Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
AKU TIDAK MAU MELIHATMU


__ADS_3

Lio merasakan tubuhnya lemas, seakan-akan semua tulangnya lenyap begitu saja meninggalkan tubuhnya, dia tidak bisa berkata-kata, Lio bahkan sampai berpegangan pada dinding untuk menyangga tubuhnya supaya tidak limbung.


Lio merasa sangat bersalah pada kakeknya, karna ulahnya dimasa lalulah yang menyebab kakeknya pergi begitu cepat, bahkan kakeknya belum sempat melihat cicitnya lahir ke dunia, salah satu hal yang menyebabkan kakeknya memiliki dorongan untuk sehat dan hidup lebih lama.


"Kenapa seperti ini, apa yang telah aku lakukan." Lio merutuk dirinya, "Aku telah membunuh kakekku sendiri."


Sementara mama Renata terus menangis dan menyangkal apa yang disampaikan oleh dokter Vito, "Papa saya tidak meninggalkan dokter, dokter bohongkan, papanya saya hanya istirahatkan didalam karna kecapean."


Hal seperti ini sudah sering di jumpai oleh seorang dokter, keluarga pasien yang begitu shock mendengar berita buruk yang disampaikan oleh dokter akan menolak mempercayai berita tersebut, dan dokter Vito memaklumi akan hal itu.


Rafa dan mama papanya juga tentu berduka atas kepergian orang baik yang telah berjasa dalam hidup mereka, tapi tentunya mereka tidak seterpuruk Lio dan mama Renata.


Mama Rina mendekati mama Renata dan mencoba untuk menenangkannya, "Sudahlah jenk Renata, ini adalah yang terbaik untuk tuan Handoko, jenk harus mengikhlaskan kepergian beliau supaya beliau tenang."


"Aku hanya tidak menyangka kalau papa pergi secepat ini." mama Renata semakin terisak, apalagi beberapa hari yang lalu dia sempat bertengkar dengan papanya dan dia belum sempat meminta maaf.


"Begitulah kehidupan jenk, kita semua akhirnya akan pergi cepat atau lambat meninggalkan dunia yang fana ini, kita hanya menunggu waktu saja." mama Rina memberi nasehat bijak.


"Ayok jenk sebaiknya kita masuk ke dalam melihat tuan Handoko untuk terakhir kalinya." sambil mengelus punggung mama Renata.


Mama Renata mengangguk, dia dituntun oleh mama Rina untuk melihat jasad papanya.


Berbeda dengan Lio yang menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa kakeknya, Rafa tidak menyalahkan sahabatnya itu, karna dia yakin Lio sudah berubah dan memulai kehidupan yang baru dengan Naya atas dasar cinta, Rafa tahu beberapa bulan terakhir ini Lio benar-benar tulus untuk membahagiakan kakeknya tanpa paksaan, salah satunya adalah mengabulkan harapan kakeknya untuk memiliki cicit, tapi sayangnya kakek Handoko belum sempat bertemu dengan cicitnya karna dia lebih dulu dipanggil oleh yang maha kuasa.


Rafa mendekati Lio, "Lio." tegurnya.


Lio menoleh ke arah sahabatnya itu, wajah Lio terlihat mendung, sangat jelas saat ini Lio tengah merasakan luka yang sangat mendalam.


Rafa menepuk punggung sahabatnya, "Sudahlah Lio, berhenti menyalahkan diri lo sendiri, ini bukan salah lo, gue tahu lo sudah berusaha membahagiakan kakek dimasa-masa terakhir hidupnya, meskipun apa yang kita harapkan memang tidak sesuai dengan kenyataan, tapi seenggaknya lo sudah berusaha."


Lio menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, kata-kata Rafa tidak bisa membuatnya lebih baik, "Seandainya gue menuruti kata-kata lo Raf, seandainya gue langsung mengakhiri hubungan gue dengan Cleo saat menikahi Naya, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini, gue sangat menyesal Raf, gue yang menyebabkan kakek gue pergi tanpa sempat membuatnya bahagia, gue benar-benar cucu durhaka, tidak tahu diuntung." Lio terus saja menyalahkan dirinya.


"Lo jangan terus-terusan menyalahkan diri lo Lio, apa yang terjadi itu sudah diatur oleh yang maha kuasa, ihklaskan yang sudah terjadi." nasehat Rafa.


