
Ketika Lio memasuki kamarnya, maksudnya kamarnya dan kamar Naya, dia menemukan Naya tengah berdiri didepan cermin rias berpose didepan kaca sambil mengarahkan ponselnya untuk berselvi, memang gaya itulah yang banyak digandrungi oleh kaum hawa saat ini, dan maklum saja, saat ini Naya tengah seneng-senengnya berselvi ria, maklum HP baru, apalagi banyak filternya yang bisa membuat wajahnya menjadi putih mulus dan cantik.
Naya menghentikan aktifitasnya begitu Lio memasuki kamar, "Dari mana mas." tanyaya.
Jawab Lio ketus, "Lo gak perlu tahu."
"Bisa gak dia bersikap manis sedikit saja, bawaanya pengen marah melulu tiap hari." ungkap Naya dalam hati, namun ternyata dia memang diciptakan tidak memendam sakit hati berlama-lama, dia kembali antusias memamerkan baju-baju dan HP yang dibelinya pada Lio.
"Mas, lihat deh, ini baju tadi yang Naya beli dibutik, bagus ya." tunjuknya pada baju yang kini tengah dikenakannya, "Tapi harganya mahal banget, aku sudah bilang sama mas Rafa belinya jangan disana, dipasar baju kayak gini seratus ribu dapat tiga, tapi bahannya sieh yang nyaman dan halus, mungkin itu faktor penyebab harganya mahal." cloteh Naya.
Lio gak terlalu mendengarkan apa yang diclotehkan oleh Naya, dia lebih berfokus menilai pakaian yang dikenakan Naya, "Coba gue lihat baju-baju yang lo beli."
"Oh, mas ingin lihat." Naya meraih paperbag dan mengeluarkan satu persatu pakaian yang dibelinya, dan Lio memberikan komentar yang tidak mengenakkan, "Kenapa baju yang lo beli gamis semua, malah modelnya sama lagi."
"Ini bagus mas, sopan, gak ngundang hawa nafsu laki-laki laki kalau dikenakan." bela Naya.
"Bagus menurut lo, selera lo aja yang kampungan, kalau tahu lo bakalan beli baju kayak gini gue gak bakalan bersusah-susah ngeluarin duit buat lo, toh modelnya sama dengan baju-baju yang lo bawa dari kampung."
"Mas kok bisanya mencela doank, emang mas bisa kalau disuruh jahit baju kayak gini."
"Ya gak bisalah, ngapain juga gue susah-susah jahit baju sendiri kalau tokonya bisa gue beli."
"Mas, jangan sombong, sombong itu dibenci....."
Karna tahu bakalan diceramahin oleh Naya, Lio menyela, "Udah ah, lo jangan ngomong lagi, pusing pala gue, mending lo bikin kopi buat gue."
"Iya mas." jawab Naya patuh.
Hanya butuh lima menit ketika Naya kembali ke kamar dengan membawa nampan yang diatasnya cangkir berisi kopi, Lio sudah berganti pakain dengan pakain rumah, "Mas, Naya taruh kopinya disini." Naya menaruh nampan itu dinakas.
Lio meminum kopinya, dan sepertinya aman karna gak ada komentar, dia memeriksa HPnya melihat kalau ada chat masuk, dan memang ada, chat itu dari Cleo sang pujaan hati.
Makasih ya sayang karna dibeliin tas mahal dan mewah, makin sayang sama kamu, kamu laki-laki terbaik.
Wanita dimana-mana memang begitu, kalau dibelikan ini itu saja bilangnya sayang, bilangnya cinta, giliran gak diturutin kata-katanya bilangnya gak pengertian dan perhitungan, tapi untungnya Lio kaya raya, jadi dia punya stok cadangan uang yang lebih dari cukup untuk membelikan apapun yang Cleo inginkan. Lio menarikan jemarinya untuk membalas chat Cleo.
Sama-sama sayang, apapun akan aku lakukan untuk kamu.
__ADS_1
Dia menulis dibarengi dengan senyum-senyum, sikapnya persis kayak remaja alay yang baru pertama jatuh cinta.
Naya mendekati Lio, "Mas, nieh HP baru aku, bagus ya, hasil fotonya juga bagus lho."
"Teruss."
"Maksud aku, boleh foto berdua gak buat dijadiin foto profil FB, soalnya Eli bilang ingin lihat foto suami aku."
