
Lio telungkup ditempat tidur bersiap untuk mendapat pijitan dari Naya, Naya duduk dengan gugup disamping Lio memandang punggung kekar Lio.
"Lo tidur atau gimana sieh, lama amet." tuntut Lio gak sabar.
"Eh, iya mas." Naya menuangkan minyak urut ditangannya, dengan tangan agak gemetar menyentuh punggung Lio.
Punggung itu terasa keras, Naya mulai memijit, "Enak juga pijitan elo, kenapa gak dari kemarin-kemarin gue nyuruh elo mijitin gue, seenggaknya elo ada gunanya sekarang."
Naya tidak menjawab karna sibuk menenangkan debaran jantungnya yang bertalu-talu.
Lio kembali berkata, "Elo biasa mijit ya."
"Mmm, iya dulu, Naya suka mijitin ibu dikampung."
"Bukan jadi tukang pijit kelilingkan mijitin laki-lakikan."
"Bukan mas."
"Baguslah, berarti gue laki-laki pertama yang lo pijit."
"Bukan."
"Terus, siapa, pacar lo." tanya Lio jengkel.
"Bukan mas, mana berani Naya mijitin mas Wahyu, bukan muhrim." Naya keceplosan menyebut nama Wahyu.
"Wahyu." ulang Lio tidak suka, "Itu nama pacar lo."
"Mantan mas, kan sekarang Naya sudah jadi istri mas Lio."
"Tapi lo masih cintakan sama dia."
Naya gak bisa menjawab, dia terdiam sesaat, "Kenapa lo diam, ini berarti lo masih cinta sama mantan lo itu." tuntut Lio ingin mendapat jawaban.
Sebenarnya kalau mau jujur, Naya belum sepenuhnya melupakan Wahyu, tapi demi menjaga perasaan Lio Naya berbohong, "Gak mas."
Entah kenapa, mendengar pengakuan Naya membuat Lio merasa tenang, padahalkan dia gak cinta sama Naya, dia sendiri sampai saat ini masih berhubungan dengan Cleo dan tidak pernah berencana melepas Cleo, emang egois.
"Terus, siapa laki-laki yang pernah lo pijit selain gue." masih kukuh ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaannya barusan.
"Bapak mas."
Tanpa peringatan Lio berbalik dengan tubuh telentang, hal itu membuat Naya gelagapan, "Bagian depan juga donk lo pijitin."
"Eh, iya mas."
"Lo gugup ya." ujar Lio melihat tingkah Naya.
Naya tidak menjawab, dia menunduk tidak berani menatap mata tajam Lio.
"Kenapa nieh anak jadi sangat menggemaskan begini ya, jadi gemes ingin meluk." lirih Lio dalam hati fokus memandang Naya.
Terlintas ide iseng di otak Lio untuk menggoda Naya, ketika Naya akan menyentuh dada Lio untuk mengoles minyak, Lio kemudian menarik tangan Naya, sehingga reflek Naya jatuh menimpa tubuh Lio, Naya buru-buru berupaya untuk bangun, namun ternyata Lio melingkarkan tangannya kepinggang Naya yang membuat tubuh Naya terkunci, "Mas, lepasin."
__ADS_1
"Gak mau, gue mau meluk."
"Ihhh, lepasin mas, mas jangan kurang ajar." Naya memukul dada Lio.
"Diam kenapa sieh, guekan suami lo, jadi berhak kalau mau ngapa-ngapain lo."
Lio merubah posisi mereka, dan saat ini Nayalah yang berada dibawah, kalau sudah begini mana bisa Naya melawan karna berada dalam kurungan Lio.
Mata mereka beradu, Naya sudah tidak bisa berontak lagi, untuk pertama kalinya Lio bisa melihat dengan jelas mata bening dan polos Naya, mata hitam itu membuatnya terhipnotis, dia yang awalnya berniat iseng kini malah jatuh dalam perangkapnya sendiri, Lio bisa merasakan degup jantung Naya yang bertalu-talu karna posisi mereka yang saling menempel, dari mata polos itu Lio beralih memandang bibir kemerahan tanpa pulasan lipstik itu, dan itu membuatnya ingin kembali merasakan manisnya bibir ranum milik Naya, Naya pasrah, dia memejamkan matanya ketika wajah Lio mendekat, ketika bibir mereka sudah bersentuhan, deringan ponsel milik Lio mengganggu acara sakral tersebut.
Diluar kesadarannya Lio mengumpat, "Sialan, siapa sieh."
Lio menjauh dari tubuh Naya, mengambil ponselnya yang diletakkan dinakas.
"Cleo." gumamnya tanpa suara, dia kemudian menjauh supaya Naya tidak bisa mendengar pembicaraannya dengan Cleo.
Hal barusan membuat Lio agak merasa bersalah pada Cleo, dia sudah berjanji tidak akan pernah menyentuh Naya, tapi apa yang dia lakukan, bahkan ketika dalam kondisi sadarpun dia ingin menyentuh Naya.
Naya memandang Lio yang mondar-mandir dibalkon, bertanya-tanya dengan siapakan Lio berbicara, dan dilihat dari lagaknya, Naya berfikir mungkin terjadi sesuatu yang penting.
Sesekali Lio memandang ke arah Naya.
"Iya Cle, masa-masa ini aku gak bisa nemuin kamu, kamu tahukan kakek baru pulang dari rumah sakit, aku gak bisa ninggalin dia."
"Itu cuma alasan kamu doank, di rumah kamukan banyak orang yang akan jagain kakek kamu, bilang saja kamu ingin menghabiskan waktu berdua dengan istri kampungan kamu itu." terdengar sahutan dari Cleo.
