Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
PERJANJIAN


__ADS_3

"Pernikahan pura-pura, pernikahan macam apa ini." rintih Naya dalam hati mendengar ucapan Lio, "Bukankan nikah itu ibadah, bukan untuk pura-pura dan dipermainkan seperti ini, bagaimana caranya nanti aku mempertanggung jawabkan pernikahan yang seharusnya sakral ini dihadapan Tuhan nantinya." batin Naya bergejolak.


"Setelah satu tahun, mari bercerai Nay." lanjut Lio dengan gampangnya mengatakan kalimat tersebut.


"Tapi kakek...."


"Akhh iya masalah kakek, kita fikirkan itu nanti saja Nay."


"Hmmm."


"Kamu tenang saja Nay, selama kita bersama, aku akan memenuhi segala kebutuhan kamu dan akan menuruti apapun yang kamu inginkan, termasuk jika kamu ingin membeli barang-barang mewah atau kalau kamu mau mobil akan aku belikan." janjinya untuk membuat Naya terhibur karna dilihatnya wajah Naya tampak murung setelah dia menyampaikan maksudnya untuk menjalani pernikahan mereka selama satu tahun.


Lio fikir, dengan menjanjikan kemewahan dan harta bisa membuat Naya terhibur, jelas disini Lio salah, karna Naya sangat berbeda dengan wanita kebanyakan, Naya tidak menginginkan barang-barang mewah ataupun harta, "Tapi aku tidak butuh apa-apa mas, bisakah aku hanya meminta cinta darimu." kalimat yang hanya diucapkan dalam hati dengan getir.


"Kamu bebas menjalin hubungan dengan siapapun Nay, aku tidak akan melarang kamu, aku tidak akan ikut campur urusan pribadimu, dan begitu juga kamu sebaliknya, tidak boleh mencampuri urusan pribadiku." Lio menjelaskan hal ini secara gamblang seolah tengah membicarakan kerjasama bisnis.


Naya mendesah pasrah, dia bisa apa kalau Lio tidak mencintainya dan merencanakan berpisah dengannya setelah satu tahun pernikahan dan menjalani pernikahan ini selama satu tahun saja. "Baiklah kalau itu yang mas Lio inginkan, kita bersama selama satu tahun dan....berpisah." ujarnya pada akhirnya menuruti keinginan Lio, kalimat terakhir berat rasanya lidahnya mengucapkan kalimat tersebut.


Lio tersenyum mendengar jawaban Naya, "Terimakasih Naya."


Naya tersenyum hambar menanggapi ucapan terimakasih dari Lio, ucapan terimakasih tidak pada tempatnya fikir Naya.


****


Rafa tengah bersiap-siap untuk pulang saat ponsel yang tergeletak dimeja kerjanya berbunyi.


Lio yang tengah membereskan mejanya melirik sekilas, dilayar tertera nama sang adik Leta.


Lio menggeser simbol telpon dan mengaktifkan pembesar suara sementara dia masih melakukan aktifitasnya membereskan meja kerjanya yang berantakan.


"Kenapa Leta."


"Kak aku...."


"Mau minta uang jajankan." sambarnya memotong ucapan sang adik, "Iya iya, nanti kakak transfer ke rekening kamu, kamu itu tidak sabaran sekali kalau menyangkut masalah uang, padahal ini baru saja tanggal satu." tidak salah Rafa berfikir kalau adiknya menelponnya untuk meminta uang, karna biasanya adiknya itu suka menelpon jika tahu dirinya sudah gajian.


"Ihhh kak Rafa ini, main potong saja, padahalkan Leta nelpon bukan untuk minta uang." agak tersinggung juga kayaknya sik Leta.


"Bukan untuk minta uang."


"Bukan kak, kakak fikir adik kakak yang cantik ini nelpon kakak hanya minta uang saja."


"Ohhh tumben, ada perlu apa memang nelpon kakak."


"Kakak disuruh pulang itu sama mama."


