Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
CLEO TINGGAL BERSAMA KITA


__ADS_3

Dua hari sudah Cleo berada dirumah sakit, dan selama dua hari itu, Lio lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah sakit, bukan keinginannya, tapi paksaan mamanyalah yang membuatnya terpaksa menemani Cleo, dia pulang hanya sekedar untuk melihat Naya, selebihnya dia pergi ke kantor, datang lagi ke rumah sakit.


Cleo benar-benar memanfaatkan keadaannya dan mengatasnamakan bayi yang ada dalam perutnya untuk menahan Lio untuk menemaninya dirumah sakit, ditambah lagi mama Renata yang selalu mendukung Cleo dan memaksanya putranya untuk selalu ada untuk Cleo setiap saat, alhasil, Lio tidak punya waktu untuk Naya, mereka hanya bertukar pesan, itupun hanya sebentar karna Cleo selalu merengek-rengek memintanya jangan jauh-jauh darinya dengan membawa-bawa bayi dalam kandungannya, kata Cleo, bayinya tidak mau jauh-jauh dari papanya, padahal itu cuma akal-akalannya saja, dan Lio terpaksa menuruti keinginan Cleo tanpa curiga sedikitpun mengingat Naya juga kadang bersikap manja selama kehamilannya seperti Cleo.


Sumpah, Lio merasa lelah lahir dan bathin, dia harus mengorbankan Naya hanya demi menuruti keinginan Cleo dan juga mamanya.


"Sialll, bisa gila gue kalau lama-lama kayak gini terus." desahnya frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya, saat ini dia tengah berada diruang kerjanya.


Ponselnya yang sejak tadi berdering tidak di hiraukannya, dia terlalu malas untuk menjawab panggilan dari Cleo dan mamanya.


Lio lebih memilih mengistirahatkan kepalanya dimeja kerjanya dan menjadikan dering ponselnya sebagai lagu pengantar tidur, fikir Lio, nanti kalau mamanya dan Cleo capek, maka mereka akan berhenti sendiri.


Dan mungkin benar apa yang difikirkan oleh Lio, baik mama Renata dan Cleo sudah capek menghubungi Lio yang tidak kunjung menjawab panggilan sehingga ponsel Lio berhenti berdering.


"Akhirnya, kalian membiarkanku tenang juga."


***


Dan saat Lio berfikir kalau mamanya dan juga Cleo sudah menyerah untuk menghubunginya, ternyata dugaan Lio salah, karna mama Renata kini menghubungi Rafa.


Saat itu Rafa tentu saja tengah sibuk, dan terpaksa harus menghentikan aktifitasnya saat mendengar suara panggilan masuk diponselnya.


Rafa mengerutkan kening saat melihat orang yang menghubunginya adalah mamanya Lio, "Tante Renata, kenapa dia nelpon gue." bertanya-tanya, dan daripada bertanya-tanya dan tidak mendapatkan jawaban, Rafa memilih menjawab panggilan tersebut dan bertanya langsung penyebab mama Renata menelponnya.


"Halo tante." sapanya ramah.


"Rafa, Lio ada dikantorkan." mama Renata langsung bertanya pada intinya.


"Iya tan, Lio saat ini ada dikantor." jawabnya heran, fikirnya kenapa tante Renata tidak langsung menelpon Lio saja.


"Apa anak itu saat ini lagi bertemu klien penting atau tengah meting Raf."


"Setahu Rafa sieh gak tan, hari ini Lio tidak ada agenda bertemu klien, bahkan metingpun tidak ada, emang ada apa ya tan."


"Sahabat kamu itu tidak mau menjawab panggilan tante."


"Ehhhh." responnya saat mengetahui fakta kalau Lio mengabaikan panggilan mamanya, "Kenapa Lio sampai mengabaikan panggilan tante Renata, setahu gue Lio sayang banget sama mamanya itu, jadi dia tidak mungkin sampai mengabaikan mamanya begini, pasti terjadi sesuatu nieh." Rafa menduga-duga sampai suara mama Renata kembali terdengar.


"Rafa, bisa tolong kamu kasihin HP kamu ke Lio, tante ingin ngomong sama dia."


"Baiklah tan, tante tunggu sebentar." Rafa berjalan menuju ruangan Lio, masih bertanya-tanya sebab musabab Lio tidak menjawab panggilan ibunda tercintanya.


