
Memang, sifat alami manusia senang jika di puji, begitupun gadis kecil itu yang semakin tersenyum lebar mendengar pujian Naya.
Melihat dirinya diterima oleh gadis kecil bernama bulan tersebut, Naya bertanya, "Kakak boleh tanya gak sama bulan."
"Tanya apa kak."
Naya menunjuk kanvas yang berisi sebuah gambar yang ada di depan Bulan, "Ini bulan yang ngegambar."
Gadis kecil itu mengangguk.
"Bagus sekali gambarnya, Bulan berbakat jadi pelukis, kalau kapan-kapan kakak minta digambar sama Bulan, boleh gak."
"Karna kak Naya orangnya baik, Bulan akan gambar kak Naya." janjinya.
"Terimakasih gadis cantik, kamu bener-bener anak yang pinter dan baik." Naya menjawil hidung mungil gadis kecil itu.
"Ohh ya, mereka ini siapa." tanya Naya memperhatikan lukisan tersebut.
Mata Bulan yang tadinya sendu itu berubah riang saat mendengar pertanyaan Naya, Bulan dengan semangat menjelaskan tentang gambar yang terdepat pada kanvas tersebut, di gambar tersebut terdapat dua orang dewasa, laki-laki dan perempuan yang tengah menggandeng seorang anak kecil yang berada di tengah-tengah, mereka bertiga membelakangi kanvas seolah berjalan menyongsong matahari terbit, dan disamping laki-laki dewasa tersebut ada sebuah boneka beruang raksasa.
"Yang ini Bulan kak." Bulan mulai menjelaskan dengan menunjuk anak kecil yang berada ditengah yang tengah digandeng oleh dua orang dewasa tersebut, kemudian telunjuk Bulan beralih menunjuk pada sosok laki-laki yang tengah menggandeng tangan gadis kecil yang tidak lain adalah Bulan sendiri, "Ini papa dan ini mama."
"Ohhh, ini Bulan dan papa mamanya ya."
Bulang mengangguk, "Saat tidur, Bulan selalu bermimpi kalau mama dan papa selalu menggandeng tangan Bulan menuju matahari terbit, mereka tersenyum sama Bulan, Bulan sangat bahagia, tapi ternyata itu hanya mimpi, karna kenyataannya, Bulan tidak pernah punya ayah dan ibu." dan setelah memberitahu Naya mimpinya gadis imut itu kembali terlihat murung, mata yang tadi bersinar kini kembali redup.
Naya tersentuh mendengar penuturan gadis kecil tersebut, Bulan ternyata merindukan ayah dan ibunya, gadis kecil itu ingin memiliki keluarga yang utuh.
Naya berusaha menghibur Bulan, "Heii, anak manis, jangan sedih donk, kan ada kak Naya disini."
Bulan menatap Naya dengan mata bulatnya, "Tapi kak Nayakan bukan mama aku."
Naya terkekeh, "Kalau kak Naya yang jadi mama kamu gimana, Bulan mau tidak."
Kening Bulan mengerut, tidak mengerti dengan kata-kata Naya, "Maksud kak Naya apa."
Naya dengan sabar menjelaskan, "Bulan mau tidak jadi anaknya kak Naya dan om itu." Naya menunjuk ke arah Lio yang saat ini tengah berbicara dengan ibu Wahidah, entah apa yang mereka tengah bicarakan.
"Om itu siapa."
"Om itu namanya Lio, suaminya kak Naya."
"Ohhh."
"Jadi bagaimana sayang, kamu bersediakan menjadi anak kakak dan om itu." Naya mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Apa kakak dan om itu akan ngajak Bulan melihat matahari terbit."
"Jangankan matahari terbit, kita juga akan melihat matahari tenggelam."
Wajah sendu itu kini mulai terlihat ceria lagi, "Tedy boleh ikut kak."
"Tedy." ulang Naya, "Tedy siapa sayang."
Bulan menunjuk gambar beruang besar yang terdapat pada lukisan, "Ini Tedy kak."
"Ohhh, ini tedy."
"Dia boneka Bulan, sejak dulu Tedy kecil dan tidak pernah tumbuh besar sampai sekarang, padahal Bulan makin hari makin tinggi, tapi Bulan sayaang sama Tedy, dia sahabat Bulan." cloteh Bulan dengan kepolosannya yang menggemaskan.
"Boleh donk sayang, Tedy boleh ikut sama kita." ujar Naya, "Jadi, Bulan maukan jadi anak kakak."
"Mau kak mau." Bulan terlihat antusias.
"Anak pintar." Naya mengelus puncak kepala Bulan.
****
Naya bercengkrama dengan Bulan, menceritakan cerita lucu yang kadang membuat Bulan tertawa, mereka sudah akrab saja seperti layaknya adik dan kakak.
"Iya kak."
Naya berjalan menghampiri Lio dan ibu Wahidah, dua orang itu langsung menghentikan pembicaraannya saat Naya datang.
