Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
PERTEMUAN YANG TIDAK TERDUGA


__ADS_3

Saat ini Naya tengah berbaring dikamar, dan tiba-tiba terdengar sebuah suara nyaring.


Kruk.


Itu suara perut Naya, padahal baru dua jam yang lalu dia baru sarapan dan makannya banyak lagi, dan kini dia kembali lapar padahalkan belum waktunya makan siang, memang sejak kehamilannya, Naya jadi sering lapar, dan saat ini yang ingin dia makan adalah mi ayam gerobakan.


Naya sampai menelan air liurnya membayangkan kenyalnya mi ayam saat dikunyah dimulutnya dengan kuahnya yang gurih.


"Kok aku tiba-tiba ingin makan mi ayam ya."


"Apa suruh mas Lio beliin pas pulang kantor ya nanti." dia meraih ponselnya untuk menghubungi suaminya, namun dia mengurungkan niatnya, "Tapi aku maunya sekarang, kalau aku nunggu mas Lio pulang itu kelamaan, kalau aku nyuruh mas Lio beliin sekarang dan bawain sekarang, takutnya itu akan mengganggu pekerjaannya dia, duhhh gimana ini ya, mana pak Ridwan lagi nganterin kakek chek up lagi, sedangkan mbak Wati tengah belanja dipasar, bi Darmi lagi sakit, jadi gak ada yang bisa dimintain tolong, padahalkan aku ingin banget makan mi ayam gerobakan saat ini."


Memang ya kalau orang ngidam, apa yang dia inginkan itu menari-nari dibayangannya dan harus didapatkan sekarang.


"Lebih baik aku pergi beli sendiri saja deh, gak lama jugakan, daripada nanti anakku ileran karna kemauannya tidak dituruti." dengan pemikiran itu Naya sampai memesan ojek online.


Tapi sebelum pergi, Naya mengirimkan pesan kepada Lio yang memberitahukan kalau saat ini dirinya lagi keluar mencari mi ayam.


20 menit kemudian, Naya kini sudah duduk dibelakang abang gojek.


"Mau kemana mbak." tanya abang gojek ramah.


"Saya mau cari pedagang mi ayam gerobakan bang, abang tahu tidak dimana tempat orang jual mi ayam gerobakan."


"Beli dikedai mi ayam saja mbak, saya tahu kedai mi ayam yang enak." abang ojol menyarankan.


"Saya maunya mi ayam yang gerobakan bang." maklumin sajalah ya kalau orang ngidam, kalau maunya yang itu ya harus itu, meskipun sama-sama mi ayam, tapi kalau maunya yang gerobakan ya harus yang gerobakan.


"Ini bukan keinginan saya bang, ini keinginan bayi saya." lanjut Naya memaparkan.


"Ohh, mbaknya ngidam toh."


Naya mengangguk.


"Saya akan membantu mbak nyari pedagang mi ayam gerobakan sampai ketemu, bahkan kalau sampai muterin Jakarta sekalipun."


"Makasih ya bang, tapi bang, jangan ngebut-ngebut ya."


"Iya mbak tenang saja."


"Ini mbak, pakai dulu helmnya." abang ojol menyerahkan helm berwarna hijau kepada Naya.


"Ayok bang jalan."


"Baik mbak."


Ojol itupun melajukan motornya untuk membantu pelanggannya mencari mi ayam gerobakan.


****


Setelah lebih dari setengah jam mencari, akhirnya mereka ketemu juga dengan pedagang mi ayam yang mangkal dipinggir jalan.


"Akhirnya ketemu juga." desah Naya begitu melihat makanan yang sangat ingin dia makan, dan Naya ingin makan langsung disana dan untuk itu dia mengajak abang ojol itu untuk makan sekalian bersamanya.


"Maafkan saya ya mbak, saya tidak bisa menunggu mbak, saya harus ngejemput pelanggan lagi." tolak sik abang ojol sopan.


"Ohh, gak apa-apa kok bang, abang pergi saja jemput pelanggannya."