Tok


Tok


Karna sering diprotes oleh Lio karna setiap masuk sering selonong boy, Rafa kali ini mengetuk pintu.


"Masuk." terdengar suara Lio dari dalam.


Rafa mendorong pintu begitu mendapatkan perintah dari sang bos.


"Gila, makin parah aja kondisi sik Lio." komen Rafa dalam hati saat melihat wajah sahabatnya yang pucat dan kuyu.


"Ada apa." tanya Lio melihat kedatangan sahabatnya tersebut.


"Mmm, ini tante mau ngomong sama lo." tunjukknya pada ponsel yang saat ini berada ditangannya.


******* nafas berat keluar secara otomatis dari bibir Lio, ternyata mamanya tidak menyerah menerornya.


Kasihan juga sieh Rafa melihat kondisi sahabatnya, Lio sepertinya benar-benar tidak ingin berbicara dengan mamanya, Rafa jadi menyesal karna mengatakan kalau Lio ada dikantor, coba saja tadi kalau dia berbohong, tapikan semuanya sudah terlanjur, mau tidak mau dia harus menyerahkan ponselnya yang masih terhubung dengan mama Renata kepada Lio.


"Ini." Rafa menyerahkan ponselnya dan keluar dari ruangan Lio karna tidak mau mengganggu privasi sahabatnya itu.

__ADS_1


Sementara itu Lio langsung diomeli oleh sang mama saat menempelkan ponsel milik Rafa ditelinganya.


"Lio, apa-apaan sieh kamu ini, mama dan Cleo menghubungi kamu puluhan kali tapi tidak kamu angkat, kamu sengaja ya mengabaikan panggilan mama dan Cleo." mama Renata membuka omelannya.


"Memang sengaja." gumam Lio tanpa suara, jawabnya dilisan "Memang ada apa sieh ma, Lio lagi sibuk ini makanya gak sempat menjawab panggilan mama, mama kalau marah-marah lebih baik jangan telpon Lio dululah."


"Astaga kamu itu benar-benar ya Lio, sejak bersama gadis kampung itu kamu selalu bikin mama darah tinggi, tidak pernah nurut kata mama, selalu mengabaikan mama, gadis kampung itu benar-benar mengubah kamu jadi anak durhaka begini ya Lio."


"Ma, tolong ya, jangan bawa-bawa Naya bisakan, Naya itu tidak ada sangkut pautnya dengan Lio yang mengabaikan panggilan mama." ngaku juga dia kalau dia memang sengaja mengabaikan panggilan mamanya dan Cleo.


"Tuhkan, kamu selalu saja membelanya, otakmu sudah dicuci sama dia ya, lagian apa hebatnya gadis kampungan begitu sampai kamu membelanya sedemikian rupa."


Kalau mama Renata bertanya tentang kehebatan apa yang dimiliki oleh Naya sehingga membuat Lio begitu mencintainya, jawabnya adalah, Naya sama sekali tidak memiliki kehebatan apa-apa, hanya saja, dia memiliki hati yang tulus sehingga pada akhirnya ketulusan itulah yang membuat Lio akhirnya jatuh cinta sama Naya.


Lio hanya mendengus lelah, dia menyandarkan tubuhnya dikursi, dia lebih baik diam daripada meladeni ocehan mamanya, karna kalau diladeni, ocehan mamanya akan merembet kemana-mana, "Oke ma, jangan bahas Naya lagi, mama nelpon Lio ada perlu apa." tanya Lio berusaha untuk sabar setelah mendengar mamanya berkoar-koar kesana kemari.


"Kamu tahukan, kalau Cleo hari ini sudah diperbolehkan pulang oleh dokter." jawabnya tidak memperpanjang omelannya saat mendengar pertanyaan putranya.


"Terus."


"Kok kamu malah bilang terus sieh, iya kamu jemput kami donk Lio dirumah sakit." mama Renata saat ini tengah berada dirumah sakit.


"Ma, minta tolong pak Ridwankan bisa untuk jemput mama dan Cleo." menolak secara halus.


"Kamu ini gimana sieh, ya kamu donk yang jemput, kamukan calon suaminya Cleo."


"Duhhh mama, jangan bikin ribet sesuatu hal yang simpel deh, memang apa bedanya kalau pak Ridwan yang jemput, lagiankan Lio saat ini tengah sibuk, ngertiin donk ma posisi Lio."


