Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
KEISENGAN LIO


__ADS_3

"Asslamualikum Naya."


"Walaikumsalam El."


Sore itu Naya mendapat telpon dari sahabatnya Eli didesa.


"Kamu apa kabar Nay, mentang-mentang udah jadi nyonya kaya lupa dengan temen dikampung."


"Duhh, maaf El, bukannya lupa aku, tapi emang aku agak sibuk gitu."


"Sibuk apaan, masak nyonya besar sibuk sieh, kan tinggal suruh pembantu aja, bereskan masalah."


"Iya sieh El, dirumah besar keluarga suamiku ada pembantu dan tukang kebunnya, satpam juga ada, meskipun ada pembantu, tapi gak enak kali cuma tidur makan doank, kadang aku bantu-bantu mereka juga, lagian juga aku harus ngerawat kakek." jelas Naya.


"Wahh, ternyata sik nyonya cukup sibuk juga, gak beda jauh ketika tinggal dikampung, tapi aku yakin, pasti kulit kamu putih bercahayakan Nay, secara gitu suaminya kamu orang kaya, pasti kamu rajin perawatan ke salon."


"Mmm, ya kulit aku agak sedikit putih sieh El sekarang, gak sekusem ketika masih dikampung, maklum kena AC terus."


"Duhh, kayaknya aku harus pakai kacamata hitam ketika aku ketemu kamu nanti."


"Lho, emang kenapa."


"Yahh, takut silau aku."


"Ihhh, bercandanya gak usah selabay itu juga kali El, lagian aku putihnya masih dalam tahap normal kok, gak kinclong kayak lantai." desis Naya, "Oh ya, kamu nelpon aku bukan mau tanya apa kulitku kinclong atau bukan kan El."


"Duhh, sampai lupa aku gara-gara ngomongin kulit kinclong, gini lho Nay." Lirih Eli terdengar serius.


Naya mendengarkan dengan seksama, tidak mau melewati satu hurufpun apapun yang akan dikatakan oleh Eli.


Dengan dramatis Eli memberitahu Naya, "Aku dan mas Toni akan nikah Nay." nadanya penuh dengan kebahagian ketika memberitahu Naya.


"Kamu dan Toni bakalan nikah, astagaaaa, aku seneng dengernya selamat ya El." ucap Naya tulus, "Kalian jodoh ternyata, gak kayak aku dan mas Wahyu." Naya agak murung mengingat dirinya dan Wahyu tidak berjodoh, padahalkan dia sudah berjanji untuk menunggu Wahyu, tapi begitulah takdir Tuhan, meskipun berjanji hidup bersama, nyatanya mereka tidak ditakdirkan hidup bersama, dia takdirkan dengan orang lain yang kini berstatus sebagai suaminya yaitu Lio.


"Jangan sedih donk Nay, inikan sudah diatur sama Tuhan yang maha esa, mungkin jodoh kamu yang sekarang itulah yang terbaik, meskipun om om sieh."


"Hmmm." jawab Naya, ucapan Eli tidak mampu menghiburnya.


"Jadi, kamu harus datang ya Nay, ajak sik om juga, awas saja kalau gak datang, aku pecat kamu jadi sahabat." ancam Eli bercanda.


Naya terkikik geli mendengar ancaman sahabatnya itu, "Iya, insaallah aku pasti datang, tapi gak janji sieh suamiku bisa ikut, soalnya dia sibuk banget."

__ADS_1


"Yahh, jangan begitu donk Nay, sik om juga harus ikut, lagian apa kata orang coba kalau suami kamu gak ikut, masak kamu datang sendirian sieh, dan juga temen-temen pada penasaran tuh ingin lihat tampangnya sik om kaya yang beruntung menikahi remaja segar kayak kamu."


Naya membenarkan ucapan Eli, kalau dia datang sendirian, ntar difikirnya mereka berantem lagi, akhirnya Naya berkata, "Iya deh aku usahin untuk bujuk dia ikut." janji Naya tidak yakin.


"Nahh, itu baru oke, sekalian juga acara kawinan gue sebagai acara reunian temen-temen sekolah angkatan kita gitu Nay."


"Aku udah gak sabaran ingin ketemu temen-temen didesa, aku juga sudah rindu ayah dan ibu, aku rindu dengan suasana kampung yang hijau dan sejuk."


"Naya, sudah dulu ya, itu ibu manggil."


"Iya sudah kalau gitu, semoga semuanya lancar sampai hari H." doa Naya tulus.


"Aminn, makasih Nay doanya."


"Iya sama-sama."


"Assalamualaikum Naya."


"Walaikumsalam Eli."


bertepatan dengan itu, Lio keluar dari kamar mandi, hanya melilitkan handuk dipinggangnya, tetes air dari rambutnya yang basah membasahi dada bidangnya yang membuat tubuhnya terlihat seksi.


"Mas, pakai bajunya sana." ujar Naya ketika Lio berdiri didepan cermin rias mengagumi bentuk tubuhnya.