"Sekali lagi maafkan saya ya mbak."


"Iya bang gak apa-apa."


Naya memberikan selembar uang berwana merah kepada ojol baik hati yang telah rela mengantarnya keliling untuk mencari mi ayam demi menuruti keinginan ngidamnya.


"Duhh mbak, ada uang kecilnya gak, saya gak ada kembaliannya."


"Ini buat abang."


"Ehhh, ini benaran mbak."


Naya mengangguk dan tersenyum tipis, "Iya bang, dan terimakasih ya bang karna telah mau saya repotkan untuk membantu saya mencari tukang mi ayam gerobakan."


"Iya mbak sama-sama, terimakasih ya mbak, kalau begitu saya pamit."


"Iya bang."


Setelah memesan seporsi mi ayam, Naya duduk dibangku panjang didekat pohon sambil menunggu pesanannya, sambil menunggu dia memeriksa ponselnya, fikirnya siapa tahu ada balasan dari suaminya, namun ternyata tidak ada.


"Sepertinya mas Lio sibuk banget sampai balas pesanku saja tidak sempat." gumamnya pengertian.


"Terimakasih ya bang." ujar Naya saat abang-abang mi ayam mengantarkan pesanannya.


"Sama-sama neng."


Naya memandang mi ayam yang terlihat sangat menggiurkan, dia sampai menelan air liurnya, "Akhirnya aku bisa makan mi ayam Juga." desahnya dan melahap mi ayam tersebut, Naya sibuk dengan makanannya sampai tidak memperhatikan sekelilingnya, bahkan ketika sebuah sepeda motor berhenti didekatnya.


Laki-laki itu memperhatikan Naya sesaat dari atas sepeda motornya, dan setelah benar-benar yakin kalau gadis itu adalah Naya, barulah dia menghampiri Naya, "Naya." tegurnya.

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil, Naya mendongak dan menemukan sosok laki-laki yang pernah mengisi hatinya dan mewarnai hidupnya selama kurang lebih tiga tahun, terkejut tentu saja, dia tidak menyangka laki-laki yang saat ini ada dihadapannya adalah Wahyu mantannya, pertemuan terakhir mereka adalah saat mereka bertemu direstoran tempat dimana Wahyu bekerja.


"Mas Wahyu."


Wahyu tersenyum, "Ternyata ini benaran kamu Nay, tadi aku fikir aku salah orang."


"Mas Wahyu ngapain disini."


"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, apa aku diizinkan untuk duduk."


"Duduk saja mas, lagian inikan bukan bangku punyaku."


Naya sering bilang sama Lio kalau dia tidak punya perasaan lagi sama Wahyu, dan itu memang benar adanya karna hati Naya tidak bergetar saat melihat Wahyu, berbeda saat terakhir kali mereka bertemu, saat itu masih ada sedikit getaran-getaran rasa dihati Naya, tapi saat ini sedikitpun getaran-getaran itu sudah hilang total.


Berbeda dengan Wahyu, meskipun dia sudah iklhas melepas Naya bersama dengan laki-laki yang dijodohkan oleh orang tuanya, tapi sampai saat ini Wahyu belum sepenuhnya bisa melupakan Naya, buktinya saat dia mengetahui kalau yang dia hampiri adalah Naya, dia begitu sangat senang, rasa rindunya terasa terobati melihat wajah Naya.


Setelah duduk disamping Naya, barulah Wahyu menjawab pertanyaan Naya, "Aku tadi lagi nyari makan Nay, gak sengaja lihat kamu, tadinya aku fikir hanya mirip doank, aku nyamperin untuk memastikan, dan ternyata beneran kamu, aku senang banget saat mengetahui ternyata ini beneran kamu Nay, aku fikir setelah pertemuan kita yang terakhir kita tidak akan bertemu lagi, ternyata Jakarta tidak seluas yang orang-orang katakan ya." kekeh Wahyu.


