Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
BERTEMU WAHYU


__ADS_3

"Makasih ya Boy karna ngajakin gue dan mbak Naya nonton." ucap Leta begitu turun dari mobil Boy saat tiba didepan rumahnya.


"Sama-sama Ta." balas Boy sembari tersenyum dan senyum itu yang selalu berhasil membuat Leta terpesona.


"Tolong antar mbak Naya pulang dengan selamat ya." pesannya melirik ke arah Naya yang duduk dikursi belakang.


"Lo tenang saja Ta, Naya aman sama gue."


"Gue percaya sama lo."


"Gue masuk dulu kalau gitu." pamitnya, "Mbak Naya, aku masuk dulu ya."


"Ohhh iya mbak, sampaiin salam buat mas Rafa ya."


"Mas Rafakan tidak tinggal disini mbak."


"Ohh iya, lupa aku."


"Ya udah, hati-hati ya Boy, jangan ngebut-ngebut."


"Pasti."


"Bye." Leta melambaikan tangan dan masuk ke rumahnya.


Naya membalas lambaian tangan Leta dengan mata mengiringi kepergian Leta.


"Naya." panggil Boy begitu Leta sudah tidak terlihat.


"Iya mas."


"Duduk didepan donk."


"Naya disini saja mas."


"Duhh, aku kesannya kayak sopir lho kalau kamu duduk dibelakang gitu Nay."


"Tapi...."


"Aku orang baik lho Nay, sumpah aku tidak akan ngapa-ngapain kamu."


Naya tahu sieh Boy orang baik, dia hanya risih gitu duduk berdua didekat laki-laki yang tidak terlalu dikenalnya, meskipun Boy bersikap ramah dan bersahabat padanya, namun mereka tidak bisa dibilang berteman karna ini adalah pertemuan mereka yang kedua kalinya.


"Ayok Nay pindah ke depan." desak Boy karna melihat Naya belum bergerak juga.


"Mmm, ya udah deh kalau gitu." ujar Naya setelah berfikir beberapa saat.


Naya membuka pintu mobil dan duduk dikursi penumpang didekat Boy.


Boy kembali menjalankan mobil untuk mengantar Naya pulang.


"Nayy."


"Iya mas."

__ADS_1


"Kenapa setiap aku chat tidak kamu pernah balas."


"Ehhh itu, Naya sibuk mas, makanya gak sempat balas." bohongnya, padahalkan memang dia sengaja tidak mau balas, iyalah, sudah jadi istri orang masak iya balas chat cowok lain.


"Ohh gitu." gumam Boy tidak percaya, "Kamu sibuk apa memangnya." cecarnya.


"Sibuk selvi mas." jawabnya ngasal.


Karna bisa dibilang Naya tidak pernah sibuk dirumah besar milik keluarga suaminya, dia hanya bantu-bantu sedikit, dan itupun dengan hebohnya kedua ART yaitu bi Darmi dan mbak Wati melarangnya membantu, kata kedua ART itu bahwa dia adalah nyonya, dan nyonya seharusnya hanya duduk dan terima jadi, walaupun ada yang dia lakukan dengan full adalah palingan adalah membujuk kakek Handoko minum obat, karna kalau bukan Naya yang membujuk laki-laki tua itu susah untuk disuruh minum obat.


"Hahaha." jawaban Naya itu membuat Boy tertawa.


"Ehhh, mas kenapa tertawa."


"Habisnya kamu lucu sieh, masak selvi dibilang sibuk, cari-cari alasan saja, bilang saja kamu malas membalas pesanku, aku tidak akan marah kok." ujar Boy dengan nada bercanda, tidak terkesan marah karna Naya tidak membalas pesannya.


"Maaf ya mas." lirihnya mengakui apa yang dikatakan oleh Boy benar.


"It's oke Nay, tidak apa-apa, itu hak kamu kok untuk tidak membalas." ucap Boy santai.


