Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
JANJI


__ADS_3

Lio berlari sepanjang koridor rumah sakit, dia tidak peduli kalau suara berisik akibat ulah sepatunya mengganggu pasien lainnya.


Dilihatnya Naya duduk sendirian sambil terisak dibangku panjang diluar ruangan dimana kakeknya kini tengah ditangani oleh Dokter


"A ap yang te rjadi." tanyanya ngos-ngosan.


Naya langsung menghambur kepelukan Lio, dia menangis tersedu-sedu, "Kakek mas, huhuhu, kakek."


Melihat Naya yang nangis kejer begitu membuat Lio mengambil kesimpulan, "Gak mungkin, gak mungkin." Lio menggeleng, dengan Naya masih dalam pelukannya, Lio yang merasa badannya terasa lemas mendudukkan bokongnya dikursi, dia masih bergumam, "Gak mungkin kakek sudah..." dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya, dia gak mau hal ini terjadi, menurutnya ini terlalu cepat, dia belum membahagiakan kakeknya, bahkan keinginan kakeknya untuk memiliki cicit belum bisa dia penuhi, hanya karna keegoisannya yang gak mau menyentuh Naya. Wajahnya terlihat frustasi, Naya masih terisak dan memeluknya.


Gak lama mama Renata datang, dia dari cafetaria hanya untuk minum kopi untuk membuat fikirannya jernih, dia jadi bingung melihat anak dan menantunya berpelukan sambil menangis begitu, rasa khawatir langsung menguasainya, "Ada apa, apa yang terjadi dengan kakek kamu Lio."


Lio diam, lidahnya terasa kelu, dia tidak sanggup menjawab pertanyaan mamanya.


"Lio, jangan diam saja, kasih tahu mama, apa yang terjadi dengan kakek kamu." tuntut Renata.


Lio menggeleng, dan cukup hanya dengan gelengan itu Renata bisa mengambil kesimpulan, "Tidak mungkin, papaaaa." Renata histeris.


Lio melepas pelukan Naya, mamanya lebih membutuhkan untuk ditenangkan, "Ma, kita harus ikhlas, biar kakek bisa pergi dengan tenang." Lio berusaha menenangkan mamanya.


"Papa, maafin Rena pa, Rena belum bisa jadi anak berbakti."


Pintu tempat dimana kakek Handoko ditangani oleh Dokter terbuka, Dokter Robi dan dua dokter lainnya beserta dua perawat keluar, agak bingung melihat keluarga kakek Handoko menangis.


"Dokter, apa papa saya membuat pesan terakhir." Renata bertanya masih belum bisa menghentikan tangisnya.


"Pesan terakhir maksudnya." Dokter Robi bertanya dengan bingung.


"Papa saya Dokter, apa papa saya tidak mengatakan apa-apa sebelum menghembuskan nafas terakhir."


Dokter Robi mengerutkan kening, dia berfikir, "Siapa yang menyebarkan berita hoak begini, siapa coba yang mengatakan tuan Handoko meninggal, saya dan team dokter lainnya padahal baru keluar menangani pasien." namun dia melisankan, "Anda salah paham nyonya Renata, tuan Handoko tidak meninggal, dia hanya mengalami gelaja ringan seperti biasanya, jadi dia agak membaik sekarang." Dokter Robi menjelaskan.


"Dokter serius, kakek saya tidak meninggal." Lio bertanya tidak percaya.


"Buat apa saya main-main dalam hal seperti ini."


Mama Renata menghapus air matanya, "Dokter beneran kalau papa saya baik-baik saja."


"Iya, tuan Handoko cukup baik sekarang, saya bisa mamastikannya." ujar Dokter Robi mantap.


