
Bisa dibilang saat ini Lio tengah stres, stres menghadapi pernikahan yang sudah didepan mata, Lio benar-benar tidak pernah menyangka kalau dirinya akan memiliki dua istri, ya mau bagaimana lagi, ini adalah resiko perbuatannya dimasa lalu, jadi dia terpaksa harus mempertanggungjawabkannya.
Saat ini Lio tengah berada dikantor, meskipun mamanya memintanya untuk sementara waktu lebih fokus mengurus pernikahannya dan memintanya untuk menyerahkan urusan kantor pada Rafa, namun jelas saja Lio menolak, selain dia tidak mau berlama-lama berdua bersama dengan Cleo, dia juga ogah menikah dengan Cleo, sehingga saat mamanya menelponnya sore itu, Lio langsung merijek panggilan dari mamanya, malas dia menjawab, karna sudah pasti mamanya menyuruhnya melakukan ini itu, seperti, fiting bajulah, cari cincin kawinlah, urus undanganlah, urus cateringlah, dan masih banyak deretan absen suruhan nyonya besar alias mama Renata.
Dan untuk kedua kalinya ponsel Lio berdering, Lio mendengus kesal menatap ponselnya seolah-olah ponsel itu adalah mama Renata, karna merasa terganggu, dia meraih ponselnya dan tanpa melihat siapa yang menelpon Lio menjawab, "Apa sieh ma, Lio lagi sibuk saat ini, masalah pernikahan bisakan mama urus sendiri." ketusnya dengan harapan mamanya tidak menghubunginya lagi.
Namun ternyata yang menjawab bukan mamanya, tapi suara pak Ridwan sopir keluarganya, "Maaf tuan Lio, ini saya Ridwan, bukan nyonya." laki-laki setengah baya itu merasa tidak enak, apalagi suara majikannya itu terdengar marah.
Lio menjauhkan ponselnya dan melihat nama sik penelpon, dan memang nama pak Ridwan yang tertera dilayar, tadi dia fikir mamanya yang menelpon untuk menggrecokinya tentang pernikahan, "Ohh pak Ridwan, ada apa pak." suara Lio agak melunak.
"Sebelumnya, maafkan saya kalau mengganggu tuan, soalnya nona kecil ingin bicara sama tuan."
"Ohh, kasih telponnya ke Bulan pak."
"Baik tuan."
"Ini nona."
Lio bisa mendengar suara pak Ridwan saat memberikan ponselnya pada anaknya.
"Halo ayah."
"Iya sayang, ada apa, kenapa tiba-tiba menelpon ayah."
"Ayah, hiks hiks." suara Bulan kini diberengi dengan isakan.
"Ada apa sayang, kenapa kamu menangis, kasih tahu ayah apa yang membuat kamu menangis." agak cemas juga Lio saat mendengar isakan anak angkatnya.
"Bunda Naya ayah, hiks hiks."
Makin cemaslah Lio mendengar nama Naya disebut-sebut, "Ngomong yang jelas sayang, kenapa dengan bundamu."
Isakan Bulan masih terdengar, Lio jadi tidak tenang, fikirnya pasti terjadi sesuatu hal yang buruk sama Naya.
"Bulan, jangan menangis sayang, jelaskan apa yang terjadi dengan bunda sama ayah." suara Lio terdengar tidak sabaran.
"Bunda...." suara Bulan putus-putus karna isakannya, "Bunda pergi ayah."
"Pergi, maksud kamu apa sayang."
"Bunda pergi jauh ayah, bunda pergi meninggalkan kita, hiks hiks."
"Pergi jauh gimana." level kecemasan Lio berubah menjadi panik sekarang.
"Bunda hiks hiks."
Karna tidak sabaran, Lio meminta Bulan menyerahkan ponsel itu pada pak Ridwan, karna Lio fikir pak Ridwan pasti bisa menjelaskan semuanya, "Bulan kasih telponnya sama pak Ridwan, ayah ingin bicara dengannya."
"Baik ayah." gadis kecil itu mengikuti perintah ayahnya.
"Iya tuan." suara pak Ridwan kembali terdengar.
"Pak Ridwan, jelaskan apa yang dimaksud oleh Bulan."
"Mmmm." pak Ridwan ragu untuk memberitahu, namun dia harus memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada tuan mudanya, "Begini tuan."
Lio mendengarkan dengan seksama.