"Kamu jangan membuat-buat alasan ya Lio, kamu fikir mama juga tidak sibuk, mama sangat sibuk Lio, tapi mama sempatkan untuk menjemput Cleo, kasihankan dia tidak punya keluarga yang bisa diandalkan."


"Tapi ma...." Lio bersiap akan membantah lagi, tapi lebih dulu dipotong oleh mama Renata.


"Pokoknya tidak ada tapi-tapian, kamu harus datang menjemput kami sekarang titik, awas saja kalau sampai kamu tidak datang." dan setelah memberi ancaman pada sang putra, mama Renata mematikan sambungan secara sepihak karna tidak ingin mendengar penolakan dari putranya.


****


"Raf, gue balik duluan, lo urus kantor." perintahnya saat mengembalikan ponselnya Rafa, kebetulan Rafa saat itu tengah berbincang-bincang dengan Rani.


Melihat wajah Lio yang kusut masai dan kelihatan ingin marah-marah, Rafa mengagguk mengiyakan tanpa mengajukan pertanyaan, dalam hati dia berkata, "Lio pasti stres karna masalah Cleo, kasihan banget dia, tapi lo tenang saja Lio, gue selalu ada dibelakang lo dan akan selalu membantu lo, gue harap Gunawan segera memberikan laporannya mengenai hasil penyelidikannya tentang Cleo."


****


Setibanya dirumah sakit, Lio masih kena omel juga sama mamanya meskipun kini dia sudah datang untuk menjemput mereka.


"Lama sekali kamu ini, mama dan Cleo sudah tidak betah dirumah sakit."


Lio memilih untuk diam, mamanya kalau diladeni malah makin menjadi-jadi.


Dikamar itu sudah tersedia kursi roda, karna kata Cleo dia masih lemah tidak kuat untuk berjalan, itu hanya akal-akalannya saja, dia sudah sehat, tapi hanya memang dengan berpura-pura lemah Lio bisa lunak padanya.


"Apalagi yang kamu tunggu Lio, ayok angkat Cleo ke kursi roda."


Dengan malas-malasan Lio melakukan perintah mamanya, mengangkat Cleo dan mendudukkannya dikursi roda, Cleo tertawa dalam hati karna merasa diatas angin.


Dan setelah menyelsaikan pembayaran dan segala macamnya, kini mereka sudah duduk dengan nyaman didalam mobil yang melaju bersama kendaraan lainnya dikepadatan jalan raya ibukota Jakarta.


Sepanjang perjalanan Lio hanya diam, dia hanya sibuk dengan fikirannya sendiri.


"Lio, kita langsung ke rumah ya."


Barulah Lio membuka bibirnya yang sejak tadi tertutup rapat, "Maksud mama."


"Karna sebentar lagi kamu dan Cleo akan menikah, jadi mulai saat ini Cleo tinggal bersama dengan kita."

__ADS_1


"Apa." Lio tentu saja terkejut mendengar ucapan mamanya yang tiba-tiba tanpa mendiskusikan terlebih dahulu dengannya.


"Iya Cleo tinggal bersama dengan kita." ulang mama Renata tanpa beban, "Cleokan belum sembuh sepenuhnya, diapartmen tidak ada yang menjaga dan merawatnya, kalau dirumahkan kita ada Wati dan bi Darmi yang bisa dimintai tolong saat Cleo butuh apa-apa."


"Tapi ma, mana bisa seperti itu." desah Lio frustasi dengan sikap mamanya yang selalu seenaknya sendiri, coba kalau almarhum kakeknya masih ada, mamanya tidak akan berani berbuat seenaknya begini.


"Apanya yang tidak bisa, lagiankan saat ini Cleo tengah mengandung anakmu, dan lagipula, kalau Cleo sudah sembuh total kalian akan segera melangsungkan pernikahankan."


"Bagaimana dengan Naya ma." Lio yakin Naya pasti akan sangat sakit hati kalau mengatahui kalau Cleo tinggal seatap bersama mereka.


"Kamu tidak perlu khawatir, istrimu itu setuju kok kalau Cleo tinggal bersama dengan kita, ya gak mungkin juga dia menolak mengingat itu bukan rumahnya."


"Suka-suka mama deh." desahnya pada akhirnya, rahangnya mengeras, percuma saja mendebat mamanya, toh dia yang pada akhirnya akan kalah.


