkan, Naya pernah kemari dengan mas Rafa." Naya memberitahu Leta.


"Iya mbak, biasanya kalau Leta badmood atau bete gitu, mall bisa bikin mood Leta kembali membaik."


"Kok bisa gitu."


"Ya bisalah, disinikan banyak hal-hal yang membuat wanita happy, shoping misalnya, atau gak nyalon, itu bisa membuat kita bahagia dan melupakan kesuntukan." papar Leta.


"Gitu ya."


"Ayok mbak masuk." Leta menarik tangan Naya memasuki mall tersebut.


Begitu tiba didalam, Naya menunjuk lift dan berkata, "Itu lift mbak, Naya pernah naik lift."


"Duhhh mbak Naya, kok noraknya kebangetan sieh." Leta jadi malu.


Leta melihat sekelilingnya, beberapa pengunjung tengah memperhatikan mereka, lebih tepatnya sieh memperhatikan Naya, mungkin dalam hati mereka berfikir begini, "Norak banget, baru pertama datang ke mall kali."


Leta tersenyum malu sambil menurunkan tangan Naya yang yang menunjuk lift dengan heboh, "Mbak, jangan heboh begitu, kita jadi pusat perhatian tuh." bisik Leta.


"Eh, iya maaf."


Setelah berhasil mengkondisikan kehebohan Naya, Leta kembali berujar, "Mbak, kita makan dulu saja ya, Leta laper nieh, belum sempat makan tadi, dari kampus langsung jemput mbak."


"Baiklah."


Mereka menaiki lift menuju lantai dua, sambil berjalan Naya bercloteh, "Ketika mas Rafa ngajak Naya, dia ngajak Naya makan direstoran korea gitu."


"Oh ya."


"Hmmm, tapi Naya gak suka masakan korea, cara makannya juga susah, pakai dijepit-jepit gitu pakai tusukan."


Leta terkekeh mendengar cerita Naya, "Itu namanya sumpit mbak, orang Korea memang makannya pakai sumpit gitu, gak hanya mbak sieh yang gak bisa, banyak orang Indonesia juga yang gak bisa pakai sumpit."


"Kita gak makan disanakan mbak."


"Gak donk, Leta lebih suka masakan Indonesia ketimbang makanan luar."


Mereka memasuki salah satu restoran, dan setelah selesai mengisi perut mereka mulai berjalan-jalan keliling mall, memasuki toko ke toko lainnya, Leta mengajak Naya memasuki toko pakain dalam wanita.


"Mbak mau beli pakai dalam."


"Iya." ujar Leta mulai memilih bra.


Naya sieh gak berniat membeli pakaian dalam, tapi daripada bengong dia ikut-ikutan melihat-lihat model pakain dalam.

__ADS_1


"Ya ampun, sexy banget." ujar Leta memegang sebuah lingere transpran, "Coba lihat mbak, bagus bangetkan."


Naya berjengit melihat apa yang dipegang oleh Leta dengan penuh kekaguman, "Apanya yang bagus mbak, pakai itukan sama saja dengan tidak pakai baju, bisa masuk angin" ujar Naya dengan polosnya.


"Astagaaa, mbak Naya ini bener-bener polos mutlak deh." lirih Leta dalam hati, "Gimana ya ngejelasinnya." Leta terlihat berfikir, "Gini lho mbak, ini namanya lingere, biasanya dipakai oleh wanita untuk menggoda suaminya, supaya hasrat suami bangkit gitu lho."


"Ngapain pakai digoda segala sieh, orang sudah sah juga."


Oke deh, sampai sini Leta sepertinya tidak punya kata-kata lagi untuk menjelaskan maksudnya pada Naya, dia akhirnya berkata, "Karna Leta gak bisa hadir pada waktu pernikahan mbak dan belum sempat memberikan hadiah sama mbak, Leta bakalan menghadiahkan lingere ini ke mbak."


Naya buru-buru menolak, "Eh, gak usah mbak gak perlu, Naya gak perlu baju begituan."


"Pokoknya Leta gak mau mendengar penolakan titik, mbak harus menerima." tandas Leta gak mau ditolak.


Yahh, apa boleh buat, Naya dengan terpaksa menerima pemberian Leta.


Dan sesi terakhir dari kegiatan jalan-jalan tersebut adalah Leta mengajak Naya memasuki sebuah salon yang cukup mewah, Leta mengajak Naya melakukan serangkain perawatan, mulai dari crimbat, pedi dan menicure, sampai perawatan wajah.


"Wajah Naya agak putihan mbak." komentar Naya melihat tampilan dirinya dicermin begitu mereka selesai melakukan sesi perawatan.


