
"Saya sangat senang melihat Bulan, anak itu terlihat bersemangat dan terus tersenyum, dia sepertinya sangat bahagia karna memiliki orang tua angkat yang begitu menyayanginya, terimakasih ya mbak Naya karna telah menyayangi Bulan." ujar ibu Wahidah.
"Seharusnya saya dan mas Lio yang berterimakasih sama ibu karna telah diizinkan mengadopsi Bulan, karna Bulan telah membuat kehidupan rumah tangga kami terasa sempurna." balas Naya.
Ibu Wahidah tersenyum, dia tentu sangat bersyukur karna Bulan diadopsi oleh orang yang tepat.
"Sama-sama mbak Naya, saya harap Bulan tidak merepotkan mbak Naya dan mas Lio."
"Ahhh tentu saja tidak, Bulan anak yang baik dan penurut, kami sangat bersyukur karna dipertemukan dengannya."
"Saya senang mendengarnya." ucap ibu Wahidah terharu.
***
Lio terlihat mendekati istrinya dan ibu Wahidah, Lio tersenyum singkat kepada ibu Wahidah sebagai sebuah sopan santun sebelum berkat, "Maaf bu Wahidah, saya pinjem Nayanya sebentar."
"Ohh iya mas Lio, silahkan.
"Saya pergi dulu bu." pamit Naya.
"Iya mbak Naya."
Lio menggandeng tangan Naya menjauh, dan memberitahu perihal kedatangan Rafa, "Rafa dan keluarganya sudah datang."
"Benarkah, apa mbak Leta juga ikut mas." tanyanya antusias karna dia berharap bertemu dengan Leta.
"Iya sepertinya dia ikut."
"Aku sudah lama tidak bertemu dengan mbak Leta, dulukan dia sering main kesini atau ngajak Naya jalan-jalan, mbak Leta sibuk sekali ya mas dengan kuliahnya, terakhir ketemu saat mas Lio ngajakin Naya dan Bulan jalan-jalan, dan itupun mbak Leta tidak banyak bicara sama Naya." curhat Naya.
"Iya, Leta mungkin sibuk dengan kuliah dan tugas-tugasnya sehingga dia tidak punya waktu untuk bertemu kamu, tapikan ada aku sayang, akukan selalu ada untuk kamu."
"Iya juga sieh, tapikan Naya kesepian juga saat mas Lio bekerja, Naya bosan dikamar dan nonton TV terus, habisnya kakek tidak ngebolehin Naya melakukan ini dan itu."
"Apa kamu mau aku ajak ke kantor."
"Memang boleh mas." dengan mata penuh harap.
"Boleh donk sayang, akukan bosnya, terserah aku doank kalau aku mau bawa istriku ke kantor, dan pastinya aku akan semangat kerjanya kalau kamu ikut."
"Aku mau banget mas." antusiasnya Naya mendengar janji sang suami.
Lio mengelus puncak kepala Naya dengan rasa sayang, "Istriku."
"Suamiku."
Mereka tidak sadar kalau sudah sampai dihadapan keluarga Rafa.
"Ekhem ekhem, kalian itu ya kalau mau bermesraan itu dikamar, jangan ditempat umum begini donk." komentar Rafa melihat kemesraan pasutri itu.
Naya langsung melepaskan gandengan tangan Lio, namun Lio menariknya kembali dan tidak membiarkan tangan Naya lepas.
"Apa sieh lo, kerjaan lo sirik aja." balas Lio acuh tak acuh.
"Makanya." mama Rina menyahut, "Biar kamu tidak iri melihat kemesraan Lio, kamu juga harus menikah Rafa, kamu lihat itu Lio, sekarang sudah mau punya anak, sementara kamu ini masih saja jomblo, mau sampai kapan kamu begini terus." mama Rina jadi menumpahkan kekesalannya sama putra semata wayangnya karna putranya itu selalu saja mengelak saat dirinya berusaha untuk mengenalkannya dengan seorang gadis.
