Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
Jamu Pengantin


__ADS_3

Naya didampingi oleh kakek Handoko menuju tempat acara ijab kabul akan dilangsungkan, kakek Handoko tidak henti-hentinya memuji kecantikan Naya begitu melihat Naya yang berbalut kebaya pengantin. Yang namanya pengantin selalu saja menjadi pusat perhatian, begitu juga dengan yang dialami Naya, dia jadi pusat perhatian para tamu undangan sepanjang perjalanan menuju tempat dilangsungkannya ijab kabul, hal itu membuatnya jadi menunduk malu, "Kek, dandanan Naya aneh ya, kok semuanya mandangin Naya."


"Mereka mandangin cucu kakek karna kamu cantik sayang, sama seperti kakek, mereka terpana dengan kecantikan kamu."


"Masak sieh kek."


"Iya sayang, jadi jangan menunduk begitu, tunjukkan kecantikanmu pada dunia." kekek Handoko mencoba membangkitkan rasa kepercayaan diri Naya.


Tapi Naya hanyalah gadis desa pemalu yang tidak bisa melakukan apa yang dianjurkan oleh kakek Handoko.


Rafa yang melihat kedatangan pengantin wanita menyenggol pinggang Lio dan berbisik, "Calon bini lho tuh, cakep banget sumpah."


"Yang namanya cewek kampung teta...." Lio menggantung kalimatnya begitu melihat wajah calon istrinya, benar yang dikatakan oleh Rafa, gadis desa itu terlihat berbeda, lebih tepatnya sieh cantik, ya meskipun begitu tidak bisa menandingi kecantikan Cleo donk kekasihnya.


"Hei, gue tau calon bini lo cantik, tapi mandanginnya gak usah sampai segitunya juga kali." Rafa menjentikkan jarinya.


"Apa sieh lo, resek, tuh cewek kampungkan cantik karna make up, coba kalau gak pakai make up, tuh cewek kayak itik buruk rupa." ejek Lio.


"Kayak Cleo gak saja, pacar lo itukan cantik karna polesan make up." telak banget deh Rafa menskak Lio, Liokan jadi gak bisa berkutik.


"Udah sampai tuh." Rafa mengedikkan dagunya kearah Naya, "Semoga berhasil." Rafa menepuk pundak Lio dan berlalu ke kursi saksi.


Naya duduk disamping Lio, mereka saling pandang sesaat sebelum membuang pandangan masing-masing, Naya memegang dadanya, "Duh, kok dadaku jadi deg-degan begini ya, mungkin karna grogi kali, iya ini pasti karna aku grogi."


Karna ayahnya tidak bisa hadir, Naya dinikahkan oleh wali hakim.


"Saya terima nikahnya Kanaya Azzahra binti Ahmad Ruslan dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai." Lio mengucapkan kalimat sakral tersebut dengan lancar.


Terdengar gelombang kalimat "Sah." dari barisan saksi sebagai pertanda kalau mereka sekarang sudah sah menjadi suami istri.


Para tamu bergiliran mengucapkan selamat pada kedua pengantin baru tersebut, baik Naya ataupun Lio hanya bisa menyunggingkan senyum palsu supaya mereka dianggap berbahagia atas pernikahan yang tidak diinginkan ini.


"Wiehhh, akhirnya lo jadi pengantin juga Li." Rafa menepuk bahu sahabatnya sekaligus bosnya itu dengan haru meskipun Lio menikah dengan perempuan yang tidak dicintai, tapi Rafa yakin Lio suatu saat pasti akan mencintai Naya, Rafa yakin Naya adalah gadis yang baik, dan dia sepenuhnya mendukung Naya dan Lio, Rafa memang gak punya masalah dengan Cleo, tapi entah kenapa Rafa punya filing kalau Cleo punya niat jahat pada Lio.


Rafa mendekatkan bibirnya ditelinga Lio membisikkan sesuatu, "Naya gadis yang baik, jangan sia-siain dia hanya untuk wanita menarik."


Lio hanya memandang Rafa gak mengerti dengan ucapan sahabatnya tersebut.


Sebelum Lio sempat membalas, Rafa beralih menjabat tangan Naya, "Selamat ya Naya, aku doakan semoga kamu bahagia, dan semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warohmah." doa Rafa tulus.


"Makasih mas Rafa, semoga mas Rafa juga cepat nyusul."


"Hehe." Rafa hanya menanggapi harapan Naya dengan cengengesan, pasalnya gak mungkin dia menyusul kalau pacar saja untuk saat ini dia gak punya.

__ADS_1


*******


Malam pertama, bagi kebanyakan pengantin mungkin ini merupakan malam yang sangat ditunggu-tunggu, itu buat pasangan yang menikah karna cinta, tapi buat pengantin yang menikah karna terpaksa tentu saja malam pengantin bukan sesuatu hal yang ditunggu, seperti malam pertama Naya dan Lio.