"Bukan begitu Cle, tapi aku....Cle, Cleo." panggil Lio, ternyata sambungan sudah diputuskan secara sepihak oleh Cleo, "Brengsek." umpat Lio.
"Mas mau kemana." Naya akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Bukan urusan kamu." tandas Lio pedas.
Hal tersebut membuat Naya jadi sedih, padahal baru beberapa menit yang lalu mereka bisa dibilang bermesraan, kini Lio malah membentaknya, untuk meredakan sakit hatinya, Naya bergelung membungkus tubuhnya dengan selimut, diluar kemauannya air matanya mengalir membasahi pipinya.
****
Diapartmen Cleo, saat ini, Lio tengah berusaha membujuk Cleo dengan berbagai macam cara supaya pacar yang amat dikasihinya itu berhenti ngambek, tapi begitulah cewek, semakin dibujuk mereka akan semakin melunjak, dan pada akhirnya, Lio menggunakan senjata terakhirnya untuk membuat Cleo tidak marah padanya.
"Apa kamu mau pergi jalan-jalan."
Cleo yang dari tadi bermuka masam sekarang raut wajahnya agak sedikit berubah, sedikit, tidak banyak, dia masih agak jual mahal, agar sifat matrenya tidak begitu kentara.
"Kita bisa pergi ke toko barang-barang branded langganan kamu, dan kamu bisa...."
Sampai sana, Lio menghentikan kalimatnya , karna sifat jual mahal Cleo langsung luntur seketika mendengar kata-kata barang branded, "Kamu serius, mau belanjain aku lagi."
Lio berujar dalam hati, "Syukurlah, dia sepertinya gak marah lagi sama gue." lio berkata, "Memangnya kapan aku pernah bohong sama kamu sayang." Lio mengelus rambut halus Cleo.
Karna diiming-imingi akan dibeliin barang mewah, Cleo membiarkan Lio mengelus rambutnya, coba tadi, tangan Lio terus-terusan ditepis ketika akan mengelus rambutnya, bahkan sekarang Cleo bergayut manya dilengan Lio.
"Jadi, kamu gak marah lagikan sama aku."
"Gimana bisa marah kalau punya pacar pengertian kayak kamu." Cleo mengecup pipi Lio, "Ya udah, kalau gitu aku siap-siap dulu, kamu tunggu sebentar oke." Cleo bergegas ke kamarnya.
__ADS_1
Lio hanya menggeleng, dia kini merasa lega karna pujaan hatinya sudah tidak ngambek lagi, apapun akan dia lakukan supaya Cleo bahagia dan tidak marah lagi sama dia.
****
Setelah puas memilih-milih barang yang disukainya, Lio dan Cleo kini berada direstoran untuk mengisi perut, Cleo tidak henti-hentinya mengucapkan kalimat, "Terimakasih dan aku cinta kamu, aku sayang kamu." pada Lio setelah Lio membelikannya ini itu, memang dasar cewek matrek.
Lio membutuhkan waktu seharian untuk menemani Cleo jalan-jalan, tapi karna hal ini dilakukan dengan penuh rasa cinta jadi dia tidak merasa capek sedikitpun. Karna sibuk bersenang-senang dengan Cleo, Lio jadi melupakan wanita yang ada ditempat tidurnya yang saat ini mungkin masih tengah bersedih karna ulahnya.
"Makasih ya sayang, kamu baik banget." ujar Cleo ketika Lio mengantar kedepan pintu apartmen.
"Apapun akan aku lakukan untuk kamu."
"Apa kamu mau masuk dulu."
"Aku pulang saja, kamu mending istirahat saja."
Cleo mengangguk, dan sebelum pergi, Lio mencium kening Cleo.
****
Rumah sudah sepi ketika Lio tiba dirumah besar milik keluarganya, fikir Lio mungkin semua anggota rumah saat ini tengah pada berada dikamar masing.
"Eh, tuan muda sudah pulang." Wati menyapa Lio ketika Lio melewati ruang tengah, disana tengah berkumpul ARTnya yang tengah pada nonton sinetron suara hati istri.
Lio hanya mengangguk dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan kelantai atas menuju kamarnya, ketika tiba dikamarnya, Lio tidak menemukan Naya disana, Lio memeriksa kamar mandi dan disana juga ternyata Naya tidak ada.
"Kemana dia." tanyaya pada diri sendiri.
Setelah mengganti pakaiannya dengan pakain tidur, Lio kembali turun kebawah untuk menanyakan keberadaan Naya pada ARTnya yang tengah heboh diruang tengah.
"Apa tuan muda butuh sesuatu." tanya bi Dijah melihat tuan majikannya kembali turun.
"Naya dimana bi."
"Oh, nona muda, nona dikamar tuan besar."
"Ngapain dia disana."
"Biasa tuan, nona membujuk tuan besar untuk minum obat, hanya nona Naya yang biasanya bisa membujuk tuan." lapor bi Dijah.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, Lio langsung melangkah ke kamar kakeknya, dengan pelan Lio mendorong pintu supaya yang ada didalam tidak terganggu, Lio tidak membuka pintu terbuka sempurna, dan dari pintu yang terbuka sedikit dia bisa melihat Naya membantu kakeknya minum obat, dan setelah itu Lio bisa mendengar Naya berkata,
"Kakek sebaiknya istirahat, biar badan kakek segar besok paginya."
"Hmmm." gumam kakek Handoko menuruti perintah Naya.
Naya menarik selimut untuk menyelimuti tubuh kakek Handoko.
"Selamat tidur kakek." pamit Naya.
Lio buru-buru menutup pintu dan pergi sebelum Naya mengetahui keberadaannya.
****
__ADS_1