Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
HARI KELULUSAN


__ADS_3

Anak- anak kelas dua belas disebuah SMA didesa terpencil saat ini tengah berkumpul dilapangan, anak-anak tersebut gelisah menunggu detik-detik menegangkan pengumuman kelulusan mereka, rencanaya, kepala sekolahlah yang akan mengumumkan lewat toa.


Seorang gadis dengan rambut dikepang, khas gadis desa tidak henti-hantinya komat kamit, dia bukannya baca mantra ya, tapi berdoa, doanya adalah, "Ya Allah, ya Tuhanku, semoga hamba lulus, amin."


Gadis bernama Kanaya Azzahra yang akrab dipanggil Naya itu tidak berdoa lebih, misalnya, lulus dengan nilai tinggi atau jadi lulusan terbaik, sesuatu hal yang tidak akan dilakukan mengingat kemampuan otaknya yang pas-pasan.


Selaim itu juga, Naya berasal berasal dari keluarga sederhana yang hidupnya pas-pasan, sehingga gak mungkin baginya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.


"Waduh, gimana ini Nay, perutku mules lagi." Eli yang merupakan sahabat Naya memegang perutnya, mungkin karna bawaan tegang, tuh anak ada kali empat kali bolak-balik kamar mandi.


"Aduh Eli, bentar lagi pengumuman ini, gak bisa apa itu ditahan."


"Gak bisa Nay, maklum, bawaan tegang, aduh, adu duh." Eli makin heboh, "Gak tahan lagi aku." langsung ngacir menuju kamar mandi sekolah.


"Ada-ada saja." lirih Naya.


Naya juga tegang, tapi gak separah Eli.


Terdengar sebuah suara berwibawa dari arah depan, yaitu suara kepala sekolah, itu membuat perhatian semua anak-anak yang berkumpul dilapangan memusatkan perhatian mereka sepenuhnya ke depan, menunggu dengan harap-harap cemas.


"Baiklah anak-anakku tercinta." selain berwibawa, kepala sekolah itu juga memiliki sifat kebapaan, "Terimakasih atas kehadiran kalian dalam rangka hari kelulusan sekolah." pak kepsek yang bernama pak Sumarno itu memulai pidato pembukaannya.


"Lha, sik Eli mana sieh, udah mulai ini."


Pak Sumarno memberi beberapa wejangan beberapa menit sebelum ke intinya, "Dan untuk tahun ini, kita patut bersyukur karna semua siswa kelas dua belas lulus seratus persen."


Begitu pak Sumarno menyelsaikan kalimatnya langsung disambut dengan sorak sorai bahagia semua murid kelas dua belas, yang jingkrak-kingkrak kayak orang kesurupan juga ada, maklumin aja, namanya juga diluar kesadaran.


"Alhamdulillah Ya Allah, ini berkat doa dan ibu dan bapak." Naya menengadahkan tangannya dan mengusapkannya ke wajah, detik-detik menegangkan itu telah berlalu, dia bisa bernafas lega sekarang.


Pak Sumarno tersenyum bahagia melihat kehebohan anak-anak didiknya, "Bapak bangga dengan kalian, jadilah penerus bangsa yang memajukan bangsa kita." pesannya di akhir pidatonya.


"Pasti itu pak." koor anak-anak tersebut merespon pesan bapak kepala sekolah tercinta mereka.


"I LOVE YOU BAPAK SUMARNO." siapa dah itu yang berteriak.


Pak Sumarno meladeni lagi, "I LOVE YOU TO." itu berhasil membuat yang berteriak barusan tersenyum malu.


Eli datang tergopoh-gopoh, dia melewatkan sesi yang penting, "Bagaimana, bagaimana, aku lulus gak Nay."


"Huuu, lama amet sieh kamu El, kamu jadi melewatkan sesi yang pentingnya kan."


"Habis gimana, sembelit aku ini, jadi gimana hasilnya."


"Kita semua lulus seratus persen Li."