"Lebih baik kita masuk ke dalam untuk melihat kakek Handoko."


Lio berdiri, dengan kesedihan yang mendalam dia melangkah masuk untuk melihat kakeknya untuk yang terakhir kalinya.


****


Diruangan berbeda, Naya masih belum sadarkan diri, matanya terpejam, sisa air mata masih terlihat dipipinya.


Disana, ada Leta yang setia menemaninya, sedikitpun Leta tidak pernah beranjak dari sisi Naya, dia turut merasakan apa yang saat ini tengah dirasakan oleh Naya.


Leta menatap wajah polos Naya, wajah penuh kedamaian yang membuat orang betah berlama-lama menatapnya, memang tidak cantik, tapi kebaikan hatinyalah yang membuat banyak orang menyukainya.


"Aku tidak pernah menyangka, hanya karna laki-laki aku pernah membenci mbak Naya dan mengabaikannya, padahal dia tidak tahu apa-apa."


Leta meraih tangan Naya yang tergeletak disamping tubuhnya yang terbaring, Leta mengelus tangan mungil Naya, "Kasihan sekali kamu mbak, saat kondisi hamil begini kamu dihadapkan pada kenyataan kalau kak Lio menghamili wanita lain, aku benar-benar tidak menyangka kak Lio seperti itu, tega sekali dia menyakiti gadis polos dan baik hati sepertimu mbak." Leta terus berbicara sendiri.


"Mbak Naya yang kuat ya, demi calon bayinya, Leta yakin mbak Naya pasti bisa melalui semua ini, aku akan selalu ada untukmu mbak, dan maafkanlah aku yang sempat menaruh rasa benci kepadamu mbak."


Tangan Naya yang saat ini berada dalam genggaman Leta tiba-tiba bergerak, diiringi oleh kelopak matanya yang juga bergerak perlahan, pelan tapi pasti, Naya membuka matanya perlahan dan mengerjap-ngerkapkannya.


"Mbak Naya, mbak sudah sadar, syukurlah." Leta terlihat lega saat mengetahui Naya sudah membuka matanya.


Naya berusaha mengenali tempat dimana dia kini berada, selang infus menancap dipergelangan tangannya, "Mbak Leta." ucapnya lemah.


"Iya mbak, ini aku."


"Apa yang terjadi denganku."


"Mbak Naya tidak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit bersama dengan kakek Handoko." Leta menjelaskan.


"Kakek Handoko, apa dia baik-baik saja."


"Kakek Handoko masih ditangani oleh dokter mbak, dan dia pasti akan baik-baik saja." ujar Leta tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Aku haus." Naya memegang tenggorokannya.


Leta dengan gesit meraih gelas berisi air putih yang ada dinakas, membantu Naya untuk duduk dan kemudian memberikan gelas itu kepada Naya.


Naya menghabiskan air dalam gelas, sepertinya setelah hilang kesadaran selama beberapa jam membuatnya begitu sangat kehausan, "Terimakasih."


Leta tersenyum tulus sebagai balasan.


Ingatan tentang apa yang terjadi dirumah besar beberapa jam yang lalu kini kembali melintas difikiran Naya, hal itu tanpa sadar kembali membuat air matanya berjatuhan, dadanya terasa sesak seperti disumbat oleh sesuatu.


Leta ingin menghibur, namun dia mengurungkan niatnya, dia membiarkan Naya menangis karna terkadang menangis memang sedikit bisa mengurangi beban batin yang kini dirasakan, sama seperti dirinya yang hanya bisa menangis saat mengetahui cintanya bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


"Mbak Naya yang sabar ya, Leta yakin mbak orang yang kuat dan mampu melalui cobaan ini." ujar Leta setelah beberapa menit membiarkan Naya menumpahkan air matanya, dan kini Naya terlihat sedikit lebih tenang.


Tiba-tiba Naya memegang perutnya, perutnya terasa kram, "Aduhhh, perutku." rintihnya.


Naya terlihat begitu kesakitan.


"Kenapa mbak." panik Leta.


"Perutku sakit sekali mbak, awww." Naya menekan perutnya dengan harapan sakitnya akan berhenti, sayangnya sakit itu bukannya berhenti malah makin parah.