"Iya mas, Naya juga agak kaget saat melihat mas Wahyu tiba-tiba ada dihadapan Naya."


"Oh ya Nay, suami kamu mana." tanya Wahyu karna sejak tadi dia tidak melihat siapa-siapa disamping Naya.


"Mas Lio di kantor mas, masih bekerja."


"Terus, kamu sama siapa disini."


"Naya sendirian."


"Kamu sendirian."


"Iya mas."


"Astaga Naya, ini Jakarta, bukan dikampung kita, pergi sendirian begini apa kamu tidak takut tersesat." Wahyu berkata begitu karna meskipun Naya sudah berbulan-bulan menetap di Jakarta, Wahyu yakin Naya sangat jarang keluar rumah, karna dia tahu Naya adalah tipe gadis rumahan. Dan Wahyu juga yakin Naya pasti tidak tahu seluk beluk kota Jakarta dengan benar.


Dan memang benar apa yang difikirkan oleh Wahyu, selama inikan kalau bepergian Naya selalu diantar oleh pak Ridwan atau Lio, sedangkan dia hanya duduk manis tanpa memperhatikan jalan, dan seperti yang difikirkan Wahyu, Naya memang tidak tahu jalan pulang ke rumah suaminya.


"Siapa yang nganterin kamu kemari."


"Naya naik ojol mas."


"Terus pulangnya."


"Naik ojol lagi mas."


"Memang kamu tahu jalan ke rumah kamu, atau kamu tahu alamat tempat tinggalmu."


Yanh Naya tahu, dia tinggal dirumah besar tanpa mengetahui di kawasan mana tempat tinggalnya tersebut, dengan polosnya Naya menggeleng.


"Ahh iya astaga, kenapa aku bisa ceroboh begini keluar sendirian." Naya baru menyadari kebodohannya, "Kenapa aku tidak nungguin pak Ridwan pulang saja untuk nganterin, toh dia nganterin kakek chek upnya cuma sebentar doank, duhhh, gak sabaran banget seih aku."


Tapi kemudian dia ingat kalau memiliki ponsel, "Ahh iya sampai lupa, kan Naya punya ponsel mas, ntar Naya suruh saja pak Ridwan sopir keluarga untuk ngejemput." dan fikir Naya masalah selesai.


"Benar juga, kamu bisa nelpon orang rumah buat ngejemput." ujar Wahyu membenarkan, dia sedikit tenang mengetahu fakta itu.


"Mas Wahyu gak kerja." tanya Naya dan kini obrolan mereka kembali normal.


"Aku masuknya nanti jam tiga."


"Ohh."


Karna ingin ngobrol berlama-lama dengan Naya, Wahyu yang tadinya tidak berniat makan mi ayam akhirnya memesan mi ayam juga. Dua insan yang dulunya berstatus sebagai pasangan kekasih itu kini menghabiskan waktu berdua dengan membahas hal lucu saat mereka masih duduk dibangku sekolah dulu, karna mereka sudah memutuskan untuk berteman, tidak sedikitpun mereka menyinggung tentang asmara yang dulunya pernah mereka rajut, hal itu sudah mereka simpan rapi-rapi direlung hati mereka masing-masing.


"Perut kamu masih rata ya Nay." komen Wahyu melihat perut Naya.


"Iya mas, masih tiga bulan soalnya, mungkin masuk bulan ke lima baru mulai tampak."


"Mas Wahyunya kapan nyusul."


Wahyu terkekeh mendengar pertanyaan Naya, "Gimana mau nyusul Nay, pacar saja sampai sekarang aku belum punya." ujarnya, dalam hati menambahkan, "Meskipun aku sudah mengikhkaskan kamu, tapi aku belum bisa membuka hatiku untuk orang lain Nay, hatiku masih terpaut untukmu."


Naya menatap Wahyu, ada perasaan bersalah disana, "Apa mas Wahyu masih belum bisa melupakan aku ya, mustahil dia belum punya pacar sampai sekarang mengingat tampangnya yang lumayan, dulu saja sejak SMA banyak yang naksir sama dia."


