Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
LETA


__ADS_3

Naya lebih memilih berada didapur untuk membantu mbak Wati dan bi Dijah membuat kue daripada dikamarnya yang hanya berduaan dengan Lio yang terus-terusan mengisenginya.


Sambil membuat kue mbak Wati dan bi Dijah membicarakan sinetron yang ditontonnya semalam, nieh cerita sepertinya belum habis-habis juga untuk digosipin.


"Tau gak Wati, saking kebawa perasaanya dengan sinetron semalam yang kita tonton, sampai kebawa mimpi lho." curhat bi Dijah sambil mengaduk adonan kue.


"Wajar sieh bi, habisnya wanita jahat itu bener-bener bikin darah tinggi, jadi gemes ingin jambak rambutnya kalau ketemu." timpal mbak Wati.


Naya menyahut, "Itukan cuma sinetron mbak, jadi gak nyata, kasihan kan sik mbaknya yang cuma akting mengikuti arahan sutradaranya kalau mbak Wati dan bi Dijah sampai benci beneran."


"Bener juga sih non, tapi gimana gitu ya, mbak tuh kesel banget, lebih-lebih sama lakinya, istri cantik dan baik masih saja diselingkuhi, memang dasar laki-laki buaya."


"Bibik berharap, jangan sampai non Naya mengalami seperti yang dialami oleh wanita malang itu, bibik gak rela kalau non Naya disakiti oleh tuan muda."


"Tuan muda pasti gak bakalan melakukan hal itu, tuan mudakan orangnya baik, dia selalu menghargai dan menyayangi nyonya Renata, dan sudah pasti juga tuan muda gak bakalan nyakitin non Naya."


"Yahh, semoga." jawab Naya.


Ting tong


Suara bel mengintrupsi perbincangan tiga orang tersebut, "Biar Naya yang buka."


Terlebih dahulu Naya mencuci tangannya yang blepotan tepung sebelum berjalan ke arah pintu.


Ketika pintu terbuka, senyum hangat Rafa menyambutnya, Rafa menyapa, "Hai Naya."


"Mas Rafa, kirain siapa." Naya balas tersenyum.


Mata Naya beralih pada gadis cantik dan manis yang dirangkul oleh Rafa, Naya langsung mengambil kesimpulan, "Pacarnya mas Rafa ya."


Rafa terkekeh, "Dia." Rafa mengedikkan dagunya pada gadis disampingnya, "Bukan Nay, dia adik perempuanku, Leta."


"Ohh, adiknya, Naya fikir pacarnya mas."


Gadis bernama Leta yang merupakan adiknya Rafa itu tersenyum dan memperkenalkan diri secara resmi, "Halo mbak Naya, aku Arleta Cantika Maharani, panggil saja Leta."


Leta menyodorkan tangannya untuk dijabat, Naya menyambut uluran tangan Leta, "Nama yang cantik, persis seperti orangnya." puji Naya tulus.


"Makasih mbak."


"Iya dia cantik, tapi karna polesan make up." Rafa meledek adiknya.


"Biarin aja, mas fikir tuh make up fungsinya untuk apa, menghias tumpeng gitu." Leta menjawab, "Lagian mas, kebanyakan cewek sekarang itu gak ada yang natural, kebanyakan cantiknya karna make up."


"Iya iya, baper banget sieh, maskan cuma bercanda."


Leta mendengus.


"Nayy, tuh bedak kamu gak rata, kamu ngaca gak sieh ketika dandan." ujar Rafa melihat wajah Naya yang blepotan tepung.


Naya mengusap wajahnya, "Ehh ini, bukan bedak mas, tapi tepung, Naya tadi bantuin bi Dijah dan mbak Wati bikin kue didapur, jadi blepotan gini."


"Sudah jadi istri bos besar begini mbak Naya masih ikut bantu didapur." heran Leta yang sejak orok sampai zaman serba internet gak pernah pegang pisau dapur apalagi bantu masak, "Kalau Leta nieh mbak ya, mana mau, punya suami bos besar seperti mas Lio Leta pasti ongkang-ongkang kaki."

__ADS_1


"Jangan ajar Naya ajaran sesat seperti itu, Naya ini gadis lugu dan polos, dia adalah tipe istri idaman yang serba bisa, gak seperti kamu yang hanya bisa make up saja."


"Biarin aja, kan biar cantik."


"Suami kamu gak bakalan kenyang hanya lihat kamu cantik karna dandan, mulai sekarang belajar donk masak."


"Ihhh, mas kok malah nyebelin sieh, niat mas bawa Leta kemari apa, bukan untuk ceramahkan."


Dua saudara itu jadi berdebat, lupa mereka kalau Naya ada diantara mereka.


"Jadi lupa maksud yang sebenarnya datang kemari." gumam Rafa agak malu dengan Naya, "Maaf ya Nay, kamu harus lihat perdebatan kami."


"Gak apa-apa kok mas, adik dan kakakkan memang selalu begitu, berdebat, tapi sebenarnya saling sayang."


"Mas Rafa ini mbak, selalu saja ngusilin Leta kalau ketemu." lapor Leta.