Mendengar nama mamanya disebut membuat Rafa tanpa sadar mendesah, pasalnya mamanya pasti menanyakan apakah dia sudah punya pacar atau belum, "Bilang sama mama, kakak tidak bisa pulang, kakak sibuk banyak kerjaan."


"Kerja kerja, kamu itu ya Rafa, di otak kamu hanya kerja kerja dan kerja melulu, punya uang banyak juga percuma kalau tidak punya pendamping." itu suara mamanya yang mengambil alih ponsel Leta.


"Mama."


"Iya ini mama Rafa, pokoknya mama tidak mau tahu, kamu harus pulang sekarang titik."

__ADS_1


"Tidak bisa mama, Rafa akan rumah Lio menjenguk istrinya yang sakit." alasannya untuk menghindari perintah sang mama, memang Rafa berniat menjenguk Naya sieh, tapi bukan hari ini, tapi besok.


"Mbak Naya sakit kak, kapan, padahal semalam mbak Naya baik-baik saja." kini giliran Leta yang berbicara, sepertinya dia merebut paksa tuh ponsel dari sang mama.


"Entahlah, mungkin tadi pagi, soalnya Lio sampai meninggalkan pertemuan penting gitu dengan rekan bisnis perusahaan."


Terdengar suara mamanya mengomeli Leta dari seberang, "Kamu ini Leta, tidak sopan sekali jadi anak, orang tua lagi bicara kamu main rebut saja."


"Iya maaf ma."


Tuh ponsel kembali berpindah tangan, "Ya kamu pulang dululah sebentar Rafa, setelah itu barulah kamu menjenguk istrinya Adelio, soalnya ada yang mama mau bicarakan dengan kamu."


"Bicarakan lewat telpon saja ma." Rafa berusaha bernegosiasi.


"Tidak bisa dibicarakan lewat telpon Rafa, kamu harus mendengarnya secara langsung, penting soalnya."


"Akhh mama, kalau punya kemauan sifat pemaksanya suka keluar." keluh Rafa mendesis.


"Pulang ya Rafa, mama tunggu."


"Hmmm."


"Jangan hmm hmm aja kamu, hmm hmm tapi tidak jadi pulang." omel sang mama.


"Iya mama, Rafa akan pulang, astaga mama ini ya pemaksa sekali."


"Nahh itu baru anak berbakti, nurut perintah orang tua."


Rafa hanya menggeleng dengan tingkah mamanya.


"Hmmm."


"Naya ikut ya menjenguk mbak Leta sama kakak nanti."


Sebenarnya besok, tapi berhubung dia sudah bilang begitu, ya sudah sekarang saja sekalian setelah menemui mamanya, "Iya." jawabnya acuh tak acuh, "Ya sudah ya Leta, kakak lagi siap-siap untuk pulang."


"Iya kak, bye."


***


Mamanya langsung menyongsong keluar begitu mendengar suara mobil putra sulungnya, bibirnya sang mama tersenyum lebar begitu melihat putranya yang tampan itu keluar dari mobil.


"Akhh mama, semangat banget sampai nyamperin keluar segala." desah Rafa melihat mamanya diteras depan.


Sejak dua tahun belakangan ini perasaannya selalu saja tidak enak ketika melihat wanita yang melahirkannya itu tersenyum seperti itu, kalau senyum mamanya selebar itu, pasti mamanya akan menanyakan, "Bagaimana, kapan kamu akan menikah, kamu sudah ada calonkan." pertanyaan yang selalu dilontarkan mamanya saat dia pulang, tidak heran Rafa jadi malas pulang ke rumah orang tuanya.


Rafa sudah membuka bibirnya untuk menyapa mamanya, namun mamanya mendahului, "Anak mama, akhirnya kamu pulang juga, mama kangen tahu." mamanya memeluk anak yang selalu menjadi kebanggaannya, namun tidak menjadi kebanggaan akhir-akhir ini karna Rafa selalu ngeles saat mamanya bertanya tentang wanita.


