Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
CIUMAN SELAMAT TINGGAL


__ADS_3

"Tapi Bulan ingin tidur sama ayah dan bunda, Bulan ingin ngerasain bagaimana rasanya dipeluk sama ayah dan bunda." wajah Bulan terhilat sendu yang membuat siapa saja yang melihatnya pasti tidak akan tega menolak keinginannya.


Lio yang mendengar percakapan antara Naya dan Bulan menghentikan pekerjaannya, benar apa yang dikatakan Naya, dia paling tidak bisa tidur rame-rame, apalagi sama anak kecil yang notabennya tidurnya bisa dibilang grasak-grusuk, tapi melihat mata sendu gadis kecil tersebut membuat Lio tersentuh, dia kemudian berjalan mendekati Naya dan Bulan.


"Kamu ingin tidur sama ayah dan bunda." tanya Lio.


Bulan mengangguk, dia memandang ayah angkatnya dengan penuh harap.


Lio berjongkok dan merentangkan kedua tangannya, "Kemari."


Gadis kecil itu tersenyum lebar dan berlari ke arah Lio dan melingkarkan tangan mungilnya di leher ayah angkatnya tersebut, Lio mengangkat tubuh mungil itu dengan enteng dan membawanya ke tempat tidur dan membaringkannya.


Naya melihat adegan tersebut dengan tidak percaya, Lio yang awalnya menentang untuk mengadopsi anak, kini terlihat berbeda, saat ini laki-laki itu seperti seorang ayah yang sangat mencintai putri kecilnya.


"Bunda." tegur Bulan melihat ibu angkatnya masih berdiri ditempatnya, "Kenapa masih berdiri, ayok bunda kita tidur."


Suara Bulan mengembalikan kesadaran Naya, "Ehh tidur ya." Naya terlihat agak ragu.


"Bundaa."


"Iya iya." Naya berjalan ke tempat tidur.


Naya memandang Lio sejenak, dia tidak menyangka akan kembali satu ranjang dengan suami yang berniat menceraikannya setelah satu tahun ke depan.


Naya mengambil tempat disebelah kanan Bulan, sedangkan Lio berada diposisi sebelah kiri, sedangkan Bulan persis berada ditengah-tengah, gadis kecil itu sejak tadi tersenyum bahagia karna harapannya tidur bersama dengan orang tuanya terwujud, meskipun hanya orang tua angkat.


"Ayah."


"Kenapa sayang."


"Bulan boleh tidak meminta sesuatu sama ayah."


"Apa."


"Bulan boleh tidak meminta ayah menceritakan Bulan sebuah dongeng."


"Dongeng."


"Itu lho mas cerita tentang."


"Iya aku tahu Naya."


"Ya sudah mas, apalagi yang mas tunggu, ayok ceritakan dongengnya untuk Bulan."


"Tapi aku tidak punya buku dongeng Naya."


"Astagaa mas, ya gak perlu dibaca secara langsung, masak mas Lio gak inget sieh dongeng yang dulu pernah diceritakan oleh mama atau papanya mas."


Bukan masalah ingat atau tidak, masalahnya sejak kecil orang tua Lio tidak pernah menceritakan dongeng untuk anaknya, kedua orang tuanya adalah tipe orang tua yang sibuk dan lebih mementingkan pekerjaan dan uang daripada menceritakan anak mereka dongeng.


"Mas, ayok cepatan cerita, Bulan sudah nungguin tuh."


Lio melirik ke arah Bulan, gadis kecil itu terlihat menunggunya untuk bercerita.


"Ekhem ekhemm." Lio pura-pura batuk sambil memegang lehernya, dia tidak mau mengakui kalau dia tidak tahu satupun dongeng dinegeri ini, makanya dia berbohong dengan pura-pura sakit tenggorokan, "Sayang, biar bunda saja ya yang bercerita, soalnya ayah mendadak sakit tenggorokan."


"Sakit tenggorokan apaan, satu detik yang lalu dia terlihat berbicara dengan lancar, kenapa sekarang tiba-tiba sakit tenggorokan." gumam Naya dalam hati, dia meragukan kebenaran kalau Lio beneran sakit.