Naya menghabiskan berjam-jam dikamar mandi karna gugup, ini untuk pertama kalinya dia berada dalam satu ruangan dengan laki-laki, laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.


"Duh, gimana ya ini, apa dia akan langsung nyerang aku, atau di akan pelan-pelan, tapi kata orang malam pertama itu sakit." Naya jadi ngeri sendiri, "Keluar gak ya, tapi sumpah aku malu."


Ditengah perdebatan antara dirinya tersebut, suara gedoran dari luar membuatnya kaget.


"Woe, lo udah selesai belum, gue juga mau pakai kamar mandi nieh."


Naya jadi semakin gugup mendengar suara bariton Lio, "I iya mas, sebentar."


Naya membuka pintu menemukan Lio yang berdiri menjulang dihadapannya, "Apa sieh yang lo lakuin didalam, lama amet." raut wajah Lio terlihat asam.


"Maaf mas, kalau mas mau pakai kamar mandi, silahkan saja." ujarnya sambil menunduk.


Lio yang melihat penampilan Naya bergumam dalam hati, "Apa-apaan nieh cewek kampung, pakai daster jelek begitu, malu-maluin gue aja sebagai suaminya, kayaknya sebelum dia gue caraiin, dia kudu gue beliin baju yang bagus-bagus dulu agar orang gak nganggep gue mantan suami yang pelit."


Naya yang melihat Lio memperhatikannya menjadi risih dan bertanya, "Kenapa mas."


"Kenapa apanya."


"Itu karna baju lo jelek." ungkap Lio kelewat jujur.


Tapi Naya gak tersinggung tuh, dia malah berkata, "Meskipun jelek, tapi masih layak dipakai mas."


"Pokoknya gue gak mau tahu, besok lo harus buang tuh baju, kalau gue udah beliin lo baju baru."


Tanpa membiarkan Naya membalas Lio masuk meninggalkan Naya yang menghembuskan nafas lega.


Naya memperhatikan kamar yang sekarang resmi menjadi kamarnya tersebut, kamar itu luas dengan tempat tidur berukuran king size, Naya menjatuhkan badannya disana dan berujar, "Empuknya." sambil memantul-mantulkan dirinya.


Naya mendengar Lio membuka pintu kamar mandi, dia langsung bangun dan duduk, Naya melihat kearah Lio namun langsung berpaling begitu mengetahui laki-laki itu hanya melilitkan handuk dipinggangnya, Naya memilin tangannya, keringat dingin merembas didahinya.


Dalam hati dia mendesah, "Kenapa mas Lio cuma pakai handuk sih, jangan-jangan dia mau....."


"Kenapa lo lirik-lirik." bentak Lio.


"Eh, gak kok mas, Naya gak lirik-lirik."


"Barusan, lo curi-curi pandang, lo ***** ya lihat badan gue."

__ADS_1


"Gak kok mas, mas kok geer banget."


"Geer gimana tadi gue lihat lo ngeces."


Itu gak bener sieh, tapi Naya malah menyeka bibirnya.


"Anjirr nieh cewek gampang banget dibodohin." Lio tertawa dalam hati.


Tok


Tok


Tok


"Tuan, nyonya, maaf mengganggu." suara ketukan dibarengi dengan suara dari luar kamar.


Naya bergegas membuka pintu, bi Darmi salah satu pembantu dirumah besar tersebut membawa nampan berisi segelas minuman berwarna agak kekuningan.


"Ada apa ya bi."


"Ini non, bibi disuruh membawakan minuman ini untuk non Naya."


"Oh, untuk saya bi."


Bi Darmi mengangguk, "Untuk mas Lio mana."


"Maaf non, tuan Handoko hanya menyuruh saya membawakan minuman untuk non Naya saja."


"Gitu ya, Naya jadi ngerepotin, tapi makasih ya bi."


"Sama-sama non, semangat ya non bekerja kerasnya." bi Darmi tersenyum penuh arti sebelum berlalu.


"Apaan sih bi Darmi, inikan sudah malam waktunya istirahat, mana ada orang bekerja keras." ujar Naya polos, dia bener-bener gak mengerti maksud perkataan bi Darmi barusan.


Naya memperhatikan minuman yang dibawakan oleh bi Darmi, mengarahkannya kemulutnya dan byuurrr, gak sampai satu detik tuh minuman disemburkan oleh Naya.


"Kenapa lo." Lio bertanya.


"Pahit." Naya memelet-meletkan lidahnya.


Dia gak tahu saja kalau minuman tersebut adalah jamu pengantin.


****

__ADS_1


__ADS_2