Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
GAUN UNTUK NAYA


__ADS_3

"Naya nelponin gue terus nieh, gue angkat atau tidak." seru Rafa memberitahu Lio.


Saat ini kedua orang ini tengah mempersiapkan pesta kejutan untuk ulang tahun Naya dibantu oleh beberapa orang yang juga dibayar oleh Rafa.


"Biarin saja." balas Lio.


"Gue yakin dia sejak tadi nelponin elo, tapi berhubung HP lo sengaja lo matiin, jadinya dia beralih nelpon gue, lo gak mau ngasih kabar gitu ke dia, dia pasti sangat khawatir sama lo."


"Sudahlah gak perlu, lagian juga sebentar lagi gue dan dia bakalan ketemu, dan alangkah baiknya gue gak menghubungi dia agar pertemuan kita menjadi dramatis."


"Iya deh terserah lo."


Setengah jam kemudian, acara dekor mendekor akhirnya selesai, Lio memilih pantai untuk merayakan ulang tahun Naya, dia sengaja memilih udara terbuka begitu karna suasananya lebih syahdu dan romantis menurutnya, apalagi saat ini langit begitu cerah dengan taburan jutaan bintang dan indahnya sinar bulan purnama.


Lio berdiri ditengah-tengah tempat yang sudah didekorasi dengan lampu-lampu tumblir yang berwarna-warni dan diterangi oleh cahaya bulan pernama yang bersinar terang dimalam ini, ditambah lagi suara deburan ombak sebagai musik alam semakin membuat suasana syahdu, Lio bener-bener berharap Naya menyukai kejutan ulang tahun yang dia rencanakan.


Lio meraba kantong celananya, dimana kotak beludru berwarna merah marun berisi cincin mawar bertahtakan berlian yang dibelikan sebagai hadiah ulang tahun Naya berada. Lio mengeluarkan benda tersebut, membukanya dan melihat untuk kesekian kalinya berlian indah yang belikannya sebagai hadiah ulang tahun Naya, hadiah dengan harga fantastis namun tentu saja harga tidak jadi masalah untuk Lio, hadiah itu sekaligus merupakan hadiah pertama yang Lio berikan selama Naya menjadi istrinya.


"Dia pasti terkejut." gumam Lio sambil membayangkan ekpresi Naya saat melihat kejutan yang direncanakan olehnya, membayangkan ekpresi istrinya membuat Lio jadi senyum-senyum sendiri, dia jadi tidak sabar untuk bertemu Naya dan memeluk tubuh kecilnya.


"Oke Lio, semuanya sudah beres, tinggal sekarang lo mandi dan ganti pakaian di hotel, karna lo sudah bau asam." intrupsi Rafa membuyarkan apa yang tengah difikirkan oleh sahabatnya itu.


"Hmmm."


"Lo sudah menghubungi pak Ridwan untuk membawa Naya kemari."


"Sudah." jawabnya singkat.


"Terus tunggu apalagi, ayok ke hotel, lo mandi, pakai pakaian terbaik yang lo miliki dan pakai parfum biar wangi, supaya Naya makin klepek-klepek tuh sama elo."


"Bawel banget sieh lo kayak emak-emak, tidak bisakah gue merasakan ketenangan yang begitu mendamaikan ini untuk sesaat." Lio masih betah ditempat itu, merasakan hembusan angin laut yang menampar pipinya dengan lembut.


"Terserah lo deh, gue balik duluan ke hotel." Rafa berjalan meninggalkan Lio sendirian untuk menuju hotel, rencananya mereka akan menginap dihotel yang berada tidak jauh dari pantai tempat dimana Lio akan memberikan pesta kejutan ulang tahun untuk Naya.


"Gue sangat berharap Naya menyukai pesta kejutan ini, dan gue juga berharap semoga kejutan ulang tahun yang telah gue rencanakan ini jauh lebih berkesan daripada ulang tahun yang pernah Naya rayakan dulu saat masih bersama mantannya sik Wahyu itu."


