Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
RENCANA MENGADOPSI ANAK


__ADS_3

Naya berusaha menyembunyikan rasa sedih yang teramat sangat yang ditorehkan oleh suaminya, biar bagaimanapun, menurut Naya ini adalah masalah mereka berdua, dan cukuplah hanya mereka berdua yang tahu, jangan sampai kakek Handoko tahu, apalagi mengingat kesehatan kakek Handoko yang bisa dibilang dalam kondisi tidak baik.


Naya yakin kalau kakek Handoko tahu kalau Lio masih memiliki kekasih diluar sana itu akan berpengaruh pada kesehatannya, oleh karna itu, begitu tiba dimeja makan, Naya berusaha untuk tersenyum dan terlihat ceria didepan kakek Handoko.


"Malam kek." sapanya dengan nada yang dibuat seriang mungkin, "Malam ma." sapa Naya pada ibu mertuanya yang hanya mengangguk singkat.


"Selamat malam cucuku, ayok duduklah, kakek ingin mendengar cerita keseruan kalian selama didesa sampai lupa pulang ke rumah." laki-laki berumur 75 tahun itu terlihat bersemangat.


"Tidak ada cerita yang menarik kek, jadi tidak ada yang perlu untuk diceritakan." seru Lio mengambil tempat duduk disamping Naya.


Lio melirik sesaat ke arah Naya, ada sedikit rasa bersalah karna dia telah membentak dan menyalahkan Naya, sekaligus juga salut karna gadis yang tadi menangis ini bisa bersikap riang didepan keluarganya, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.


"Akhh masak tidak ada sieh, padahal kakek sudah semangat untuk mendengarkan." sik kakek pura-pura terlihat kecewa.


"Memang tidak ada yang menarik kakek, mas Lio hanya sibuk mengomentari jalan desa yang berlubang disana sini." lapor Naya yang membuat kakek Handoko terkekeh.


"Oh ya Naya, bagaimana keadaan keluargamu didesa." kakek Handoko merubah topik.


"Alhamdulillah ayah dan ibu sehat kakek, mereka juga titip salam buat kakek."


"Syukurlah kalau mereka semuanya sehat."


Kakek Handoko kemudian memandang Lio dan Naya bergantian.


"Jadi." tanya tuan Handoko, "Bagaimana, hasilnya."


Tidak mengerti dengan maksud kakeknya membuat Lio bertanya, "Maksud kakek apa."


"Kaliankan didesa satu mingguan tuh."


"Iya terusss."


"Hawa desa tentu saja berbeda dengan di kota, apalagi desa Naya berada dikaki gunung, pasti udara disana sejuk-sejuk gimana gitu."


"Apa sieh maksud kakek." gerutu Lio dalam hati karna kakeknya bertele-tele.


Jawab Naya dengan polosnya, "Iya kakek, hawa didesa memang sejuk dan bersih, nanti kapan-kapan kalau kondisi kakek memungkin untuk melakukan perjalanan jauh, kita bareng-bareng ke desa Naya ya, biar kakek bisa menghirup udara segar pengunungan."


"Hmmm boleh, sepertinya seru jalan-jalan ke desa." seru kakek Handoko terlihat antusias, "Tapi sayang, bukan itu maksud kakek."


Lio dan Naya terdiam menunggu kelanjutan kalimat yang akan dikatakan oleh kakek Handoko.

__ADS_1


"Karna cuaca didesa mendukung, kalian seringkan melakukannya, ya kan." kakek Handoko menurun naikkan alisnya menggoda cucu dan cucu menantunya.


"Melakukan apa kek." bukannya pura-pura polos, tapi memang Naya tidak mengerti maksud kakek Handoko.


Kakek Handoko mendesah, cucu menantunya ini memang sangat polos, tidak bisa diajak bicara pakai bahasa halus, "Lio, kamu sering melakukannyakan." tanyanya pada cucunya yang mengerti maksudnya.


"Hmmm." jawab Lio ambigu, berharap kakeknya berhenti untuk menanyakan hal tersebut.


Namun ternyata tuan Handoko tidak berhenti sampai disana, Jawaban Hmm tersebut lebih cukup untuk membuat tuan Handoko melayangkan serangan inti, "Jadi, apa kamu sudah ada tanda-tandanya isi Naya."


"Isi." ulang Naya masih belum mengerti.


"Hamil." kakek Handoko memperjelas maksudnya.


Reflek Naya memegang perutnya yang rata, mana bisa hamil kalau mereka hanya melakukan satu kali dan itupun karna Lio tengah mabuk, Lio tidak mencintainya, mana mungkin laki-laki itu mau menyentuhnya, apalagi tadi dengan terang-terangannya Lio bilang ingin punya anak dari wanita lain bukan dari dirinya, wanita yang dianggap penghancur hubungannya dengan kekasihnya.


Naya menunduk dan menggeleng lemah, dia tidak mau melihat kekecewaan diwajah laki-laki tua yang sangat mengharapkan cicit tersebut.


Kekecewaan jelas tergambar diraut wajah kakek Handoko mengetahui harapannya belum terkabul.


Lio juga tidak berani menatap kakeknya, selama ini Lio selalu menuruti keinginan sang kakek, tapi untuk yang satu ini dia terasa berat memenuhinya, andai saja gadis yang dia nikahi adalah Cleo sang pujaan hati, mungkin dia akan memberikan selusin cicit untuk kakeknya itu.


