Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
MAS LIO KENAPA


__ADS_3

Saat Lio memasuki kamar, dia tidak menemukan Naya disana, tapi suara gemiricik air dari dalam kamar mandi memberitahunya kalau Naya saat ini tengah berada disana.


Lio meletakkan nampan berisi segelas susu dan camilan yang dibawanya dinakas samping tempat tidur.


Lio mengendurkan dasinya dan melepas jasnya, bertepatan dengan itu, Naya membuka pintu kamar mandi dan menemukan Lio yang tengah duduk ditepi tempat tidur, Lio juga langsung mengarahkan bola matanya saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, dan untuk sesaat mereka bersitatap, dan tatapan itu mampu menciptakan desiran-desiran aneh dihati keduanya.


"Kenapa Naya jadi tiba-tiba jadi cantik begini seih, apa karna dia saat ini tengah mengandung anakku ya." Lio membatin dan tidak sadar dia tersenyum.


Hal itu membuat Naya heran dan bertanya-tanya dalam hati, "Kenapa sieh mas Lio, senyum-senyum gak jelas begitu, aneh, kesambet apa dia."


"Mas sudah pulang." tanya Naya hanya sekedar basa basi sekaligus memutus kontak mata antara mereka berdua.


Naya kemudian berjalan ke arah meja rias untuk mengaplikasikan skincare rutin yang beberapa minggu ini sering dilakukannya yang membuat wajahnya glowing.


"Iya." jawab Lio tidak lepas memandang Naya, meskipun saat ini tengah membelakangi suaminya itu, namun tatapan mereka bertemu dicermin, Naya merasakan ada yang aneh dari tatapan suaminya, aneh dalam artian bagus sieh memang, karna menurut Naya tatapan Lio begitu lembut dan yahh itu membuat hati Naya berdesir, makanya Naya buru-buru menunduk, pura-pura membuka botol tonernya, Naya tidak mau lama-lama memandang Lio karna itu bisa membuatnya salting.


"Tadi aku ketemu sama mbak Wati dibawah untuk membawakan kamu susu dan camilan, sekalian ke kamar ya aku saja yang bawa." beritahu Lio masih menatap cermin sedangkan Naya masih pura-pura dengan aktifitasnya.


"Ohhh." balasnya karna tidak tahu merespon apa.


Lio berdiri dan berjalan mendekati Naya, dorongan untuk berdekatan dengan bayi yang ada dalam perut Naya begitu kuat.


Melihat Lio mendekatinya, Naya buru-buru menghentikan, "Mas, jangan deket-deket."


Lio langsung menghentikan langkahnya, dia lupa kalau Naya tidak suka dengan aroma tubuhnya, tapi dia ingin banget sumpah berada dekat dengan bayinya, dia ingin mengelus perut Naya dan menciumnya, dia hanya ingin menyapa dan mengatakan "Hai anakku, ini ayah, ayah tidak sabar ingin bertemu dengan kamu." tapi ya keinginan itu harus dipendam.


"Dedek bayi apa kabarnya, apa dia baik-baik saja didalam sana." karna dia tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan, makanya dia hanya bertanya.


Naya reflek mengelus perutnya dibalik baju tidurnya, "Hmmm, baik." jawabnya singkat karna selain muntah-muntah dipagi hari sik bayi memang tidak berulah dan merepotkannya.


"Syukurlah." gumam Lio, "Kamu harus banyak makan sayur dan buah-buahan Nay, itu bagus untuk ibu hamil."


"Iya." lisan Naya, dalam hati berkata, "Mas Lio kenapa sieh sebenarnya, kenapa dia jadi aneh begini, tadi senyum-senyum, sekarang perhatian." sebenarnya apa yang dilakukan oleh Lio sesuatu hal yang wajar, wajar kalau itu suami yang mencintai istrinya, kalau laki-laki yang selama ini tidak mencintainya dan berniat menceraikannya tentu saja itu menjadi hal yang tidak wajar menurut Naya.


Lio melihat krim malam yang disering digunakan oleh Naya tinggal sedikit, dia berkata, "Sepertinya produk skincare kamu sudah mau habis, besok kalau aku ada waktu kita pergi beli ya."


"Apa sieh sebenarnya yang terjadi dengan mas Lio, beneran kesambet kali dia." bertambah heranlah Naya dengan perubahan mendadak suaminya.


"Hmmm, itu tidak perlu mas, Naya bisa pesan lewat online shop saja agar praktis." tolak Naya.

__ADS_1


"Ohhh." gumam Lio, dia terlihat sedikit kecewa.


"Itu susunya, jangan lupa diminum."


"Iya."


"Dan jangan makan sembrang cemilan, itu tidak sehat, nanti aku belikan cemilan yang sehat untuk ibu hamil ya."


Setelah mengatakan hak itu, Lio berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Gak lama kemudian Lio keluar dan sudah berganti dengan pakain tidur, sedangkan Naya tengah asyik dengan ponsel pintarnya, melihat Naya asyik dengan ponselnya, Lio menegur, "Jangan main HP terus Nay, kamu lebih baik tidur, tidur cukup akan berpengaruh untuk kesehatan kamu dan sik dedek bayi."


