
Naya dan Lio kembali ke kamar saat Rafa dan Leta pulang, Lio kembali menggendong Naya meskipun Naya berusaha menolak, namun Lio tetap kukuh menggendong paksa Naya dan seperti sebelumnya Naya hanya pasrah karna dipaksa begitu. Dan kini mereka telah tiba dikamar, Lio mendudukkan Naya diranjang, sedangkan Lio berjalan menuju kamar mandi.
Naya bangun dan melangkah menuju lemari, dia mengambil selimut dan setelah itu dia kembali lagi ke ranjang untuk mengambil bantal, Naya fikir karna pernikahan ini pura-pura, maka tidak baik tidur satu ranjang, dan Naya memilih untuk tidur terpisah dengan Lio.
Naya berjalan menuju sofa panjang yang terdapat dikamar mereka, dia rencananya akan tidur disana saja.
"Naya, apa yang kamu lakukan." Lio bertanya saat melihat Naya membaringkan tubuhnya disofa saat keluar dari kamar mandi.
Naya kembali terduduk saat mendengar suara Lio dan membalas, "Mulai sekarang Naya tidur di sofa saja mas."
Lio berjalan mendekati Naya dan duduk disampingnya, "Kenapa tidur disofa, tempat tidur kita sangat besar, bahkan lima orangpun muat tidur disana."
"Hmmm, Naya disini saja mas."
"Tapi kenapa."
"Gak enak mas tidur satu ranjang, sementara setelah satu tahun kita memutuskan untuk berpisah." jelas Naya supaya Lio bisa mengerti.
Lio termangu dan membenarkan ucapan Naya dalam hati, "Naya benar, buat apa tidur satu ranjang, toh pada akhirnya gue telah merencanakan untuk menceraikannya setelah satu tahun, dan bisa jadi gue khilaf dan menyentuh Naya."
"Kamu tidur saja di ranjang, biar aku yang tidur disini."
"Tidak mas, aku tidur disini saja, mas saja yang tidur diranjang."
"Tidak Nay, kamu yang tidur diranjang, aku yang disini, lagipula kamukan lagi sakit, jadi butuh ruang yang cukup luas jika kamu ingin bolak balik."
"Tapi...."
Kembali tanpa peringatan Lio meletakkan satu tangannya dipunggung Naya dan satunya lagi di surukkan dibawah tumit Naya dan dengan entengnya dia kembali menggendong Naya ke tempat tidur.
"Mas, apa-apaan sieh, turunka Naya." protesnya karna Lio selalu melakukan apapun sesukanya sendiri.
"Kamu yang harus tidur diranjang Nay, dan kamu jangan membantah." sergah Lio saat dilihatnya Naya membuka bibirnya untuk protes.
Apa yang Naya bisa lakukan selain pasrah dengan Lio yang pemaksa
"Nahh, tidur disini saja, disini lebih luas dan pastinya lebih nyaman daripada disofa." ujar Lio membaringkan Naya dan menarik selimut sampai sebatas leher.
"Selamat malam Naya."
"Hmmm."
Dan Lio kembali berjalan ke sofa, tempat tidurnya selama satu tahun kedepan.
*****
Naya tidur nyenyak dan saat bangun pagi itu tubuhnya terasa segar, Naya menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, Naya merasa sudah sehat sepenuhnya.
"Alhamdulillah, aku sudah sehat." syukurnya pada yang maha kuasa.
Naya berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk menjalankan kewajibannya sebagai orang muslim.
__ADS_1
Dan setelah mengenakan mukena dan menggelar sajadah, sebelum menunaikan kewajibannya, Naya terlebih dahulu berniat untuk membangunkan Lio.
"Mas, bangun mas, sudah shubuh."
Mendengar suara itu otomatis membuat Lio menggeliat dan memicingkan matanya.
"Bangun mas, sholat shubuh dulu."
"Hmmm." Lio menarik tubuhnya ke atas untuk duduk, matanya yang sudah terbuka sempurna bisa melihat kalau Naya mengenakan mukena dan sepertinya sudah siap untuk sholat.
"Tunggu aku ya Nay, kita sholat berjamaah." ujarnya berjalan meninggalkan Naya menuju kamar mandi.
Naya menatap punggung suaminya yang berjalan ke arah kamar mandi, "Apa yang terjadi dengannya, tumben banget ngajak sholat berjamaah." heran Naya, tapi toh dia menunggu Lio juga untuk mengimaminya sholat shubuh.
Sholat berjamaah itu berjalan dengan khusuk, dan begitu selesai Lio menoleh ke belakang dan reflek Naya meraih tangan Lio dan menciumnya.
"Makasih mas karna udah mau jadi imam Naya." Naya tidak memiliki maksud apa-apa saat mengucapkan kalimat tersebut, dia hanya murni berterimakasih karna Lio mengimaminya sholat yang membuat pahala sholat mereka menjadi berlipat karna berjamaah, itu saja tidak lebih.
Dada Lio berdesir sekaligus tertohok mendengar kalimat Naya, "Imam." gumamnya tanpa suara, "Iya seharusnya aku jadi imam Naya seutuhnya, tidak hanya jadi imam sholat, tapi juga imam dalam kehidupan rumah tangga kami."