Naya masih tidak mau memandang ke arah Lio, takut imannya tergoda dan nyerang duluan, padahalkan gak apa-apa, gak dosa nyerang suami duluan, sudah sah juga.


"Emang kenapa kalau gue gak pakai baju." tanya Lio santai, dia melihat kearah Naya yang membuang pandangannya, "Ohh, gue tahu, lo takut kalap dan merkosa guekan." goda Lio jail sambil mendekat kearah Naya yang duduk dipinggir ranjang.


"Apaan sieh mas, masak iya aku seganas itu pakai merkosa mas segala."


"Ya gak apa-apa, gue pasrah nieh kalau lo mau ngelakuin hal itu." Lio makin iseng, dia sekarang berdiri tepat didepan Naya.


Naya yang saat ini menunduk, melihat kaki Lio yang telanjang, perlahan dia menaikkan pandangannya dan matanya bertemu dengan mata tajam Lio, hatinya berdesir, mata itu mampu menghipnotisnya.


"Gimana, mumpung gue rela dan pasrah, lo bebas deh *****-***** gue." Lio menaik turunkan alisnya menggoda Naya, Lio suka aja melihat Naya yang malu-malu, sesuatu hal yang jarang mengingat kebanyakan wanita sekarang sudah pada hilang urat malunya.


Wajah Naya memerah mendengar godaan Lio, dia kembali membuang pandangan, gak kuat jantungnya kalau harus menatap mata tajam itu, "Jangan iseng donk mas."


"Suka suka gue donk."


"Ihhh, mas Lio kok menyebalkan gini sieh." Naya membatin.

__ADS_1


"Mas, sana jauh-jauh."


"Kenapa kalau aku disini, inikan kamarku, jadi bebas donk aku mau berdiri dimanapun aku mau." jawab Lio menyebalkan.


"Astagaaa, kenapa mas Lio seneng sieh godain aku sekarang." desah Naya putus asa.


Karna Lio masih betah berdiri dihadapannya, Naya memutuskan dia saja yang pergi, namun ketika dia berdiri, Lio menahan pundaknya, membuatnya terduduk kembali, "Mau kemana."


"Lepasin mas, Naya mau keluar."


Namun Lio sepertinya niat pakai banget menjaili Naya, sehingga dia menekan pundak Naya begitu keras untuk menahan kepergian Naya, "Gak mau pegang-pegang dulu nieh."


Dengan sekuat tenaga Naya mendorong tubuh Lio, tapi celakanya, tangannya gak sengaja narik handuk yang melilit dipinggang Lio, dan alhasil handuk itu jatuh teronggok dilantai memperlihatkan senjata yang ada dibaliknya.


Reflek Naya menjerit, "Aaaakkk." dia langsung berlari keluar kamar dalam dua langkah dia sudah mencapai pintu.


Lio menggeleng geli, "Dasar gadis kampung, masih saja menjerit melihat punya gue." Lio memungut handuknya yang terjatuh dilantai akibat ulah Naya.


****


Begitu diluar pintu, Naya meletakkan tangannya tepat dijantungnya, berusaha menenangkan debaran jantungnya bertalu-talu hebat, "Tenang, tenang." lirihnya dengan nafas ngos-ngosan.


Terdengar derap langkah seperti orang berlari dari arah tangga, gak lama kemudian, bi Dijah dan mbak Wati tiba dengan wajah panik, masing-masing mereka membawa sutil dan juga kemoceng, fikir mereka ada orang jahat yang masuk ke kamar nona majikannya.


"Nona, apa yang terjadi, mana dia rampoknya." mbak Wati melihat kiri kanan mencari sumber penyebab sang nona majikan menjerit histeris.


"Nona jangan takut, kami sudah disini, kami bawa senjata, biar kami hajar orang yang telah membuat nona menjerit ketakutan."


"Ehh." melihat kedua ARTnya heboh seperti itu membuat Naya malu sendiri, ternyata teriakannya membuat orang lain salah paham, dengan agak malu dia menjelaskan, "Itu anu, gak apa-apa kok, cuma ada kesalahpahaman kecil saja dengan mas Lio."


"Ohh, tak fikir ada maling atau apa gitu." lirih mbak Wati lega ternyata tidak terjadi apa-apa dengan nona majikannya.


"Syukurlah, kalau gitu." timpal bi Dijah.


Pintu terbuka dari dalam yang memampangkan tubuh tinggi menjulang Lio dengan pakaian rumahan, "Ada apaan nieh rame-rame didepan kamar gue." Lio bertaya heran melihat dua ARTnya membawa kemoceng dan sutil.


"Gak apa-apa tuan, hanya kesalah pahaman saja, kami permisi dulu kalau begitu tuan muda, nona." ujar Wati berbalik pergi yang diikuti oleh bi Dijah.


Naya juga ikut turun menyusul mbak Wati dan bi Dijah, takutnya Lio kembali menjailinya.


****

__ADS_1


__ADS_2