Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
PERTENGKARAN DIMEJA MAKAN


__ADS_3

Pagi itu dimeja makan kediaman keluarga Rasyad.


"Lho, kakek fikir kalian nginep dihotel semalam." tanyanya kakek Handoko saat melihat Lio dan Naya memasuki ruang makan.


Mama Renata yang tengah menyantap roti panggangnya monoleh sesaat, karna malas berlama-lama memandang wajah Naya, dia kembali memalingkan wajahnya yang masam.


Lio menarik kursi untuk Naya seperti yang dia lakukan semalam, "Duduk Naya."


Naya tersenyum, "Terimakasih mas."


Lio benar-benar memperlakukan istrinya bak ratu sekarang, selalu memanjakan Naya dan menuruti semua keinginannya.


Mama Renata mendengus kasar melihat adegan manis yang dilakukan oleh putranya kepada Naya, "Perlu apa gadis kampung itu diperlakukan bak ratu begitu."


Lio kemudian duduk disamping Naya dan barulah dia menjawab pertanyaan kakeknya, "Lio seih inginnya nginep kek, tapi Naya maksa pulang, katanya dia tidak bisa tidur kalau tidak ditempat tidur sendiri."


"Walahh kamu itu ya Naya, persis seperti almarhum neneknya Lio, istriku itu tidak pernah mau kalau diajak pergi kalau sampai harus menginap. Memang benar ya ternyata kata orang, semewah-mewahnya rumah orang ataupun hotel, tapi jauh lebih nyaman dirumah sendiri."


"Iya kakek, rasanya gak nyaman gitu kalau tidur ditempat yang bukan tempat tidur kita." ucap Naya.


Kakek Handoko terkekeh mendengar ucapan Naya.


"Dasar udik." umpat mama Renata dalam hati.


"Dan demi kenyamanan istriku tecinta ini, aku rela nyetir malam-malam untuk balik lagi ke rumah." Lio mengelus punggung tangan Naya yang tergeletak diatas meja dan hal itu tidak luput dari perhatian mama Renata, matanya membulat sempurna melihat cincin cantik yang tersemat dijari manis Naya, Naya saja tahu saat pertama kali melihat kalau cincin yang dihadiahkan Lio untuknya itu adalah cincin mahal, apalagi mama Renata yang jelas-jelas sering keluar masuk toko perhiasan dan memiliki simpanan segudang perhiasan dikamarnya, dia sudah pasti sangat tahu kalau cincin yang dipakai oleh menantunya itu adalah cincin dengan harga fantastis.


"Lio membelikan gadis kampung cincin dengan harga selangit, astagaa." kepala mama Renata jadi pusing seketika, dia memijit keningnya, "Anak ini ternyata benar-benar sudah dibuat cinta mati sama sik gadis kampungan ini, bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan, kalau sudah begini, akan susah bagiku untuk mempengaruhi Lio untuk kembali bersama dengan Cleo."


"Pagi bunda, pagi ayah, pagi kakek buyut, pagi nenek." sapa Bulan yang baru memasuki ruang makan, gadis kecil itu sudah rapi dengan seragam TKnya, mbak Wati mengukutinya dibelakang, rencananya pagi ini mbak Watilah yang akan menemani Bulan pergi kesekolah dan menunggunya sampai pulang.


"Pagi sayang." sapa Naya dan Lio bersamaan.


Dibantu oleh mbak Wati, Bulan duduk disamping Naya.


"Nona kecil mau sarapan apa." tanya mbak Wati.


"Bulan mau sarapan roti saja mbak Wati."


"Baiklah nona kecil, akan mbak ambilkan." setelah mengambilkan ini itu untuk majikan kecilnya, mbak Wati kembali ke belakang untuk mempersiapkan bekal yang akan dibawa oleh Bulan ke sekolah.


"Cucuku ini cantik sekali, mau ke sekolah ya."


"Iya kakek buyut."


"Bagaimana disekolah."


"Seru kakek, ibu gurunya baik, namanya bu Nani, bu Nani nyuruh kami perkenalan satu-satu didepan kelas, bu Nani juga ngajarin kami nyanyi, Bulan juga punya teman baru namanya Leon, Leon itu baik deh, dia ngajak Bulan untuk main ke rumahnya, tapi karna baru kenal Bulan gak mau, Leon juga bilang katanya dia punya kucing, nama kucingnya Tiger, kata Leon kucingnya laki-laki." curhat gadis kecil itu antusias menceritakan kegiatan hari pertamanya masuk sekolah.