Naya langsung menurunkan ponselnya.


"Lebih baik minum susunya sekarang, nanti kalau sudah dingin tidak enak."


"Hmmm." gumamnya tanpa berniat untuk membantah.


Naya meminum susu hamil yang dibawakan oleh Lio sampai tandas.


"Kamu sepertinya doyan minum susu, besok aku belikan satu dus." sejak tadi Lio menawarkan membelikan Naya ini itu, tapi selalu ditolak oleh Naya.


Penolak Naya membuat Lio tanpa sadar mendesah kecewa.


"Apa sik bayi merepotkan kamu Nay."


"Gak, hanya dia tidak suka berada didekat kamu." tandas Naya.


Lio kok kesal ya mendengar kalimat Naya tersebut, bagaimana tidak kesal, bayinya terlihat tidak apa-apa berdekatan dengan laki-laki lain, kenapa dengan dirinya sik bayi seolah-olah tidak suka.


Lio menatap Naya.


"Kenapa sieh mas natap Naya terus, ada sesuatu ya diwajahku." otomatis Naya mengelap wajahnya dengan tangan.


"Gak ada apa-apa, aku hanya ingin mandang kamu saja."


"Ihhh apaan sieh mas, gak jelas." setelah mengatakan hal itu, Naya tidur dan menarik selimut sampai batas leher.


"Mas, mas juga sebaiknya tidur, besokkan mas kerja."

__ADS_1


"Nayy."


"Tidur mas." 


Mengabikan ucapan Naya, Lio berkata, "Boleh gak aku tidur sama kamu."


"Apaan sieh mas."


"Aku hanya ingin dekat dengan bayiku Nay." akhirnya tercetuslah kalimat tersebut dari bibirnya tanpa bisa direm.


"Mas lagi sakit atau gimana." heran Naya karna sejak tadi menurut Naya gelagat suaminya itu agak aneh, agak keluar jalur dari biasanya yang bisa dibilang tidak pedulian, "Mas lebih baik tidur, biar fress fikirannya kalau bangun besok agar gak ngaco lagi omongannya."


Lio hanya mendesah berat, dia memaklumi ucapan Naya, fikirnya Naya pasti heranlah dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah kayak gini setelah selama ini dia selalu bersikap tidak peduli sama Naya.


****


Jam sudah menunjukkan angka 11.30, tapi Leta sampai saat ini masih belum bisa memejamkan matanya, dia terus kefikiran sikap Boy yang berubah drastis saat pulang dari rumah kediaman keluarga Rasyad setelah mereka mengunjungi Naya, sepanjang perjalanan mengantarkan Leta pulang, cowok itu lebih banyak diam dan pandangannya juga terlihat kosong.


Leta ajak ngobrol hanya diabaikan, dia hanya memberi jawaban 'Hmm' 'Iya' atau 'Oh', hal itu tentu saja membuat Leta bertanya-tanya pada diri sendiri apakah dia dengan tidak sengaja membuat Boy tersinggung atau bagaimana, dan setelah diingat-ingat Leta merasa tidak pernah merasa menyinggung perasaan Boy.


"Boy kenapa sieh." tanyanya bingung, apalagi chatnya tidak ada yang dibalas oleh Boy satupun, itu membuat Leta yang menaruh hati sama Boy semakin gegana.


Tidak tahan dengan rasa penasarannya, Leta meraih ponselnya dan berniat menelpon.


Saat panggilan terhubung terdengar suara berat dari seberang, "Asatagaa Leta, jam berapa ini, kenapa kamu nelpon tengah malah buta begini."


Lha, kok Leta malah menelpon Rafa kakaknya, bukannya menelpon Boy. Iya Leta menelpon Rafa karna ingin bertanya sama kakaknya itu, karna fikir Leta, kakaknya laki-laki dia pasti tahu penyebab kenapa sikap laki-laki tiba-tiba berubah drastis begitu, dan tanpa mengindahkan protes sang kakak, Leta mulai menanyakan penyebab kegundahan hatinya, "Kak, menurut kakak, kalau tiba-tiba laki mendiamkan kita hanya menjawab singkat saat diajak ngobrol, dan dia tidak mau membalas chat kita, itu artinya apa kak."


Bukannya mendapat jawaban, Leta malah mendengar suara dengkuran keras kakaknya, sepertinya Rafa kembali tidur tidak berminat jadi pendengar curhatan adik semata wayangnya yang saat ini tengah dalam mode galau gara-gara laki-laki.


Mendengar suara dengkuran kakaknya, membuat Leta dongkol setengah mati, "Ihhhh kakak, tega banget sieh sama adiknya sendiri." omel Leta langsung mematikan sambungan.


"Dasar kakak tidak berguna." umpatnya memandang ponselnya dongkol seolah-olah itu adalah kakaknya.


"Apa lebih baik gue telpon Boy saja kali ya, gue tanyakan secara langsung." Leta terlihat mempertimbangkan.


"Ahh iya, sebaiknya gue telpon dia saja ketimbang gue penasaran seperti ini." Leta akhirnya memilih untuk menghubungi Boy saja untuk mengkonfirmasi penyebab perubahan sikap Boy kepadanya.


****

__ADS_1


__ADS_2