"Aku juga luluskan." Eli kok berubah oon sieh, mungkin bawaan tegang kali, dia gak nyimak apa, seratus persen berarti dia juga lulus.


"Iya Eli sayang, kamu dan aku lulus."


Menjerit histeris deh tuh sik Eli, "Horee." telat banget, "Pasti bapak dan ibu seneng banget denger berita ini."


"Eh Nay, minta tanda tangan temen-temen yuk." Eli menarik Naya.


Sama seperti SMA lainnya di Indonesia, dia SMA kecil itu juga tidak luput dari acara tanda-tandangan dan coret-coretan, gak ngerti deh dimana letak keseruannya, hanya mereka yang tahu.


Kini baju seragam putih Naya dan Eli hampir penuh oleh coretan tanda tangan dan coretan pilok warna-warni, gak cuma mereka daonk sieh, semua anak kelas dua belas, hari ini bener-bener hari bahagia bagi anak SMA seindonesia raya.

__ADS_1


"Eli, tanda tangan donk di kemeja aku." itu suara Toni, gebetan Eli.


Mendengar suara gebetannya Eli jadi salah tingkah, dia senyum malu-malu.


Naya menggodanya, "Cie Eli." menabrakkan lengannya dengan lengan Eli.


"Apa sih Nay."


"Toni minta tanda tangan kamu tuh, dikasih gak."


Eli mengangguk, "Iya." malu-malu kucing.


Toni langsung tersenyum lebar, mengeluarkan spidol dan mencari tempat yang masih kosong untuk tanda tangan, Toni juga tanda tangan di seragam Naya, dan Naya dan Eli melakukan hal yang sebaliknya ke seragam Toni.


"El." Toni gugup.


"Apa."


Dua orang ini malu-malu, Naya yang jadi gemes.


"Ntar malam keluar yuk." gugup banget dia mengatakan hal itu.


Gak kuasa menjawab, Eli hanya memberi anggukan sebagai sebuah tanda kalau dia  menerima ajakan Toni.


Naya kembali menggoda, "Cie, cie, bentar lagi ada yang jadian nieh."


Toni yang malu karna digoda terus-terusan oleh Naya, buru-buru pamit,  "Ya udah deh, Nay, El, aku ke situ dulu." Toni menunjuk kerumunan teman-teman cowoknya.


Lagi-lagi Eli mengangguk.


"Ekhem, yang di ajak kencan, bentar lagi bakalan jadian nieh." lisan Naya begitu Toni sudah pergi.


"Jangan lupa pajak jadiannya ya El."


"Apa sieh Nay, belum tentu Toni nembak aku."


"Tapi ngarepkan ditembak." telak Naya.


"Hehehe, iya."


Naya merasakan kepalanya disentil dari samping kiri, dia mengarahkan kepalanya ke arah sentilan tidak ada orang, kemudian di putar ke kanan, di sana dari jarak jarak yang cukup dekat sebuah senyum pepsoden menyambutnya, senyuman sang kekasihnya yaitu Wahyu.


"Mas Wahyu, iseng banget deh."


Wahyu mengacak puncak kepala Naya, "Selamat ya atas kelulusannya Naya."


"Selamat juga buat mas."


Mereka saling memberi selamat, Wahyu  juga menuntut ilmu di sekolah yang sama dengan Naya, dia baru menampakkan batang hidungnya karna dari tadi sibuk dengan temen laki-lakinya.


"Yu, kamu gak memberi selamat pada aku." timbrung Eli.


"Eh, ada Eli ternyata, gak lihat aku tadi." canda Wahyu.


"Kampret, kamu fikir aku mahluk tak kasat mata."


Naya dan Wahyu terkekeh.

__ADS_1


"Tinggal kamu dan Eli nieh yang belum tanda tangan."


Wahyu menunjukkan tempat kosong yang berada tepat diatas hatinya, "Ini aku sediakan khusus lho buat kamu Nay."


