
"Apa-apaan ini." mama Renata mendekat ke sumber keributan, "Dan kamu." beralih menatap Febi, "Siapa kamu." tanyanya sarat akan ingin tahu.
Meskipun dari kursi tamu mama Renata mendengar dengan jelas pertikaian antara Rafa, Cleo dan gadis yang dibawa oleh Rafa, tentu saja mama Renata ingin mendengar langsung jawaban dari gadis tersebut.
"Saya adalah Febi, istrinya mas Dani, dan wanita ini." Febi mengarahkan jari telunjuknya tepat didepan wajah Clei, "Adalah pelakor yang merenggut kebahagianku, dia dan suamiku selingkuh dibelakangku selama bertahun-tahun." Febi menjelaskan dengan gamblang.
Mama Renata menatap Cleo tajam, Cleo yang ditatap merasa gelisah, "Apa benar yang dia katakan Cleo." tanya mama Renata dengan nada tinggi untuk mengonformasi kebenaran akan apa yang dikatakan oleh Febi.
"Itu tidak benar tante, wanita ini bohong, saya tidak kenal dengan laki-laki yang bernama Dani, percayalah padaku tante, aku mencintai Lio dan tidak mungkin mengkhianatinya." sudah nyata didepan mata semua bukti, namun sik Cleo masih saja berkelit.
"Lihat ni ma." Lio menyodorkan beberapa lembar foto yang dipegangnya kepada mamanya untuk menandaskan pembelaan Cleo.
Mata mama Renata membulat sempurna saat melihat foto-foto tersebut, "Kamu benar-benar gadis murahan Cleo." melemparkan foto-foto tersebut diwajah Cleo dengan kasar.
Kini, foto-foto berisi aib Cleo dan Dani berserakan dilantai.
Terjadi bisik-bisik diantara tamu undangan melihat adegan seperti yang sering terjadi dalam sinetron-sinetron.
"Tante tidak menyangka kelakuan kamu seperti ini, padahal tante benar-benar percaya padamu, tante kecewa sama kamu Cleo."
"Tante ini....." Cleo masih berusaha untuk melakukan pembelaan.
Lio yang sejak tadi tidak terlalu banyak bicara memotong ucapan Cleo, "Apa anak yang kamu kandung itu anak dari selingkuhan kamu itu Cleo." tanyanya tiba-tiba menyuarakan isi hatinya, suara Lio terdengar dingin dan menakutkan.
"Ini anak kamu Lio, percayalah." Cleo menghiba dan putus asa, dia berusaha untuk menyentuh lengan Lio, namun Lio menjauh, sumpah dia terlihat jijik dengan Cleo.
Lio sekarang yakin kalau anak yang dikandung Cleo bukan anaknya, tapi dia mengulangi pertanyaannya hanya untuk dapat komfirmasi secara langsung dari bibir Cleo, "Aku tanya sekali lagi, apa bayi yang kamu kandung itu adalah anakku." Lio memang tidak berteriak-teriak, tapi suaranya itu benar-benar menakutkan.
Bahkan Cleo dibuat mengkeret, ingin bohong, tapi tatapan Lio membuatnya merinding, "Anak ini....anak ini sebenarnya....." suara Cleo putus-putus, dia mulai terisak.
"Ngomong yang benar, jangan jadiin tangis palsumu itu untuk mengelabui kami." bentak Rafa menganggap tangis Cleo hanya akting belaka.
"Iya, ini bukan anaknya Lio, tapi anaknya Dani." pecahlah tangis Cleo saat lidahnya harus mengakui hal itu.
"Benar-benar kamu mas Dani." geram Febi hancur karna perbuatan suaminya dan pelakor ini sudah membuahkan benih didalam rahim sik pelakor, "Sungguh tega kamu sama aku dan anak-anak mas." Febi berusaha menahan air matanya yang sudah membentuk bendungan dipelupuk matanya.
Mama Renata tercengang mendengar pengakuan Cleo, wanita yang selama ini dibela-belanya tidak lebih dari seekor ular berbisa, mama Renata memijit kepalanya yang terasa berdenyut, tiba-tiba saja bayangan Naya melintas dibenaknya, seorang gadis lugu, tulus dan baik hati yang selalu dia sia-siain hanya untuk seorang gadis licik, "Naya, maafkan mama nak, maafkan mama yang telah menyia-nyiakan menantu sebaik kamu, selama ini mama buta tidak bisa melihat ketulusanmu, papa memang tidak pernah salah dalam memilihmu menjadi bagian dari keluarga Rasyad." penyesalan memang datangnya diakhir, tapi semuanya belum terlambat, mama Renata masih bisa menebus kesalahannya.
