
Lio yang tengah duduk disofa panjang sambil menonton TV mengalihkan perhatiannya dari TV begitu mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, terlihat Naya sudah berpakaian lengkap dengan bibir cembrut karna kesal Lio sudah menjahilinya.
"Sini." Lio menepuk ruang kosong yang tersisa disampingnya.
Tanpa merubah ekpresinya Naya berjalan menuju Lio dan duduk agak jauhan dari sang suami.
"Kok jauhan gitu duduknya, sini deketan."
"Disini saja mas." tolak Naya.
Karna Naya tidak mau menurut, Lio yang menggeser tubuhnya mendekati Naya, dan begitu tiba disamping Naya, Lio merangkul Naya, entahlah, karna dorongan apa, tiba-tiba saja Lio ingin merangkul Naya, sedangkan Naya tentu saja kaget karna Lio tiba-tiba memeluknya, belum saja disempat buka suara atas perlakuan Lio terhadapnya, Lio kembali menempelkan telapak tangannya dikening sang istri.
"Sudah mendingan, tidak terlalu panas."
Karna luluh dengan perlakuan Lio membuat Naya reflek menyandarkan kepalanya didada bidang sang suami,
Naya bisa mendengar detak jantung Lio dan suara itu membuatnya merasa tenang. Perlakuan manis Lio membuat rasa kesalnya hilang seketika sekaligus semua perlakuan buruk Lio yang kemarin-kemarin hangus tidak bersisa, begitulah wanita, begitu gampang luluh dan tersentuh karna perlakuan manis meskipun sudah disakitin sedemikian rupa.
"Kamu sudah makan."
Naya mengangguk.
"Minum obat."
Naya menganguk lagi.
Naya melingkarkan tangannya dipinggang Lio, memang kalau lagi sakit enaknya bermanja-manja sama suami.
"Maafkan Naya ya mas."
"Untuk."
"Karna Naya, kakek jadi maksa-maksa mas untuk pulang, padahalkan mas lagi ada pertemua penting."
"Tidak apa-apa, ada Rafa yang bisa menghandle semuanya, anak itu selalu bisa diandalkan dalam keadaan apapun."
"Pantas saja mas Rafa sampai sekarang belum menikah, mas selalu ngebebanin banyak kerjaan buat mas Rafa."
"Masalah itunya sieh, Rafanya aja Nay yang tidak laku." kikik Lio.
Naya mencubit pinggang Lio, "Jahat banget deh mas Lio ngata-ngatain mas Rafa."
"Bercanda, sebenarnya Rafa itu banyak yang suka, sayangnya dia sok tampan dan pilih-pilih makanya tidak laku sampai sekarang, kalau jadi perjaka tua baru tahu rasa dia."
Melihat mereka, orang pasti berfikir kalau mereka adalah sepasang suami istri yang saling mencintai, padahal mah aslinya tidak.
"Oh ya, aku punya sesuatu untuk kamu." tidak sadar, Lio yang biasanya ber elo gue kini memanggil aku kamu sejak tadi.
Lio melepas rangkulannya, berdiri dan berjalan ke arah meja rias.
__ADS_1
Naya melihat punggung Lio menjauh, ada rasa tidak rela saat Lio melepaskan pelukannya, dia sangat nyaman berada dalam pelukan suaminya seolah-olah Lio akan selalu ada untuk melindunginya, Naya melupakan fakta kalau Lio sendirilah yang menyakitinya.
Lio kembali dengan tangan dibelakang seperti tengah menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya.
Naya berdiri, dia mencoba melihat apa yang disembunyikan oleh sang suami dibalik punggungnya.
"Apa yang mas...."
Belum selesai Naya bertanya, Lio menyodorkan buket bunga mawar yang sangat cantik dihadapan Naya, "Bunga untuk kamu Nay."
Naya memandang Lio dan bunga yang disodorkan Lio kepadanya bergantian, tidak percaya kalau Lio membelikannya bunga.
"Untuk Naya mas."
"Iya."
Naya meraih bunga tersebut dengan senyum menggembang dan menciumnya, wangi semerbak bunga mawar merah memenuhi indra penciumannya, dan seketika Naya merasa sangat bahagia karna diperlakukan begitu sangat manis oleh Lio.
"Kamu suka."
"Suka." jawab Naya, "Seperti disinetron-sinetron ya mas."
Lio terkekeh, "Dasar otak sinetron."
"Makasih ya mas bunganya."
"Ehh, gak perlu mas gak perlu, nanti uang mas habis."
"Aku tidak akan bangkrut hanya karna membelikan kamu bunga tiap hari Naya, kalau perlu, sekalian kebonnya aku beliin untuk kamu."
"Iya mas, Naya tahu mas kaya, tapi mas Lio tidak perlu membelikan Naya bunga tiap hari, apalagi sampai dibeliin sama kebonnya segala, lebih baik uangnya disumbangkan saja mas, lebih bermanfaat untuk orang yang membutuhkan."
"Hmmm, itu saran yang bagus."
"Naya."
"Iya."
Lio meraih tangan Naya, menatap manik hitam legam milik Naya, Naya ditatap begitu dengan jarak yang sangat dekat tentu saja gugup dan salting.
"Naya, maafin aku ya, aku sangat jahat sama kamu, aku telah menyakiti kamu, dan yahhh, untuk malam itu...hmmm, aku bener-bener minta maaf, aku lepas kendali." akhirnya terucaplah penyesalan itu dari bibir Lio.