"Jangan menatapku begitu." ujar Wahyu seolah bisa membaca fikiran Naya, "Sebenarnya ada beberapa teman kerjaku yang mencoba mendekatiku, tapi ya untuk saat ini aku fokus kerja dulu, nabung, dan kalau sudah cukup tabunganku, baru aku akan kembali ke desa membuka usaha kecil-kecilan didesa, dan setelah itu baru deh aku mikirin perempuan." jelas Wahyu panjang lebar menjelaskan rencana masa depannya.


"Semoga mas sukses ya nantinya." doa Naya tulus.


"Amin."


"Nay, kamu belum ingin pulangkan."


"Emang kenapa mas."


"Lihat tuh toko buku." Wahyu menunjuk toko buku yang ada diseberang jalan, dulu dia dan Naya paling betah nongkrong diperpustakaan, Wahyu sieh yang dibaca adalah buku tentang ilmu pengetahuan, sedangkan Naya yang tidak suka belajar lebih suka membaca novel, dan ketika ada bazar yang dilakukan tiap bulan dilapangan desa, dia dan Naya sudah pasti datang untuk membeli buku atau hanya sekedar melihat-lihat.


"Masuk kesana yuk."


Naya langsung mengangguk untuk mengiyakan ajakan Wahyu.

__ADS_1


Dan setelah menghabiskan mi ayam dimangkuk masing-masing, dua orang itu berjalan menuju toko tersebut. Wahyu sieh mengajak Naya dengan niatan untuk bisa berlama-lama dengan Naya, dia tidak punya niatan untuk membeli buku, sedangkan Naya begitu melihat toko buku yang ditunjuk oleh Wahyu langsung ingin membeli novel sebagai bahan bacaan supaya dia tidak kesepian saat suaminya pergi ke kantor.


Begitu tiba didalam toko buku tersebut, Naya langsung melangkahkan kakinya menuju rak yang khusus memajang novel, karna tidak berniat membeli buku, Wahyu memilih untuk mengikuti Naya.


"Kamu memang tidak berubah Nay, melupakan orang yang ada disekeliling kamu kalau sudah melakukan apa yang kamu suka." batin Wahyu saat melihat Naya melihat-lihat novel dirak.


Saat Naya meraih salah satu buku, pandangan Wahyu terarah pada jari manis Naya yang tersemat cincin yang diberikan oleh Lio, dan kemudian dia beralih memandang leher Naya, saat bertemu di restoran waktu itu, kalung perak dengan inisial nama mereka berdua yang merupakan kalung pemberiannya masih menggantung indah dileher Naya, dan kini kalung itu tidak terlihat dileher Naya, hal itu reflek membuat Wahyu bertanya, "Nay kalungmu...."


Mendengar pertanyaan Wahyu, Naya meletakkan novel yang saat ini tengah dipegangnya, tangannya menyentuh lehernya, "Ohh kalung pemberianmu itu mas." timpal Naya dengan perasaan tidak enak, "Itu...mmm, mas Lio..anu..."


Wahyu yang mengerti langsung menyela, "Gak apa-apa Nay, aku ngerti kok, memang tidak seharusnya kamu menyimpan pemberian dari mantan apalagi memakainya."


"Maafkan Naya mas."


"Kan aku sudah bilang tidak apa-apa Nay." Wahyu meyakinkan.


"Tapi Naya akan menyimpannya kok mas, dan mas Lio juga mengizinkan Naya untuk menyimpannya sebagai kenang-kenangan dari mas Wahyu."


Wahyu hanya tersenyum tipis menanggapi kalimata Naya, dia kemudian mengalihkan topik pembicaraan, "Nay, boleh aku bertanya."


"Tanya apa mas."


"Cincin ditangan kamu...."


"Ohhh cincin ini." Naya mengangkat tangannya yang tersemat cincin berlian yang merupakan hadiah dari sang suami, "Hadiah dari mas Lio."


