Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
NAYA NGAMBEK


__ADS_3

Kakek Handoko tersenyum mendengar jawaban Wahyu.


Kakek Handoko tentu saja kenal sama Boy, dia kenal karna sebelumnya Boy pernah datang ke rumah besar bersama dengan Leta, tapi laki-laki sederhana yang membalas ucapannya yang tidak dia kenal sama sekali, seorang pemuda seumuran Naya yang Naya perkenalkan sebagai temannya.


"Kamu beneran temannya Naya." tanya kakek Handoko untuk memastikan.


"Iya kek, saya temennya Naya dari desa, sejak SD sampai SMA kami selalu sekolah ditempat yang sama." jelas Wahyu, "Sekarang aku terpaksa menjadikannya sebagai temanku, karna dulu dia adalah perempuan yang pernah menjadi kekasihku, perempuan yang ingin aku jadikan sebagai ibu dari anak-anakku kelak, tapi sayangnya, cucu kakek yang malah beruntung mendapatkannya." sambung Wahyu dalam hati karna fakta itu tidak mungkin untuk dikatakan.


"Ohhh, kamu temannya Naya dari desa, suatu kebetulan ya kalian bertemu, kalau boleh tahu apa yang kamu lakukan di Jakarta nak." ternyata kakek Handoko kepo juga dengan kehidupan Wahyu.


"Saya disini kerja kek, kerja sebagai waitres disebuah restoran."


"Kapan-kapan kalau kami makan ditempat kamu bekerja, boleh donk kamu memberikan diskon untuk kami." goda kakek Handoko.


Wahyu hanya tersenyum simpul menanggapi candaan kakek Handoko, "Jangankan diskon, kakek bisa makan gratis sekeluarga kalau saya yang punya restoran, tapi sayangnya pelayan seperti saya tidak bisa memberi diskon meskipun kita saling kenal."


"Hahaha." kakek Handoko tertawa mendengar jawaban Wahyu, "Iya iya, kamu benar juga."


Kini kakek Handoko beralih menyidang Naya, "Dan kamu Naya, lain kali kalau kamu pergi keluar bilang-bilang donk, jangan bikin kami semua dirumah panik dan khawatir begini."


"Iya, sekali lagi maafkan Naya kakek, Naya tidak akan mengulanginya lagi." Naya benar-benar terlihat menyesal karna telah membuat semua orang dirumah besar khawatir.


"Kalau kamu ingin makan sesuatu, kamukan tinggal bilang, tidak perlu keluar sendiri, itu berbahaya bagi perempuan seperti kamu, apalagi kamu tidak mengenal seluk beluk kota Jakarta, kamu bisa dijadikan sasaran empuk oleh pelaku kejahatan diluar sana."


Naya hanya menunduk mendengar nasehat kakek Handoko, "Iya kakek Naya mengerti, Naya berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


"Bagus kalau kamu mengerti, jadikan apa yang terjadi hari ini sebagai pelajaran."


"Iya kek." jawab Naya patuh.


"Ridwan, apa kamu sudah memberitahu Lio kalau Naya sudah kembali." tanya kakek Handoko pada supirnya karna pak Ridwan ditugaskan untuk menelpon Lio begitu Naya kembali ke rumah.


"Sudah tuan, saat ini tuan muda dalam perjalanan pulang."


****


Padahal saat pak Ridwan menelpon, posisi Lio lumayan jauh dari lokasi rumah, tapi begitu mendengar istrinya telah kembali ke rumah dia langsung putar arah, dan Lio hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai dirumah, Lio benar-benar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan menyalip setiap mobil yang dia lewati karna tidak sabar ingin bertemu dengan Naya. Perut Rafa sampai mual dengan cara Lio mengemudi seperti orang yang kesetanan, namun Lio mana peduli dengan penderitaan yang saat ini tengah dialami oleh Rafa, dia hanya ingin cepat kembali ke rumah.


Dan begitu menghentikan mobilnya, tanpa mempedulikan Rafa yang terlihat teler, Lio langsung dengan terburu-buru memasuki rumah, suara sepatunya yang beradu dengan ubin menggema diseantero ruangan.