Lio merasa lega dan bahagia, dalam hati dia sangat bersyukur semua kebohongan Cleo yang selama ini disembunyikan serapat mungkin kini akhirnya terbongkar melalui perantara Rafa sahabatnya, sahabat terbaik yang pernah dia miliki, untuk itu Lio benar-benar berterimakasih pada sahabatnya itu yang telah meluangkan waktunya untuk mencari tahu kebenarannya, sedangkan dia seperti laki-laki dungu yang hanya pasrah menelan semua kebohongan yang dilontarkan oleh bibir berbisa gadis ular bernama Cleo.
"Lio, putraku." mama Renata mendekati putra semaya wayangnya, menempelkan telapak tangannya dilengan putranya, "Susul Naya nak, susul istrimu dan bawa kembali menantu mama ke rumah kita." mata mama Renata berkaca-kaca mengingat kesalahannya pada Naya.
"Baik ma, Lio akan membawa Naya, nyonya sah dirumah ini." Lio langsung berlari keluar, hatinya yang selama beberapa hari ini dipenuhi oleh beban berat kini terasa plong, dia merasa benar-benar bahagia, dia sudah tidak sabar untuk bertemu pujaan hatinya dan memeluknya.
"Dan kamu." mama Renata menunjuk Cleo, karna urusannya memang belum selesai dengan gadis ular itu, mata mama Renata memancarkan kebencian, "Enyah kamu dari rumahku, jangan berani-beraninya kamu menampakkan wajahmu lagi dihadapanku."
"Tante tolong...."
__ADS_1
"Pak Ridwan, pak Kosim, seret wanita murahan ini, aku sangat benci melihatnya."
Pak Ridwan dan pak Kosim yang mendapatkan perintah dari sang nyonya besar mendekat, terlebih dahulu mereka meminta Cleo keluar dengan cara baik-baik.
"Nona, ayok keluar."
"Tante, tolong dengarkan aku tante, ini tidak seperti yang tante fikirkan, ini semua hanya salah paham tante." Cleo bahkan sampai berlutut dan memegang kaki mama Renata.
"Apa yang kalian tunggu, bawa dia keluar." perintahnya untuk kedua kalinya.
Dengan terpaksa pak Ridwan pak Kosim menarik lengan Cleo untuk membawanya keluar.
"Tanteeee, jangan perlakukan aku seperti ini tante, mereka semua bohong tante." Cleo masih berteriak dan suara teriakannya bisa didengar oleh seluruh orang yang ada diruangan tersebut.
Mama Renata terduduk lemas karna rasa penyesalannya yang membuncah terhadap Naya, "Maafkan mama Naya, maafkan mama." kalimat yang berulangkali dia lafalkan.
"Astagaa, ini benar-benar seperti disinetron-sinetron saja, penuh drama." komentar salah satu tamu undangan yang menikmati adegan itu secara langsung.
"Iya, tapi serukan." yang lain menyahut.
****
Lio berjalan menuju tempat parkir.
"Papaaaa." suara teriakan Bulan memanggil Lio yang membuatnya berbalik, Bulan berlari menghampiri ayahnya, "Ayahhh, Bulan ikut, Bulan kangen bunda dan dedek bayi."
Untuk pertamakalinya Lio bisa tertawa lebar, "Iya sayang, ayah juga kangen sama mereka, ayok kita susul bunda dan dedek bayi, kita bawa mereka kembali ke rumah kita." mengangkat Bulan dalam gendongannya.
"Ngapain sieh lo ikut."
"Sekalian gue mau ngelanjutin liburan gue yang kpending gara-gara balik cepat ke Jakarta hanya untuk menyelsaikan masalah elo dan ular peliharaan lo itu."
"Sialan." umpat Lio mendengar Rafa menyebut Cleo sebagai ular peliharaannya.