Lio langsung memutar lehernya ke arah Naya, "Kalau kakek gak apa-apa, kenapa kamu nangis seolah-olah kakek sudah meninggal"


Naya masih sesenggukan meskipun telah mendengar kalau kakek Handoko kondisinya sudah membaik, dia berusaha menjelaskan, "Itu karna Naya panik mas melihat keadaan kakek, Naya gak tega lihat kakek kesakitan." ya maklumin sajalah, perempuan memang begitu, peka perasaanya, dikit dikit nangis.


Lio jadi dongkol, gara-gara Naya yang berlebihan menanggapi hal ini, dia dan mamanya jadi mengambil kesimpulan kalau kakeknya sudah meninggal.


"Apa boleh kami masuk Dokter." Renata bertanya, "Saya ingin melihat papa saya."

__ADS_1


"Boleh, tapi jangan bikin keributan didalam, biarkan pasien beristirahat."


Renata dan Lio mengangguk mengerti.


"Kalau begitu saya tinggalkan." Dokter Robi pamit.


Mereka bertiga memasuki ruangan, mereka bisa melihat dengan jelas kakek Handoko berbaring dengan mata terpejam.


Renata menghembuskan nafas lega melihat kondisi papanya.


"Lain kali kalau sesuatu hal terjadi jangan bersikap berlebihan, itu bisa membuat orang berfikirin macam-macam." Lio menegur Naya.


"Maaf mas."


"Sshhhh." mama Renata mendesis, "Jangan ribut, kalian bisa membuat kakek kalian terbangun."


****


Karna kondisinya sudah membaik, besoknya kakek Handoko sudah diizinkan untuk pulang, Lio sengaja pulang lebih cepat dari kantor untuk menjemput kakeknya, sedangkan mamanya katanya gak bisa ikut menjemput karna ada urusan penting yang tidak bisa dia tinggalkan.


"Lama sekali sieh kamu jemputnya, kakek hampir mati bosan menunggu kamu." omel kakek Handoko begitu Lio tiba, ya maklumlah orang tua, gak betah berlama-lama dirumah sakit.


"Macet kek."


Memang sejak dulu kemacetan dijakarta menjadi makanan sehari-hari bagi pengguna kendraan darat dijakarta.


Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, terlihat Naya keluar dari sana, "Mas Lio udah datang, Naya fikir mas gak jadi jemput."


"Mas sudah makan." Naya bertanya.


"Nanti dirumah."


"Ya udah, ayok kita pulang." ajak Lio.


Lio membantu kakeknya untuk duduk dikursi roda, meskipun kondisi kakek Handoko sudah membaik, tetap dia duduk dikursi roda supaya dia tidak kelelahan dalam perjalanan menuju parkiran karna jaraknya yang lumayan jauh.


Dalam perjalanan, Naya bertanya, "Mas, kalau mau buka jendela gimana caranya."


"Dasar kampungan, gitu aja gak bisa." ledeknya dalam hati sebelum memberitahu, "Lo pencet saja tombol yang ada disamping."


Naya melihat tombol yang ada didekat jendela, sebelum membukanya, dia bertanya terlebih dahulu, "Bolehkan Naya membukannya kek."


"Boleh sayang, kenapa pakai bertanya segala, inikan juga adalah mobil kamu."


Naya tersenyum senang, "Makasih kek."


Naya memencet tombol yang dimaksud oleh Lio, perlahan kaca berwarna bening tersebut turun, angin berhembus menerpa wajah Naya begitu kaca itu terbuka, meskipun pernah melihat gedung-gedung bertingkat sebelumnya ketika Rafa menemaninya membeli baju ke mall, tapi Naya tetap menatap takjub gedung-gedung pencangkar langit sepanjang jalan yang dilewati.

__ADS_1


"Kalau kamu libur kerja, ajak Naya pergi liburan Lio, kasihan Naya selama jadi istri kamu hanya dirumah saja, dia pasti bosan." saran kakek Handoko yang memperhatikan Naya yang takjub melihat bangunan-bangunan sepanjang jalan yang mereka lewati.