"Nayaaa." panggilnya saat melihat sang istri duduk sambil tertawa-tawa diruang tamu, entah cerita lucu apa yang didengernya sampai membuatnya tertawa lepas begitu, sedangkan suaminya begitu mengkhawatirkan dirinya.


Suara teriakan Lio mengalihkan perhatian semua orang yang ada diruang tamu tersebut.


Wajah Lio yang sejak tadi tegang terlihat lega begitu melihat kondisi Naya yang terlihat baik-baik saja tanpa kurang satu apapun.


"Mas Lio." Naya berdiri begitu melihat kedatangan sang suami.


Lio berlari, saat ini yang dia inginkan adalah memeluk Naya setelah selama berjam-jam dia dibuat tidak tenang, Lio benar-benar persis seperti aktor di difilm-film india yang akan melakuka adegan saat akan menyanyi.


Tanpa mempedulikan orang disekelilingnya, Lio langsung memeluk Naya, dia mencium kepala Naya bertubi-tubi, "Ya Tuhan, terimakasih karna telah mengembalikan dia padaku, aku begitu sangat takut kehilangan dia."


Siapapun yang melihat hal itu tentu mengambil kesimpulan kalau Lio benar-benar mencintai Naya.


Bagi Wahyu dan Boy, dua laki-laki itu harus mengucapkan bye bye, karna kesempatan untuk mendapatkan Naya benar-benar tertutup, mereka hanya melihat adegan itu mesra itu dengan nelangsa.


"Kamu kemana saja sieh, nyawaku seperti melayang saat nomer kamu tidak aktif, apalagi kamu berada diluar sendirian tanpa ditemani oleh orang rumah." Lio mengeluarkan keresahannya, "Jangan seperti itu lagi, jangan bikin aku khawatir lagi."


Naya merasa sangat bersalah, ternyata semua orang begitu sangat mengkhawatirkannya, lebih-lebih suaminya, "Maafkan Naya mas, Naya janji tidak akan mengulanginya lagi." janji Naya, itu kalimat yang sudah sangat sering diucapkan seharian ini.


Lio mengurai pelukannya, menundukkan pandangan ke arah perut Naya, "Bagaimana dengan sik kecil Nay, apa dia tidak apa-apa, apa dia tidak stres saat ibunya tidak mengetahui jalan pulang."


Benar-benar deh pasangan ini, dunia seperti milik berdua, yang lain dianggap batu.


"Dia juga baik-baik mas, tidak rewel selama bundanya kesasar dan luntang-lantung dijalanan, tapi untungnya ada mas Wahyu yang nemenin sehingga Naya tidak sendirian sebelum kami kemudian bertemu dengan mas Boy dan mengantarkan Naya pulang." lapor Naya menyebutkan dua laki-laki yang berjasa membawanya pulang.


Mendengar nama Wahyu dan Boy disebut, Lio baru menyadari kalau mereka tidak hanya berdua di ruangan itu, "Wahyu dan Boy." dia langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari dua laki-laki yang disebut oleh Naya.


Lio melihat sosok Boy duduk sofa panjang, didekatnya ada seorang laki-laki yang tidak dia kenal, dan Lio yakin itu adalah Wahyu sang mantan terindah.


Melihat wajah mantan Naya tiba-tiba saja membuat Lio kesal, dia tahu dia tidak seharusnya kesal atau sejenisnya tapi rasa itu muncul begitu saja, dia bertambah kesal saat dia membayangkan apa yang Naya dan Wahyu lakukan saat masih pacaran, bayangan Naya bergandengan tangan membuat wajahnya masam, "Apa selama mereka pacaran mereka pernah berciuman." Lio langsung menggeleng untuk menghilangkan pemikiran tersebut, "Jangan berfikir yang macam-macam Lio." tandasnya untuk menghilangkan fikiran negatif tersebut.


Dan untungnya Lio bis bersikap dewasa, dia mengesampingkan rasa kesalnya dan berusaha untuk bersikap ramah apalagi Wahyu juga berjasa menolong Naya.