Tidak memperhatikan wajah Lio yang berubah karna kata-katanya barusan, Naya dengan santai melipat mukenanya dan berniat melakukan aktifitasnya seperti sebelum dia sakit.
"Mau kemana." Lio bertanya saat melihat Naya akan keluar.
"Mau ke dapur mas bikin sarapan."
"Kamu istirahat saja Naya, kamukan lagi sa...."
"Naya sudah sehat mas." potong Naya.
"Iya iya aku percaya."
"Ya sudah kalau begitu, Naya ke dapur dulu, mas mau Naya buatin kopi nggak." Naya menawarkan.
"Nanti saja."
"Baiklah kalau begitu." Naya kemudian melanjutkan niatnya untuk menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga suaminya seperti yang biasa dia lakukan.
***
Saat ini Naya sudah sibuk berkutat di dapur, rencananya dia mau bikin nasi goreng saja, karna menu nasi goreng meskipun simpel tapi sangat disukai oleh anggato keluarga Rasyad.
Saat dia tengah asyik memotong sayuran sambil bersandung, dia dikagetkan oleh sapaan Lio yang tiba-tiba sudah berada didapur.
"Ada yang bisa aku bantu Nay."
"Astagaa mas Lio, bikin kaget Naya saja." desisnya memegang dadanya yang berdebar kencang.
Lio terkekeh, "Begitu saja kaget."
"Ya kagetlah mas, mas itu tiba-tiba muncul."
__ADS_1
Mengabaikan ocehan Naya, Lio kembali mengulangi pertanyaannya, "Jadi, ada yang bisa aku bantu gak nieh."
"Gak perlu mas, mas lebih baik duduk saja."
"Tapi aku mau bantu lho, daripada aku nganggur, lebih baikkan aku bantu kamu"
"Ya sudah kalau mas memaksa." Naya menunjuk ke arah bawang, "Mas bantuin Naya kupas bawang saja yah, bisakan."
"Bisa donk, cuma kupas bawang doank mah kecil." ujarnya mengentengkan.
Dan mulailah pasutri itu bekerja, Naya yang sudah terbiasa melakukan kegiatan masak memasak tentu saja bergerak dengan lincah, sedangkan Lio yang kebagian mengupas bawang merah merasakan matanya mulai perih, yah karna gengsi untuk menyerah, dia dengan terpaksa terus mengupas bawang sampai pada akhirnya air matanya menetes dan sampai pada tahap itu dia sudah tidak kuat lagi.
"Duh duh, mataku." desisnya.
"Kenapa mas." Lio memutar tubuhnya mendengar suara Lio.
"Mataku perih Nay." Lio mengibas-ngibaskan tangannya didepan mata berharap perih dimatanya mereda.
"Ohh ya Tuhannn." Naya mendekat, "Sini mas Naya tiupin."
"Mas, rendahkan badannya sedikit, Naya gak sampai nieh." perintah Naya karna Lio tinggi menjulang.
Lio melakukan apa yang diminta oleh Naya, membungkukkan badannya sedikit supaya sejajar dengan tinggi badan Naya supaya bisa meniup matanya yang perih.
Naya mulai meniup-niup untuk mengurangi rasa perih dimata Lio akibat mengupas bawang. Jarak mereka begitu sangat dekat, dan ketika dalam keadaan seperti itu, Naya yang hanya mengenakan rok sebatas lutut merasakan ada sesuatu yang merayap dibetisnya, Naya menoleh ke bawah, matanya menemukan seekor anak kecoak merayap menaiki kakinya menuju paha.
"Aaaaa." kaget dan juga takut membuat Naya reflek menubruk tubuh Lio, wajah mereka yang begitu berdekatan secara otomatis membuat bibir Naya juga menubruk jidat Lio dengan cukup keras.
Lio mengerang karna merasakan sakit di jidatnya karna tubrukan Naya.
"Ihhh kecoak kecoak." sambil memeluk Lio Naya menghentak-hentakkan kakinya karna geli dan juga jijik.
"Aduhhh, ada apa sieh Nay."
"Itu mas kecoak, ihh geli." Naya menunjukk kecoak yang berlari menjauh saat Naya menghentak-hentakkan kakinya barusan.
"Itu cuma kecoak doank Nay, ngapain meski takut sieh."
"Bukannya takut mas, tapi Naya geli, usir mas kecoaknya suruh jauh-jauh."
Lio terkikik mendengar clotehan Naya, "Sudah pergi Nay."
"Itu masih, lihat itu, dia disana" Naya menunjuk kecoak yang berhenti disudut dapur, "Usir mas Lio."
"Gimana mau ngusir kalau kamu meluk gini."
Karna takut Naya tidak sadar memeluk Lio, dia langsung melepaskan pelukannya, agak salting juga sieh, sebelum dia ingat kecoak yang masih ada diarea dapur.
"Ayok mas, ambil sapu dan usir kecoaknya jauh-jauh, malah senyum-senyum gitu memang ada yang lucu apa."
"Iya iya, ini akan aku usir." Lio berjalan meraih sapu sambil berusaha menahan tawa melihat Naya yang ketakutan.
__ADS_1
"Naya Naya." Lio menggeleng, "Mandiin sapi dan kambing saja dia berani, sama kecoak yang kecil begitu takut." ledek Lio dengan suara kecil.
***