
"Cobaku lihat." Lio mengambil buket bunga tersebut dari tangan Naya.
Menelitinya sesaat ketika matanya melihat sedikit sembulan kertas diantara bunga mawar tersebut, Lio menariknya dan ternyata itu adalah sebuah kartu.
"Apa itu mas."
Mengabaikan pertanyaan Naya dan tanpa berfikir Lio membukanya dan membaca tulisan yang terdapat dikartu ucapan tersebut.
Semoga cepat sembuh ya Nay, maaf aku tidak bisa menjengukmu secara langsung, gak enak sama masmu itu.
Dan semoga kamu suka sama bunganya.
Salam hangat Boy.
Lio mendengus setelah membaca tulisan singkat dari kartu ucapan tersebut.
"Tenyata pengirimnya adalah bocah tengik itu." tanpa disadari nada suara Lio terdengar ketus.
"Mas Boy ya mas."
"Hmmm." Lio menyerahkan kembali bunga tersebut bersama kartu ucapannya kepada Naya, "Perhatian sekali anak itu, dia suka kayaknya sama kamu Nay."
Naya mengambil kembali bunganya dan membaca tulisan pada kartu ucapan tersebut sebelum berkata, "Mas Boy memang suka sama Naya, suka sebagai teman maksudku." jelas Naya.
"Mana ada cowok suka sama cewek seperti yang kamu bilang Nay."
"Ya adalah, kan mas Boy orangnya, mas Boy itu sukanya sama mbak Leta, Naya itu hanya dianggap sebatas teman, lagian juga ya gak mungkinlah mas Boy suka sama Naya, orangkan Naya sudah menikah." jelas Naya, dan menambahkan dalam hati, "Yang satu tahun lagi bakalan diceraikan."
Karna tidak mau membahas tentang Boy karna bisa membuat moodnya rusak, Lio kembali menjalankan mobilnya. Suasana didalam mobil hening, tidak ada musik, tidak ada obrolan, sampai deringan dari ponsel Naya memecah kesunyian yang tercipta.
Naya merogoh tasnya untuk mencari benda tersebut, dan reflek bergumam saat membaca nama yang tertera dilayar ponselnya, "Mas Boy."
"Sik bocah tengik." dengus Lio begitu mendengar gumaman Naya.
Naya menggeser simbol telpon berwarna hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"Iya mas Boy." sapa Naya ramah seperti biasa.
"Kamu sudah terima bunga mawar yang aku kirim Nay."
"Sudah mas, baru saja. Terimakasih ya mas, bunganya cantik."
"Sama seperti kamu, sama-sama cantik."
Namanya juga perempuan, wajahnya akan bersemu secara alami saat mendapatkan pujian, begitu juga dengan Naya yang pipinya memerah.
Ck
Lio yang melihat hal tersebut tanpa sadar berdecak, "Bilang apa sieh sik bocah tengik itu sampai wajah Naya memerah begitu, masih kecil tuh anak udah pinter aja ngegombalnya."
__ADS_1
"Ah mas Boy bisa saja." respon Naya malu karna dipuji cantik.
"Oh ya, mas Boy tahu dari mana aku sakit." pagi kemarin saat dirinya merasakan panas disekujur tubuhnya, Boy menjadi orang pertama yang menelponnya, tapi saat itu Naya tidak memberitahu Boy kalau dia lagi sakit.
"Leta yang yang ngasih tahu."
"Akhh mbak Leta suka laporan, padahalkan Naya cuma sakit biasa dan sekarang Naya sudah sembuh."
"Syukurlah kalau kamu sudah sembuh, aku seneng dengernya." kata Boy tulus, "Tapi kamu curang ya Nay."
"Maksudnya gimana mas."
"Akukan juga teman kamu Nay, tapi masa cuma Leta yang kamu kasih tahu kalau kamu sakit, sedangkan ketika aku nelpon kamu pagi itu, kamu bilang kamu baik-baik saja, tapi nyatanya kamu sakit, pantes saja suara kamu terdengar berbeda kemarin."
"Iya maaf mas, Naya juga sebenarnya tidak memberitahu mbak Leta, tapi mbak Leta tahu Naya sakit dari kakaknya yang merupakan temannya mas Lio."
"Ohh gitu."
"Mas Boy, sudahlah ya Naya tutup."
"Oke Nay, bye."
"Tuhkan aku bilang apa, bocah tengik itu suka sama kamu." ketus Lio begitu Naya mengakhiri panggilannya.
Saat dilihatnya Naya membuka bibirnya dan Lio yakin Naya akan menjawab seperti jawabannya yang tadi, dia lebih dulu memotong, "Bukan suka sebagai teman, tapi suka antara cowok dan cewek."