"Astaga ya Tuhan, kenapa ini."


Disaat seperti itu Lio masuk untuk melihat kondisi istrinya, dan melihat Naya yang meringis kesakitan sambil memegang perutnya dia langsung menghampiri Naya, Lio benar-benar cemas, "Apa yang terjadi."


"Perutku." rintih Naya terisak, "Sakit mas."


"Kak, panggilkan dokter cepat." perintah Leta.


Lio langsung berlari keluar, hanya butuh waktu dua menit Lio kembali bersama dokter.


"Mohon maaf, sebaiknya pak Adelio dan nona tunggu diluar." pinta dokter perempuan yang merupakan dokter spesialisasi kandungan itu.


"Tapi istri saya dokter."


"Tenang pak, saya akan menanganinya."


"Tapi....."


"Ayok kak Lio, biarkan dokter yang menangani mbak Naya." Leta menarik lengan Lio sebelum Lio menuntaskan ucapannya.


"Istri dan bayi saya tidak kenapa-napakan dok." Lio masih sempat bertanya sebelum keluar dari ruangan tersebut.


"Ayok kak, percayalah dokter bisa menanganinya."


Dengan berat hati Lio meninggalkan ruangan tersebut, namun dia sempat berbalik dan melihat wajah Naya yang terlihat begitu kesakitan, dia tidak tega melihat Naya kesakitan begitu, tapi tidak ada yang bisa dilakukan oleh Lio untuk membantu Naya.


*****


Belum hilang kesedihannya karna kehilangan kakeknya, kini Lio dihadapkan pada kondisi Naya yang memburuk, dia mondar-mandir didepan ruangan yang ditempati oleh Naya menunggu dengan cemas.


Sedangkan Leta duduk dibangku panjang yang menempel pada dinding, dia juga cemas dengan kondisi Naya.


"Bagaimana istri dan bayi saya dokter, mereka baik-baik sajakan." Lio benar-benar berharap dokter itu menyampaikan kabar baik, sudah cukup dokter Vito yang membawa kabar buruk.


Dokter bernama Shinta itu tersenyum, dan senyum itu sedikit tidaknya membuat Lio tenang, karna senyum seorang dokter berarti pertanda baik, "Pak Adelio tidak usah khawatir, ibu Naya hanya mengalami keram, dan hal itu biasa dialami oleh ibu hamil, yang dia butuhkan saat ini adalah istirahat."


Lio terlihat lega mendengar penjelasan dokter Shinta, meskipun begitu, dia kembali bertanya untuk lebih meyakinkan dirinya, "Benaran istri saya tidak kenapa-napakan dok, soalnya tadi dia begitu sangat kesakitan."


"Iya pak Adelio, istri anda dan bayi anda tidak apa-apa, hanya saja, saran saya, usahakan jangan sampai pak Adelio membuat ibu Naya stres karna itu akan berpengaruh pada kondisi kesehatan sik ibu dan sik bayi yang tengah dikandungnya."


Lio terdiam, dia hanya menyimak apa yang dikatakan oleh dokter Shinta tanpa menyela.


"Baiklah kalau begitu pak Adelio, saya tinggal dulu, karna saya harus menangani pasien yang lainnya." pamit dokter Shinta berlalu pergi.


Lio mengangguk lemah, dia terngiang-ngiang apa yang dikatakan oleh dokter Shinta barusan, "Usahakan jangan sampai membuat ibu Naya stress, karna itu akan berpengaruh pada kesehatannya dan sik bayi."


"Suami macam apa aku yang menyakiti istriku sendiri sampai sedemikian rupa." Lio merutuk dirinya sendiri.


Meskipun bukan dirinya yang disakiti, tapi Leta juga ikut kesal dan marah sama Lio, Leta benar-benar tidak menyangka kalau Lio yang sudah dianggap kakaknya itu tega menyakiti Naya, makanya, tanpa basa-basi Leta masuk kembali ke ruang rawat Naya tanpa menyapa Lio.


Melihat Leta masuk, Lio mengikuti.