"Iya ayah, karna ayah lagi sakit, bunda saja ya yang cerita."


"Hmmm, baiklah."

__ADS_1


****


Pagi itu semua anggota keluarga Rasyad sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan, terjadi percakapan ringan di antara anggota keluarga tersebut.


Lio sudah bersiap dengan pakain kerjanya duduk disamping Bulan.


Mama Renata juga yang seperti biasanya, sudah rapi dan cantik siap untuk ke butik.


"Ayah tampan sekali, ayah mau pergi kemana." tanya gadis kecil itu polos melihat ayah angkatnya sudah rapi dengan stelan jas resminya.


Lio tersenyum dan mengelus puncak kepala Bulan, "Ayah mau kerja sayang."


"Ayah kerja."


"Iya sayang, ayah kerja untuk cari uang untuk Bulan."


"Untuk bunda juga ayah."


Lio melirik Naya yang juga tengah memandangnya, "Iya, untuk bunda juga."


"Sayang, ayok sarapan dulu ya, jangan ajak ayah ngobrol terus nanti ayah telat kerjanya." Naya menyela obrolan antara anak dan ayah tersebut.


"Baik bunda."


"Lio, Naya." seru kakek Handoko.


Naya dan Lio menoleh mendengar nama mereka dipanggil.


"Kalian sudah memikirkan tentang sekolah Bulan."


Naya dan Lio saling melempar pandangan satu sama lain, jujur, mereka belum memikirkan tentang hal tersebut.


"Hmmm, kami belum memikirkan tentang hal tersebut kek." jawab Naya jujur.


"Yahh memang sebaiknya begitu, kalian rundingkan terlebih dahulu."


"Bulan akan sekolah bunda."


"Iya sayang, Bulan maukan sekolah biar Bulan jadi anak yang pintar dan cerdas."


"Biar Bulan bisa seperti ayah bunda."


Lio yang menjawab, "Iya Bulan agar kamu seperti ayah yang pintar dan cerdas."


"Mau bunda, Bulan mau." semangatnya.


Naya tersenyum haru melihat anak angkatnya yang begitu terlihat bersemangat.


Sedangkan mama Renata mendengus kasar, dia muak melihat menantu kampungannya dan cucu angkatnya yang tidak diketahui asal-usulnya, "Ya Tuhan, apa salahku sampai memiliki menantu kampungan dan cucu angkat yang tidak jelas asal-usulnya begini, kalau beginikan mereka tidak bisa dipamerin ke teman-teman sosialitaku. Akhh, yang jelas ini semua gara-gara papa, kenapa sieh papa harus berjanji segala dengan sahabatnya itu sampai menikahkan cucunya dengan gadis kampungan norak, dan anak kecil itu lagi, papa bisa menerimanya begitu saja walaupun tahu asal-usul anak itu tidak jelas, heran deh, papa kok seleranya gak ada yang bener." mama Renata mengeluh dalam hati.


"Renata sudah selesai pa, Renata berangkat duluan." ketusnya dengan roti yang masih tersisa setengah dipiringnya.


"Nenek, rotinya masih belum habis, gak baik menyisakan makanan nek, karna banyak orang diluar sana yang tidak bisa makan karna tidak punya makanan." Bulan tidak sembarang ngomong, mengingat ketika dipanti dia harus berbagi makanan dengan teman-temannya yang banyak dan kadang juga mereka tidak bisa makan.


Ingin rasanya mama Renata menyemprot anak kecil yang berani-beraninya menegurnya itu, tapi dia tidak mungkin memarahi Bulan mengingat papanya ada disana.


Selama ini tidak pernah ada yang pernah menegurnya mau dia menyisakan sebanyak apapun makanan dipiringnya, tapi anak kecil yang baru dua hari berada dirumahnya sudah berani menasehatinya.