"Begitu pulang sekolah, nona kecil langsung menuju kamar tuan dan nona untuk mencari nona Naya, kata nona kecil, dia ingin menunjukkan hasil gambarnya pada nona Naya, tapi nona kecil tidak menemukan nona dikamar, nona kecil hanya menemukan surat yang ditulis oleh nona Naya, nona kecil membawa surat itu ke dapur dan meminta Wati membacakannya." pak Ridwan menjelaskan dengan lengkap.
"Apa." suara Lio meninggi begitu pak Ridwan menyelsaikan ucapannya, Lio sampai menggebrak meja, "Pergi kemana dia, dan kenapa tidak ada satupun yang mencegah kepergiannya, kalian tahukan istriku itu lagi hamil, kalau terjadi apa-apa gimana, kalau dia tersesat seperti saat itu bagaimana." Lio benar-benar berada pada puncak amarahnya saat ini.
Pak Ridwan jadi takut, tangannya sampai gemetaran memegang ponselnya, "Anu tuan...nona pergi ke desanya, kata nona dalam suratnya, dia ingin menenangkan diri, dan saat nona pergi, tidak ada orang dirumah besar."
"Astagaa, apa yang dilakukan oleh gadis itu, pergi sendiri ke desanya disaat hamil begini tanpa pamit sama aku, dan kenapa dia begitu egois hanya memikirkan dirinya sendiri, menenangkan diri katanya, hah." Lio *******-***** rambutnya
__ADS_1
"Dia sama sekali tidak memikirkan perasaanku juga, dia fikir aku dengan senang hati menikahi Cleo, padahal saat ini yang aku butuhkan adalah dia, dia yang tetap berada disampingku, dialah yang membuatku kuat menghadapi semua ini."
"Tuan." panggil pak Ridwan saat tidak terdengar sahutan, "Apa tuan masih disana."
"Aku akan pulang sekarang." Lio langsung mematikan sambungan tersebut dan langsung pergi tanpa membereskan berkas-berkas yang tadi tengah diperiksanya.
****
Masih dalam perjalanan menuju desa tempat tinggal Naya, Boy menatap sekilas ke arah Naya yang saat ini tengah terlelap.
"Seandainya saja dia belum menikah." gumam Boy, "Ahh jangan berfikir yang aneh-aneh lo Boy." Boy mengingatkan dirinya, "Sekarang fokus untuk mengantar Naya ke desanya saja, siapa tahu disana lo bertemu dengan gadis desa seperti Naya."
Mobil Boy kini memasuki jalan menuju desa Naya, dikiri kanan jalan terhampar pemandangan hijau yang membuat mata menjadi adem, Boy begitu antusias saat matanya disambut oleh pemandangan yang menyejukkan mata dengan udara bersih bebas polusi masuk ke paru-parunya, suatu hal yang tentunya tidak bisa ditemukan di Jakarta mengingat Jakarta penuh dengan polusi.
Dan tidak lama kemudian, mobilnya tidak berjalan dengan mulus karna sekarang memasuki area jalan yang belum tersentuh oleh aspal, karna jalan yang tidak rata membuat Boy melajukan mobilnya dengan perlahan, karna banyak lubang membuat mobil terguncang, dan goncangan demi goncangan membuat tidur Naya terganggu, dia menggeliat dan mengucek-ngucek matanya, dia mengarahkan matanya ke luar jendela, dia tersenyum cerah saat mengetahui kalau sebentar lagi mereka akan sampai didesanya.
"Sorry ya Nay membuat kamu bangun, kondisi jalan rusak gini dan membuat mobil terguncang."
"Memang jalan menuju desa Naya begini mas, rusak dan belum diaspal." Naya jadi inget saat pulang kampung bersama Lio, saat itu Lio terlihat kesal dan mengomentari kondisi jalan yang rusak dan menyalah-nyalahkan pemerintah setempat karna tidak memperhatikan jalan yang sudah tidak layak.
"Mas menyesalkan karna telah nganterin Naya."
"Gak juga kok, aku malah seneng, aku jadi dapat pengalaman baru sekaligus menguji kemampuan mengemudiku dijalan rusak seperti ini, lagian juga sepanjang jalan yang kita lewati pemandangannya indah, jarang-jarangkan aku bisa lihat pemandangan seperti ini."
"Syukurlah kalau mas Boy senang."
Saat mobil Boy memasuki area desa kelahiran Naya, jam sudah menunjukkan jam lima sore, biasanya dijam segitu orang-orang desa sudah pulang bekerja dari sawah, sehingga tidak heran sepanjang jalan yang mereka lewati mereka bertemu para penduduk desa yang tengah dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing.
