Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
APA LIO TIDAK BERNIAT MENYUSULMU


__ADS_3

"Mama dan papa kenapa bertengkar kak." anak perempuan pasutri tersebut terlihat takut melihat kedua orang tuanya saling berteriak satu sama lain, pelupuk matanya sudah digenangi oleh air mata.


Anak remaja laki-laki yang lebih mengerti apa yang menyebabkan pertengkaran kedua orang tuanya memeluk adiknya yang ketakutan dan berusaha menenangkannya, "Sssttt, kamu jangan menangis ya dek, lebih kita berangkat sekolah sekarang ya."


Karna takut melihat pertengkaran orang tuanya, gadis itu mengangguk, dia nurut saat dituntun oleh kakaknya keluar, mereka pergi begitu saja tanpa pamit kepada ortu mereka, ya iyalah ngapain pakai pamit segala saat dua orang dewasa itu bertengkar, bisa-bisa mereka kena marah lagi.


Sementara itu, tanpa memperhatikan sekelilingnya, pertengkaran masih berlanjut antara pasutri tersebut.


"Apa kurangnya mama pa sampai papa tega nyelingkuhin mama, apa mama kurang cantik, kurang seksi, apa mama sudah tidak menarik lagi dimata papa."


Dani hanya bungkam mendengar sang istri meluapkan amarahnya.


"Jawab papa, papa jangan diam saja kayak patung, apa papa sudah bosan dengan mama sampai papa nyari wanita diluaran sana."


Dani bukannya meminta maaf atau berusaha menenangkan istrinya yang ngamuk-ngamuk, dia malah pergi meninggalkan istrinya, "Aku pergi ke kantor dulu ma, masalah ini nanti kita bahas lagi." langsung melangkah pergi.


Namun Febi yang yang emosi menarik jas suaminya, "Jangan main pergi begitu saja pa, papa tidak bisa meninggalkan mama begitu saja."


"Lepaskan ma, papa harus ke kantor, papa bisa terlambat nanti." Dani ngotot.


"Oke papa boleh ke kantor, tapi papa harus meninggalkan wanita murahan itu, putuskan hubungan papa dengannya."


Dani tidak begitu saja mengiyakan keinginan istrinya, karna itu adalah pilihan yang berat buat Dani mengingat dia masih sangat mencintai kekasih gelapnya itu, makanya dia hanya diam saja.


"Kenapa diam pa, jawab pa, bilang papa akan meninggalkan gadis yang telah menjadi perusak rumah tangga kita itu."


Karna tidak mau meladeni keinginan istrinya, Dani dengan paksa melepaskan cengkraman tangan istrinya dilengan jasnya dan pergi begitu saja meninggalkan istrinya yang menjerit histeris.


"Papaa."


"Tega kamu pa, tega kamu menyakiti aku, aku benar-benar jahat."


Dani tetap melangkah tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.


"Kamu tega papa, kamu tega sama aku dan anak-anak." Febi menjerit histeris.


Sedangkan pembantu dirumah itu yang biasa dipanggil bibi hanya mendengar pertengkaran majikannya dari dapur, dan begitu mengetahui kalau tuannya telah pergi, sik bibi langsung menghampiri nona majikannya yang menggelosor dilantai sambil menangis hebat.

__ADS_1


"Nyonya, ayok bangun nyonya, kita ke kamar ya." sik bibi membujuk Febi.


Febi nurut saat dirinya dibantu berdiri oleh sik bibi, dan dengan dipapah Febi dituntun menuju kamarnya.


"Kenapa mas Dani tega melakukan ini sama kami bik, dia selingkuh dengan wanita murahan dibelakangku bi." mengadu sambil terisak.


"Yang sabar ya nyonya, ini cobaan." sambil mengelus punggung nyonya majikannya.


****


Dua hari kemudian.


Saat ini Naya tengah berdiri dipematang sawah, menyaksikan kedua orang tuanya tengah memanen padi dibantu oleh beberapa tetangga dekat rumah mereka, Boy juga ikut membantu, meskipun dia dibilang lebih banyak menggrecoki sieh ketimbang membantunya, tapi Boy terlihat bersemangat dan dengan mudah berbaur dengan penduduk desa.


Iya, Boy memang masih berada dirumah Naya, dia menolak untuk pulang, katanya karna dia yang mengantar Naya, maka dia juga yang akan membawa Naya kembali ke Jakarta, dan kedua orang tua Naya dengan senang hati menerima Boy dirumah mereka. Sebenarnya alasan sesungguhnya Boy tidak mau balik ke Jakarta adalah karna dia betah berada didesa Naya, desa yang asri dan hijau membuatnya tidak ingin balik ke Jakarta, bahkan kuliahnya jadi terbengkalai, tapi dia tidak peduli, dan selama didesa, Boy banyak membantu disawah, meskipun seperti yang dikatakan diatas, Boy lebih banyak menggrecokinya ketimbang membantu.