Kakek Handoko tersenyum mendengar Bulan menegur putrinya, karna kehidupan keluarga mereka yang lebih dari cukup, jadi mereka tidak terlalu menghargai makanan dan cendrung membuangnya jika ada sisa tanpa pernah berfikir sedikitpun kalau banyak orang diluar sana yang tidak bisa makan. Kakek Handoko sendiri merasa ditampar dengan ucapan Bulan, seorang gadis kecil berumur lima tahun yang sudah mengerti makna menghargai.


"Nah tuh Renata kamu denger kata Bulan, anak sekecil Bulan saja mengerti, kamu yang sudah nenek-nenek tidak pernah menghargai dan lebih banyak mengeluh, ayok duduk habiskan sarapanmu." perintah kakek Handoko.

__ADS_1


Dengan ogah mama Renata kembali duduk, dia menatap Bulan dengan kesal.


Sedangkan Lio dan Naya berusaha menahan cengirannya melihat wajah bete mama Renata yang dinasehati oleh Bulan seorang bocah berumur lima tahun.


"Aku pergi pa." ketus Renata begitu sarapannya sudah habis, dia langsung tancap gas.


"Nahh, ayah juga mau berangkat ya Bulan." pamit Lio, "Kek, Lio berangkat ya."


"Hmmm." gumam kakek Handoko.


Lio berdiri dan berjalan keluar.


"Ayok bunda." Bulan menarik tangan Naya.


"Ada apa Bulan." tanya Naya heran karna anak angkatnya itu menarik tangannya.


"Kita anterin ayah sampai depan bunda."


"Ehh."


"Ayok bunda, keburu ayah pergi."


"Ayok sana Naya, anterin suamimu berangkat kerja." kata kakek Handoko mendukung Bulan, "Kamu dan Renata itu yah, sudah pada tua, tapi harus diajarin sama Bulan yang masih kecil."


"Ayok bunda cepetan."


"Iya iya." Naya terpaksa menuruti keinginan Bulan.


"Ayahhh." teriak Bulan.


Lio yang akan membuka pintu mobil berhenti saat mendengar suara Bulan memanggil, dia berbalik dan menemukan Naya dan Bulan menyongsong ke arahnya.


"Kenapa Bulan."


"Ayah, ada yang ayah lupakan."


Lio merogoh kantongnya, dompet dan ponselnya ada, dia merasa tidak ada yang dia lupakan, Lio kemudian berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Bulan, "Ayah tidak melupakan apa-apa sayang."


"Ada."


"Apa."


"Ayah lupa memberikan ciuman selamat tinggal sama Bulan."


Lio terkekeh, "Duhh, iya astaga." Lio kemudian mencium pipi gembul anak angkatnya tersebut dengan gemas, "Gemes banget sieh anak ayah ini." Lio mencubit pipi Bulan.


"Nahh, sekarang sudah tidak ada yang ayah lupakan kan, ayah pergi sekarang yah."


"Ayahhh, bunda belum di cium sama ayah."


"Ehh, itu Bulan, tidak perlu kok." tolak Naya buru-buru.


"Ayok ayah cium bunda." rengek Bulan mengabaikan penolakan ibu angkatnya.


"Hmmm baiklah."


Lio kemudian berdiri dan mendekati Naya, tanpa basa-basi Lio merengkuh pinggang Naya sehingga membuat tubuh mereka menempel satu sama lain, hal tersebut membuat Naya jadi gugup.


"Mas, apa yang mas lakukan." Naya berusaha mendorong dada Lio, tapi jelas hal tersebut tidak berpengaruh sama sekali.


"Kita harus berakting didepan Bulan sebagai sepasang suami istri yang berbahagia, ini resiko yang harus kita terima karna mengadopsinya, jadi Naya, bekerjasamalah." bisik Lio ditelinga Naya.

__ADS_1


Lio kemudian mendekatkan bibirnya dikening Naya, Naya reflek memejamkan matanya, dia bisa merasakan hangatnya bibir Lio dikeningnya untuk beberapa detik, orang yang melihat hal tersebut tentu akan berfikiran kalau mereka adalah sepasang suami istri yang bahagia, nyatanyakan mereka hanya menjalani pernikahan semu.


****


__ADS_2