
"Mbak Wati, mas Lio udah pulang." tanya Naya begitu tiba dirumah.
"Sudah nona, mungkin saat ini tuan muda ada dikamar." jawab mbak Wati.
"Ya udah kalau gitu mbak, Naya ke kamar dulu."
"Nona."
"Kenapa mbak."
"Wajah nona tampak glowing, bersinar kayak matahari, bikin mbak silau." goda mbak Wati.
Naya tersenyum menanggapi candaan mbak Wati, "Mbak Wati bisa saja."
Naya kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar, namun sebelum berhasil mencapai tangga menuju lantai dua, Naya berpapasan dengan Renata mama mertuanya.
"Mama." sapa Naya kikuk, pasalnya mama mertuanya selalu memandangnya dengan sinis dan merendahkan.
"Dari mana saja kamu." tanya Renata ketus.
Matanya kemudian terarah pada tangan Naya yang membawa paperbag belanjaan.
"Naya habis pergi sama Leta ma."
"Shoping."
"Iya."
Renata tersenyum sinis memandang Naya, "Kamu pasti tidak pernah menduga kalau gadis kampung dan miskin seperti kamu dinikahi oleh pewaris tunggal kekayaan keluarga Rasyad." Renata memandang Naya dengan pandangan merendahkan, "Begitu sangat banyak wanita cantik, anggun, berkelas diluar sana yang mengejar-ngejar putraku, wanita yang sepadan yang seharusnya sebagai menantu keluarga Rasyad, putraku yang malang, dia malah menikahi gadis miskin dan kucel kayak kamu."
Naya hanya bisa menunduk, dia berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh, dari awal dia memang tahu kalau mama mertuanya tidak pernah menyukainya sama seperti putranya yang juga tidak menyukai Naya, baik mama Renata dan Lio menerima Naya dengan terpaksa.
Renata kembali melanjutkan ucapannya, "Dan sekarang, kamu menghambur-hamburkan uang anakku, bersenang-senang membeli ini itu, bisa dimaklumi, kamu dan keluargamu adalah orang miskin yang berfikiran untuk memanfaatkan Lio untuk menaikkan derajat kalian, tapi jangan harap itu terjadi, kubur angan-anganmu dan keluargamu itu dalam mimpi."
__ADS_1
Kalau dirinya yang dihina, Naya masih bisa menahannya, tapi kalau keluarganya yang dihina, tentunya Naya tidak bisa hanya diam saja, dia membalas, "Ma, keluarga Naya tidak serendah yang mama fikirkan, meskipun kami miskin, kami tidak pernah minta-minta, apalagi memanfaatkan keluarga kalian hanya untuk menaikkan status sosial kami."
"Ohh, kamu fikir saya percaya dengan ocehan kamu, dasar gadis munafik." tandasnya.
Setelah menyakiti hati menantunya sedemikian rupa, Renata berlalu tanpa merasa bersalah sedikitpun, meninggalkan Naya yang hatinya tersayat dan terluka.
Bulir-bulir bening kristal merembas membasahi pipi Naya, dengan kasar Naya menghapusnya sebelum melanjutkan perjalanannya menuju kamarnya.
"Asyik banget ya jalan-jalannya sampai suami dilupain." teguran yang menyapa gendang telinga Naya begitu dirinya memasuki kamar.
Naya tidak menggubris ucapan Lio, dia meletakkan paperbag belanjaannya didekat tempat tidur, tanpa mempedulikan Lio, Naya melewati Lio menuju kamar mandi, menyalakan keran dan dia mulai menangis sesenggukan untuk meredakan rasa sakit hatinya, bagi seorang wanita, menangis merupakan salah satu cara untuk mengurangi rasa sakit.
Sementara itu Lio yang dicueki oleh Naya tentu saja bingung, karna tidak seperti biasanya Naya begitu, pada akhirnya Lio berfikir positif dengan mengatakan dalam hati, "Dia capek kali, yang dibutuhkan adalah mandi untuk mengembalikan moodnya."