"Tuhhh, lo denger tuh kata tante, lo harus cari calon, supaya bisa kasih cucu untuk tante, umur lo udah bangkotan, tapi belum saja laku." oke deh, ini adalah ajang yang dimanfaatkan oleh Lio untuk meledek Rafa.
Orang-orang disana terkekeh mendengar clutukan Lio.
Sementara itu Leta hanya diam sambil membuang pandangan saat Naya menoleh dan tersenyum kepadanya.
"Gue tahu dalam hal ini Naya gak salah, dia juga gak mungkin suka sama Boy, apalagi dia terlihat memuja kak Lio, tapi tetap saja gue gak bisa menghilangkan rasa kesel gue sama dia." batin Leta.
"Mbak Leta kenapa sieh, dia kok seperti tidak suka begitu, bahkan pesan dan panggilanku diabaikan olehnya." Naya tentu bertanya-tanya dalam hati, karna Leta seperti menghindarinya.
"Selamat ya tuan Handoko, Lio dan Naya, karna kalian dianugrahkan calon pewaris bisnis keluarga Rasyad berikutnya." papa Anton papanya Rafa mengambil alih pembicaraan.
"Iya Anton, saya sangat bahagia dan memiliki semangat untuk hidup begitu dokter mengabarkan kalau cucu menantu kesayangan saya ini tengah mengandung calon cicit saya, saya harap ketika cicitku nanti lahir, saya sehat dan bisa menggendongnya."
"Kakek pasti sehat." timpal Naya.
__ADS_1
"Iya sayang, demi cicit, kakek akan menjaga kesehatan."
"Apa kamu masih mual-mual Nay." tanya mama Rina sebagai sesama perempuan, "Apa kamu sering sangat ingin makan sesuatu."
"Sudah tidak lagi tante, mual-mualnya diawal saja, kalau sangat ingin makan sesuatu sieh sering, dan mas Liolah yang sering Naya repotkan untuk mencari apa yang Naya ingin makan, kadang Naya tidak enak karna keseringan Naya ingin makan sesuatu tengah malam saat mas Lio tidur nyenyak, Naya jadi terpaksa membangunkan mas Lio." curhat Naya menceritakan tentang ngidamnya.
"Aku senang kok sayang direpotkan oleh kamu, jangan pernah sungkan untuk merepotkanku, demi kamu hujan apipun akan aku terobos."
Ucapan Lio membuat Naya tersipu.
"Mulai deh." gumam Rafa melihat kebucinan sahabatnya yang tidak kenal tempat.
"Kamu benar-benar laki-laki bertanggung jawab dan siaga Lio, tante berharap Leta nantinya akan mendapatkan laki-laki seperti kamu, laki-laki yang bertanggung jawab dan selalu menjaganya." harap mama Rina untuk putrinya dimasa depan.
"Ekhem ekhem." papa Anton terbatuk-batuk, batuk palsu, "Mama ini gimana sieh, ingin putrinya mendapatkan suami seperti Lio, seharusnya mama bilang supaya putri kita itu mendapatkan suami seperti papanya ini, itu yang benar ma." cletuk papa Anton bercanda.
"Dihhh, mama sieh berharapnya jangan ya, papa itukan kalau sudah tidur kayak orang mati suri, susah dibangunin, kalau seandainya putri kita menikah dengan seorang seperti papa dan saat dia hamil dan menginginkan sesuatu ditengah malam tapi papanya tidak bangun-bangun, bisa ileran cucu kita nanti karna tidak dipenuhi apa yang diinginkan oleh putri kita."
Serentak orang-orang tertawa mendengar clotehan mama Rina, kecuali Leta yang hanya tersenyum tipis.
"Mama ini, tega-teganya mengumbar aib suami sendiri ya." papa Anton pura-pura terlihat kesal.
Lio melihat pergelangan tangannya untuk melihat jam, "Kakek, sebaiknya kita mulai saja acaranya."
"Ahh iya baiklah, ayok semuanya masuk."
