Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
INI BULAN ANAK ANGKATKU


__ADS_3

"Ayah ayah, siapa tante ini." tunjuk Bulan pada Cleo karna tadi melihat ayah angkatnya memeluk gadis yang kini ada di hadapannya.


"Hehh, apa yang gadis kecil ini katakan, ayahh?, anak siapa ini, tidak mungkin anaknya Liokan." Cleo jelas memandang dengan rasa penasaran tingkat tinggi pada gadis kecil yang kini berada dalam gendongan Lio.


Lio rasanya serba salah, ingin menjawab 'pacar', takutnya Bulan kritis dan bertanya apa itu pacar dan tentunya itu akan memperpanjang masalah, kalau dia menjawab 'teman' takutnya Cleo marah dan kembali ngambek, Lio jadi bimbang sendiri.


Karna melihat Lio bungkam dan tidak ada tanda-tanda untuk menjawab pertanyaan Bulan, Cleo buka suara, "Tante adalah...."


"Teman ayah sayang." jawab Lio cepat sebelum Cleo menuntaskan kalimatnya, "Iya, tante ini adalah teman ayah." akhirnya dia memilih opsi yang kedua, entah apa sebabnya dia memilih memberikan jawaban itu, mungkin dia tidak ingin anak angkatnya yang kritis ini mencecarnya lebih lanjut, karna Lio fikir, kalimat teman lebih mudah dimengerti oleh Bulan.


"Heiii." Cleo melotot, dia jelas tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Lio, "Teman?, apa-apaan sieh Lio." desisnya jengkel.


Lio hanya berharap Cleo bisa mengerti dengan jawabannya.


"Oooo." bibir mungil Bulan membulat, "Teman, seperti Bulan dan teman-teman panti ya ayah."


"Iya sayang, seperti Bulan dan teman-teman di panti."


"Pantas saja ayah memeluk tante ini, Bulan juga sering dipeluk sama teman-teman Bulan waktu di panti." cloteh Bulan polos.


Lio Sadar kini Cleo menatap tajam padanya memintanya untuk menjelaskan arti dibalik semua ini, namun karna tidak mungkin menjelaskan sekarang, Lio hanya memberi kode lewat matanya supaya Cleo untuk saat ini tidak banyak bertanya dan akan menjelaskan nanti.


Lio kemudian berkata, "Cle, ini Bulan, anak angkatku dan Naya."


"Anak angkat, anak angkat dia bilang." ulang Cleo dalam hati berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Lio, "Astagaaa, apa-apaan ini, Lio dan istrinya mengadopsi anak, kenapa mereka harus mengadopsi anak segala."


"Dan Bulan sayang, ini tante Cleo, teman ayah." lanjut Lio memperkenalkan tanpa memperhatikan wajah Cleo yang menahan kesal karna mengetahui fakta kalau dia mengadopsi anak.


"Halo tante, aku Bulan, anak ayah Lio dan bunda Naya." gadis kecil tersenyum ramah.


"Hmmm." desah Cleo dengan senyum hambar.


"Ekhemmm." deheman tersebut membuat Lio, Bulan dan Cleo menoleh kembali ke arah pintu, mereka melupakan dua orang yang masih berdiri disana.


"Gue permisi kalau gitu, gue hanya nganterin bini dan anak lo doank." seru Rafa penuh penekanan berharap Cleo mengerti dengan kata-katanya karna tidak seharusnya Cleo mengejar-ngejar Lio lagi karna statusnya yang sudah beristri, yah meskipun Lio sendiri tidak mau melepas Cleo sieh, tapi Rafa berharap Lio akan sadar dan akhirnya mencintai Naya.


"Makasih karna lo telah nganterin mereka." balas Lio hanya sekedar basa-basi doank.


"Nope."

__ADS_1


"Nayyy, aku pergi dulu oke." menepuk lengan Naya.


"Iya mas makasih."


"Heii, kenapa pakai nepuk-nepuk segala sieh, sok akrab banget sik Rafa." dengus Lio yang tidak suka melihat Rafa sok akrab apalagi pakai melakukan sentuhan fisik dengan Naya, aneh memang, disaat dia sendiri melakukan hal yang lebih dengan Cleo, dia malah tidak suka melihat Naya disentuh oleh laki-laki lain meskipun itu sahabatnya sendiri.


Rafa kemudian pergi meninggalkan ruangan Lio.


Kembali ditatap oleh Lio dan Cleo membuat Naya jadi gugup, dia merasa tidak seharusnya berada disana karna mengganggu Lio dan pacarnya, "Mmmm, maafkan kami mas, aku dan Bulan hanya eh, itu anu apa...maksud Naya, Naya tidak tahu kalau mas ada tamu." Naya dengan sekuat hati membuat suaranya terdengar biasa.


"Tidak apa-apa Nay."


"Bulan dan bunda bawa makan siang buat ayah." sahut Bulan


Cleo langsung menatap Lio begitu mendengar ucapan anak angkat Lio tersebut, pasalnya mereka sudah berjanji akan makan siang bersama, dan tentu saja Cleo berharap Lio akan menepati janji tersebut, namun ternyata harapannya tidak terwujud, buktinya, Lio menatapnya dengan pandangan meminta maaf karna tidak bisa makan siang bersama, dan hal tersebut membuat Cleo semakin kesal, namun terpaksa ditahannya dalam hati.


"Bunda dan Bulan yang masak lho ayah, khusus untuk ayah."


"Ohh ya, Bulan bisa masak memang."