"Mas, aku ingin kita mengadopsi Bulan." seru Naya ketika sampai tanpa basa-basi.
"Bulan." heran Lio.
"Gadis kecil di dekat jendela itu." Naya mengedikkan dagunya ke arah Bulan, gadis kecil itu kembali menyangga dagunya melihat ke luar jendela dengan pandangan menerawang.
"Bulan." sahut ibu Wahidah, "Dia anak yang sopan dan penurut, hanya saja kadang anak itu sering murung dan menyendiri." ibu Wahidah menjelaskan tanpa diminta.
"Orang tuanya." timpal Lio ingin tahu penyebab kenapa Bulan bisa ada di panti ini.
"Bulan saya temukan saat masih bayi didepan pintu panti, tidak ada yang tahu siapa orang tuannya, gadis malang itu diletakkan bersama dengan boneka beruang dan sebuah kertas berisi pesan singkat yang memberitahu kami kalau nama bayi itu adalah Bulan dan meminta kami menjaganya."
Dahi Lio berkerut, "Hmmm, anak yang tidak jelas asal-usulnya rupanya." desahnya dalam hati.
"Mass." desis Naya, Naya khawatir, asal usul Bulan membuat suaminya tersebut tidak mau mengadopsi Bulan.
Lewat pandangan matanya Naya memohon sama Lio supaya Lio mau mengadopsi Bulan, Naya sudah bener-bener suka sama anak itu.
__ADS_1
"Baiklah, kami akan mengadopsi anak itu." putus Lio pada akhirnya tidak tega melihat mata Naya yang memandangnya dengan penuh permohonan.
Saking senengnya, Naya reflek memeluk Lio, "Terimakasih mas, terimakasih."
"Hmmm." entah kenapa, mendapat sentuhan dari Naya membuat hati Lio berdesir, ada perasaan senang dihatinya melihat Naya bahagia.
Pelukan itu hanya berlangsung dua detik, sadar tidak seharusnya dia memeluk Lio, Naya melepas pelukannya dan meminta maaf, "Maafkan Naya mas."
"Hmmm." hanya itu respon Lio sejak tadi.
****
Setelah menyelsaikan semua urusan ini itu, kini Naya dan Lio telah resmi mengadopsi Bulan, dan saat ini gadis kecil itu tengah berpamitan pada ibu Wahidah, pengurus panti lainnya dan teman-temannya, adegan yang menguras emosi karna yang namanya perpisahan selalu saja melibatkan air mata.
Ibu Wahidah yang telah mengurus Bulan sejak masih bayi tentu yang merasa paling kehilangan, tapi dibalik itu, dia bahagia karna akhirnya Bulan menemukan keluarga baru seperti yang selalu gadis kecil itu impikan, keluarga yang akan selalu menyayanginya.
"Sayang." ibu Wahidah berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Bulan, ibu Wahidah mengelus puncak kepala bulan dengan sayang, "Kamu jangan nakal ya, nurut sama mbak Naya dan mas Lio yang jadi ayah dan ibu Bulan sekarang, jangan bikin repot mereka ya sayang." ibu Wahidah memberi wejangan.
"Iya ibu, Bulan janji tidak akan nakal, dan akan selalu jadi anak baik dan berbakti." janji Bulan.
Semua orang yang ada disana terharu, Naya bahkan sampai menitikkan air mata, maklum perempuan, hatinya peka.
"Bulan berjanji akan sering-sering ke panti menjenguk ibu dan teman-teman Bulan, dan terimakasih ibu dan semua pengurus panti lainnya karna telah mengurus Bulan selama ini, Bulan tidak akan melupakan jasa kalian semua, dan untuk teman-teman semuanya, terimakasih karna telah mau berteman dengan Bulan selama di panti."
Naya mendekat dan berkata, "Bu, ibu jangan khawatir, saya dan mas Lio akan menyayangi Bulan seperti anak kami sendiri, kami akan menyekolahkannya supaya jadi orang yang pintar."
"Terimakasih mbak Naya dan mas Lio karna telah mengadopsi Bulan, saya tahu kalian adalah orang baik."
"Kalau begitu kami pamit ya bu, ayok sayang salim sama ibu Wahidah dan teman-temanmu yang lain." perintah Naya sama Bulan.
Bulan melakukan perintah Naya, menyalami ibu Wahidah dan pengurus panti lainnya satu persatu dan kemudian teman-temannya.
Bulan melambaikan tangannya sebelum berjalan menuju mobil, "Selamat tinggal semuanya."
"Dadah Bulan, jangan lupakan kami ya." koor teman-temannya balas melambaikan tangan melepas kepergian Bintang.
Bulang mengangguk.
Lio membukan pintu belakang untuk anak yang sudah resmi menjadi anak angkatnya tersebut.
Bulan melambaikan tangannya lewat jendela mobil untuk terakhir kalinya.
Mobil Lio melaju meninggalkan area panti dan melaju menuju jalan raya.
****
__ADS_1