Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
BUAH KEDONDONG DAN MANGGA MUDA


__ADS_3

Cleo menggandeng tangan Lio memasuki satu ke toko lainnya untuk membeli barang-barang branded.


Sebelum ini Lio sudah sering menemani Cleo belanja, dan itu tidak pernah jadi masalah untuknya, dia fine-fine saja tuh menemani kekasihnya itu belanja dan dengan senang hati membelikan apapun yang Cleo inginkan hanya untuk membuat sang kekasih bahagia, tapi saat ini, dia yang tengah suntuk semakin bertambah suntuk karna Cleo yang menyeretnya memasuki setiap toko, padahalkan niatnya menemui kekasihnya itu untuk menghilangkan rasa suntuknya, ini malah dia dibuat kesal karna Cleo seperti punya tenaga ekstra untuk menyeretnya memasuki setiap toko yang ada, kaki Lio pegal-pegal karna harus mengimbangi Cleo yang lincah seolah tidak ada capeknya memasuki setiap toko yang ada dimall tersebut, yah memang resiko sieh memiliki pacar seperti Cleo yang hobi belanja, setiap ngajak keluar pasti yang dikunjungi toko-toko yang menjual barang-barang bermerk.


Sementara wajah Lio semakin ditekuk, sedangkan Cleo terlihat bahagia tanpa memperhatikan tampang bete sang kekasih yang terlihat sudah mulai bosan meladeni setiap keinginannya.


"Katanya ngajakin jalan untuk menghilangkan kesuntukan gue, ini malah gue makin dibuat suntuk oleh Cleo." keluh Lio dalam hati, "Ohhh ya Tuhan, kok bisa-bisanya sieh gue jatuh cinta sama gadis yang doyan belanja seperti ini." .


Disaat seperti itu, Lio dan Cleo yang tengah berjalan tidak sengaja bertemu dengan mama Renata yang juga tengah bersama teman-teman sosialitanya.


"Mama." gumam Lio yang melihat mamanya.


Mama Renata menatap putranya, dia juga sepertinya tidak menyangka akan bertemu dengan putra semata wayangnya, mama Renata memicingkan mata melihat wanita cantik yang menggandeng lengan putranya.


"Mama." Cleo mengulangi kalimat Lio dan mengikuti arah pandang Lio, "Itu mama kamu sayang." simpulnya melihat wanita berumur tapi masih terlihat cantik dan fashionable di usianya yang sudah tidak lagi muda.


Lio mengangguk.


"Baiklah jenk, kita berpisah disini, kapan-kapan kita bertemu lagi." ujar salah satu teman mama Renata.


"Iya jenk." balas mama Renata, "Kapan-kapan kita kumpul-kumpul lagi oke."


Mama Renata cupika-cupiki dengan teman-teman sosialitanya sebelum mereka berpisah.


"Dadah jenk, sampai jumpa lagi." teman-teman mama Renata melambai yang dibalas oleh mama Renata.


Setelah kepergian teman-teman sosialitanya, mama Renata berjalan ke arah putranya.


"Lio, kamu ngapain disini." tanyanya, tapi bukannya memandang Lio, mama Renata malah fokus memperhatikan gadis cantik yang menggandeng putranya, "Siapa gadis ini." bertanya dalam hati, "Dia cantik, modis dan terlihat berpendidikan tinggi, sepertinya dia cocok menjadi menantu keluarga Rasyad, tidak seperti Naya kampungan itu."


"Lio lagi jalan ma sama Cleo, mama sendiri ngapain disini." Lio bertanya balik.


"Biasa, mama melakukan pertemuan rutin dengan teman-teman mama." jawabnya masih menatap Cleo penuh selidik.


Melihat dirinya diteliti sedemikian rupa oleh mamanya Lio, Cleo mengulas senyum yang dibuat semanis mungkin, fikirnya, dia harus membuat kesan sebaik mungkin jika ingin hubungannya dengan Lio direstui oleh mamanya Lio.


Cleo memperkenalkan dirinya secara resmi, "Ohh perkenalkan tante, saya Cleo, kekasihnya Lio."