****


Tok


Tok


Tok


Naya yang saat ini fikirannya dipenuhi oleh Lio kaget begitu mendengar pintu kamarnya diketuk.


"Astagfirullah, kaget aku." dia mengelus dadanya.


"Nona Naya." terdengar suara mbak Wati memanggil dari luar.


"Iya mbak, masuk."


Pintu didorong dari luar, terlihat ditangannya mbak Wati membawa sebuah kotak putih dengan ukuran yang cukup besar yang diikat dengan pita berwarna pink.


"Itu apa mbak."


"Ini pesanan dari tuan muda nona, tadi ada kurir yang mengantarnya ke rumah." ucap mbak Wati memberitahu.


Dari logo yang terdapat diatas kotak putih yang dibawa oleh mbak Wati terlihat jelas kalau pakaian yang berada didalam kotak yang dipesan oleh Lio merupakan pakaian keluaran dari butik ternama.


"Mas Lio." ucap Naya memastikan meskipun tahu kalau yang dipanggil tuan muda oleh ARTnya itu adalah suaminya sendiri, pasalnya sejak tadi dia berusaha menghubungi nomer Lio, tapi ponsel suaminya itu tidak aktif sejak satu jam yang lalu, dan sekarang mbak Wati membawa kotak untuknya yang katanya dari suaminya.


"Iya nona, dan tadi tuan muda menelpon saya dan menyuruh saya untuk menyerahkan kotak ini kepada nona."


"Mas Lio menelpon mbak Wati, tapi kenapa tidak menelponku, apa dia marah sama aku gara-gara aku merengek untuk nemenin Bulan saat pergi ke sekolah, tapi pas dia ngejemput kami dia terlihat baik-baik saja, dia tidak tampak marah." bingung Naya.


"Nona." tegur mbak Wati yang membuat Naya tersadar.


"Ehh iya."


"Saya juga dikasih tahu sama tuan, katanya nona harus dandan yang cantik dan memakai gaun yang ada didalam kotak ini."


"Dandan cantik dan memakai gaun yang ada dalam kotak." ulang Naya berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh mbak Wati.


"Iya nona."

__ADS_1


"Emangnya ada apa mbak, kenapa mas Lio nyuruh Naya dandan dan dibelikan gaun secara khusus begini."


"Saya kurang tahu nona." jawab mbak Wati jujur, Lio hanya menyuruhnya mengantarkan gaun itu untuk Naya tanpa memberitahu rencananya untuk memberikan pesta kejutan ulang tahun untuk Naya.


"Nona, ini kotaknya."


Naya mengambil kotak berisi gaun dari tangan mbak Wati, "Terimakasih mbak."


"Sama-sama nona."


"Ohh ya satu lagi nona, kata tuan, nona sebaiknya siap-siap sekarang karna pak Ridwan akan membawa nona pergi ke suatu tempat untuk menemui tuan muda."


"Ada apa sieh ini sebenarnya, kenapa mas Lio tiba-tiba tidak bisa dihubungi dan membelikan gaun dan meminta pak Ridwan membawaku untuk menemuinya." Naya bertanya-tanya dalam hati, namun dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya itu, tidak terlintas sedikitpun dibenak Naya kalau Lio akan memberikannya pesta kejutan ulang tahun.


"Kalau begitu saya permisi nona."


"Baiklah."


Naya bukanya bersiap-siap seperti yang bilang oleh mbak Wati, dia malah duduk dipinggir tempat tidur dan memperhatikan kotak berwarna putih berhiaskan pita pink yang kini berada diatas pangkuannya, tangan Naya terangkat untuk membuka kotak tersebut, dan begitu tangannya mengangkat penutup kotak, Naya menemukan sebuah gaun yang terlipat dengan rapi, Naya mengangkat gaun tersebut untuk melihatnya secara detail, sebuah gaun cantik berwarna putih tulang dengan renda-renda manja dibagian lengan dan bagian bawah dan juga ditengah-tengahnya untuk mempermanis tampilan gaun tersebut.