Sik licik Cleo pura-pura merasa tidak enakan dan menolak, "Mmm, kalau Lio keberatan aku tinggal dirumah besar, sebaiknya jangan deh tan, aku tinggal diapartmen saja."


"Gak bisa sayang, kamu harus tinggal bersama kami, biar tante dan Lio bisa menjaga kamu, tante tidak mau kejadian kemarin terulang lagi."


"Tapi tante, aku tidak enak sama Naya." padahal dalam hatinya dia sangat bernafsu menyakiti Naya, dan langkah awal untuk menyakiti Naya adalah dengan tinggal dirumah besar.


"Duhhh, kamu itu tidak perlu merasa tidak enak dengan Naya, lagian Naya juga sudah setuju kalau kamu tinggal dirumah besar, mama sudah berbicara dengannya mengenai hal ini."


"Kalau tante memaksa, ya sudah deh tante." pura-pura pasrah dengan keputusan mama Renata padahal dia senang banget karna bisa tinggal dirumah besar.


****


Masalah yang saat ini tengah dihadapi membuat Naya lebih banyak melamun, apalagi dua hari belakangan ini Lio lebih banyak menghabiskan waktunya menemani Cleo dirumah sakit, sehingga untuk mengobati rasa rindunya, dua hari ini, Naya selalu mengenakan pakaian milik suaminya, Naya merasa dirinya dipeluk saat mengenakan pakaian suaminya, meskipun sekarang badannya agak berisi dan perutnya sudah mulai membuncit, tapi ternyata pakaian Lio yang dia kenakan tetap saja kedodoran, bahkan Naya sampai menggulung tangan baju kaos lengan panjang yang saat ini dia kenakan.


"Kita harus sabar ya nak." sambil mengelus perutnya dan mengajak bayinya bicara, "Ayahmu bukannya tidak sayang kita, hanya saja, saudaramu yang lain lebih butuh perhatian daripada kita, kita tidak boleh egois ya sayang, kita harus berbagi karna ayah bukan hanya milik kita." Naya merasakan perutnya bergerak, bayinya seperti menendang-nendang dari dalam, "Astaga nak, kamu bergerak nak, kamu sudah mulai aktif ya." ada kebahagian yang dirasakan oleh Naya saat merasakan untuk pertama kalinya merasakan gerakan bayinya didalam perut, "Kalau ayahmu tahu, dia pasti akan sangat bahagia, ayahmu itu selalu menanyakan kapan kamu lahir." setidaknya gerakan pertama yang dilakukan oleh bayinya membuat kesedihan Naya sedikit terobati.


"Terimakasih ya sayang karna telah hadir dalam perut bunda, kalau kamu tidak ada, bunda mungkin tidak akan kuat menjalani semua ini, kamu adalah anugrah dan sumber kebahagian untuk bunda."


Tok


Tok


"Nona, nona." panggilan disertai ketukan dipintu kamarnya mengalihkan perhatian Naya dari perutnya.


"Iya mbak sebentar."


Sekarang karna tubuhnya sudah mulai membengkak dan perutnya yang semakin besar membuat Naya agak kesusahan untuk berdiri, dia berjalan ke arah pintu untuk mencari tahu penyebab ARTnya memanggilnya, dari nada suaranya seperti ada sesuatu hal yang penting yang akan disampaikan.


"Kenapa mbak." tanyanya saat pintu terbuka.


"Itu nona, tuan sudah pulang."


"Mas Lio mbak."


"Iya nona, tuan Lio."


Sejak dua hari ini mereka bertemu hanya sebentar saja, tentu saja informasi yang disampaikan oleh mbak Wati membuat Naya tersenyum antusias, dia begitu merindukan suaminya.


"Tapi nona...." mbak Wati seperti tidak enak hati untuk melanjutkan kalimatnya.


"Ada apa mbak."


"Itu nona, mmmm."


"Ada apa sieh mbak." tuntut Naya gak sabaran.


"Tuan Lio pulang bersama wanita itu lho nona, siapa ya namanya." mbak Wati terlihat berfikir, namun dia tidak kunjung mengingat nama gadis yang datang bersama tuan majikannya, "Wanita yang pernah mengaku-ngaku dihamili oleh tuan Lio."


"Cleo." gumam Naya dengan bibir bergetar.

__ADS_1


****


__ADS_2