"Kekasih." mama Renata menatap putranya untuk meminta penjelasan, namun Lio hanya diam, saat ini dia tengah tidak mood membahas hubungannya dengan Cleo.


"Iya tante, saya kekasihnya Lio."


"Sejak kapan kalian menjalin hubungan."


"Hampir dua tahun tan."


"Hmmm." mama Renata berfikir dalam hati, "Mereka sudah menjalin hubungan sejak dua tahun yang lalu, itu berarti jauh sebelum Lio menikahi gadis kampung itu, tapi kenapa Lio tidak pernah memperkenalkan kekasihnya padaku."

__ADS_1


"Lio, Cleo, bagaimana kalau kita minum kopi dan berbincang-bincang sebentar." ajak mama Renata karna dia ingin mengenal lebih jauh wanita yang menjadi kekasih anaknya.


Lio sebenarnya malas, dia sudah akan menolak, tapi dia didahului oleh Cleo yang menjawab tawaran mama Renata dengan antusias, "Boleh tan." dalam hati Cleo berkata, "Ini kesempatanku mengambil hati mamanya Lio supaya aku diterima oleh keluarganya dan sik Naya kampungan itu segera didepak dari keluarga Rasyad."


****


Begitu sambungan vidio terputus, sebuah chat dari Rafa masuk ke ponsel Naya.


Rafa : Hai Naya, kamu apa kabar, aku denger dari Lio kalau saat ini kamu tengah hamil, selamat ya atas kehamilannya, semoga kamu dan sik bayi selalu dalam keadaan sehat.


Membaca pesan dari Rafa membuat Naya terharu, disaat banyak orang ikut bahagia dengan kehamilannya, suaminya malah tidak mengharapkan bayi yang kini tengah dikandungnya.


Naya : Terimakasih banyak ya mas Rafa.


Rafa : Naya sudah mulai ngidam gak, ingin makan ini itu atau gimana, kalau Naya ingin makan sesuatu bilang saja sama aku, ntar aku bawain deh sekalian mampir untuk melihat keadaan kakek Handoko.


"Mas Rafa baik banget sampai nanyain apa yang ingin aku makan, coba mas Lio seperti mas Rafa, pasti aku akan menjadi wanita yang sangat bahagia." namanya juga manusia, meskipun bilang sudah menerima, tapi mengeluh itu juga pasti ada.


Sebenarnya Naya ingin makan kedondong dan mangga muda sieh, sejak kemarin rasanya dia ngiler membayangkan asemnya buah itu dimulutnya, tapi karna merasa tidak enak merepotkan Rafa, akhirnya dia menolak tawaran Rafa.


Naya : Tidak usah mas, Naya tidak mau merepotkan mas Rafa.


Lio : Astaga Naya, kayak sama siapa saja, aku gak repot kok, bilang saja kamu dibawain apa.


Naya : Iya sudah kalau mas Rafa memaksa, Naya ingin makan kedondong dan mangga muda mas, biasa orang ngidam, inginnya makan yang asam-asam.


Naya : Iya mas.


Rafa : Tidak mau yang lain lagi gitu, seperti apel, melon, rambutan, pisang.


Naya : Tidak mas, itu saja.


Rafa : Oke, pas kesana nanti aku bawain ya.


Naya : Makasih ya mas Rafa, mas baik sekali sama Naya.


Rafa : Santai saja Nay, lagian ayah dan ibumukan telah menitipkan kamu ke aku, jadi aku harus menjaga dan melindungi kamu.


Waktu dulu menjemput Naya dikampung, ayah Naya meminta Rafa untuk menjaga anak perempuannya itu meskipun mereka tahu kalau Rafa bukanlah calon suami Naya.


Naya : Duhh Naya semakin tidak enak, karna ayah dan ibu ngerepotin mas Rafa pakai nitipin Naya segala lagi ke mas, padahalkan Naya sudah besar sebentar lagi punya anak lagi, Nayakan tidak perlu dijaga.


Rafa : Hehe, santai Nay, jangan merasa tidak enak begitu, lagian kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri seperti Leta.