Acara syukuran yang penuh berkah karna melibatkan anak-anak yatim piatu itu berjalan dengan khidmat, di awal dilantunkan pembacaan ayat-ayat suci alquran yang kemudian dilanjutkan dengan doa bersama untuk kesehatan sang ibu dan calon buah hati, dan setelah itu barulah para tamu undangan menikmati hidangan yang disediakan oleh tuan rumah.
Suasana bahagia itu dirusak oleh kedatangan seorang tamu yang tak diundang, tamu itu adalah tidak lain dan tidak bukan adalah Cleo.
Semua orang diruangan itu menatap pada sosok cantik yang baru memasuki ruangan tempat berlangsungnya acara.
Mama Renata tersenyum melihat kedatangan Cleo, wanita yang sangat dia harapkan sebagai menantunya, dialah yang telah memberitahu Cleo akan hal ini, sehingga Cleo tergerak untuk mendatangi Lio secara langsung, baginya ini adalah waktu yang pas untuk membuat Lio kembali kepadanya.
Cleo telah meyakinkan mama Renata kalau Lio pasti akan kembali padanya.
"Cleo." gumam Lio terkejut melihat kedatangan mantannya tersebut, dia dengan panik memandang ke arah Naya yang kini terpaku menatap ke arah Cleo yang berdiri dengan anggunnya.
"Siapa dio Lio." tanya kakek Handoko karna dia memang dia tidak tahu-menahu perihal mantan kekasih cucunya itu.
Lio dengan langkah lebar menyongsong ke arah Cleo, Cleo menyambut kedatangan Lio dengan senyum manis dengan harapan Lio akan bersikap baik padanya.
"Mau apa kamu kesini." ketusnya menahan rasa kesalnya.
"Aku ingin melihat kamu." jawab Cleo agak kesal karna ketidakramahan Lio.
Lio mendengus, dia kembali menoleh ke arah Naya, dia bisa melihat kalau wajah istrinya itu kini tengah menahan kecemburuan.
"Kamu pergi sekarang secara baik-baik sebelum aku seret kamu keluar." ucap Lio dengan suara rendah yang hanya Cleo yang bisa mendengarnya.
"Aku akan pergi dengan suka rela jika kamu mau kembali denganku."
"Jangan mimpi."
Setelah mengucapkan hal tersebut, dengan tangannya Lio menarik lengan Cleo dan mambawanya keluar, namun Cleo yang tidak terima dengan perlakuan sang mantan kekasih menepis tangan Lio, "Lepasin aku Lio, tidak seharusnya kamu memperlakukan aku dengan kasar begini."
"Ohh ya, kenapa tidak bisa."
Perhatian orang-orang yang ada diruangan itu sekarang terpusat pada satu arah.
"Karna saat ini, aku tengah mengandung anak kamu." kata-kata yang diucapkan dengan lantang oleh Cleo sehingga semua orang bisa mendengarnya.
Jderr, Cleo seperti menjatuhkan bom atom diruangan itu, semua orang terutama Naya dan kakek Handoko begitu sangat terkejut mendengar pengakuan tersebut.
Lio jelas tertegun, dia berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Cleo, "Apa yang kamu katakan Cleo, jangan mengada-ngada ya kamu."
"Aku gak mengada-ngada Adelio, aku hamil dan bayi yang aku kandung adalah anak kamu, darah daging kamu."
Naya menggeleng, kristal bening mulai berjatuhan bak hujan deras dari kedua pipinya, hati wanita mana yang tidak hancur mendengar kalau suami sendiri menghamili wanita lain, "Tidak mungkin, ini tidak mungkin, mas Lio tidak mungkinkan melakulan hal ini." Naya menolak untuk percaya, tubuhnya terasa tidak bertulang, dia oleng, beruntungnya Rafa yang melihat hal tersebut dengan sigap menangkap tubuh Naya.
"Naya, ya Tuhan."
