Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
SELAMAT ATAS KEHAMILANNYA


__ADS_3

Sebelum keluarga Rasyad pulang, Dokter Rian berpesan supaya Naya banyak-banyak beristirahat dan jangan melakukan aktifitas yang terlalu berat, karna usia kandungannya itu rentan mengalami keguguran, selain itu, untuk memperkuat janin, dokter Rian meminta Naya mengkonsumsi vitamin, mengkonsumsi susu untuk ibu hamil dan makan-makanan bergizi supaya dia dan bayi yang dikandungnya sehat.


"Nahh Naya, kamu dengerkan pesan dokter Rian, kamu jangan melakukan aktifitas yang membuat kamu kelelahan karna bisa menyebabkan kandungan kamu keguguran." kakek Handoko mengulangi pesan yang diucapkan oleh dokter Rian saat mereka sudah berada dimobil sambil menunggu Lio yang saat ini tengah menebus resep vitamin di apotik.


Gak lama kemudian Lio kembali memasuki mobil dan duduk di kursi pengemudi, setelah duduk dengan nyaman, Lio menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit.


"Tapikan selama tinggal dirumah besar, Naya tidak pernah melakukan pekerjaan berat kakek." sanggah Naya membalas ucapan kakek Handoko.


"Membantu Darmi dan Dijah didapur apa itu bukan termasuk pekerjaan berat."


"Itu sieh pekerjaan yang memang seharusnya Naya lakukan sebagai seorang istri kek, hanya memasak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya tidak akan berpengaruh apa-apa kok sama kandungan Naya." kata Naya, dia kemudian melanjutkan "Wanita-wanita dikampung Naya ketika hamil malah pada pergi ke sungai untuk nyuci, masih bisa membantu suaminya disawah." Naya menyebutkan wanita-wanita tangguh dikampungnya yang meskipun tengah hamil tapi tetap masih bekerja.


"Mereka itukan berbeda Naya, perempuan-perempuan desa memang sudah biasa bekerja dan kondisi alam juga mempengaruhi daya tahan tubuh mereka."


"Kakek lupa ya, Nayakan juga gadis desa kek, sejak masih gadis sudah terbiasa membantu orang tua Naya disawah, jadi kalau hanya memasak sieh pasti Naya kuat dan tidak akan kelelahan."


"Tidak bisa tidak bisa, pokoknya mulai saat ini, kamu tidak boleh lagi melakukan aktifitas apapun dirumah, bahkan hanya untuk mijitin kaki kakek juga tidak boleh, yang harus kamu lakukan adalah banyak istirahat dan banyak makan-makanan bergizi dan minum vitamin supaya janin didalam perutmu itu sehat." ini malah kakek Lio yang heboh dan tidak membolehkan ini itu, sedangkan sang suami hanya diam seribu bahasa, ya maklum sieh, Liokan memang tidak mengharapkan kehamilan Naya, jadi wajar saja dia hanya diam sejak keluar dari ruangan dokter Rian.


"Heh Lio." dari belakang kakek Handoko menyodok kursi yang diduduki Lio dengan tongkatnya, "Kenapa kamu diam saja sejak tadi, kamu tidak suka istri kamu hamil, sejak tadi kakek perhatikan kamu itu terlihat biasa-biasa saja."


"Mas Lio memang tidak menginginkan Naya hamil kek." Naya menjawab dalam hati pertanyaan yang dilontarkan kakek Handoko pada Lio.


"Seneng kek." bohongnya hanya untuk mengelabui kakeknya, karna kalau dia berkata jujur, pasti dia akan dimarahin.


Namun kakek Handoko yang tengah bahagia tidak mengambil pusing sikap Lio yang terlihat biasa-biasa saja dan tidak seantusias dirinya.


"Bulan sayang, mulai sekarang, kamu jagain bunda dan dedek bayi ya."


"Siap kakek buyut." balas Bulan pose hormat dan membuatnya semakin menggemaskan.


"Kamu itu selalu bisa kakek andalkan, tidak seperti ayah kamu itu yang selalu keluyuran."


Lio hanya diam, tidak menanggapi ucapan kakeknya.

__ADS_1


Lio menoleh ke spion depan, dan pada saat bersamaan, Naya juga melakukan hal yang sama, tatapan mereka beradu, Naya langsung membuang pandangannya dan menoleh ke luar jendela, dia tidak mau lama-lama menatap Lio karna itu bisa membuatnya sedih.


Sedangkan Lio masih menatap Naya dari spion tersebut, dia bisa melihat wajah pucat Naya, wajah gadis itu terlihat tirus, "Naya sekarang mengandung anakku, itu berarti aku tidak bisa menceraikan Naya begitu saja karna ada ikatan diantara kami, tapi aku juga tidak mungkin bertahan dengan Naya karna aku tidak mencintainya, aku mencintai Cleo." Lio jadi bimbang sekarang.