Naya sampai dibuat takjub melihat gaun pilihan suaminya, "Bagus banget." puji Naya senang sekaligus dongkol disaat bersamaan mengingat harga gaun tersebut menurut perkiraan Naya pasti gaun dengan harga yang cukup fantastis.


"Ini pasti gaun mahal, kebiasaan banget mas Lio ngabis-ngabisin uang untuk membeli hal yang tidak penting begini." bagi Naya, pakaian itu tidak perlu mahal, yang penting sopan dan nyaman dikenakan, meskipun sudah menyandang status sebagai nyonya Rasyad dibelakang namanya, tapi Naya tetaplah wanita desa sederhana yang tidak mau menghambur-hamburkan uang hanya untuk membeli baju mahal.


Ternyata dibawah gaun yang tadi diangkat oleh Naya terselip sebuah catatan kecil, Naya meraih kertas tersebut dan membuka lipatannya, Naya melihat tulisan tangan Lio yang tergores dikertas putih itu dengan menggunakan tinta hitam, bunyi pesan yang ditulis Lio adalah.


Dandan yang cantik dan pakai gaun ini ya sayang, aku tunggu kamu disuatu tempat yang indah, kamu pasti akan menyukainya. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu kamu dan memeluk kamu.


Dari suami tercinta kamu Adelio Rasyad.


Naya berbunga-bunga begitu membaca pesan yang ditulis oleh Lio, dia sampai meletakkan kertas itu didadanya.


Dan meskipun tidak tahu apa yang direncanakan oleh Lio untuknya, setelah membaca pesan singkat tersebut dia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan kemudian bersiap-siap dan dandan yang cantik seperti request dari sang suami tercinta.


****


Pak Ridwan yang akan mengantarnya menemui Lio sudah menunggu didalam mobil.


Naya begitu sangat cantik dengan polesan make up natural dan gaun cantik yang dibelikan khusus untuknya oleh Lio, gaun itu sangat pas dibadannya, beruntungnya juga perut Naya masih rata.


Dan sebelum pergi Naya sempat pamit sama Bulan, awalnya gadis kecil itu merengek ingin ikut, tapi setelah dibujuk oleh Naya, Bulan akhirnya membiarkan ibu angkatnya pergi, dan tidak lupa juga Naya pamitan sama kakek Handoko.


Naya tersipu karna dirinya dipuji cantik, dan kakek Handoko memang begitu, setiap kali ada kesempatan selalu memuji Naya, "Kakek kalau muji Naya selalu berlebihan, Nayakan tidak secantik itu kek."


"Kamu itu beneran sangat cantik kok sayang, tidak hanya wajahmu yang cantik, tapi hatimu juga." ujarnya, "Kakek yakin setelah ini, Lio pasti akan menyesal karna telah meminta kamu untuk menemuinya diluar."


"Emang kenapa kek."


"Iya istrinya sangat cantik begini dipamerin, pasti laki-laki lain yang melihat kamu akan terpesona dan jatuh hati seketika."


"Haha." Naya tertawa renyah mendengar gurauan kakek Handoko, "Kakek ini ada-ada saja."


"Ya sudah ya kakek, Naya berangkat dulu, takutnya mas Lio kelamaan nunggunya." Naya meraih tangan kakek Handoko dan menciumnya sebelum pergi.


"Minta Ridwan pelan-pelan menyetir mobilnya."


"Iya kek, tanpa diminta pak Ridwan selalu melajukan mobil dengan kecepatan normal."


"Baiklah cucuku, selamat bersenang-senang."


"Iya kek, Naya ergi dulu ya, kakek lebih baik istirahat supaya besok kakek fres saat bangun tidur." Naya mencium pipi kakek mertuanya sebelum pergi.


Saat tiba dipintu utama, Naya berpapasan dengan mama mertuanya yang baru pulang bekerja, wajah wanita setengah baya itu terlihat letih, meskipun mama mertuanya tidak pernah menyukainya, Naya berhenti hanya untuk menyapa.


"Malam ma, mama baru pulang." sapa Naya ramah.