Wahyu juga tidak lepas memperhatikan Lio, dalam hati berkata, "Aku bahagia, ternyata suami Naya begitu sangat mencintai Naya, walaupun aku jauh lebih bahagia seandainya Naya bersamaku, tapi memang ini sudah jalan yang memang sudah ditakdirkan untuk kami, dan inilah yang terbaik untuk aku dan Naya." Wahyu berbesar hati melepas wanita yang dia cintai bersama laki-laki lain selama laki-laki itu mencintai Naya dan bisa membuat Naya bahagia.

__ADS_1


"Mas, itu...." Naya agak enggan juga memperkenalkan Wahyu pada Lio, Naya hanya takut Lio bersikap tidak ramah, mengingat sebelum-sebelumnya Lio selalu terlihat kesal saat dirinya menyebut nama Wahyu.


"Dia Wahyukan." potong Lio tersenyum tipis, hal itu yang terbaik yang bisa dia lakukan.


"Terimakasih banyak karna kalian telah membawa Naya pulang." ujarnya sama Boy dan Wahyu.


Dua laki-laki itu hanya mengangguk untuk merespon ucapan terimakasih dari Lio, mereka begitu malas hanya sekedar basa-basi untuk membalas ucapan Lio.


Dalam hati Boy berkata, "Lo gak usah berterimakasih Lio, karna gue dengan senang hati mengantar Naya pulang."


****


Lio, aku ingin ketemu kamu


Pesan itu hanya dibaca oleh Lio, sedikitpun dia tidak ada niatan untuk membalas pesan yang dikirim oleh Cleo tersebut.


"Kenapa sieh dia terus menggangguku, dia tidak ngerti apa yang aku katakan tadi siang." rutuknya begitu dia selesai membaca pesan yang dikirim oleh Cleo.


Saat itu Naya keluar dari kamar mandi setelah bersih-bersih, dia mendekati suaminya yang duduk bersandar ditempat tidur.


"Sini sayang." Lio merentangkan tangannya, dia yang tadinya merengut gara-gara pesan dari Cleo kini melengkungkan kedua sudut bibirnya menyambut wanita yang dia cintai.


Naya selalu suka saat Lio melakukan hal itu, dia akan dengan senang hati masuk dalam pelukan sang suami, rutinitas mereka sebelum tidur yaitu berpelukan.


Lio tidak serta merta membiarkan Naya lepas begitu saja dari kejadian tadi siang, apalagi Naya dibantu oleh mantannya dan juga laki-laki yang menaruh rasa padanya, itu adalah hal yang benar-benar menyebalkan, tapi rasa syukurnya karna Naya pulang dalam keadaan selamat jauh lebih besar dibandingkan rasa sebalnya, dan karna dia tidak mungkin mencecar Naya saat dihadapan banyak orang, maka ini adalah kesempatan Lio untuk melancarkan serangannya.


"Jadi, gimana rasanya bertemu dengan mantan kembali." Lio memulai.


"Biasa aja." jawab Naya santai.


"Jawabnya dibibir biasa saja, tapi dihati pasti bahagia bangetkan ketemu dengan mantan terindah, apalagi kalian tidak pernah bertemu selama berbulan-bulan." agak-agak mulai jeles kayaknya sik Lio, suaranyapun agak-agak gimana gitu.


"Gak juga tuh." respon Naya biasa aja, memang biasa aja sieh, dia gak bahagia atau antusias saat bertemu dengan Wahyu, "Memang sieh Naya agak terkejut saat melihat mas Wahyu nyamperin saat Naya lagi makan, tapi gak ada tuh rasa bahagia atau antusias begitu saat Naya bertemu dengan mas Wahyu." ucapnya, "Karna apa, itu karna hati Naya sepenuhnya sudah dicuri oleh laki-laki yang memasangkan cincin cantik ini dijari Naya." Naya mengangkat tangannya yang tersemat cincin berlian yang dipasangkan oleh Lio dijari manisnya.


Mendengar hal itu tentu saja Lio tersenyum, "Kamu paling bisa ya ngebaperin aku." gemesnya menjawil hidung Naya.