Hatinya langsung hancur begitu melihat tubuh ringkih Naya terbaring dibankar rumah sakit dengan wajah kuyu, ekpresi wajah itu sudah lebih dari cukup untuk memberitahu Lio betapa kecewanya Naya kepadanya, dan hal itu semakin di perjelas saat Naya melihatnya, Naya langsung memalingkan wajah, Naya sepertinya benar-benar tidak sudi untuk melihatnya.


"Nayaaa." meskipun kehadirannya tidak diterima, namun Lio berusaha untuk mengajak Naya bicara, "Aku...."


"Keluar mas." usir Naya.


Lio tidak mengindahkan, dia kembali berkata, "Naya, dengarkan aku dulu, ini semua salah paham, apa yang kamu denger dari mulut Cleo tidak seperti yang kamu duga."


"Aku tidak mau melihatmu mas, jadi tolong mas, tinggalkan Naya sendiri."


Lio tiba-tiba merasa sesak saat mendengar kalau wanita yang dia cintai tidak mau melihatnya.


"Ini semua hanya salah paham Nay, aku bisa menjelaskan semuanya, jadi aku mohon tolong dengarkan aku." Lio kembali mengulangi perkataannya dengan harapan Naya memberinya kesempatan untuk menjelasakan.


"Keluar mas keluar." Naya mulai terisak, melihat Lio hanya membuatnya sakit hati.


Leta tahu, dia hanya orang luar dan tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga Naya dan Lio, tapi melihat Naya yang sepertinya tersiksa dengan kehadiran Lio, mau tidak mau Leta harus turun tangan.

__ADS_1


"Kak Lio." tegur Leta, "Kakak tidak denger mbak Naya bilang apa, dia gak mau melihat kakak, kakak sebaiknya keluar."


"Baiklah." meskipun dia tidak rela, tapi demi kebaikan Naya akhirnya Lio dengan terpaksa menuruti keinginan Naya, "Aku akan keluar, tenangkan dulu diri kamu Nay, aku yakin saat ini kamu tengah emosi, kalau kamu sudah lebih tenang, kita bicara baik-baik." ucapnya dan Lio beralih menatap Leta, "Ta, tolong jagain Naya, jangan biarkan diri sendiri."


"Hmmm." gumam Leta malas membuka bibirnya untuk membalas ucapan Lio.


"Terimakasih Ta, kamu benar-benar adik yang baik."


"Siapa yang sudi jadi adik dari seorang tukang selingkuh seperti lo, dasar laki-laki genit, hidung belang." umpat Leta dalam hati.


"Nayy, aku keluar dulu."


Jangankan membalas, melirik saja Naya tidak mau.


Lio hanya menghela nafas, dia melihat wajah Naya untuk terakhir kalinya sebelum keluar.


Begitu tiba diluar, Lio berdiri didekat pintu dan bersandar didinding, dia benar-benar merasa terpuruk dan sendirian, tidak terasa, sebulir kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya, Lio tidak menghapusnya, dia tidak peduli dengan ungkapan, laki-laki yang menangis adalah banci, menurut Lio, itu merupakan ungkapan yang salah, karna biar bagaimanapun, laki-laki tetaplah manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan, dan kadang bisa menangis kalau beban hidup yang dialami begitu berat.


Lio tidak pernah menangis, kecuali saat papanya meninggal dan kini saat beban kesedihan yang dia alami dua kali lipat, kehilangan kakeknya dan diacuhkan oleh Naya.


"Lio lo sudah memberitahu Naya kalau...." Rafa langsung menghentikan ucapannya saat melihat mata sahabatnya itu memerah.


Seolah tahu lanjutan kalimat yang akan dikatakan oleh Rafa, Lio menggeleng sebagai jawaban, "Naya tidak mau ketemu sama gue Raf, dan melihat kondisinya, gue tidak tega memberitahunya kalau kakek sudah pergi untuk selamanya."


"Lo sudah berusaha menjelaskan semuanya kepada Naya." meskipun Lio belum menceritakan apa-apa kepadanya, entah kenapa Rafa begitu yakin kalau Lio tidak bersalah, Rafa memiliki keyakinan kalau Cleo hanya ingin menghancurkan rumah tangga Lio dan Naya, dan Rafa yakin kalau anak yang dikandung oleh Cleo bukanlah anaknya Lio.


Lio tersenyum kecut, "Bagaimana gue mau menjelaskan, kalau melihat gue saja dia jijik."