Semua orang mendengarkan gadis kecil itu bercloteh tanpa menyela dan terlihat senang mendengar Bulan bercerita, kecuali mama Renata yang sejak semalam suasana hatinya buruk dan bertambah buruk saat melihat cincin mahal dijari tangan Naya, dan kini mama Renata dibuat migren mendengar ocehan Bulan, sehingga dia tidak bisa menahan kejengkelannya lagi sehingga bibirnya reflek membentak cucu angkatnya tersebut, "Bisa diam gak kamu, kita tidak perlu mendengar ocehan tidak pentingmu itu, mengganggu ketenangan orang yang lagi sarapan saja."


Bulan langsung terdiam saat mendengar bentakan mama Renata, gadis kecil itu kelihatan ketakutan dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan kakek Handoko dan Lio memandang mama Renata tajam.


Naya yang mendengar Bulan dibentak merasakan hatinya sakit, menurut Naya, tidak seharusnya mama Renata membentak Bulan begitu, kalau tidak mau mendengar clotehan polos Bulan tentang kegiatan sekolahnya mama Renatakan bisa ngomong baik-baik. Naya merangkul Bulan yang duduk disampingnya untuk menenangkannya karna dilihatnya anak angkatnya itu ingin menangis, "Jangan menangis sayang, nenek tidak marahin Bulan kok." bisiknya.


"Renata, apa-apaan sieh kamu ini, tega-teganya kamu membentak Bulan seperti itu, kalau kamu tidak suka mendengar apa yang diceritakan oleh Bulan, kamu bisa pergi." kakek Handoko jelas marah sama putrinya itu.


Lio tentu saja juga marah karna sikap mamanya yang menurutnya terlalu berlebihan, "Mama sebenarnya ada masalah apa sieh sama Bulan sampai ngebentak begitu, padahal Bulan hanya bercerita, dia tidak mengganggu mamakan." suara Lio meninggi.


"Kalian bela saja gadis kecil yang hanya numpang dirumah kita ini, salahin saja terus aku, padahal dia cuma gadis yang pungut dari panti asuhan, tapi kalian memperlakukannya bak putri kecil dan memberikan segalanya untuknya, sedangkan aku yang anggota keluarga sah dikeluarga Rasyad terus kalian salahkan." mama Renata meradang, dia tidak terima disalahkan.


"Renata, tutup mulutmu." suara kakek Handoko meninggi, dia tidak suka mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya itu, "Kamu bisanya hanya menyakiti hati orang saja tanpa memikirlan perasaan orang tersebut."


"Ssstttt." Naya berusaha menenangkan Bulan yang mulai sesenggukan, jelas saja Bulan ketakutan melihat orang bertengkar didepannya.


"Salahkan saja terus Renata pa, memang Renata tidak pernah benar, selalu salah dimata papa." dengan emosi mama Renata berdiri dan meraih tasnya, "Dan kamu Lio, bisa-bisanya kamu ngebentak mama yang telah melahirkan dan membesarkanmu hanya gara-gara anak pungutmu itu yang tidak jelas asal-usulnya." setelah mengatakan hal tersebut, dengan menghentakkan kakinya mama Renata meninggalkan ruang makan dengan emosi menguasai hatinya.


"Bundaaa, hiks hiks, Bulan takut bunda." Bulan sesenggukan dipelukan Naya.


"Ssstt, sudah sayang tidak apa-apa, jangan menangis ya." Naya menghibur.


Kakek Handoko hanya menggeleng melihat kelakuan putri tunggalnya itu, "Anak itu, tidak pernah berubah, selalu marah-marah tidak jelas, untungnya kamu mewarisi sifat almarhum papa kamu Lio."


Lio hanta memandang kepergian mamanya, suara isakan Bulan mengalihkan perhatiannya.


"Bulan sayang, sudah ya jangan menangis lagi, kalau nangis nanti cantiknya hilang lho."


"Nenek tidak suka ya ayah dengan Bulan, kok nenek ngebentak Bulan, nenek juga sering marahin Bulan." cetus anak itu dengan polosnya.


Naya yang menjawab, "Siapa bilang nenek tidak suka sama Bulan, nenek itu sebenarnya sayang sama Bulan."


"Kalau sayang kenapa ngebantak Bulan bunda."


"Itu karna nenek lagi sakit sayang, kamu lihatkan tadi dia memijit kepalanya, karna sakit nenek jadi gampang marah." bohong Naya, dia hanya tidak mau menanamkan rasa benci dihati Bulan kepada mama mertuanya meskipun dia sangat sakit hati mendengar Bulan dibentak.

__ADS_1


"Lio, kamu sebaiknya antar Bulan sekolah sekarang, kakek yakin kalau dia bertemu dengan teman-temannya dia akan terhibur." perintah kakek Handoko.


Lio mengangguk, "Baik kakek."


"Ayok sayang, papa antar."


"Iya papa."


Diiringi oleh Naya, mereka keluar menuju mobil yang sudah terparkir didepan halaman.