Mama Renata menghentikan langkahnya, menatap menantunya dari ujung rambut sampai ujung kaki, dalam hati memberikan penilaiannya, "Dia cantik juga sieh kalau dipermak dan memakai gaun mahal kayak gini, tapi meskipun luarnya begini, tetap saja dia adalah gadis kampung yang udik dan bodoh."


"Mau kemana kamu malam-malam begini." tanyanya dengan nada ketus.


"Naya diminta sama mas Lio untuk menemuinya ma."


"Menemui Lio, dimana."


"Naya juga tidak tahu ma, mas Lio hanya meminta Naya menemuinya tanpa memberitahu tempatnya."

__ADS_1


"Mau ngapain anak itu, sok-sok'an romantis sama gadis kampungan ini." desahnya dalam hati karna Lio semakin jelas menampakkan rasa sukanya sama Naya.


"Ya udah ma kalau gitu, Naya pergi dulu, pak Ridwan sudah menunggu dimobil." pamitnya.


Meskipun dirinya tidak disukai, tapi mama Renata tetaplah mertuanya yang harus Naya hormati, atas dasar itu Naya meraih tangan mama Renata, tentu saja niatnya untuk bersalaman, namun sayangnya, mama Renata menepis tangan Naya dengan kasar, dia langsung mengambil tisu dari tangannya dan mengelap tangannya yang tadi dipegang oleh Naya seolah-olah Naya membawa virus penyakit berbahaya.


Naya sangat terluka melihat perlakuan kasar mama mertuanya, ingin rasanya dia menangis, tapi dia masih mampu menahan air matanya.


"Jangan berani-beraninya kamu menyentuh saya dengan tangan kotor kamu itu gadis kampung." desisnya tajam tepat didekat telinga Naya, "Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah mengakui kamu sebagai menantuku, Cleolah yang pantas untuk mendapampingi putraku dan yang akan melahirkan penerus kularga Rasyad, bukan gadis kampungan dan udik seperti kamu, paham kamu." setelah puas menghina menantunya sedemikian rupa, mama Renata berlalu meninggalkan Naya tanpa rasa bersalah.


Bibir Naya bergetar, rasanya hatinya begitu sakit mendengar hinaan yang dilontarkan oleh mama mertuanya, tapi sebisa mungkin Naya berusaha untuk menahan air matanya, dia tidak ingin terlihat lemah, "Apa salahku sampai mama membenciku, apa karna aku gadis kampung bodoh dan tidak berpendidikan tinggi, meskipun begitu, aku tetap manusia yang punya hati dan perasaan, tidak bisalah mama sedikit menghargaiku." meskipun Naya sudah sangat berusaha menahan bendungan air matanya, tapi toh setetes kristal bening lolos dari pelupuk matanya.


"Nona muda, kita berangkat sekarang." pak Ridwan yang sejak tadi menunggu berniat memanggil Naya, tidak disangkanya nona mudanya itu berdiri mematung dipintu utama.


Naya memalingkan wajahnya dan menghapus air matanya, dia tidak ingin pak Ridwan melihatnya menangis.


"Ahh iya pak, ayok kita berangkat sekarang." Naya kembali mengarahkan wajahnya ke arah pak Ridwan dan berusaha untuk tersenyum, sebuah senyum palsu yang Naya harap mampu mengelabui pak Ridwan.


Meskipun hanya seorang sopir, pak Ridwan bukanlah orang yang bodoh, dia tahu nona majikannya tidak dalam keadaan baik-baik saja kondisi hatinya, "Nona, apa nona baik-baik saja."


"Tentu saja Naya baik-baik saja pak." dustanya tersenyum lebar supaya lebih meyakinkan, "Kenapa pak Ridwan bertanya begitu."


Jelas saja pak Ridwan tidak memiliki hak mencecar nona majikannya, jadinya dia pura-pura percaya dengan apa yang dikatakan oleh Naya, "Ahhh tidak ada nona, saya hanya memastikan apakah nona dalam keadaan baik-baik saja."


"Pak Ridwan perhatian sekali, Naya jadi terharu, Naya jadi ingat sama ayah didesa, Naya jadi kangen sama keluarga didesa."