__ADS_1
Leta yang melihat Naya disangga oleh kakaknya langsung mendekat, seketika rasa kesalnya terhadap Naya langsung menguap begitu saja digantikan dengan rasa iba.
"Mbak Naya." dia mengelus punggung Naya untuk memberi penguatan.
Kasak-kusuk terdengar dari orang orang yang berada disana.
"Astaga, apa yang terjadi ini."
"Kenapa tiba-tiba ada perempuan yang mengaku-ngaku sebagai mantan kekasihnya pak Lio dan mengatakan dirinya hamil."
"Pak Lio selingkuh dan sekarang selingkuhannya itu hamil, ya Tuhan, kasihan sekali mbak Naya."
"Pasti hati mbak Naya hancur sekali."
"Lio, apa-apaan ini, katakan apa yang sebenarnya terjadi." suara kakek Handoko menggelegar diseantero ruangan besar itu, dia benar-benar murka melihat apa yang terjadi didepan matanya.
Sebelum Lio sempat buka suara, Cleo mendahuluinya, "Cucu kakek ini dulunya adalah kekasihku, kami menjalin hubungan cukup lama, dan dia memintaku untuk menunggunya karna dia berniat menceraikan istrinya karna dia tidak pernah mencintai gadis yang kakek pilihkan untuknya, dia menikahi gadis itu karna terpaksa, selama Lio menikah, kami menjalin hubungan dibelakang, dan sekarang aku hamil, itu karna perbuatan cucu kakek, aku disini untuk meminta pertanggungjawaban darinya, Lio harus menikahiku."
Mengetahui fakta kalau cucu kesayangannya mengecewakannya itu membuat penyakit jantung kakek Handoko kumat, kakek Handoko memegang dadanya, laki-laki tua itu terlihat begitu kesakitan.
"Papaaaa." jerit mama Renata panik berlari ke arah papanya.
"Kakekkkk." Lio tidak kalah panik melihat kondisi kakeknya yang nafasnya terlihat kembang kempis.
Cleo menahan Lio dengan memegang lengannya, "Lio aku..."
Dengan kasar Lio menepisnya, "Kalau terjadi apa-apa sama kakekku, aku tidak akan memaafkan kamu Cleo, inget itu." Lio menuding Cleo dengan jari telunjuknya, Lio benar-benar dikuasai oleh amarah.
"Kakekk." gumam Naya sebelum kehilangan kesadarannya, Naya begitu shock dengan apa yang disaksikannya dan yang didengernya, ini benar-benar mimpi buruk untuknya.
"Mbak Nayaaa." suara Leta melengking saat tubuh Naya ambrukk.
"Nayaaa, ya Tuhan." Lio menjambak rambutnya, dia terlihat begitu frustasi, disaat bersamaan kakek dan istrinya ambruk dan sama-sama tidak sadarkan diri.
Namun Rafa yang sigap cepat mengambil tindakan, dia mengangkat tubuh Naya, karna melihat Lio masih berdiri membeku, Rafa membentak Lio, "Apa yang lo lakukan Lio, cepat bawa kakek Handoko ke mobil, kakek harus mendapatkan penanganan secepatnya." setelah mengatakan hal tersebut, Rafa setengah berlari membawa Naya keluar menuju mobil.
Leta mengikuti kakaknya dibelakang, sumpah dia sangat khawatir dengan kondisi Naya, dia ingin berada didekat Naya dan menguatkannya saat nantinya Naya tersadar karna saat ini kondisi Naya tengah rapuh karna mengetahui berita yang menjadi mimpi buruk bagi setiap wanita.
Dibentak begitu membuat Lio mendapatkan kesadarannya, dia dibantu oleh beberapa orang membawa kakeknya ke mobil untuk membawa kakeknya dan Naya ke rumah sakit.
***
Kakek Handoko kini tengah ditangani oleh dokter Vito beserta dokter lainnya, sementara itu mama Renata, Lio, Rafa dan mama Rina dan papa Anton menunggu dengan penuh kekhawatiran diluar.