Dengan kamera HPnya laki-laki itu berulangkali memotret kegiatan yang berlangsung disawah, dan kadang juga dia meminta penduduk desa memotret dirinya dengan berbagai macam gaya, ada yang tengah memanggul cangkul, memegang sabit dan juga saat tengah memasukkan padi ke penggilingan padi, dia hanya tertawa puas melihat dirinya saat melakukan hal-hal tersebut, dia tidak pernah berfikir bisa melakukan hal itu.


Sedangkan Naya, karna dalam kondisi hamil dia tidak izinkan untuk membantu, meskipun Naya bilang dia tidak apa-apa, tapi ayah dan ibunya bersikukuh meminta Naya hanya sebagai penonton saja.


Sejak memutuskan untuk pergi dari rumah dan pergi ke kampungnya untuk menenangkan hatinya yang tengah gundah gulana, Naya tidak pernah mengaktifkan ponselnya, dia hanya tidak mau saat ponselnya aktif dia tergerak untuk menghubungi Lio, Naya juga yakin suaminya itu pasti menghubungi.


Naya tersenyum kecut, "Hari ini adalah hari pernikahan mas Lio dan Cleo, semoga pernikahan mereka lancar." gumamnya dengan hati sakit.


Dan selama dikampung, Naya tidak memberitahu kedua orang tuanya tentang masalahnya, cukup hanya dia yang tahu karna dia tidak mau membuat orang tuanya terbebani dengan masalahnya, dan orang tuanyapun tidak curiga mengingat Naya berusaha untuk terlihat baik-baik saja didepan orang tuanya, fikir mereka, putri mereka mengunjungi mereka murni karna Naya kangen sama mereka.


"Ketika aku pulang nanti, apa aku sanggup kalau harus berbagi suami sama Cleo, apa sanggup membiarkan mas Lio tidur dikamar Cleo." pertanyaan tersebut bermunculan dibenaknya, "Rasanya aku tidak akan sanggup." sembari menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir.


"Duhhh, panasnya, tapi seru." Boy tiba-tiba sudah duduk disampingnya sembari mengibas-ngibaskan topinya diwajahnya.


Kulit wajah Boy yang putih memerah karna sengatan sinar matahari, tapi Boy terlihat begitu bahagia, itu terlihat jelas dari senyum yang selalu tercetak dibibirnya.


Naya dengan cepat menghapus sisa-sisa air mata dipipinya, dia tidak ingin Boy melihatnya menangis, dan Boy sepertinya tidak tahu, karna pandangannya sejak tadi fokus ke depan tanpa menoleh sedikitpun pada Naya.


"Ini mas Boy, minum dulu." Naya menyodorkan gelas berisi air yang baru dituang diteko.


"Terimakasih Nay." meraih gelas dari tangan Naya dan meminum habis air putih tersebut.

__ADS_1


"Mas Boy capek ya, maafkan ayah ya mas karna meminta mas Boy untuk membantu, padahal sudah banyak yang membantunya masih saja ayah menyuruh mas Boy."


Boy membela ayah Badrun, "Paman tidak menyuruhku kok Nay, aku yang mau membantu, tapi aku lebih banyak menggrecokinya ketimbang membantu." Boy terkekeh, "Maklum baru belajar, tapi aku senang kok melakukan hal-hal baru."


"Lain kali, kalau kamu pulang lagi, ajak aku lagi ya Nay."


"Ehhh." Naya memutar lehernya ke arah Boy yang duduk disampingnya, "Kenapa Naya harus ngajakin mas Boy."


"Aku senang saja dikampungmu, rasanya damai gitu, penduduknya juga baik dan ramah-ramah, apalagi orang tuamu yang mau menerimaku dan menampungku dirumah mereka, itu semua bikin aku jadi betah."


"Yahh begitu dikampung mas, berbeda dengan orang kota, disini orangnya ramah-ramah."


"Nay."


"Hmmm."


"Apa Lio tidak berniat menyusulmu." tanyanya tiba-tiba.


Naya menunduk, hatinya rasanya perih mendengar nama suaminya, suaminya yang hari ini akan melangsungkan pernikahan dengan wanita lain.


"Mas Lio ingin menyusulku mas, tapi sayangnya gak bisa karna dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya." bohongnya, dia tidak mau memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Sibuk banget ya suami kamu itu."


"Iya."


"Kamu rencananya berapa hari disini Nay."


"Kurang tahu mas." jawab Naya seadanya, saat ini dia tengah menata hatinya.


"Makin lama kamu pulang aku makin senang Nay."


"Kenapa."


"Ya aku juga bisa berada disini lebih lama, dan siapa tahu juga aku ketemu dengan wanita desa cantik dan jatuh cinta." kekehnya.


"Dasar mas Boy ini."

__ADS_1


****


__ADS_2