"Nonakan bisa mengunjungi mereka kapanpun nona mau."


"Tapi mas Lio pasti tidak akan mengizinkan Naya pergi dalam kondisi hamil muda begini pak, desa Nayakan jauh, apalagi jalan menuju desa Naya sangat jelek, belum diaspal dan banyak lubangnya, mengantar Bulan pergi sekolah saja dia tidak mengizinkan."


"Tuan muda benar nona, dia sangat mengkhawatirkan nona, dia tidak ingin terjadi apa-apa sama nona dan calon bayi yang masih diperut nona."


Naya terkekeh, "Tapi suamiku itu sangat berlebihan orangnya pak, masak hanya naik turun tangga saja Naya harus digendong, memasak juga dilarang, Naya mau dijadiin pajangan kali ya." Naya jadi curhat tuh sama sopir keluarganya.


"Tuan sangat mencintai nona, makanya nona diminta istirahat total tanpa melakukan apa-apa."


"Menurut bapak begitu."


"Iya nona, saya bisa melihat pancaran cinta yang begitu besar dimata tuan Lio untuk nona." pak Ridwan memaparkan hasil pengamatannya.


Naya tentu merasa bahagia mendengar hal itu.


"Lhaaa, kok jadi keasyikan ngobrol begini seih, ayok pak sebaiknya kita berangkat sekarang, nanti bisa-bisa mas Lio marah besar lagi."


"Duhh iya, ayok nona."


****


"Ini sebenarnya kita mau kemana sieh pak, kok masih belum sampai juga, masih jauh gak tempatnya." tanya Naya karna ini sudah setengah jam lebih mereka dalam perjalanan, tapi belum ada tanda-tandanya mereka tiba ditempat tujuan.


"Maafkan saya nona, tapi saya dilarang oleh tuan untuk memberitahu nona, tapi nona jangan khawatir, sebentar lagi sampai kok."


"Mas Lio itu ada-ada saja, sok main rahasia segala, padahal dikasih tahu sekarang atau nantikan sama saja."


Naya yang merasa bosan memilih menatap ke luar jendela menyaksikan indahnya kerlap-kerlip lampu jalan yang menerangi sepanjang jalan yang dilewati oleh mobil yang dikendarai oleh pak Ridwan.


Disaat tengah asyik menyaksikan gemerlapnya lampu-lampu jalanan, ponsel yang ada ditas tangannya berbunyi nyaring, Naya merogoh tasnya untuk menjawab panggilan, fikir Naya yang menelponnya adalah Lio, tapi itu ternyata adalah Eli sahabatnya yang melakukan panggilan vidio call.


"Eli." gumam Naya senang saat mengetahui kalau itu merupakan panggilan dari sahabatnya.


Kini wajah Eli menghiasi layar ponsel milik Naya, dia dengan ceria menyapa Naya, "Hai Naya, kamu apa kabar."


"Aku alhamdulillah sehat Li, kamunya gimana."


"Sama seperti kamu, aku juga sehat."


"Syukurlah."


"Kamu kok tumben banget vidio call malam-malam begini."


"Aku baru ingat Nay, kalau hari ini adalah ulang tahun kamu, itupun aku tahu saat melihat kalender, makanya aku langsung menelpon kamu untuk mengucapkan selamat ulang tahun."


"Astagaa Eli, aku kirain ada apaan."


"Suami kamu sik Lio sudah ngucapin selamat ulang tahun belum, dirayain gak ulang tahun kamu, suami kaya kamu itu ngasih hadiah apa, pasti emas 24 karat ya." crocos Eli.

__ADS_1


Naya tentu saja bercerita sama Eli kalau kini dia dan Lio baikan dan berniat untuk memulai membina kehidupan rumah tangga mereka, Eli sangat senang mendengar hal itu, dia ikut bahagia akhirnya sahabatnya itu bisa menjadi istri yang sesungguhnya dan dicintai oleh suaminya, meskipun begitu, Eli masih sedikit menyimpan kekesalan sama Lio karna laki-laki itu pernah menyakiti sahabatnya.


****


__ADS_2