Sekarang giliran Eli yang bercie cie, "Cie, cie, udah deh Wahyu, halalin aja sik Naya."


bukan tanpa sebab Eli berkata begitu, pasalnya Naya dan Wahyu sudah pacaran sejak kelas X.


"Aku kasih Naya makan apa El, kerjaan aja gak ada."


"Riski Allah yang ngatur, kalau udah nikah sih rizkinya ada saja." Eli kok jadi ceramah gini ya.


"El, kenapa kamu malah bahas masalah nikah gini sieh, Wahyu bener, dia kerja dulu baru halalin, mending kamu sana yang nikah, ajak Toni, Toni kan anak juragan tanah, sudah pasti terjamin itu kehidupan sampai tujuh turunan."


"Gimana mau ngajak nikah, kalau pacaran saja belum."


Wahyu dan Naya terkekeh mendengar keluhan Eli, sik Toni itu lho bikin gregetan, padahal udah dapat lampu ijo dari Eli, masih saja sampai saat ini belum berani nyatain perasaannya, ya mungkin nanti malam, sebuah kemajuan dia berani ngajal Eli keluar.


************


Tidak langsung pulang, Naya dan Wahyu berjalan-jalan menggunakan sepeda milik  Wahyu, mereka menikmati indahnya alam pedesaan yang membentang hijau sejauh mata memandang, duduk diboncengan sepeda Wahyu, Naya memejamkan matanya menghirup segarnya udara pedesaan yang jauh dari polusi.


Wahyu menghentikan sepedanya dipinggir desa dekat sungai yang sering dimaanfaatkan oleh warga sekitar untuk pengairan, mandi, nyuci dan lain sebagainya. Sungai berair jernih yang diapit oleh pematang sawah di kiri-kanannya.


Setelah memarkir sepedanya dibawah pohon rindang, Wahyu mengajak Naya duduk dibatu besar pinggir sungai menikmati indahnya pemandangan yang disuguhkan oleh alam pedesaan, gemericik air sungai seolah menjadi musik alam yang menenangkan, mereka berdua sudah sering kemari, ya beginilah kencan ala anak desa, memanfaatkan alam sebagai tempat kencan.


"Setelah lulus, rencananya kamu mau ngapain mas." Naya membuka obrolan.


Sama dengan Naya, Wahyu juga berasal dari keluarga kurang mampu, dia ingin kuliah, tapi melihat prekonomian keluarganya yang hidup serba pas-pasan merupakan sesuatu hal yang gak mungkin untuk saat ini baginya untuk melanjutkan kuliah, untuk itu dia sudah memantapkan begitu lulus dia akan pergi merantau.


"Nay." Wahyu serius, "Aku berniat merantau ke Jakarta."


Wahyu mendapatkan perhatian Naya sepenuhnya, "Merantau mas, ke jakarta." Naya mengulangi informasi yang didengarnya, Naya sieh gak kaget, mengingat kebanyakan pemuda di desanya pada pergi merantau.


Wahyu mengangguk, dia mengalihkan matanya ke arah Naya, "Bagaimana menurut kamu."


"Kamu memang harus pergi mas mengingat disini gak ada lapangan pekerjaan."


"Apa kamu mau menunggu aku."


Naya meraih tangan Wahyu, "Pergilah mas, aku akan setia menunggumu."


Janji itu membuat Wahyu yang selama beberapa hari ini galau menjadi tenang, dia yakin Naya adalah gadis yang setia.


"Makasih Nay."


"Tapi mas juga harus janji."


"Janji apa."


"Kalau sudah dijakarta jangan cari wanita lain, di sanakan banyak wanita cantik."


"Kamu cemburu nieh ceritanya."


"Cemburulah mas."


"Kamu tenang saja, gak ada wanita yang mau sama mas selain kamu, selain wajah mas yang pas-pasan, mas kan juga kere."

__ADS_1


"Meskipun mas wajahnya pas-pasan, dan miskin, tapi mas hatinya baik, itu yang membuat Naya suka."


**********


__ADS_2