"Bagus, pasti harganya mahal ya."


"Naya gak tahu mas." jawabnya jujur.


"Aku bersyukur, laki-laki itu bisa membahagiakan Naya, dan sepertinya dia juga sangat mencintai Naya, buktinya dia membelikan Naya perhiasan mahal, meskipun sakit, tapi aku harus merelakan, asal Naya bahagia, aku juga ikut bahagia." ujarnya membatin.


Dan setelah itu suasana kembali hening, Wahyu tidak bertanya lagi, sedangkan Naya kembali fokus melihat-lihat novel yang dipajang dirak khusus novel.


"Naya sudah nieh mas." Naya menunjukkan 3 buah novel yang ingin dia beli, "Mas mau beli buku apa."


"Ahh itu... gak ada Nay, gak ada yang menarik minatku." bohongnya.


"Sini Nay aku bawain." Wahyu mengambil alih buku yang ada ditangan Naya, dan mendahului Naya menuju kasir.


"Mas Wahyu sejak dulu tidak pernah berubah, selalu saja baik dan tidak pernah membiarkan Naya membawa beban berat meskipun itu hanya buku." gumam Naya sambil menatap punggung Wahyu yang berjalan menuju kasir, "Aku berharap mas Wahyu mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, karna dia pantas mendapatkannya."


Saat menyusul Wahyu menuju kasir untuk membayar buku, Naya menghentikan langkahnya saat melewati rak yang memajang kumpulan buku dongeng dengan sampul-sampul yang menarik, "Bulan pasti seneng kalau aku membelikannya buku dongeng seperti ini, anak-anak seperti Bulankan memang harus banyak membaca dongeng, karna banya pelajaran yang bisa diambil."


Naya mengambil lima buah buku dongeng dengan judul berbeda dan membawanya menuju kasir.


Saat melihat buku-buku dongeng itu, Wahyu bertanya, "Nay, kamu beli buku dongeng, untuk siapa."


"Bulan mas."


"Bulan siapa."


"Dia anak angkatku dan mas Lio."


"Kamu ngadopsi anak ternyata."


"Iya mas, kakek yang nyuruh, Bulan anaknya pintar dan aktif, sejak ada dia, rumah jadi rame."


"Nanti kalau kita ketemu lagi, aku kenalin ya mas."


"Iya." lisan Wahyu, "Dan aku berharap semoga itu bisa terjadi." sambung Wahyu dalam hati.


Setelah membayar buku-buku tersebut, mereka keluar dari toko buku, Naya memutuskan untuk pulang.


"Mas, sudah siang, sebaiknya aku pulang."


"Kamu sudah menghubungi orang rumah untuk menjemput kamu."


"Iya, ini Naya mau telpon pak Ridwan dulu untuk memintanya menjemput Naya."


Saat Naya mengeluarkan ponselnya, berbarengan dengan itu, ponselnya juga berdering, dan panggilan tersebut berasal dari Lio, "Mas Lio." ujar Naya begitu mengetahui kalau yang menghubunginya adalah suaminya.


Dia menggeser simbol telpon berwarna hijau, tapi saat dia mengucapkan halo, ponselnya mendadak mati.


"Yahhh, baterinya habis lagi." keluhnya melihat layar ponselnya yang gelap total.


"Kenapa Nay."


"Ponsel Naya mati mas." Naya menunjukkan layar ponselnya ke arah Wahyu.


"Pakai punyaku." Wahyu mengeluarkan ponselnya dari saku jaket dan mengulurkannya pada Naya.


"Tapi Naya sama sekali tidak hafal satupun nomer orang rumah mas, termasuk nomer mas Lio."


"Kalau gitu aku yang nganterin."


"Tapi Naya gak tahu jalan mas, alamat rumah juga Naya tidak tahu."

__ADS_1


"Naya Naya, kamu itu ya, tidak pernah berubah, ceroboh dari dulu." Wahyu hanya menggeleng.


***


__ADS_2