Perasaan Rafa semakin tidak enak melihat sikap mamanya yang berlebihan begini.


Lengan Lio ditarik memasuki rumah milik keluarganya, "Ayok masuk ayok masuk."


Dengan patuh Lio mengikuti sang mama.

__ADS_1


Mamanya membawanya ke ruang tengah, ruangan yang sering dijadikan oleh keluarganya untuk bersantai, disana sudah ada papanya yang duduk dengan manis dengan koran ditangannya.


"Sudah datang kamu." ujar laki-laki tua itu melirik sebentar melihat kedatangan putranya sebelum kembali membaca korannya, seolah-olah berita dikoran lebih penting dari kepulangan anak laki-laki satu-satunya itu.


"Iya pa."


"Duduk nak." perintah mamanya.


Rafa nurut, bersiap menunggu apa yang akan dibicarakan oleh mamanya, dan biasanya sieh papanya hanya sekedar jadi pendengar yang baik saja.


"Kamu pasti belum mendapatkan pacarkan Rafa." tembak mamanya langsung tanpa basa-basi.


Rafa sebenarnya malas menjawab, tapi karna ini mamanya, jadi dia tidak mungkin mengabaikannyakan, "Belum ma, Rafa sibuk kerja soalnya." jujurnya.


Sik mama tersenyum lebar, "Mama sudah ada calonnya untuk kamu, benerkan pa."


"Hmmm." jawab sang papa tidak mengalihkan sedikitpun perhatiannya dari koran yang tengah dibacanya.


"Hahhh." kaget donk Rafa, "Calon maksudnya ma." agak panik juga sieh dia mendengar kata calon dari bibir mamanya, dia tidak mau dijodohkan seperti Lio sahabatnya.


"Iya mama telah mencarikan kamu wanita yang sesuai dengan kriteria kamu, dia anaknya jenk Sari, kamu ingat, itu lho teman mama arisan."


"Gak inget ma." jawab Rafa tidak ingat dan tidak mau bersusah-susah mengingat juga.


"Tidak penting kamu ingat atau tidak, yang jelas, jenk Sari itu punya anak yang


cuaaantik pool, namanya Arin." mamanya sampai mengacungkan dua jempolnya segala untuk menggambarkan gadis yang akan dikenalkan mamanya padanya, "Anaknya tinggi, putih, pekerja kantoran seperti kamu, pokoknya kamu pasti suka deh." mamanya dengan semangat menjabarkan wanita yang akan dikenalkannya dengan sang anak dengan antusias.


"Ini bukan perjodohankan ma." Rafa menyuarakan apa yang dia takutkan.


"Ya bukanlah, tidak zaman ya seperti itu."


"Syukurlah, seenggaknya mamaku tidak kolot." gumamnya tanpa suara.


"Nahh Rafa, ini dia nomernya, ajaklah dia makan malam, supaya kalian bisa saling mengenal satu sama lain, dan semoga kalian cocok dan berlanjut, dan mama yakin sieh kalian cocok."


Lio mengambil kertas berisi nomer wanita yang dicarikan oleh sang mama dengan ogah, dalam hati berjanji tidak akan menghubungi gadis tersebut biar bagaimanapun cantiknya, biarlah dia mengiyakan apapun yang dikatakan oleh mamanya hanya untuk membuat urusan cepat selesai.


Terdengar suara derap langkah berjalan ke arah ruang tengah, dan tidak lama kemudian Leta muncul.


"Ayok kak kita pergi, Leta sudah siap."


Rafa berdiri, secara tidak langsung Leta menyelamatkannya, karna kalau cukup lama bersama mamanya, bisa-bisa mamanya terus ngoceh tentang wanita bernama Arin tersebut.


"Kalian mau menjenguk istrinya Lio ya."


"Iya ma."


"Sampaikan salam mama ya sama kakek Handoko sekeluarga."


"Iya ma."


"Kalau begitu kami pamit."

__ADS_1


****


__ADS_2