"Malas banget gue, malu gue kalau harus pergi ngajak dia jalan-jalan, penampilannya kampungan begitu, mendingan gue ngajak badut saja." Lio menjawab dalam hati, tapi jawaban dilisan, "Besok-besok kalau Lio gak sibuk." Lio memberi janji kosong.


"Naya dirumah saja, jagain kakek, kakekkan lagi sakit."


"Kamu memang anak baik dan perhatian, tapi sayang, kamu juga butuh jalan-jalan dan liburan, kamu kakek nikahkan dengan Lio bukan untuk ngurusin kakek, pahamkan."


"Iya kek, tapi masak kakek sedang sakit kami pergi jalan-jalan meninggalkan kakek."


"Jangan khawatirin kakek, banyak orang dirumah yang bakalan ngurusin kakek." ujarnya, "Jadi Lio, kamu harus mengajak Naya jalan-jalan, tempat mana yang ingin kamu kunjungi sayang."


"Itu kek, Naya ingin ke monas, Dufan juga, kata orang di kampung, gak afdol ke Jakarta kalau tidak ketempat itu." ujar Naya antusias menyebutkan keinginannya.


"Nah, kamu denger Lio, istri kamu ingin ke monas dan dufan, jadi kamu harus meluangkan waktu untuk membawanya kesana."


"Iya kek." lisannya, "Merepotkan saja." batin Lio.


Begitu tiba dirumah, mereka disambut oleh seisi rumah yang begitu lega melihat kalau tuan besar mereka baik-baik saja, sudah sehat seperti sediakala.


"Alhamdulillah tuan baik-baik saja, kami disini khawatir dengan kondisi tuan." ungkap bi Dijah, "Kami gak putus-putusnya berdoa untuk kesembuhan tuan."


"Iya terimakasih semunya, ini berkat doa kalian, kakek sekarang baik." timpal Naya.


"Kakek harus istirahat dulu kalu gitu." Lio mendorong kursi roda menuju kamar kakeknya yang diikuti oleh Naya dibelakang.


"Kakek istirahat ya biar cepat sembuh." pesan Naya.


"Lio, Naya, kakek mau bicara dengan kalian berdua." teguran itu membuat Lio dan Naya yang sudah beranjak pergi menghentikan langkah mereka, mereka berbalik menuju tempat tidur kakek Handoko dan duduk dipinggir tempat tidur.


"Kenapa kek, kakek perlu sesuatu."


"Apa boleh kakek meminta sesuatu dari kalian."


Lio mengangguk, "Selama ini, kakek selalu memberikan apapun untuk Lio, jadi selagi Lio mampu, Lio akan memenuhi keinginan kakek." ujarnya mantap.


"Kakek sudah tua, dan penyakit kakek juga sering kambuh, kakek tidak tahu kakek bisa bertahan sampai kapan."


"Kakek jangan bilang begitu." lirih Naya sedih, matanya berkaca-kaca.


"Kakek cuma ingin melihat kalian punya anak sebelum kakek dipanggil oleh yang maha kuasa, supaya kakek bisa pergi dengan tenang."


"Kakek pasti bisa melihat kami punya anak, kakek ingin beberapa cicit, kami akan memberikannya." hibur Naya tanpa memperhatikan ekspresi Lio.


Ini sesuatu hal yang berat untuk Lio, dia selalu berfikir kalau menikahi Naya sudah lebih dari cukup membuat kakeknya bahagia, meskipun sebelumnya kakeknya sering menyebut-nyebut tentang cucu Lio tidak pernah menanggapinya.


"Ya kan mas, kita akan memberikan kakek cicit." ujar Naya meminta dukungan dari suaminya untuk menghilangkan kesedihan diwajah tua kakek Handoko.

__ADS_1


"Iya, kami akan memberikannya, kami janji." jawab Lio terpaksa, namun cukup menghilangkan kesedihan yang sempat tercetak diwajah kakek Handoko.


****


__ADS_2