Orang desa itu mengaggumi mobil mahal yang memasuki desa mereka, maklum dikampung, tidak ada yang memiliki mobil mewah dan mahal, yang ada hanya mobil pick up, mereka bertanya-tanya siapa gerangan sore-sore begini berkunjung ke kampung mereka yang agak terpencil.
Naya menjulurkan kepalanya untuk menyapa orang-orang yang merupakan tetangga disekitar rumahnya, "Pak Jarwo, bu Jarwo, baru pulang dari sawah." teriak Naya karna dia berada didalam mobil sambil melambaikan tangannya dengan antusias, Naya begitu sangat bersemangat.
Pasangan pasutri itu bengong sesaat karna tidak mengenali Naya, dan ibu Jarwo heboh begitu mengenali kalau yang menyapanya adalah Naya anaknya bu Murni dan pak Badrun tetangga dekat rumah mereka, "Astagaa pak, itu Naya, anaknya bu Murni dan pak Badrun, duhhh anak itu banyak berubah sekarang, saya jadi tidak mengenalinya."
"Naya, anaknya pak Badrun yang menikah dengan orang kota itu bu."
"Cantiknya anak itu sekarang ya bu, pangling aku, beda sekali dengan anak ingusan yang tiap pulang sekolah mencuri mangga kita."
"Iya pak, wajar saja cantik, kan suaminya orang kaya, jadi punya banyak uang untuk perawatan disalon dan membeli skincare, jadi tidak heran kalau wajahnya glowing begitu." mulai julid nieh.
Naya kembali berteriak, "Naya duluan ya pak Jarwo dan bu Jarwo, sampai ketemu."
Pak Jarwo dan bu Jarwo hanya melambaikan tangan mereka untuk merespon ucapan Naya.
Naya terlihat begitu bahagia, untuk saat ini dia bisa melupakan masalahnya.
"Kamu kelihatan bahagia banget Nay."
"Siapa yang tidak bahagia mas kembali ke desa tempat kelahirannya dan bertemu orang tuanya, apalagi Naya sangat jarang sekali bisa mengunjungi orang tua Naya karna jauh."
Boy hanya mengangguk mengerti.
"Nahh itu mas, berhenti disana, dirumah yang didepannya ada pohon belimbingnya, itu rumah Naya." Naya menunjuk sebuah rumah sederhana yang merupakan rumah orang tuanya.
Boy mengangguk patuh, dan menghentikan mobilnya tepat didepan rumah yang dimaksud oleh Naya.
"Ayok mas turun." ajak Naya membuka pintu mobil dan diikuti oleh Boy.
Begitu tiba diluar, saat Naya menoleh kebelakang, dia melihat ayah dan ibunya yang baru pulang dari sawah, ayahnya membawa cangkul yang dipanggul dilengannya, topi dengan caping lebar bertengger dikepala laki-laki yang sangat dicintai oleh Naya, sedangkan ibunya membawa rantang bekas sisa makan siang yang dibawakannya untuk sang suami yang bekerja seharian disawah.
Naya melambai-lambai untuk menarik perhatian orang tuanya, "Ayah, ibu." teriaknya saking senengnya melihat kedua orang tuanya yang terlihat tampak sehat.
Tanpa mempedulikan dirinya yang tengah hamil, Naya berlari menyongsong kedatangan orang tuanya yang berjarak beberapa meter.
Sama seperti Naya, kedua orang tuanya, termasuk ibu Murni sangat bahagia melihat putri tunggalnya, dia tidak menyangka kalau putrinya sudah berada didepan rumahnya, "Itu putri kita pak, itu putri kita sik Naya." sambil mengguncang-guncang bahu suaminya.
__ADS_1
"Iya bu bapak tahu, tapi bisa tidak ibu jangan heboh begitu, malu sama umur."
"Akhhh sik bapak ini, ya wajarlah ibu heboh melihat putri kesayangan kita yang tiba-tiba pulang, ibukan kangen sama putri semata wayang kita itu."
"Nak, jangan lari-lari begitu, ingat saat ini kamu tengah hamil." tegur pak Badrun saat putrinya tersebut sudah berada didekatnya.
Naya langsung memegang perutnya mendengar ucapan bapaknya, saking senengnya bertemu ayah dan ibunya membuatnya sampai lupa kalau saat ini dirinya tengah hamil.
"Iya benar kata bapakmu nak, jangan lari-larian begitu, nanti bayimu kenapa-napa lagi."
"Iya ayah, ibu, Naya lupa saking senengnya melihat ayah dan ibu." Naya kemudian memeluk ayah dan ibunya bergantian.