"Kalau mbak rutin perawatan, maka mbak akan mendapatkan kulit glowing seperti Leta."


"Gitu ya, tapi gak enak sama mas Lio, ntar uangnya habis lagi kalau Naya sering perawatan."


"Ya Allah mbak, berapa kali sieh Leta bilang, kalau mas Lio itu kaya raya, jadi mbak beli salon sekalian pegawainya juga mas Lio gak bakalan jatuh miskin."


****


Dan mereka keluar dari salon dengan wajah cantik dan glowing, tangan mereka juga sarat dengan paperbag belanjaan.


"Boleh."


Mereka berselviria didepan salon.


"Leta." sebuah sapaan yang menghentikan aktifitas mereka.


Naya menurunkan ponselnya yang sudah siap untuk menjepret, dia menoleh pada seseorang yang tadi menyapa Leta.


"Boy." desis Leta terlihat antusias, "Ini elo, astagaaa." Leta langsung deh memeluk laki-laki yang dipanggil Boy itu dan sik Boy juga balas memeluk Leta.


"Lo gak pernah berubah ya sejak SMA, masih saja doyan selvi disemua tempat, gak heran gue temen-temen manggil lo ratu eksis." komentar Boy.


"Harus donk, sekalian ngasah bakat gue yang ingin jadi foto model." balas Leta, "Lo apa kabar Boy, sejak lulus SMA gue gak pernah denger kabar lo."


"Gue baik, gue selama ini kuliah diluar negeri."


"Wieehh keren lo, lo pulang liburan ya."


"Gak."


"Lha terus, ngapa lo di Jakarta, penelitian."


"Gak juga, gue gak betah diluar negeri, rencananya sieh ingin pindah kuliah diJakarta saja."

__ADS_1


"Lo aneh, lo yang punya kesempatan kuliah diluar malah ingin pindah, lha gue yang ingin kuliah diluar malah gak diizinin sama ortu gue."


"Ya maklumlah orang tua lo gak ngizinin, lo kan cewek, dunia luar gak baik bagi cewek."


Leta dan Boy adalah teman semasa SMA, jadi wajarlah mereka saling menceritakan kisah masing-masing setelah beberapa bulan tidak bertemu, sehingga gak heran Naya jadi dikacangin.


"Orang tua lo setuju lo pindah."


"Gak setuju sieh awalnya, tapi ya akhirnya dengan terpaksa deh mereka ngizinin gue pindah, daripada disana gue kuliahnya gak bener."


"Bener juga."


"Oh ya, ngomong-ngomong lo sama siapa tuh, temen kuliah lo, gak mau dikenalin nieh sama gue." Boy mengedikkan dagunya ke arah Naya.


"Oh iya, jadi lupa gue." Leta baru ingat dengan Naya, "Boy ini Naya, Naya ini Boy." Leta memperkenalkan dua orang tersebut.


Naya dan Boy saling berjabat tangan, untuk beberapa detik Boy tidak melepas pandangannya pada Naya, hal itu membuat Naya risih, dia menunduk.


Leta memukul lengan Boy, "Jangan mandangnya sebegitu rupa donk, mbak Naya ini sudah ada yang punya." beritahu Leta ambigu.


"Sorry sorry, habisnya pangling dengan wajah glowingnya." canda Boy.


"Mas Boy bisa saja, mbak Letakan jauh lebih glowing."


"Karna udah kebiasaan lihat Leta, jadi keglowingannya tidak berpengaruh sama sekali sama gue."


"Kampret ya lo Boy." umpat Leta,


"Eh Boy, minta no HP lo donk." ujar Leta yang membuat Boy mengalihkan perhatiannya dari Naya.


"Boleh." Boy menyebut sederet angka, dia juga meminta no Leta.


"Apa gue boleh minta nomernya Naya."


"Lo minta nomernya Naya, buat apa, jangan macam-macam lho Boy, tadikan udah gue bilang mbak Naya udah ada yang punya."


Jangan berfikiran negatif gitu donk Let, gue minta nomernya Naya, siapa tahu aja gitu bisa jadi teman."


"Gimana mbak Naya, boleh gak."


Naya terlihat berfikir sejenak sebelum menjawab, "Boleh deh."


"Kalau gak ikhlas juga gak apa-apa." goda Boy.


"Naya ikhlas kok mas."


"Duhhh, dipanggil mas."


"Gak sopan kalau manggil nama saja."


"Bener juga, lo juga Leta, lo seharusnya manggil gue mas Boy, bukan Boy doank."


"Dihhh, ogah."

__ADS_1


****


__ADS_2