
Lio menatap Boy tajam, membuat Boy jadi kikuk.
"Astagaa, saudara Naya kok galak amet sieh." batin Boy ciut.
Saudara, yahh, itulah yang terfikir dibenak Boy saat melihat Lio, sejak awal dia berfikir Naya adalah gadis desa yang tinggal dikota bersama dengan saudaranya, wajar saja sieh Boy berfikir begitu mengingat Leta ataupun Naya tidak ada yang menjelaskan secara detail tentang kehidupan Naya.
"Kami hanya nonton saja, dan maaf ya kak karna saya telah mengantar Naya malam begini, kami tadi makan sebentar, tidak lebih." Boy kembali menjelaskan berharap Lio bisa mengerti dan tidak marah sama Naya.
Namun, penjelasan panjang kali lebar dari Boy hanya angin lalu saja bagi Lio, dia tidak peduli mereka pergi bertiga kek dan habis ngapain kek, yang jelas Lio marah karna Naya tidak meminta izin terlebih dahulu padanya, sebenarnya amarahnya lebih dikarenakan Cleo sieh, tapi yah begitu yang namanya manusia, orang lain yang membuatnya marah malah dilampiaskan kepada orang lain.
Karna masih tidak ada respon dari Lio, Boy kembali berkata, "Kak, tolong jangan marahin Naya ya, Naya tidak salah."
Lio menunjuk Boy, "Saya peringatkan sama kamu, jangan pernah dekatin Naya lagi, paham kamu."
"Apa-apan mas Lio, kenapa hanya masalah sepele begini dia jadi marah besar begini sieh." batin Naya tidak habis fikir dengan suaminya.
Setelah memberi peringatan tersebut, Lio menyeret Naya masuk ke dalam, "Masuk."
"Tapi mas, mas Boy...."
"Gue bilang masuk ya masuk, jangan membantah." bentak Lio makin kasar menarik Naya.
Boy yang merasa tidak tega melihat Naya diperlakukan begitu mencoba untuk memperingatkan Lio, "Kak, tolong jangan perlakukan Naya kasar begitu, kasihan Naya kesakitan."
Lio yang tengah menarik Naya otomatis berhenti dan kembali membalikkan badannya pada Boy dan kembali membentak, "Diam lo, lebih baik menyingkir lo dari hadapan gue sekarang, sebelum gue benar-benar marah dan lepas kendali."
"Mas, mas lebih baik pulang." pinta Naya pada Boy karna tidak mau Lio melaksanakan ancamannya.
"Tapi Nay..."
"Aku tidak apa-apa mas." Naya mencoba menyakinkan.
Namun Boy masih belum beranjak dari posisinya, memperhatikan Naya yang ditarik paksa untuk masuk.
Naya sempat berbalik melihat Boy, sorot matanya yang sendu mengucapkan kata maaf yang tidak terucap atas nama Lio .
Lewat sorot matanya juga Boy menjawab, "Tidak apa-apa."
__ADS_1
Boy kini malah khawatir dengan Naya, dia takut Lio marah, atau lebih tepatnya mengkasari Naya dan tidak mengizinkan Naya bertemu dengannya lagi, dia jadi merasa bersalah karna meminta Leta mengajak Naya ikut pergi bersama mereka.
"Ya Tuhann, kenapa saudara Naya sampai marah segitunya sieh, semoga dia tidak memarahi Naya." ujar Boy penuh harap.
***
Naya berusaha berontak untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Lio, namun tentunya usaha Naya hanya sia-sia saja mengingat tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Lio, "Mas lepasin, sakit tangan Naya."
Lio tidak mempedulikan rengekan Naya, dia terus menyeret Naya, suasana rumah besar sudah sepi, semua penghuninya mungkin sudah pada istirahat sehingga tidak ada yang mendengar keributan yang diciptakan oleh pasangan suami istri tersebut.
Sesampainya dikamar, Lio mendorong Naya ke kasur membuat Naya tersungkur.
"Mass, kok mas kasar sekali sieh." amuk Naya marah karna diperlakukan kasar oleh Lio.
"Itu balasan bagi wanita yang pergi tanpa seiizin suaminya, seneng-seneng kamu hah dengan laki-laki itu." suara Lio meninggi.
"Mass, itu mas Boy, temannya mbak Leta, kami perginya bertiga." Naya kembali menjelaskan apa yang sudah dijelaskan oleh Boy, berharap Lio mengerti.
Lio yang kalap yang sejak kemarin memendam amarah tidak mempedulikan penjelasan Naya, dia marah, dan butuh pelampiasan.
Dengan langkah lebar dia mendekati Naya yang ada dikasur, dan tanpa peringatan Lio mencium Naya dengan membabi buta. Naya kaget, tidak menyangka akan diserang, dia meronta dan memukul, dan berusaha mendorong bahu Lio, sayangnya tenaganya yang tidak seberapa itu tidak mempan bagi Lio.
"Lo adalah istriku Naya, dan gur berhak atas dirimu seutuhnya."