"Bagaimana keadaanmu nak, apa selama kehamilanmu kamu baik-baik saja, apa bayinya sehat." tanya ibu Murni.
"Alhamdulillah bu, Naya dan dedek bayinya sehat-sehat saja, itu karna mas Lio tidak mengizinkan Naya makan makanan sembarangan, harus makan makanan bergizi, minum susu hamil dan vitamin, gimana tidak sehat coba bu."
"Nak Lio benar-benar suami yang baik dan penuh perhatian, beruntungnya anak kita pak bisa menikah dengan laki-laki sebaik nak Lio."
Pak Badrun mengangguk menanggapi ucapan istrinya, "Benar bu, ternyata ayah tidak salah menjodohkan anak kita dengan cucu sahabatnya itu."
"Apa kamu kesini bersama dengan nak Lio." tanya pak Badrun menoleh ke belakang dan menemukan Boy yang berdiri canggung menyaksikan adegan antara Naya dan orang tuanya, dia mengangguk dan tersenyum tipis saat ayah Naya menoleh ke arahnya.
Naya menggeleng, mendengar nama Lio membuat kebahagiannya menguap, tapi dia berusaha untuk tidak menampakkannya didepan orang tuanya, dia tidak mau orang tuanya tahu akan masalah yang tengah menimpanya, dia tidak mau membuat orang tuanya bersedih kalau dia sampai menceritakan kalau Lio akan menikah lagi, "Mas Lio tidak bisa meninggalkan pekerjaannya ayah, makanya mas Lio tidak nganterin Naya." bohongnya.
"Terus itu....." menunjuk ke arah Boy.
"Ohhh itu teman Naya dikota ayah, namanya mas Boy."
Naya berbalik dan melambaikan tangannya untuk meminta Boy mendekat, "Mas, ayok kesini."
Karna dipanggil, Boy mendekat.
"Ayah, ibu, perkenalkan ini mas Boy."
Boy tersenyum ramah untuk menciptakan kesan baik, dia meraih tangan ayah Naya terlebih dahulu dan menempelkannya dikeningnya, "Saya Boy paman, temannya Naya."
Boy kemudian beralih meraih tangan ibu Murni dan menempelkannya juga dikeningnya.
"Walahhh, teman kamu ini tampan sekali Naya, sopan dan ramah lagi." ibu Murni memuji.
Boy tersenyum mendengar pujian dari ibunya Naya.
"Kamu sudah punya pacar nak."
Dengan malu-malu Boy menjawab, "Tidak punya bibi, gak ada yang mau sama saya soalnya."
Ibu Murni terkekeh, "Kamu jangan berbohong lho nak Boy, masak setampan gini gak ada yang mau, nak Boynya ya yang pilih-pilih."
"Gak kok bibi, saya gak pilih-pilih, tapi memang gak ada yang mau."
"Mas Boy ini naksir sama seseorang bu, tapi sayangnya gadis yang dia taksir sudah menikah dan saat ini tengah hamil." Naya menyela.
"Waduhhh, bahaya itu naksir istri orang, bisa-bisa dibawain golok lagi sama lakinya."
Boy terkekeh, "Iya bibi, Boy juga tidak akan merebut istri orang kok, Boy takut dosa soalnya hehehe."
"Disini banyak lho gadis perawan, apa mau bibi kenalkan dengan salah satu dari mereka nak Boy, agar kamu bisa melupakan istri orang yang kamu cintai itu."
Saat Boy akan menjawab clotehan bu Murni, pak Badrun mengintrupsi, "Astagaa, ibu ini jangan aneh-aneh deh, nak Boy itu tampan, sudah pasti banyak gadis kota yang mau dengan nak Boy, mana mau dia sama gadis desa."
"Saya gak pemilih kok orangnya paman, malahan saya lebih suka gadis desa yang cendrung lebih kalem dan memiliki hati yang baik, contohnya seperti anak paman dan bibi sik Naya."
"Nak Boy benar-benar laki-laki yang baik, coba kalau Naya belum menikah, bibi sudah pasti menyerahkan Naya untuk dinikahi oleh nak Boy."
"Ibu ini ada-ada saja." timpal Naya.
__ADS_1
Pak Badrun mengintrupsi, "Lha, kok kita jadi ngobrol diluar sieh, ayok kita lanjutkan ngobrolnya didalam saja, mari nak Boy, masuk digubuk sederhana kami." pak Badrun mempersilahkan tamunya dengan ramah.
****