"Makanya mas, stop cemburu sama mas Wahyu, aku saja tidak pernah tuh cemburu atau mengungkit-ngungkit mantan mas yang cantik dan seksi itu, siapa itu namanya..."


"Cleo."


"Mas kok nyebut namanya dengan penuh perasaan gitu, mas masih cinta ya sama mantan mas itu." tadi katanya tidak cemburu, tapi saat mendengar Lio menyebut nama Cleo Naya kok jadi badmood gitu.


"Ihhh, jangan sebut namanya lagi, aku gak suka."


"Dasar perempuan, tadi katanya tidak cemburu, aku nyebut nama Cleo saja dia jadi heboh begini, apalagi kalau aku membalas pesannya, bisa ngambek berat Naya."


"Iya sayang, aku tidak akan menyebut nama perempuan itu lagi oke, sama seperti kamu dan Wahyu, aku dan perempuan itu sekarang hanya tinggal masa lalu, masa depanku itu adalah kamu." Lio merayu dan itu bisa sedikit membuat Naya melunak.


"Janji ya mas Lio tidak akan menyebut-nyebut namanya apalagi sampai mengingatnya."


"Mana mungkin aku mengingatnya saat aku memiliki istri yang cantik seperti bidadari begini."


"Astaga mas Lio, mas jangan berlebihan juga, Naya tahu jika dibandingkan dengan mantan mas itu, Naya jelas tidak ada apa-apanya." Naya sadar diri juga ternyata kalau Cleo itu memang jauh lebih cantik dari dirinya, bahkan saat dirinya memakai riasan dan Cleo tidak menggunakan make up sama sekali tetap saja Cleo lebih cantik dari dirinya.


"Menurut aku, kamu itu jauh lebih cantik dari Cleo, bahkan kamu yang paling cantik didunia ini, tidak hanya cantik, hatimu juga cantik, dan itu yang tidak dimiliki oleh Cleo."


Wanita manapun tentu saja akan merasa senang saat mendengar dirinya dipuji dan dikatakan wanita paling cantik oleh suami sendiri, begitu juga yang dirasakan oleh Naya, dia rasanya melambung ke nirwana, pipinya sampai memerah.


"Gombal." gumamnya untuk menutupi rasa malunya.


Lio hanya terkekeh, dia paling suka dan gemes saat melihat Naya yang malu-malu begini membuatnya ingin menggigit pipi Naya yang memerah persis seperti strobery ranum.


"Nahh sayang, mulai saat ini marilah kita berjanji kalau kita tidak akan pernah mengungkit masa lalu, lebih-lebih tentang mantan, marilah kita fokus menata masa depan kita bersama Bulan dan calon buah hati kita yang masih didalam perut kamu."


Naya mengangguk, "Iya mas."


Lio menurunkan tangannya mengelus perut Naya, "Nayy."


"Iya mas."


"Kenapa perut kamu masih rata, kamu beneran hamil apa tidak."


Naya langsung mencubit tangan Lio, "Mas ini ya kalau ngomong tidak difikir dulu, ya benaranlah mas, usia kehamilan Nayakan baru memasuki usia 3 bulan, jadi wajar saja perut Naya belum membuncit."


"Jangan marah gitu donk sayang, akukan cuma nanya doank."

__ADS_1


"Habisnya mas Lio nanya gitu, bikin kesal saja."


"Iya aku minta maaf, tapi jangan gitu donk sayang."


"Hmmm."


"Tinggal berapa bulan lagi dia akan lahir, aku benar-benar sudah tidak sabar ingin melihatnya."


"Masih lama mas, 6 bulan lagi."


"Enam bulan lagi, ya Tuhan, tidak bisa dipercepat apa."


Naya terkikik, "Ahh mas Lio ini ada-ada saja, ngaco."


"Mas Lio ingin anak cowok atau cewek."


"Karna kita sudah punya anak perempuan, aku berharap kalau bayi yang ada dalam perut kamu ini laki-laki Nay, dan aku yakin kalau dia laki-laki, dia pasti akan tampan seperti ayahnya."


"Kalau misalnya perempuan gimana."