"Ya Tuhann gadis ini, polosnya kebangetan, bocah tengik itu nyata gitu suka sama dia, di gak geh."
"Kirim bunga, nelpon nanyain kabar itu namanya perhatian Nay, dan kalau cowok memberikan perhatian sama cewek itu tandanya sik cowok suka sama cewek itu. Sampai sini pahamkan Nay."
Jawab Naya malah, "Gak masuk akal."
"Lho gak masuk akal gimana." sergah Lio karna tidak terima penjelasannya dikatakan tidak masuk akal oleh Naya.
"Mas Lio sendiri, membuatkan Naya bubur, Nyuapin Naya, memberikan Naya bunga juga, itukan juga perhatian namanya, tapi buktinya mas Liokan tidak suka tuh sama Naya." seru Naya telak.
Ucapan telak yang dikeluarkan oleh Naya membuat Lio diam, tidak tahu harus membalas ucapan Naya.
****
"Mas ada super market tuh, ayok mampir." tunjuk Naya pada bangunan super market yang berdiri dipinggir jalan.
"Mau beli apa Nay, persedian pembalut dan kiranti kamu habis."
"Bukan mas, Naya hanya mau membelikan sesuatu untuk anak-anak panti sebagai oleh-oleh."
"Baiklah."
Setelah mobil berhenti, Naya dan Lio turun dan berjalan ke pintu masuk super market.
__ADS_1
Liolah yang bertugas mendorong troli berjalan disamping Naya, sedangkan Naya mengambil ini itu dan meletakkannya ditroly.
Naya membeli banyak makanan, seperti kue-kue, coklat, permen, biskuit, Naya juga membeli mainan untuk anak-anak panti.
"Nay, minyak urut juga, persedian minyak urut dirumah habis soalnya." tunjuk Lio pada rak yang memajang barisan minyak urut berbagai merk dan ukuran.
Naya meraih botol minyak urut dan bertanya, "Emang siapa yang akan memijat mas."
"Ya kamulah."
"Gak maulah."
"Lho, kok gak mau, dosa lho menolak perintah suami."
"Kalau suami baik dan normal sieh memang berdosa kalau perintahnya diabaikan, tapi kalau suami durhaka kayak mas, Naya rasa tidak dosa tuh menolak perintah mas." balas Naya dan lagi-lagi membuat Lio tidak bisa membalas ucapan Naya.
"Gadis ini, tahu saja dia ngejawab." batin Lio nelangsa karna membayangkan badannya akan pegel-pegel tidak ada yang memijit.
"Kalau mas mau pijit, mulai sekarang panggil saja tukang pijit."
"Hmmm."
Sekarang Lio tidak bisa lagi menggunakan kata 'Istri durhaka' untuk menyuruh-nyuruh Naya melakukan apapun jika Naya tidak mau.
Karna belanjaannya sudah banyak, mereka berjalan menuju kasir untuk membayar. Kasir menyebutkan nominal yang harus dibayar untuk belanjaan tersebut.
Disaat bersamaan, Naya dan Lio mengeluarkan kartu dari dompet mereka masing-masing, tentu saja Lio tadinya berniat membayar, namun melihat Naya juga mengeluarkan kartu dan menyodorkannya terlebih dahulu sama kasir, Lio mengurungkan niatnya.
"Ini mbak." Naya menyodorkan karu tersebut sama kasir.
Lio mengerutkan kening melihat Naya memegang kartu, karna dia merasa tidak pernah memberikan Naya kartu tersebut.
"Terimakasih mas mbak, telah berkunjung ke toko kami." seru sik kasir ramah saat Naya dan Lio akan keluar dengan tangan sarat akan bahan makanan untuk anak-anak panti yang akan mereka kunjungi.
Lio membantu Naya memasukkan belanjaan mereka dibagasi belakang mobil, dan setelah itu mereka kembali masuk.
"Nay, kamu dapat dari mana kartu tadi." Lio bertanya begitu mereka sudah duduk nyaman didalam mobil.
"Kakek yang memberikannya pada Naya."
"Kakek." ulang Lio tidak percaya, karna dia sendiri selama menjadi cucunya tidak pernah diberikan kartu.
"Iya kakek, dia memberikannya karna katanya Naya gadis baik, perhatian sama dia, dan katanya juga Naya selalu membuatkannya nasi goreng setiap hari." Naya menjelaskan panjang lebar.
"Naya nolak sieh mas saat diberikan, karna Naya merawat kakek dengan ikhlas, tapi kakek memaksa Naya menerimanya, kalau Naya tidak terima katanya beliau akan ngambek, makanya Naya terpaksa terima." jelas Naya.
"Ternyata kakek sesayang itu sama Naya." batin Lio menatap wajah polos Naya.
****
__ADS_1