
"Bunda bunda, ayah sudah pulang." Bulan menunjuk mobil ayah angkatnya yang terparkir di garasi untuk memberitahu Naya.
"Mas Lio sudah pulang." heran Naya karna tumben melihat suaminya pulang cepat, "Tumben banget."
Mengetahui ayah angkatnya sudah pulang, gadis kecil tersebut berlari ke dalam rumah, dia sudah tidak sabar untuk menunjukkan kucingnya pada ayah angkatnya itu.
"Nahh Bintang, ayok kita ketemu ayah Lio, dia pasti senang berjumpa denganmu." kata Bulan memberitahu kucingnya seakan-akan tuh kucing mengerti apa yang dia katakan saja.
"Bulannn, pelan-pelan donk sayang, jangan lari-lari begitu, entar jatuh lagi." peringat Naya melihat tingkah anak angkatnya tersebut, namun Bulan yang antusias ingin menunjukkan kucing barunya kepada Lio tidak mempedulikan peringatan Naya.
"Astagaa anak itu." Naya geleng-geleng.
Gadis kecil itu terus berlari dan berhenti saat melihat ayah angkatnya duduk bersandar disofa ruang tamu.
"Ayah ayah ayah." teriaknya yang membuat Lio menoleh seketika pada sumber suara.
Melihat kedatangan Bulan, mampu membuat senyum tercetak diwajah Lio.
"Ayah coba lihat, Bulan punya kucing baru lho, dibeliin sama bunda Naya." beritahu Bintang saat sudah ada didepan ayahnya sembari memperlihatkan kucing imut berbulu seputih salju, "Cantikkan ayah, dia perempuan lho, namanya Bintang." lapor gadis kecil itu.
"Iya cantik." jawab Lio seadanya karna sebenarnya dia tidak terlalu menyukai kucing.
Ngeong
Ngeong
Sik Bintang mengeong, mungkin itu sebagai salam perkenalannya dalam bahasa kucing. Dan tiba-tiba saja Bintang melompat dari gendongan Bulan, kucing betina tersebut berlari ke arah Lio dan menggosok-gosokkan bulunya yang halus pada kaki Lio.
"Astagaaa kucing ini, apa-apaan dia." batin Lio memandang kucing milik putri angkatnya dengan geli, ingin menyepaknya, tapi tidak mungkin dilakukan didepan Bulan, akhirnya terpaksa dia membiarkan kucing itu ngedusel-dusel dikakinya yang dilapisi oleh celana panjangnya.
"Bintang menyukai ayah." seru Bulan melihat sik kucing ngedusel-dusel manja.
Lio hanya tersenyum kecut menanggapi pemberitahuan Bulan.
Bulan kemudian duduk disamping ayah angkatnya, dan kucing tersebut langsung melompat kepangkuan Bulan begitu melihat pemiliknya itu duduk.
"Bintang kucing yang pintar ayah, dia suka di elus-elus kayak gini." ujar Bulan sambil membelai bulu halus kucingnya yang kini anteng dipangkuannya, "Iyakan, kamu kucing pintar, kucing manja, kucing gendut."
Lio hanya tersenyum tipis melihat Bulan yang terlihat menyayangi kucing barunya.
Ngeong
Ngeong
__ADS_1
"Ayah, Bintang katanya ingin di elus sama ayah." kata Bulan saat kucingnya mengeong, seperti mengerti bahasa kucing saja dia.
"Ehhh." jelas saja Lio keberatan, namun tidak diungkapnya secara lisan.
"Ayok ayah elus." Bulan menarik telapak tangan ayahnya dan meletakkannya dibulu halus Bintang.
Agak geli, tapi tidak bisa menolak, Lio akhirnya melakukan apa yang diperintahkan oleh putri angkatnya itu.
Ngeong
Ngeong
Sik kucing mengeong, kucing betina itu terlihat nyaman dibelai oleh ayah dari pemiliknya.
"Katanya dia nyaman dibelai sama ayah." Bulan sudah seperti translator bahasa kucing saja.
"Tapi aku yang tidak nyaman." Lio membatin.
Naya kemudian memasuki ruang tamu dengan membawa plastik berisi seperangkat peralatan kucing dan juga makanan kucing untuk Bintang.
Mendengar suara langkah mendekat, membuat baik Lio dan Bulan menoleh ke arah sumber suara.
"Mas, mas Lio sudah lama pulangnya." sapa Naya melihat Lio duduk bersama Bulan.
Tanpa mempedulikan raut kekesalan yang tercetak jelas diwajah Lio, (Bukannya tidak peduli, Naya hanya tidak peka.) Naya duduk disamping Bulan dan meletakkan plastik yang dibawanya di atas meja ruang tamu.
"Apa itu." Lio bertanya melihat plastik yang diletakkan oleh Naya.
"Makanan Bintang, susu, mainan dan juga shampo khusus untuk memandikan Bintang." jelasnya.
"Ohh ya ayah, semuanya itu om Boy lho yang belikan." beritahu Bulan.
Dan demi mendengar ucapan anak angkatnya tersebut berhasil membuat tingkat kekesalan Lio meningkat, namun ditahannya, "Om Boy." ulangnya dengan suara yang dibuat biasa, "Kalian pergi nyari kucing bersama anak..." Lio akan bilang anak tengik, tapi karna ingat ada Bulan, jadi dia meralat kata-katanya, "Sik Boy itu."