"Aku tetap akan menyayanginya, dan dia pasti akan cantik dan baik hati seperti ibunya."


Saat Lio dan Naya tengah asyik membicarakan tentang harapan mereka pada calon buah hati mereka, suara panggilan masuk dari ponsel milik Lio mengintrupsi pembicaraan mereka.


"Siapa sieh yang nelpon jam segini, ganggu saja." dumel Lio kesal dan membiarkan ponselnya berdering karna dia tidak punya niatan untuk menjawab.


"Kenapa gak diangkat mas."


"Biarin saja Nay."


"Tapi siapa tahu penting."


"Sudah biarin saja, aku yakin itu hanya orang iseng."


Oke, Naya tidak memaksa Lio lagi untuk menjawab panggilan tersebut sampai deringan itu berhenti sendiri, tapi tidak menunggu lama ponsel Lio kembali berdering.


"Astagaa, tidak bisakah aku beristirahat dengan tenang."


"Mas Lio sebaiknya angkat, mungkin itu dari mas Rafa."


Kali ini Lio menuruti kata-kata Naya, dia meraih ponselnya, dan hanya memandangnya layarnya saat mengetahui siapa yang menelponnya.


Melihat suaminya hanya menatap layar ponsel tanpa menjawab panggilan tersebut, Naya melongokkan kepalanya untuk mencari tahu penyebab suaminya membeku begitu, begitu melihat nama yang tertera dilayar, Naya langsung mendengus, "Panjang umur ya dia, baru saja dibicarakan, mantan mas itu sudah nelpon saja."


Wanita mampu menyembunyikan perasaannya selama 40 tahun, tapi wanita tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya meskipun itu hanya sedetik, begitu juga yang terjadi dengan Naya, dia jelas cemburu melihat Cleo menghubungi suaminya, malam-malam begini lagi, "Angkat tuh mas, mantannya nelpon kok malah dianggurin, kangen mungkin dia sama mas Lio." kalau wanita bilang dia tidak kenapa-napa, itu berarti dia kenapa-napa, dan kalau wanita bilang angkat, berarti jangan diangkat, bagi laki-laki yang sudah berpengalaman seperti Lio sieh tentu saja tidak menjawab panggilan tersebut, yang dia lakukan adalah merijeknya.


"Kenapa dirijek, ntar kalau mantannya mas Lio marah gimana."


"Duhhh Naya ini bener-benet deh, masak dia ngambek hanya gara-gara Cleo nelponin gue, panggilannya gue rijek lagi, ini masih saja ngambek." Lio membatin.


"Biarin saja dia marah, aku gak peduli, diakan bukan siapa-siapaku, kalau kamu yang marah baru aku peduli."


Naya mendengus, itu pertanda kalau dia masih kesal.


"Ayoklah sayang jangan marah, akukan tidak menjawab panggilan Cleo." Lio berusaha membujuk Naya.


"Itu karna aku disini, coba kalau aku tidak didekat mas, pasti mas Lio akan mengangkatnyakan."


"Tidak sayang, mau kamu didekat aku kek, kita berjauhan sekalipun aku tidak akan pernah menjawab panggilan dari Cleo, kalau kamu tidak percaya, tanya saja Rafa."


Naya diam, tidak merespon apa yang dikatakan oleh Lio.


"Kamu percayakan sama aku sayang, aku tidak mungkin macam-macam dibelakang kamu, karna aku hanya mencintai kamu." keluar deh tuh rayuan mautnya.


"Hmmmm."


"Lebih baik kita tidur sekarang ya." ujar Lio.


"Hmmm." hanya itu doank yang digumamkan oleh Naya.


Saat Lio akan melingkarkan tangannya untuk memeluk Naya, Naya malah menepis tangan Lio.


"Aku gak ingin dipeluk mas."


Lio mendengus kasar, "Allahu akbar, Naya ternyata kalau ngambek parah juga, malah ngambeknya karna hal sepele lagi."

__ADS_1


Meskipun ditolak, Lio tetap mendekat dan mencium pipi Naya yang tidur membelakanginya, "Tidur yang nyenyak sayang."


***


__ADS_2