Rafa menepuk bahu Lio, dia berusaha untuk menghibur sahabatnya yang tengah terpuruk itu, "Naya itu gadis yang baik dan pemaaf, dia hanya lagi emosi, itu wajar, siapa yang tidak emosi saat mengetahui suami yang sangat dia cintai menghamili wanita lain."


Lio melotot ke arah Rafa.


Rafa buru-buru meralat kata-katanya, "Iya maksud gue, itu yang ada difikiran Naya saat ini, gue sieh yakin kalau anak yang saat ini tengah dikandung oleh Cleo bukan anak lo. Menurut gue, lo lebih baik biarkan Naya sendiri dulu, mungkin besok atau lusa kalau suasana hatinya membaik dia mau mendengar penjelasan lo."


"Hmmm."


"Yang harus kita lakukan sekarang adalah, bagaimana caranya memberitahu Naya kalau tuan sepuh telah pergi."


"Naya sangat menyayangi kakek, begitu juga sebaliknya, gue takut Naya down mendengar berita ini, apalagi saat ini dia tengah hamil, dokter telah mewanti-wanti gue untuk tidak membuat Naya stres, karna itu akan berpengaruh pada kesehatannya dan calon bayi gue."


"Gue yakin Naya gadis yang kuat Lio, meskipun terlihat lemah diluar, tapi istri lo itu tangguh dan tahan banting, lo gak ingat bagaimana perlakuan lo kepadanya diawal-awal pernikahan, dengan sikap kasar lo itu dia mampu bertahankan menghadapi elo."


Lio mengangguk membenarkan kata-kata Rafa, sampai sekarangpun Lio masih heran kenapa Naya bisa bertahan dan mau menerimanya meskipun dia sudah menyakiti Naya sedemikian rupa dimasa lalu.


"Gue yakin dia pasti bisa menerima berita kepergian tuan sepuh dengan ikhlas, karna selain kuat mental, istri lo itu juga kuat iman."


Lio hanya membenarkan ucapan Rafa dalam hati.


"Biar gue yang memberitahunya, gue akan mengajaknya bicara pelan-pelan."


"Lo bisakan Raf menjelaskan sama Naya kalau gue tidak bersalah dalam hal ini, katakan padanya kalau Cleo bohong, gadis itu hanya ingin menghancurkan rumah tangga gue dan dia." Lio berharap Rafa menjadi jembatan penghubung untuknya dan Naya.


"Kalau masalah itu sob, bukannya gue tidak mau membantu, tapi memang dalam hal ini lo sendiri yang harus turun tangan untuk meluruskan kesalahpahaman ini sama Naya, ntar kalau gue yang menjelaskan, takutnya salah-salah lagi."


"Lo benar, gue akan menjelaskan semuanya kalau Naya sudah tidak emosi lagi."


"Gue masuk dulu Lio."


Lio akhirnya memasrahkan semua urusannya sama Rafa.


****


"Kak Rafa." Leta langsung berdiri saat melihat kakaknya.


Naya hanya menoleh sebentar dan kembali menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa.


"Bagaimana keadaan Naya." tanya Rafa dengan hati-hati kepada Leta.


Leta merendahkan suaranya, "Seperti yang kakak lihat, mbak Naya tidak dalam keadaan baik-baik saja, dia begitu sangat terpukul mengetahui laki-laki brengsek itu menghamili wanita lain." Leta kini tidak memanggil Lio dengan embel-embel kakak lagi, saking keselnya sama Lio membuat Leta menanggalkan sopan santunnya.


"Leta, jaga omongan kamu, bersikaplah sopan sama Lio."


Leta mendengus, dalam hati berkata, "Ogah banget gue harus bersikap sopan sama laki-laki brengsek yang tega selingkuh saat istrinya tengah hamil, sampai membuat wanita selingkuhannya itu hamil lagi, bener-bener tokcer deh rudalnya.."


"Kakak kesini mau ngapain." lisan Leta mengalihkan topik pembicaraan karna malas membahas tentang Lio.


Tidak menjawab pertanyaan adiknya, Rafa malah mendekati Naya, Rafa duduk dikursi disamping tempat tidur.


"Nayaaa." panggilnya pelan.

__ADS_1


****


__ADS_2