Namun ketika setengah jam berlalu Naya masih belum juga keluar, Lio agak khwatir, karna setahunya Naya gak pernah mandi sebegitu lamanya, paling lama sepuluh menit doank, hal itu mendorong Lio untuk mencari tahu apa yang terjadi,
Tok tok, Lio mengetuk pintu kamar mandi, "Naya, apa lo baik-baik saja." gak ada sahutan dari dalam, "Naya, jawab gue." masih belum ada sahutan, sehingga Lio menggedor pintu kamar mandi dengan cukup keras, "Naya, lo baik-baik sajakan, buka pintunya sekarang."
"Habis ngapain sieh lo didalam, gue gedor-gedor gak lo tanggapin." Lio ngomel.
"Maaf." hanya itu yang kalimat yang dilontarkan Naya dan berjalan kearah tempat tidur.
Lio mengikuti Naya, agak heran dengan sikap Naya, "Lo kenapa, apa gue ada salah sama lo, tapi setahu gue gak ada deh, lokan baru balik dan gue juga baru balik, jadi gue gak punya kesempatan buat ngelakuin kesalahan."
"Mas, bisa gak diam, Naya mau istirahat." Naya memejamkan mata.h
"Padahal gue mau minta pijit, lo malah mau tidur." gerutu Lio.
****
Dan setelah sholat tahajjud dan berdoa kepada yang maha kuasa, Naya bisa sedikit melupakan rasa sakit hatinya akibat ucapan mama mertuanya kemarin, dia memilih melupakan kata-kata mutiara yang dilontarkan mama mertuanya, karna yang paling penting adalah dia tidak seperti yang difikirkan oleh mama Renata, dia tidak bangga menikah dengan Lio, dia menikah hanya karna untuk menolong kedua orang tuanya dari lilitan hutang dari rentenir.
Lio saat ini tengah berada dikamar mandi, sementara itu Naya tengah menyiapkan pakaian kerja suaminya, gak lama Lio keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian yang telah disiapkan Naya untuknya.
__ADS_1
"Mas." tegur Naya.
"Hmmm." tanpa melihat kearah Naya dan tetap berfokus pada cermin.
"Kemarin pas Naya pergi sama Leta, Naya membelikan mas Lio sesuatu."
Lio tidak bertanya apa yang dibelikan Naya untuknya, sampai Naya mendekatinya.
"Mas, buka telapak tangannya."
"Lo gak lihat gue lagi sibuk ngancingin kemeja gue."
Naya menunggu sampai Lio mengancingkan kancing terakhir dan dia kembali mengulangi permintaannya, "Mas, buka tangannya."
"Buat apa sieh."
"Buka saja."
Lio menuruti keinginan Naya, Naya meletakkan dua jepit rambut kecil ditelapak tangan Lio yang terbuka, Lio bergantian menatap jepit rambut ditangannya dan kemudian menatap kearah Naya, tatapannya mengandung pertanyaan yang kalau diartikan artinya begini, "Ini untuk apa."
Naya yang mengerti makna tatapan mata Lio menjelaskan, tapi terlebih dahulu dia mengambil satu jepitan kecil itu, dengan sedikit berjinjit Naya menyibakkan rambut Lio yang menutupi jidat Lio, dan Naya menjepit rambut itu kesamping, "Supaya pandangan mas tidak terhalang oleh rambut mas yang hampir menutupi mata."
Lio langsung menarik jepitan itu dari rambutnya, "Apaan sieh lo, gue gak butuh benda konyol beginian." langsung membuang jepitan itu dilantai.
Naya menjadi panas melihat benda pemberiannya dibuang begitu saja, "Ya udah terserah mas." ujarnya marah, balik badan dan keluar dari kamar dengan membanting pintu dengan keras.
Lio sampai mengusap dadanya saking kagetnya.
Diluar Naya merutuk, "Dasar suami durhaka, tidak pernah menghargai pemberian istri.
****
E
__ADS_1