"Iya ayah." dan Bulan dengan segala kepolosannya kembali bercloteh, "Om Boy baik banget ayah, dia mau nemenin Bulan dan bunda membeli kucing, selain membelikan makanan dan susu kucing, om Boy juga membelikan Bulan es krim." lapornya antusias.
"Ohh ya." ketus Lio semakin dibuat kesel mendengar penjelasan Bulan, dia menatap Naya tajam, namun yang ditatap tidak memperhatikan karna sibuk mengelus-elus bulu halus Bintang.
"Iya ayah, om Boy bener-bener baikkan." Bulan terus saja bercloteh dengan antusias membicarakan kebaikan laki-laki lain didepan ayah angkatnya, namanya juga anak kecil yang belum mengerti apa-apa, dia tidak sadar kalau ayahnya tengah menahan kesel mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir mungilnya, "Bahkan om Boylah yang memberikan nama untuk 'Bintang' untuk kucing Bulan, kata om Boy, agar nama kami sama-sama menyandang benda langit yang selalu bersinar menyinari bumi dimalam hari, kerenkan ayah."
Lio yang memang tidak menyukai kucing semakin tidak suka sama kucing tersebut, apalagi mengetahui kalau yang memberikan nama adalah Boy, makanya, dia berinisiatif untuk mengganti nama kucing itu, "Sayang, menurut ayah, nama Bintang itu kurang bagus, tidak keren." alibinya, "Bagaimana kalau nama kucingnya diganti saja jadi Jupiter, kan sama-sama benda langit juga, bahkan Jupiter itu planet yang paling besar dalam tata surya, lebih hebatkan dari Bintang." ucapnya tidak mau kalah menyarankan nama.
Naya yang sejak tadi fokus mengelus-elus Bintang reflek menatap Lio, "Kucingnya betina mas." responnya saat mendengar saran nama yang berikan oleh Lio.
__ADS_1
"Iya terus."
"Setahu Naya, nama Jupiter itu untuk laki-laki."
"Siapa bilang, Jupiter bukan nama hanya untuk laki-laki saja, banyak kok perempuan bernama Jupiter."
"Masak sieh, tapi kok kayak aneh gitu ya kucing betina dikasih nama Jupiter."
Tanpa mempedulikan ucapan Naya, Lio bertanya pada Bulan, "Bagaimana sayang, nama kucingnya diganti saja ya." bujuknya.
Bulan tidak langsung mengiyakan, gadis kecil itu terlihat bimbang karna dia sebenarnya lebih menyukai nama pemberian dari Boy ketimbang nama yang disarankan oleh ayah angkatnya itu, namun, terang-terangan menolak juga Bulan merasa tidak enak, takut menyinggung perasaan ayahnya.
"Ngapain pakai diganti segala sieh mas, nama Bintang sudah cocok untuk kucing itu." sela Naya.
"Gak bisa Naya, nama Bintang itu pasaran, sudah banyak orang dan juga hewan peliharaan bernama Bintang, Jupiter donk, lebih keren." oke, ini lebih kepada pemaksaan terhadap pendapat hanya karna Lio tidak suka sama orang yang memberikan nama pada kucing anaknya.
"Pasaran gimana, orang nama Bintang bagus dan keren jika dibandingkan Jupiter."
Pasutri ini berdebat, kukuh mempertahankan pendapat masing-masing.
Bulan hanya menjadi penonton perdebatan orang tua angkatnya, bahkan Bintang yang diperdebatkan juga ikut-ikutan menjadi penonton, itu terbukti karna kucing tersebut berhenti mengeong-ngeong sejak Naya dan Lio berdebat tentang nama yang cocok untuknya.
"Lho, ada apa ini ribut-ribut." kakek Handoko yang baru masuk mengintrupsi perdebatan pasutri tersebut, beliau berjalan menggunakan tongkatnya.
"Kakek buyut." dengan menggendong kucingnya, Bulan berlari menyongsong kakek Handoko, "Coba lihat, bunda membelikan Bulan kucing."
"Imut sekali, sama imutnya dengan kamu." kakek Handoko mengelus puncak kepala cicit angkatnya tersebut.
Dipuji begitu membuat gadis kecil itu tersenyum sumringah.
Naya juga melakukan hal yang sama dengan Bulan, menyongsong kakek Handoko, namun yang dia lakukan seperti biasa, membantu kakek Handoko dan menuntunnya duduk disofa, Bulan mengekor dibelakang.
Naya mendudukkan kakek Handoko dan Bulan duduk disamping sang kakek.
"Kakek buyut, ayah dan bunda bertengkar, mereka bertengkar gara-gara Bintang." lapor gadis itu dengan polosnya, "Ayah ingin nama kucing Bulan ini Jupiter, sedangkan bunda kukuh mempertahankan nama yang diberikan oleh om Boy yaitu Bintang."
Lio mengintrupsi, "Ayah dan bunda tidak bertengkar sayang, kami hanya berdiskusi."
"Iya sayang, kami tidak bertengkar hanya berdiskusi saja." sokong Naya membenarkan ucapan Lio.
****
"
__ADS_1