"Itu tanda sayang, adikku." ujar Rafa mencubit pipi adiknya dengan gemes.


"Sakit mas." Leta menepis tangan kakaknya.


Naya tersenyum melihat intraksi dua bersaudara tersebut.


"Duhh, jadi lupa lagi, ayokk masuk mas, mbak." Naya mempersilahkan dan menuntun mereka keruang tamu.


Rafa dan Leta mengikuti dibelakang.


"Tunggu sebentar ya mas Rafa, Naya panggilin mas Lio dulu."


Rafa menahan Naya, "Eh Nay, gak perlu, aku ingin ketemu kamu kok, bukan ketemu Lio."


"Iya."


"Ada perlu apa ya." Naya duduk.


"Bukan sesuatu hal yang penting kok Nay, aku hanya ingin memperkenalkan Leta, seperti yang kamu denger tadi, Leta ini pinter banget merias diri, harapanku sieh kamu bisa belajar make up dari dia." jelas Rafa membeberkan maksudnya.


"Tapi, apa mbak Letanya gak keberatan."


"Gak donk mbak, apalagi mbak Naya istrinya mas Lio, mas Lio itu baik sama Leta, Leta udah nganggap mas Lio seperti kakak sendiri."


"Jadi gimana Nay, kamu mau gitu diajarin make up sama Leta."


"Naya sieh mau aja mas, percumakan serangkaian produk-produk make up yang telah dibeliin oleh mas Rafa kalau hanya untuk dijadikan pajangan dimeja rias."


Leta adalah tipe gadis ramah yang gampang bergaul, buktinya dia sudah akrab saja dengan Naya, mereka sudah layaknya teman lama saja, mereka membicarakan banyak hal, Rafa sampai dikacangin oleh mereka saking asyiknya ngobrol.


"Aku yang memperkenalkan kalian, malah aku yang di kacangin." sahut Rafa pura-pura kecewa.


"Mas mending diam saja, mas mana ngerti apa yang dibicarakan cewek." Leta menimpali, dia dan Naya mentertawakan Rafa.


"Nay, mana sieh suami kamu, kalau dia disinikan aku gak kayak seperti kambing congek."


"Mas Lio ada dikamar mas."

__ADS_1


"Apa sieh yang dia kerjakan, betah banget dikamar, istrinya yang dikerjainkan ada disini."


Wajah Naya memerah mendengar clotehan Rafa


"Mas Rafa, kalau ngomong itu disortir donk, lihat tuh, mbak Naya mukanya merah."


"Ngapain pada malu sieh, orang kalian sudah pada dewasa ini."


Panjang umur, baru saja disebut-sebut, Lio nongol, dengan wajah heran melihat Rafa tiba-tiba dirumahnya.


"Ngapain lo." tegurnya.


Bukannya menjawab pertanyaan Lio, Rafa malah balik nanya, "Habis ngapain aja lo dikamar."


"Kepo lo."


"Mas Lio." Leta menghampiri Lio dan memeluknya.


Lio balas memeluk Leta, "Leta, ini kamu Let."


"Iya mas, ini Leta."


Ada banyak hal yang diketahui oleh Naya selama berada di Jakarta, salah satunya adalah bahwa, dikota besar seperti Jakarta, pelukan seperti yang dilakukan oleh Lio dan Leta adalah hal yang wajar, bahkan ditempat umumpun pelukan gak ada yang protes, berbeda dengan dikampung, jangankan pelukan dengan orang yang bukan muhrim, pelukan sama suami saja diluar rumah bakalan jadi trending topic diseantero kampung.


"Sudah lama gak lihat, kamu makin tinggi dan makin cantik aja."


"Mas juga makin ganteng, mbak Naya beruntung punya suami ganteng dan kaya seperti mas Lio."


"Leta, bisa gak kamu jangan seperti dulu lagi, Lio udah punya istri, dia gak bisa dipeluk-peluk kayak boneka seperti dulu lagi."


"Hehehe, maaf ya mbak Naya, mbak Naya jangan cemburu lho, Leta udah nganggap mas Lio kayak seperti kakak Leta sendiri."


Naya tersenyum tipis, "Santai saja Leta."


"Untung banget, Naya pengertian, coba kalau wanita lain, udah ngamuk dan pasti nyerang kamu."


"Mbak Nayakan orangnya baik mas, iyakan mbak."


"Iya, eh maksud aku, aku orangnya gak baik-baik amet kok." jawab Naya merendah.


"Nay, kenapa kamu gak nyuguhin minuman buat Rafa dan Leta." komen Lio karna tidak melihat adanya tanda-tanda gelas dimeja.


"Eh iya maaf, saking asyiknya ngobrol sampai lupa bikinin minum."


Naya kemudian pamit ke dapur.


"Dalam rangka apa lo datang ke rumah gue." Lio kembali bertanya setelah duduk disofa kosong yang tersisa.


"Gak dalam rangka apa-apa, hanya ingin lihat apa lo masih hidup atau gak ."


"Sialan."


Rafa tertawa karna berhasil membuat Lio jengkel.

__ADS_1


*****


__ADS_2