Naya : Makasih mas, Naya jadi terharu.


Rafa : Sama-sama Naya.

__ADS_1


"Coba saja mas Lio seperti mas Rafa." gumam Naya, "Gak boleh mengeluh Naya, kamu harus bersyukur." dia memperingatkan dirinya.


****


Rafa memasuki super market demi super market hanya untuk mencari buah yang diinginkan oleh Naya, tapi tidak satupun supermarket yang dimasukinya menjual kedondong ataupun mangga muda, yang ada hanya mangga matang.


"Duhhh, cari manngga dan kedondong dimana sieh, kenapa tidak ada satupun supermarket yang gue masuki menjual buah itu, malah gue sudah berjanji lagi sama Naya untuk membawakannya, kalau gue kesana tanpa membawakan buah yang dia minta, dia pasti kecewa." desah Rafa karna tidak kunjung menemukan buah pesanan Naya.


Disaat tengah galau karna sudah tidak tahu lagi dimana menemukan toko yang menjual kedondong dan mangga muda, saat tengah menyetir mobilnya, matanya tidak sengaja menoleh ke pinggir jalan, disana seorang pedagang buah tengah menjajakan dagangannya, dan ternyata pedagang buah itu menjual buah yang diinginkan oleh Naya.


Rafa otomatis menghentikan mobilnya dipinggir jalan untuk membeli buah pesanan Naya.


"Akhirnya setelah gue muter-muter, ketemu juga." Rafa mendesah lega.


"Mau beli buah tuan." sapa bapak pedagang itu ramah saat Rafa menghampirinya.


"Iya pak, tolong ya kedondongnya satu kilo sama mangga mudanya juga satu kilo."


Sambil meraih kantong plastik sebagai tempat untuk menaruh buah yang diinginkan pelanggannya, pedagang buah itu tersenyum, "Istri tuan lagi ngidam ya."


Rafa tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Yahh begitulah pak." jawabnya asal, "Saya sudah muter-muter lho nyari, ketemunya disini." curhat Rafa.


"Wanita yang tengah hamil biasanya memang begitu tuan, sukanya makan yang asam-asam, dan kadang suka menginginkan buah yang lagi tidak musim."


"Ribet juga yah ternyata kalau wanita ngidam."


"Apa istri tuan suka muntah-muntah."


"Ehhh itu, kayaknya iya sepertinya." ya mana Rafa tahu Naya muntah-muntah atau tidak karna mereka tidak serumah.


"Itu biasa tuan sama wanita yang tengah ngidam, mungkin dengan memakan buah-buah asam sedikit bisa meredam rasa mualnya, tuan harus menjadi suami siaga disaat istrinya hamil begini, harus selalu ada disamping istri." nasehat sik bapak pedagang.


Sedangkan Rafa hanya senyum-senyum sendiri, karna jawaban isengnya barusan jadi berbuntut panjang, dia malah mendapat ceramah dari sik pedagang, "Iya pak." jawabnya seadanya.


"Nahh, ini tuan buahnya." pedagang itu menyerahkan dua kantong plastik berisi buah kedondong dan buah mangga, "Semoga istri dan calon bayinya selalu diberi kesehatan oleh gusti Allah dan lahir dengan selamat ketika sudah waktunya." doa sik pedagang tulus.


"Amien pak, terimakasih ya pak doanya." saking bersyukurnya karna menemukan buah kedondong dan mangga muda untuk Naya, Rafa menyerahkan dua lembar uang kertas dengan nominal seratus ribu rupiah.


"Buat bapak."


"Terimakasih banyak ya tuan, terimakasih atas kemurahan hati tuan." sik pedagang menerima uang yang diberikan oleh Rafa dengan penuh syukur.


"Sama-sama pak, itu rizki dari Allah melalui perantara saya." Rafa mengambil kantong plastik yang disodorkan sik pedagang, "Kalau begitu saya permisi dulu pak."


"Iya tuan, semoga selamat dalam perjalanan."


Rafa kemudian berlalu dari tempat itu.

__ADS_1


****


__ADS_2