Naya mengerjap, memandang wajah sendu suaminya, penyesalan jelas tergambar dari wajah Lio, dan Naya memang gadis baik dan bukan tipe orang pendendam, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Lio sangatlah jahat dan tidak bisa dimaafkan begitu saja, tapi Naya tidak membutuhkan waktu lama untuk memaafkan sang suami yang sepertinya bener-bener tulus meminta maaf.
Naya mengangguk dengan bibir berucap, "Iya mas, Naya maafin mas Lio."
Lio memandang Naya tidak percaya karna semudah itu Naya memaafkannya, "Beneran kamu maafin aku Nay."
Naya mengangguk dan tersenyum, "Tapi janji mas tidak akan nyakitin aku lagi seperti malam itu."
__ADS_1
Lio mengangguk pasti, "Tidak akan."
"Janji." Naya menyodorkan jari kelingkingnya.
"Aku berjanji." Lio mengaitkan kelingkingnya di kelingking mungil Naya.
Dua orang itu tersenyum satu sama lain.
"Akhh, Naya begitu sangat manis dan baik, dia seperti malaikat tak bersayap, bahkan setelah aku menyakitinya sedemikian rupa, dia memaafkan aku dangan sangat mudah. Naya sangat berbeda dengan Cleo yang meledak-ledak, ." batinnya membandingkan istri dan kekasihnya atau lebih tepatnya mantan kekasihnya, "Akhh tapi sayangnya, yang aku cintai Cleo, bukan Naya."
Sejak awal memang Lio tahu Naya gadis baik, dia sering menyakiti Naya dengan sikap dan perbuatannya, tapi gadis itu tidak pernah mempermasalahkannya dan tidak pernah menyimpan dendam. Lio mengakui, meskipun Naya tidak secantik Cleo, tapi Naya sangat mudah untuk disukai, semua pekerja dirumahnya sangat menyukai Naya dan bahkan kakeknya saja yang susah menyukai seseorang langsung menyayanginya saat pertama melihat kepolosan gadis tersebut, bahkan kakeknya lebih sayang sama Naya daripada dirinya. Dan sering bersama dengan Naya, Lio tidak menyangkal, kalau rasa suka itu ada untuk Naya, namun sayangnya, semuanya itu tertutup karna rasa cinta yang begitu besar sama Cleo.
"Naya."
"Hmmm."
"Maafkan aku."
Naya sudah akan membuka bibir untuk membalas, namun Lio kembali melanjutkan kalimatnya, "Aku minta maaf karna aku mencintai wanita lain, dan tidak akan pernah bisa mencintaimu."
Karna saat ini mereka telah berbaikan, Lio tidak ingin menyakiti Naya lagi dalam bentuk apapun, makanya dia memutuskan untuk menyelsaikan semuanya hari ini, termasuk mengungkapkan hubungannya dengan Cleo, meskipun Lio tahu fakta kalau dirinya mencintai wanita lain pasti menyakiti Naya, tapi menurutnya Naya harus tahu.
Naya menunduk, sedih sudah pasti dirasakannya, meskipun dia sudah tahu Lio memiliki kekasih diluar sana, saat Lio kembali mengatakannya tetap dia saja merasakan sakit yang tidak berdarah.
"Naya tahu mas."
"Maafkan aku Nay."
Tidak ada wanita manapun di dunia ini yang seneng mengetahui suaminya menyukai wanita lain, begitu juga dengan Naya, kalau tadi dia memberikan maaf tanpa berfikir, kali ini dia tidak langsung mengatakan, 'Aku memaafkanmu mas.'
Naya merasa dadanya sesak, tapi apa yang Naya harus lakukan jika Lio, laki-laki yang telah menikahinya ini dan berstatus sebagai suaminya tidak mencintainya.
"Kenapa mas Lio tidak berusaha untuk mencintaiku seperti aku yang berusaha untuk mencintainya dan berusaha melupakan mas Wahyu." kata-kata yang hanya diucapkan dalam hati.
"Nay, tolong maafkan aku, aku tahu aku jahat, tapi aku tidak bisa mencintaimu, perasaan tidak bisa dipaksakan."
"Bisa, kalau mas sadar telah berjanji dihadapan Tuhan, janji itu bukan untuk dipermainkan mas, aku saja bisa menerima perjodohan dan pernikahan ini dengan mengorbankan perasaanku, kenapa mas tidak bisa." lagi-lagi Naya hanya menjawab dalam hati, "Dan apa maksudmu memelukku dan memberiku bunga, aku fikir mas mulai menyukaiku, kenapa mas begitu jahat mempermainkan perasaanku begini, kenapa mas harus memberiku harapan kalau pada akhirnya harus dihempaskan dengan begitu sakit seperti ini."
"Kamu harus kuat Naya, kamu harus kuat, jangan menangis." Naya berusaha menguatkan dirinya, berusaha menahan air matanya, dengan senyum begitu sangat dipaksakan dia mendongak dan menatap Lio, "Terus, mas maunya apa." tanyanya dengan suara dibuat setenang mungkin, padahal hatinya bergemuruh.
Naya berusaha menerima apapun keputusan Lio, termasuk jika Lio menceraikannya, dan dia akan jadi janda muda.
"Nay, mari menjalani hubungan pernikahan ini selama satu tahun."
"Satu tahun."
"Iya, selama satu tahun kita pura-pura menjalani pernikahan ini."
****
__ADS_1