"Sudahlah pa, papa jangan kecewa gitu, Lio dan Naya belum dikasih rizki sama Tuhan untuk memiliki anak." Renata mencoba menghibur ayahnya, dihatinya sieh dia senang kalau menantunya itu tidak hamil, dia tidak mau memiliki cucu dari gadis kampung, harapan Renata suatu saat Lio dan Naya akan berpisah dan Lio bisa menikahi gadis dari kalangan terpandang, berpendidikan dan sederajat dengan keluarga mereka.


Empat pasang mata langsung tertuju pada bi Darmi, bi Darmi yang dipandang begitu merasa sungkan, dia kembali berkata untuk menjelaskan maksudnya tanpa diminta, "Orang-orang didesa saya percaya tuan, kalau mengambil anak untuk di adopsi itu bisa menjadi pancingan bagi pasangan suami istri untuk cepat mendapatkan keturunan."


"Bi Darmi, jangan nyarinin yang aneh-aneh deh." bantah Renata, jelas dia tidak setuju dengan saran bi Darmi.


"Darmi benar, kalian sepertinya harus melakukan saran dari Darmi, siapa tahu dengan begitu Naya akan cepat hamil." ujar sang tuan besar langsung setuju begitu mendengar penjelasan bi Darmi.


"Hahh, ngadopsi anak kek, yang benar saja." Lio sama seperti mamanya, tidak setuju dengan ide mengadopsi anak ini, dia tidak mau direpotkan dengan mengurus anak orang lain.


"Kamu harus mau Lio, agar kalian segera punya momongan."


"Bener itu tuan, saudara saya saja, dia sudah menikah selama 11 tahun belum diberi keturunan, eh setelah ngadopsi anak, enam bulan kemudian langsung hamil."


"Seribu anak sekalipun yang akan kami adopsi tidak mungkin bisa membuat Naya hamil, orang gue tidak pernah nyentuh dia, hanya sekali, dan itupun karna gue khilaf." batinnya.


"Nahh, kamu dengerkan Lio, pokoknya kakek tidak mau tahu ya, kalian harus ngadopsi anak agar Naya cepat hamil, keluarga Rasyad harus ada penerusnya."


"Tapi kek...." Lio berusaha untuk membantah, namun bantahan langsung dipotong oleh kakek Handoko.

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian Lio, bagaimana menurut kamu Naya, kamu pasti setujukan untuk mengadopsi anak."


"Ngadopsi anak atau tidak, itu tidak akan berpengaruh, karna kami tidak pernah melakukannnya." jawab Naya dalam hati, namun karna tidak mungkin memberikan jawaban seperti itu, Naya melisankan, "Naya sieh terserah saja bagaimana baiknya."


"Nahh, Naya saja setuju."


Lio mendesah berat, belum selesai masalahnya dengan Cleo, kini muncul lagi masalah baru, tapi untuk saat ini dia bisa apa, dia terpaksa menuruti keinginan kakeknya supaya tidak merongrongnya dan Naya untuk segera memberikannya cucu, fikir Lio kalau mereka mengadopsi anak, mungkin fikiran kakeknya akan teralihkan.


"Ya sudah deh kalau itu yang kakek inginkan."


****


"Selamat pagi bos." sapa Rafa begitu bertemu dengan Rafa diparkiran besok paginya.


"Hmmm." balas Lio tidak bergairah karna masih terbebani dengan masalahnya dengan Cleo.


"Heiii, lokan habis liburan, kenapa wajah lo kusut begitu bos."


"Mana ada orang liburan dikampung, orang tuh kalau liburan tuh di Bali, Maladewa, Prancis." jawabnya sambil lalu dan berjalan meninggalkan parkiran.


Rafa langsung menyusul sahabat sekaligus yang merangkap sebagai bosnya.


"Apa yang terjadi." tanyanya begitu mensejajarkan langkahnya dengan Lio.


"Gue diputusin oleh Cleo."


"Bagus donk." jawab Rafa tanpa beban tidak mempedulikan raut wajah Lio yang terlihat menderita gara-gara diputuskan oleh Cleo.


Lio yang mendengar kalimat sahabatnya itu langsung menoleh dengan cepat, "Maksud lo apa, lo seneng gue putus dengan Cleo, lo seneng melihat gue tersiksa."


"Jelas gue tidak seneng melihat lo menderita, lokan sahabat gue Li, tapi memang menurut gue lo dan Cleo memang harus putus mengingat lo sudah punya istri." jelas Rafa bijak.


"Gue tidak mencintai Naya, gue mencintai Cleo, selamanya akan seperti itu, gue gak rela putus dengan dia."


"Terus Naya gimana Lio kalau lo ngotot mempertahankan Cleo."


"Itu urusan nanti, yang jelas untuk saat ini gue harus mempertahan Cleo supaya tetap berada disamping gue." Lio berjalan meninggalkan Rafa.


"Otak dan hati lo terlalu dipenuhi oleh Cleo, Cleo dan Cleo Lio, sampai lo buta tidak melihat siapa yang memberikan cinta yang tulus buat lo." desah Rafa melihat punggung sahabatnya yang menjauh.


Rafa tidak mau berburuk sangka, tapi entah kenapa, Rafa berfikir kalau Cleo tidak tulus dengan Lio.

__ADS_1


"Biarlah waktu yang akan menjawabnya." lirihnya dan kembali berjalan memasuki perusahaan besar milik keluarga Rasyad yang kini dikelola oleh sahabatnya itu.


****


__ADS_2