Lio memandang Naya seolah Naya baru menyuruhnya mencangkul aspal, dan dengan juteknya berkata, "Gak."
"Masak gak mau sieh, ayok mas kita foto bareng." rengek Naya, "Lagian cuma foto bareng doank masak gak mau, apalagi minta gendong."
"Gue bilang gak ya enggak ya, ngeyel banget sieh, lagian sekarang udah zamannya instagram, masih saja pakai FB."
"Dipost di IG juga mas, Nayakan udah punya IG, diajarin sama mas Rafa, makanya mas ayok foto, agar teman-temanku tahu kalau aku punya suami."
"Bilang saja kamu mau memamerkan aku sebagai suami karna aku ganteng."
"Ya itu juga sieh."
"Gak." Lio ngotot.
****
Sore itu ditaman belakang, Naya menemukan kakek Handoko tengah bercengkrama dengan burung-burung kesayangnnya yang berada disangkar, sambil menjentik-jentikkan jarinya dan bersiul memancing burung-burung itu mengeluarkan suara.
"Sore kakek." tegur Naya meletakkan teh dimeja untuk kakek Handoko.
"Wah cucuku, kamu perhatian sekali membawakan kakek teh."
Naya tersenyum dan mendekati kakek Handoko yang berdiri didepan disangkar burung-burungnya, "Burungnya cantik-cantik ya kek."
"Lebih cantik kamu."
Naya bersemu malu, selain ayah dan ibunya, kakek Handoko orang ketiga yang mengatakannya cantik, bahkan Wahyu tidak pernah mengatakannya cantik, mengingat Wahyu membuat Naya agak murung, dia gak bisa membayangkan bagaimana reaksi Wahyu kalau tahu dia sudah menikah, padahalkan dia sudah berjanji akan setia menunggunya, tapi inikan terpaksa dia lakukan demi orang tuanya.
"Lho, kenapa murung, apa kamu gak suka kakek bilang cantik."
__ADS_1
"Eh, gak kok kek, Naya gak murung kok." merubah ekspresi wajahnya dengan senyuman, dia kembali merubah ke topik awal, "Kakek pencinta burung ya."
"Ya begitulah, dengan berintraksi dengan burung-burung kakek menjadi tidak kesepian lagi."
"Kesepian, kok bisa, dirumahkan banyak orang, mama Renata, mas Lio, mbok Dijah, mbak Wati, mas Paijo, pak Salman." Naya mengabsen.
Kakek Handoko terkekeh menanggapi kalimat Naya, "Mana ada yang mau bergaul dengan orang tua seperti kakek Naya, selain itu semuanya sibuk, apalagi Renata dan Lio."
"Gitu ya, tapikan sekarang ada Naya kek yang akan selalu nemenin kakek, jadi kakek tidak akan kesepian lagi." Naya menghibur, "Kakek bisa cerita apa saja ke Naya, Naya bakalan dengerin kok."
"Kamu memang gadis baik, gak salah kakek memilih kamu."
Naya tersenyum, dia merasa kasihan dengan kakek Handoko, diusia senja seperti ini seharusnyakan dia mendapatkan banyak perhatian.
"Nah, sekarang kakek kenalin dengan burung-burung kakek." Kakek Handoko menunjuk burung yang ada dalam sangkar satu persatu dan menyebutkan naman-namanya.
Naya mengangguk mengerti.
Setelah mengenalkan Naya dengan burung-burungnya, kakek Handoko dibantu oleh Naya duduk dikursi untuk menikmati teh yang dibawakan oleh Naya.
"Kek, boleh foto gak, Naya baru dibeliin HP baru oleh Mas Lio, bagus lho hasilnya." mentang-mentang HP baru, semua orang diajakin foto.
Kakek Handoko terlihat antusias, "Boleh, sudah lama kakek gak pernah difoto."
"Kakek mau." tanya Naya gak percaya, fikir nya kakek Handoko bakalan nolak seperti Lio.
"Mau donk, tapi pastikan kakek ganteng ya difoto."
Icha terkekeh menanggapi kalimat kakek Handoko.
Cekrek, cekrek.
Naya memandang hasil jepretannya puas dan menunjukkannya pada kakek Handoko, "Baguskan kek."
"Iya kakek terlihat ganteng dan muda."
"Kakek memang ganteng dan masih muda." pujinya.
__ADS_1
****