Lio sudah dirasuki iblis, dia merobek pakaian Naya yang memampangkan kulit kuning langsat Naya.
Dibawah kungkungan Lio, Naya menghiba, berharap Lio sadar kalau apa yang dia lakukan salah, "Mas Lio, sadar mas." pelupuk mata Naya kini sudah digenangi oleh cairan bening, dia sudah putus asa. Lio yang sudah gelap mata tidak mempedulikan rintihan kesakitan Naya, dia terus melakukan aksinya meskipun Naya memohon.
"Akhhhh." Naya menjerit kesakitan saat Lio melakukan penyatuan.
Ini bukan yang pertama, namun tentu saja Naya kesakitan karna area sensitifnya dimasuki dengan paksa, tidak hanya sakit fisik yang dirasakan oleh Naya, lebih daripada itu, hatinya jauh lebih sakit dan terluka.
"Lo adalah istri gue Naya, dan gue berhak melakukan apapun sama lo." desis Lio untuk menghilangkan rasa bersalah atas apa yang dilakukan pada Naya.
Naya hanya menatap kosong, dia membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya yang telah memperkosanya, ya, dia diperkosa oleh suaminya sendiri, benar-benar tragis hidupnya.
Naya menghapus air mata yang tidak mau berhenti, menyalahkan takdir yang membuat hidupnya yang menderita, sudah tidak dicintai sama suami sendiri dan kini dia mendapatkan perlakuan kasar dari sang suami.
__ADS_1
Lio melirik punggung Naya, rasa bersalah kini mulai dirasakannya, apalagi dilihatnya Naya menahan isak tangisnya, itu terlihat dari bahu Naya yang naik turun. Lio ingin memeluk Naya dan meminta maaf, namun dia tidak berani melakukannya.
"Brengsekk, apa yang telah gue lakukan." umpat Lio menggeram, "Kenapa gue bisa kalap begini."
****
Naya menoleh ketika tidak merasakan adanya gerakan dari tubuh Lio yang ada disampingnya.
Dengkur halus terdengar yang menandakan suaminya itu kini terlelap.
Dengan pelan Naya bangun, Naya merasakan perih di area tengah tubuhnya yang membuatnya mengaduh, "Awww." rintihnya turun dari tempat tidur, berjalan pelan ke kamar mandi.
Naya menyalakan shower dan duduk meringkuk dibawah guyuran dinginnya air yang membasahi setiap inci tubuhnya, Naya menangis, menangisi nasibnya yang tragis, air matanya berbaur bersama air yang jatuh dari shower.
"Ayah, ibu." lirih Naya sesak karna tiba-tiba saja wajah teduh ayah dan ibunya terbayang, orang tuanya yang tidak pernah menyakitinya sama sekali, "Naya menderita ayah, ibu, Naya ingin pulang, Naya ingin bersama kalian, Naya rindu pelukan kalian, Naya rindu kasih sayang kalian, hiks hiks."
"Mas Lio jahat ayah, ibu, dia menyakiti Naya, Naya sakit ayah, ibu."
Setengah jam kemudian, barulah Naya merasakan dinginnya air dari guyuran shower tersebut, hal tersebut membuatnya menggigil dan memutuskan untuk menyudahi meratapi nasibnya.
"Aku harus kuat dan tidak boleh mengeluh, ayok Naya kamu pasti kuat dan bisa menjalani semua ini." mencoba untuk menguatkan dirinya.
****
Lio terbangun dan langsung mengarahkan matanya pada seonggok tubuh yang berbaring membelakanginya.
Rasa bersalah kembali menguasainya melihat tubuh ringkih istrinya yang semalam dia perlakukan dengan kasar.
Biasanya shubuh begini, Nayalah yang selalu membangunkannya dan memaksanya sholat shubuh, dan kini gadis yang selama ini selalu cerewet dan menceramahinya tentang pentingnya sholat masih terlelap, tidak ada tanda-tandanya akan bangun.
Lio membiarkan, dia juga masih merasa tidak enak dengan Naya karna perbuatannya semalam, dia berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, namun karna dia telah melakukan hubungan suami istri semalam, meskipun dengan paksaan sieh, tentunya dia terlebih dahulu mandi.
Karna Naya tidak kunjung bangun saat dia menyelsaikan sholatnya, membuat Lio tergerak untuk membangunkan Naya, karna tidak seperti biasanya Naya seperti ini.
Dengan pelan Lio mengguncang tubuh Naya, "Naya bangun, sudah shubuh." nadanya penuh kelembutan tidak seperti semalam.
Namun kulit tangannya terasa panas saat menyentuh kulit Naya, dengan khawatir Lio kini beralih menempelkan punggung tangannya di kening Naya. Rasa panas kembali menjalari kulit tangannya, panas yang ditransfer dari suhu tubuh Naya.
__ADS_1
"Astagaa, apa yang terjadi, kenapa badan Naya jadi panas begini." paniknya disertai rasa bersalah karna beranggapan dirinyalah yang membuat Naya sampai sakit begini.
****