Karna Rafa telah sangat sangat sangat berjasa padanya, Lio dengan bahkan dengan murah hatinya memberi penawaran pada Rafa, "Lo liburan ke luar negeri saja, gue yang tanggung semua biayanya, buat apa lo liburan didesa Naya, disana tidak sesuatu yang menarik, bahkan lampupun sering padam."
Diluar dugaan Rafa menolak, "Gue mau liburan didesa, desa Naya itu jauh lebih indah daripada luar negeri." tolaknya.
"Ya udahlah terserah lo."
Dan datang lagi Leta yang juga ingin ikut, "Kak, aku ikut."
"Kamu ngapain ikut Ta, kamukan kuliah."
"Itu gampanglah kak, yang penting sekarang Leta mau bertemu dengan mbak Naya, ya kak ya, Leta ikut." rengeknya manja.
"Hmmm, ya sudah, tapi kalau mama dan papa marah kakak tidak mau tanggung jawab ya."
__ADS_1
"Beres deh kalau masalah itu."
Maka berangkatlah rombongan itu munuju desa tempat tinggal Naya.
****
Mereka sampai sekitar jam 10 malam karna desa Naya memang jauh ditambah lagi akses jalannya yang rusak yang membuat mereka lama dalam perjalanan.
Kedua orang tua Naya kaget karna tidak menyangka anak menantunya datang malam-malam begini, saat itu mereka sudah bersiap untuk tidur.
"Lho nak Lio."
"Bu, pak." Lio meraih tangan mertuanya dan menciumnya.
Apa yang dilakukan oleh Lio diikuti oleh Rafa, Leta dan Bulan.
Karna Rafa pernah datang sebelumnya sehingga tidak heran orang tua Naya mengenalinya juga.
"Lho, ada nak Rafa juga tho." sapa ayah Badrun saat Rafa mencium punggung tangannya.
"Iya pak, boleh kan saya datang berkunjung ke rumah bapak dan ibu lagi."
Ibu Murni yang menjawab, "Boleh donk nak."
"Ini siapa." tanyanya bu Murni saat Leta dan Bulan bergantian mencium tangannya.
"Saya Leta bu, temannya mbak Naya sekaligus adeknya kak Rafa." Leta memperkenalkan diri.
"Saya Bulan nenek, kakek, anak angkatnya bunda Naya dan ayah Lio."
Bu Murni langsung berjongkok saat mengetahui kalau gadis kecil yang saat ini dihadapannya adalah anak angkat Naya yang sering diceritakan oleh Naya, "Walahh, ini tho cucu kita pak, cantik sekali." pujinya mencium pipi chuby Bulan.
"Iya bu, cantik sekali kamu cu." ayah Badrun turut memujim
"Terimakasih nenek, kakek atas pujiannya, kami kesini karna kangen sama Bunda Naya yang tidak pulang dan sekaligus membawa bunda pulang ke Jakarta." ujar Bulan memberitahu maksud kedatangan mereka.
"Kangen bundamu ya cu, bunda kamu sudah tidur sejak tadi, katanya badannya tidak enak."
Mendengar penuturan ibu mertuanya seketika membuat Lio khawatir, "Naya sakit bu."
"Katanya sieh pening sedikit doank nak, istirahat pasti hilang peningnya."
"Nayanya sekarang ada dimana bu."
"Dikamarnya."
Tanpa meminta izin atau basa basi Lio langsung melangkah ke kamar istrinya, kamar sederhana tapi nyaman, pertama kali tiba didesa dan tidur dikamar sempit milik sang istri, Lio begitu sering komplein, kasurnya keraslah, gak ada listriknyalah, panaslah, dan macam-macam kompleinnya, dan kini begitu tiba dikamar istrinya, perasaannya tiba-tiba menghangat, apalagi melihat wajah teduh Naya yang terpejam, sudah beberapa hari Lio tidak melihat sang istri dan rasa kangennya benar-benar membuncah sehingga membuat dadanya sesak, dia sampai menitikkan air mata karna masih diizinkan untuk bertemu dengan Naya, Naya benar-benar sangat berarti untuknya.
__ADS_1
Karna tidak mau membangunkan istrinya yang tertidur lelap, dengan langkah pelan Lio mengampiri istrinya yang terlihat tertidur nyenyak, duduk berjongkok dan menggenggam tangan hangat Naya, kehangatan yang selalu dia rindukan.
*****