****


Brakkk


Mama Renata membanting tas mahalnya dimeja kerjanya, dia benar-benar dibuat emosi, gara-gara anak pungut itu dia sampai bertengkar dengan papanya dan putranya, "Tidak hanya gadis kampung itu yang akan aku singkirkan, tapi anak pungut itu juga harus keluar dari kediaman keluarga Rasyad, tikus-tikus seperti mereka tidak pantas tinggal diistana mewah, mereka lebih pantas tinggal digorong-gorong pembuangan air." geramnya menggebrak meja kerja sehingga benda yang terbuat dari kayu itu bergetar beserta apa yang ada di atasnya.


"Ohh ya masalah cincin itu, Cleo harus tahu." mama Renata meraih tasnya untuk mencari ponselnya untuk menghubungi Cleo.


Tidak butuh waktu lama bagi Cleo untuk menjawab panggilannya.


****


Pagi itu Cleo terbangun karna merasakan gejolak yang begitu kuat diperutnya, sesuatu seperti terdorong ingin keluar dari dalam, Cleo langsung berlari ke kamar mandi mengeluarkan isi perutnya yang meronta-ronta ingin dikeluarkan.


Hoek


Hoek


Cleo memegang perutnya, "Apa yang terjadi denganku, apa aku salah makan semalam." tanyanya pada diri sendiri sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya, beberapa detik kemudian,


Hoek


Hoek


Cleo kembali muntah-muntah hebat.


Cleo seperti tidak memiliki tenaga karna isi perutnya terkuras habis, tubuhnya terasa lemah tidak bertulang, dia hanya bersandar didinding toilet karna kakinya tidak mampu menopang badannya, karna merasa tidak sehat, dia berencana ke rumah sakit.


Saat seperti itu dia mendengar ponselnya berdering dari dalam kamar, dengan berpegangan pada dinding kamar mandi, Cleo mencoba berdiri dan berjalan ke dalam kamar untuk menjawab panggilan yang entah dari siapa.


"Tante Renata." gumamnya begitu melihat nama sik penelpon tertera dilayar.


Itu membuat Cleo sedikit lebih baik karna berfikir kalau mama Renata menelponnya membawa kabar baik.


Saat dia akan mengucapkan 'Halo' lebih dulu terdengar nada panik dari seberang.


"Gawat apa maksud tante." bingung Cleo saat mendengar ucapan mama Renata.


"Lio..."


"Lio kenapa tante."


"Kamu tahu tidak kalau anak itu semalam telah merayakan ulang tahun istri kampungannya itu, dan kamu tahu tidak Cleo hadiah apa yang diberikan oleh Lio kepada gadis kampung itu."


"Apa tante."


"Sebuah cincin berlian yang sangat mahal."


"Hah, serius tante, Lio ngasih cincin mahal untuk hadiah gadis kampung itu."


"Dan kamu tahu tidak itu artinya apa."


"Apa tante."


"Itu artinya anak bodoh itu benar-benar mencintai gadis kampungan itu, kalau sudah begini, tante rasa akan sangat mustahil untuk mempengaruhi anak itu, kamu harus turun tangan Cleo, lakukan sesuatu, buatlah Lio kembali jatuh cinta sama kamu."


"Tante, aku tidak akan membiarkan Lio mencintai gadis kampung itu, baiklah Cleo akan turun tangan dan mengeluarkan kemampuan terbaikku untuk membuat Lio jatuh kepelukanku kembali tante."


"Bagus, lakukan dengan baik Cleo, meskipun itu mustahil, tapi tante juga akan tetap berusaha untuk membantu kamu."


Setelah percakapan itu, mereka mengakhiri panggilan.


"Apa sieh yang telah gadis kampung itu lakukan sama Lio, kok bisa-bisanya Lio lebih memilih dia daripada aku." Cleo bertanya-tanya pada diri sendiri, dan jelas sampai kiamatpun dia tidak akan mengetahui jawabannya kalau dia tidak bertanya sama Lio.


"Pokoknya, aku tidak ingin kehilangan Lio, Lio harus menjadi milikku seutuhnya." senyumnya sinis.


Hoek


Hoek


Senyum sinis itu harus sirna karna dia kembali muntah-muntah.


*****

__ADS_1


Sementara itu dikampus, Leta yang saat ini tengah berniat ke kantin kebetulan bertemu dengan Boy dan kedua teman barunya yaitu Aldo dan Alvin.


Leta bisa melihat kalau wajah Boy terlihat kuyu, kondisi itu menjelaskan kalau Boy masih patah hati sama seperti Leta, Leta bertambah patah lagi karna dia harus berhadapan dengan Boy, laki-laki yang membuatnya patah hati dan menangis semalaman.


Karna tidak mengetahui kalau Leta patah hati gara-gara dirinya, Boy tetap menyapa begitu melihat Leta, intinya Boy tetap menganggap Leta sebagai temannya.


"Hai ta." sapanya berusaha terdengar ceria.