"Hehe." Bulan nyengir, "Sebenarnya gak bisa ayah, soalnya bunda bilang Bulan masih kecil, belum bisa pegang pisau, makanya Bulan hanya bantu icip-icip."


"Kenapa Lio terlihat menyayangi anak kecil ini sieh, pakai bilang aku temannnya segala lagi, lebih parahnya, gara-gara anak kecil ini dia sampai dia rela membatalkan makan siang denganku." Cleo mendengkus dalam hati melihat intraksi antara Lio dan Bulan.


Naya mendekat sembari menenteng rantang berisi makan siang untuk Lio.


Cleo tidak lepas memperhatikan penampilan Naya, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut, "Ohhh, ini yang namanya Naya, Perempuan ini tidak jelek-jelek amat meskipun dari kampung, cara make up dan berpakaiannya juga oke, aku tidak menyangka, ternyata orang kampung up to date juga tentang make up dan fashion." Cleo berkomentar dalam hati.


Cleo tidak tahu saja kalau Naya memiliki guru yang mengajarkannya tentang make up dan gaya berpakaian orang-orang kaya kepada Naya, siapa lagi kalau bukan Arleta Dewi Cantika adiknya Rafa, dan ternyata tidak sia-sia apa yang diajarkan oleh Leta, karna Naya bisa mengaplikasikannya sehingga tidak ada satu orangpun bisa mencela penampilan Naya sekarang, bahkan Cleo saja tidak punya celah untuk mencela penampilannya, dan fakta tersebut membuat Cleo agak khawatir kalau suatu saat Lio akan kepincut dengan Naya, apalagi Naya masih muda jika dibandingkan dirinya yang sudah berusia 27 tahun.


Sama seperti Cleo yang tidak lepas memperhatikannya, Naya juga melakukan hal yang sama, tapi dia tidak terang-terangan melakukannya, dia hanya memperhatikan Cleo dari sudut matanya, "Akkh, memang benar ini gadis bernama Cleo pacarnya mas Lio, cantik banget, pantas saja mas Lio cinta mati sama dia, aku mah apa, hanya butiran debu." batinnya merendah melihat pacar suaminya yang cantik, tinggi dan fashionable.


"Mass, Naya taruh makanannya disini saja ya, biar Naya tunggu diluar saja." Naya meletakkan rantang makanan yang dibawanya diatas meja kerja Lio. Naya sadar diri, apalagi setelah kesepakatan yang telah dia dan Lio sepakati kalau mereka akan menjalani kehidupan sebagai suami istri selama satu tahun, oleh karna itu, Naya tidak ingin mengganggu Lio dan pacarnya yang ingin menghabiskan waktu bersama.


Naya berbalik untuk keluar, namun Bulan menghentikannya, "Bunda, bunda mau kemana."


"Bunda tunggu diluar ya sayang, biar Bulan, ayah dan tante disini saja ya makan bersama." ujarnya berusaha untuk kuat, padahal dalam hati sudah tidak karuan rasanya.


"Kenapa bunda harus nunggu diluar, ayok bunda kita makan sama-sama, iyakan ayah."

__ADS_1


"Tidak sayang, kalian saja yang makan, bunda tungg....."


"Bulan benar Naya, kenapa kamu harus nunggu diluar, ayok kita makan sama-sama." timpal Lio tidak keberatan.


"Tapi..."


"Tidak apa-apakan Cle, kalau kita makan bersama."


"Hmmm." dengus Cleo, jelas dia tidak setuju, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin bilang tidakkan, apalagi yang membawa makanankan Naya.


Bulan turun dari gendongan Lio dan berjalan ke arah ibu angkatnya, "Bunda jangan pergi, ayok kita makan sama-sama." menarik tangan ibu angkatnya.


Kalau Bulan sudah turun tangan, Naya bisa apa.


"Baiklah kalau begitu."


****


"Pak Rafa, pak Rafa." panggil Rani dengan langkah lebar mendekati Rafa yang baru saja keluar dari ruangan bosnya, Rafa otomatis berhenti saat Rani berjalan mendekatinya.


"Gimana pak."


Rafa mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti dengan pertanyaan Rani, "Gimana apanya."


"Apa terjadi adu teriak dan adegan jambak-jambakan tidak diruangan pak Adelio, apa ibu Naya ngamuk dan memaki-maki selingkuhannya pak Adelio." tanyanya penasaran.


Rafa mendengus, "Kamu itu Rani, kebanyakan nonton sinetron, jadi otaknya treveling kemana-mana."


"Maksud bapak."


"Semuanya aman terkendali, tidak ada adegan bar-bar seperti yang kamu katakan tadi."


"Ehh kok bisa, padahalkan seharusnya ibu Naya marah dan ngamuk-ngamuk gitu pak, kok bisa semuanya aman terkendali."


"Ya itu karna Naya adalah wanita yang sabar, baik dan lemah lembut yang tidak suka menggunakan kekerasan, dia lebih memilih cara yang berkelas dalam menghadapi pelakor." ujarnya bohong, padahal tadi Naya hanya bengong dengan mata kosong melihat suaminya tengah berpelukan dengan wanita lain.


Dan setelah mengatakan hal itu, Rafa berlalu ke ruangannya meninggalkan Rani yang masih kebingungan.


"Kok ada ya wanita yang seperti ibu Naya, kalau aku, sudah aku jambak-jambak dan maki-maki." gemas Rani sambil mengaitkan kedua telapak tangannya dan meremas-remasnya untuk menggambarkan kekesalannya, "Pantas saja aku sejak tadi tidak mendengar suara ribut-ribut dari ruangan pak Adelio."

__ADS_1


****


__ADS_2