***


Tiba dirumah besar, mereka disambut oleh para pekerja dirumah besar, mulai dari bi Darmi dan mbak Wati ART dirumah tersebut, pak Ridwan sopir keluarga, pak Asep tukang kebun dan pak Seno satpam rumah, mereka sangat berharap kalau keluarga Rasyad membawa berita bahagia, yaitu mereka bener-bener berharap kalau nona muda mereka beneran hamil.


Pak Ridwan membukakan pintu untuk kakek Handoko begitu mobil berhenti didepan rumah, "Silahkan tuan."


"Terimakasih Ridwan."


Sedangkan pak Seno membuka pintu satunya, tempat dimana Naya duduk.


"Terimakasih pak Seno, pakai repot-repot segala." kata Naya merasa tidak enak.


"Tidak repot kok nona."


Begitu turun dan melihat para pekerja dirumahnya berkumpul diteras depan untuk menunggunya, kakek Handoko berkata dengan senyum mengembang, "Hari ini, saya begitu sangat bahagia." tanpa perlu mengatakannya, semua orang juga tahu, karna raut wajahnya sudah menjelaskan hal itu.


"Apa nona Naya hamil tuan."


"Iya, cucu menantu kesayanganku ini hamil dan sebentar lagi akan memberikan cicit untukku." kakek Handoko mengumumkan berita bahagia itu dengan penuh semangat.


Mendengar berita bahagia yang disampaikan oleh kepala keluarga Rasyad, reflek membuat para pekerja yang juga sangat mengharapkan nona muda mereka hamil juga turut merasakan kebahagian. Mereka berebutan memberikan ucapan selamat pada nona muda mereka.


"Selamat ya nona Naya atas kehamilannya." ucap pak Ridwan.


"Terimakasih pak Ridwan."


"Selamat ya nona, semoga nona Naya dan dedek bayi yang ada dalam perut nona selalu sehat." doa bi Darmi tulus.


"Terimakasih doanya bi."

__ADS_1


"Karna saya lagi bahagia, maka gaji kalian akan saya naikkan."


Hal itu tentu saja membuat serentak para pekerja tersebut tersenyum senang, ya iyalah senang, siapa yang tidak senang coba mendapatkan kenaikan gaji.


"Terimakasih tuan." ucap mereka serempak.


Mama Renata keluar, dia memutuskan tidak ke butiknya saking penasarannya karna menunggu keluarganya pulang dari rumah sakit untuk memastikan apakah Naya beneran hamil atau tidak, mama Renata langsung melayangkan pertanyaan begitu dia tiba diluar, "Bagaimana hasilnya." tanyanya datar, "Aku bener-bener berharap kalau gadis kampung itu tidak hamil." ucapnya dengan penuh harap dalam hati.


"Bunda hamil nek." Bulanlah yang menjawan pertanyaan mama Renata.


"Hahhh." kagetnya karna apa yang dia takutkan terjadi, "Kok bisa."


"Ya bisalah, Nayakan punya suami, dan suaminya itu adalah anak kamu, dan anak kamulah yang membuat Naya bisa hamil." dengus kakek Handoko karna tidak suka dengan kalimat anaknya itu.


Mama Renata memandang putra semata wayangnya dengan tajam, "Katanya tidak akan menyentuh gadis kampung itu atau apalah, ini malah dia membuat gadis kampung itu sampai hamil, bener-bener tidak bisa menjaga diri sik Lio ini, gadis kampung jelek begini saja dia doyan."


"Ayok Naya kita masuk, kamu harus banyak-banyak istirahat, ingat, jangan melakukan aktifitas berat." kakek Handoko mengingatkan.


"Iya kek."


"Satu lagi, kalian berdua jangan sampai membiarkan Naya untuk membantu kalian di dapur, marahi saja dia kalau dia ngotot ingin membantu atau laporkan sama saya, biar saya yang akan memarahinya." tegas kakek Handoko memandang kedua Artnya.


"Baik tuan, bahkan hanya cuma memegang wajanpun kami tidak akan membiarkan nona Naya melakukannya."


"Bagus kalau begitu."


****


Saat semua orang berjalan ke arah ruang tengah, mama Renata menyeret putranya ke kamarnya, kamarnya adalah tempat paling aman menurut mama Renata untuk melakukan pembicaraan empat mata.


"Ada apa sieh ma."


"Jelaskan pada mama, kenapa Naya bisa hamil." desaknya tanpa basa-basi.

__ADS_1


***


__ADS_2