"Hai Boy." jawab Leta berusaha untuk tersenyum, tapi senyumnya itu terlihat kaku, "Hai Aldi, hai Alvin." Leta juga menyapa kedua teman Boy itu.


"Hai ta." balas Alvin dengan penuh semangat, laki-laki itu memang mengincar Leta, "Kamu mau ke kantin ta."


"Iya."


"Ya udah gabung saja sama kita." tawar Alvin.


"Mmmm, gak usah Vin, aku...."


"Gabung sama kami saja Ta." sela Boy, "Lagiankan kamu sendiri, emang enak makan sendiri."


"Kalau aku ikut bergabung dengan kamu Boy, itu hanya membuat hatiku semakin sakit saat melihatmu lebih lama, aku tidak sanggup melihat matamu yang memancarkan cinta untuk Naya." keluhnya dalam hati.


"Sudah jangan kebanyakan mikir gitu Ta, ayok gabung sama kita saja." seru Aldo, "Kalau lo menolak, ntar sik Alvin sedih lagi."


"Alvin kayaknya suka sama gue, kenapa gak gue manfaatin saja untuk membuat Boy cemburu, siapa tahu nanti hatinya terbuka begitu melihat temennya ini mendekatiku." atas pemikiran tersebut, Leta akhirnya mau bergabung dengan Boy dan teman-temannya.


Mereka duduk mengeliling meja bundar dengan pesanan masing-masing didepan mereka.


"Oh ya Ta, Naya apa kabarnya." Boy sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menghubungi Naya lagi, dan benar saja, selama beberapa hari ini dia memang tidak pernah menghubungi Naya, tapi dia penasaran juga ingin tahu kabar Naya, oleh karna itu Boy bertanya dari teman dekatnya yaitu Leta.


Ukhuk


Ukhuk


Leta yang mendengar pertanyaan tersebut tersedak, hatinya terasa sesak.


"Minum ta minum." Alvin terlihat khawatir, dia menyodorkan gelas berisi es teh untuk Leta untuk membuat tenggorokannya lega.


Setelah tenggorokannya dialiri oleh minuman berwarna coklat kemerahan itu barulah Leta menjawab, "Gue gak tahu." dengan nada ketus, dia tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya.


"Masak lo gak tahu, bukannya lo temannya."


"Ya terus."


"Ya seharusnya lo tahu donk keadaan Naya."


"Kami tidak pernah berkomunikasi."


"Ohhh."


"Sadar donk Boy, Naya sudah punya suami, dia tidak mungkin kamu miliki." kata-kata yang hanya bisa dia ucapkan dalam hati.


"Ta."


Panggilan lembut dari Alvin itu mengalihkan perhatian Leta.


"Kenapa Vin." tanya Leta, Leta bisa melihat dengan jelas kalau Alvin menyukainya, itu terlihat dari bola matanya.


"Hmmmm." Alvin terlihat ragu.


"Kenapa Vin." Leta mengulangi pertanyaannya.


Namun sepertinya Alvin terlalu malu untuk mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan sampai Aldo yang gemas mewakili Alvin untuk bicara tanpa diminta.


"Alvin ingin minta nomer lo Ta."


Dari bawah meja Alvin menginjak kaki Aldo.


"Awhhh." Aldo mengaduh tertahan karna Alvin menginjak kakinya dengan cukup kuat, "Dasar teman laknat, sudah gue bantuin untuk ngomong malah nginjak kaki gue lagi, bener-bener tidak tahu terimakasih." Aldo membatin dengan mata melirik Alvin kesal.


"Ohh minta nomer gue ya." lewat ekor matanya Leta melirik Boy untuk mengetahui reaksi laki-laki tersebut, Leta harus kecewa karna Boy terlihat biasa saja, "Boleh kok, boleh banget malah." Leta pura-pura terlihat antusias, tujuannya apalagi hanya ingin membuat Boy cemburu, tapi sayangnya Boy yang memang belum move on dengan Naya sama sekali tidak terpengaruh dengan Leta dan Alvin yang saat ini berniat saling tukar nomer ponsel.


"Beneran boleh Ta." Alvin memastikan.


"Iya boleh." Leta kemudian menyebut sederet angka dan begitu juga sebaliknya yang dilakukan oleh Alvin.


"Aku boleh mengghubungi lokan Ta."


"Hmmm." gumamnya tidak semangat karna mengetahui hal tersebut tidak ada ngaruhnya sama Boy, laki-laki itu terlihat biasa tidak tampak cemburu sama sekali.


"Cie cie yang sudah dapat nomer gebetan." Aldo menggoda, "Bentar lagi kayaknya bakalan ada yang melepas status jomblo nieh."


"Apaan sieh lo Do." Alvin mesem-mesem digoda sama temannya itu.

__ADS_1


****


"


__ADS_2