Mama Rina berusaha menenangkan mama Renata dan menguatkannya, "Tuan Handoko pasti baik-baik saja Rena, dokter pasti bisa menanganinya, kamu jangan cemas ya."
Sementara itu Lio merasa dilema, dua orang yang dia sayang saat ini dalam kondisi tidak sadarkan diri, dia dihadapkan pada kondisi apakah stay disamping Naya atau sang kakek, dan pada akhirnya, Lio memilih untuk menunggu perkembangan kakeknya bersama dengan yang lainnya, sedangkan Naya saat ini tengah didampingi oleh Leta.
Tim dokter berusaha semaksimal mungkin menangani tuan Handoko.
Mesin pendeteksi detak jantung tiba-tiba berbunyi nyaring, dibarengi dengan garis yang tadinya turun naik berubah seketika menjadi lurus sempurna, itu memberitahu tentang satu hal, kalau kakek Handoko telah pergi untuk selamanya.
Namun tim dokter yang diketuai oleh dokter Vito tidak menyerah begitu saja, mereka melakukan upaya terakhir yang bisa mereka lakukan dengan harapan kakek Handoko bisa diselamatkan. Dokter Vito mengambil alat kejut jantung dan menempelkannya didada kakek Handoko, beberapa kali percobaan, tapi usaha mereka sama sekali tidak membuahkan hasil sampai akhirnya dokter Vito menggeleng pasrah, yang artinya adalah kakek Handoko tidak bisa mereka selamatkan.
Para dokter yang telah berusaha keras melakukan yang terbaik untuk pasiennya menunduk lesu, hal yang paling tidak diinginkan oleh seorang dokter adalah bertemu keluarga pasien dan memberitahu kalau ternyata mereka tidak berhasil menyelamatkan sik pasien, namun mau tidak mau harus mereka lakukan juga dan harus menghadapi jeritan histeris dari keluarga pasien.
Dengan langkah berat dan kepala tertunduk dokter Vito berjalan ke arah pintu, begitu pintu terbuka, orang-orang yang sejak tadi menunggunya langsung menyerbunya dengan pertanyaan.
"Dokter bagaimana ayah saya, dia baik-baik sajaka ." berondong mama Renata, gurat kecemasan jelas tergambar dari wajahnya.
Dokter Vito tetap setia menunduk dan tidak menjawab pertanyaan mama Renata.
"Dok, dokter berhasilkan menyelamatkan kakek saya." tanya Lio hati-hati, perasaanya benar-benar tidak enak begitu melihat dokter Vito keluar dengan wajah lesu begitu, Lio yakin sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Dokter jangan diam saja, keluarga kakek Handoko begitu sangat penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi dengan kakek Handoko, kenapa dokter malah bungkam." tidak sadar suara Rafa meninggi.
Barulah dokter Vito mendongak dan menggeleng pelan, dokter Vito adalah dokter keluarga Rasyad, dia sudah begitu dekat dengan keluarga kakek Handoko sehingga tidak heran kalau dia sudah dianggap seperti keluarga sendiri, dan tentu saja, dokter Vito merupakan salah satu orang yang begitu terpukul dengan kepergian kakek Handoko.
Lio sangat tahu makna dari gelengan itu, namun dia menolak untuk percaya, "Bicara yang benar dokter, saya tidak mengerti apa maksud dokter dengan menggeleng begitu." bentaknya, Lio sebenarnya benar-benar takut mendengar kebenaran yang akan keluar dari bibir dokter Vito.
"Maafkan saya Lio, saya dan tim dokter lainnya telah berusaha semaksimal mungkin, tapi kami tidak bisa menyelamatkan nyawa tuan Handoko."
__ADS_1
Begitu dokter Vito menyelsaikan kalimatnya yang disambut dengan suara jeritan histeris dari mama Renata, "Apaaaa, tidak mungkin, papa saya tidak mungkin pergikan dokter, dokter bercandakan." mama Renata yang shock mendengar berita tersebut menolak untuk percaya.
****