"Tapi kalau boleh tahu, kenapa kamu tidak membalas pesanku, karna kamu sudah ada yang punya ya." dia yang bertanya dia yang jawab sendiri.


"Iya mas."


Boy mengira Naya belum menikah, kalimat ada yang punya yang selalu keluar dari bibir Leta dianggap itu adalah pacarnya Naya, makanya Boy yang memiliki ketertarikan sama Naya berusaha mendekati Naya, fikirnya selama janur kuning belum melengkung, sah-sah saja dia mendekati Naya, memang terkesan jahat, tapi semuanya sah dalam cinta dan perang. Dan untuk saat ini, untuk mendekati Naya, dia mengatasnamakan pertemanan.


"Aku hanya ingin berteman denganmu Nay, sama kayak aku dan Leta, tidak punya maksud lebih kok." Boy memang pembohong ulung.


"Jadi, kalau aku chat dibalas ya, sebagai temankan aku juga ingin tahu kabar kamu."


"Iya mas, insaallah Naya akan balas."


Boy tersenyum mendengar janji itu.


Boy tiba-tiba menghentikan mobilnya disebuah restoran.


"Mas, kenapa kita berhenti disini."


"Lapar Nay, ayok turun kita makan dulu, emang kamu gak lapar, kita tidak sempat makan lho tadi." alasan saja, padahal Boy ingin lebih lama bersama dengan Naya.


"Tapi ini sudah mau magrib lho mas, ntar kemalaman sampai rumah, atau bagaimana kalau mas makannya nanti dirumah saja."


"Aku lapar banget lho, nanti aku bisa mati kelaparan kalau tidak makan sekarang."


Naya masih enggan untuk menuruti keinginan Boy.


"Gak lama Nay, cuma 15 menit doank, yuk ah turun." bujuknya belum menyerah.


"Hmmm, baiklah kalau begitu." Naya akhirnya terpaksa turun dan mengikuti Boy masuk restoran.


****


Naya makan dengan cepat supaya bisa segera pulang, sedangkan Boy yang memang sengaja ingin berlama-lama dengan Naya makan dengan pelan.

__ADS_1


"Nay, pelan-pelan makannya."


"Aku sudah selesai mas." ujarnya berbarengan dengan berakhirnya kalimat Boy.


"Astaga gadis ini, tidak bisakah dia pengertian sedikit saja kalau gue ingin berlama-lama dengannya." batinnya.


"Mas ayok cepatan makannya, kok malah lihat Naya sieh."


"Iya Nay."


"Apa kamu tidak ingin tambah Nay, aku lihat kamu lahap banget makannya."


"Gak mas makasih, perut Naya sudah tidak muat rasanya." beritahu Naya sambil menepuk-nepuk perutnya yang membuncit.


Boy terkekeh, Naya apa adanya dan tidak jaim seperti kebanyakan cewek lainnya, dan itu salah satu poin kenapa Boy tertarik dengan Naya.


"Mas, Naya ke toilet sebentar ya."


Boy mengangguk, "Perlu aku temenin Nay."


"Gak perlu, mas lebih baik habiskan saja makanan mas."


Dan setelah itu Naya bangkit dan berjalan meninggalkan Boy menuju toilet.


Seseorang laki-laki yang sejak tadi memperhatikan kedatangan Naya dan Boy sejak memasuki cafe dari jarak beberapa meter langsung mengikuti Naya begitu dilihatnya Naya berjalan ke arah toilet.


Laki-laki itu bersandar disamping pintu toilet menunggu Naya keluar.


Lima menit kemudian, pintu toilet terbuka dari dalam, Naya yang tidak memperhatikan berjalan lurus untuk kembali ke dalam restoran.


"Nayaaa."


Naya langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar seseorang mamanggilnya, meskipun tidak melihat siapa yang memanggilnya, namun Naya tahu betul siapa pemilik suara tersebut, suara yang sangat familiar ditelinganya, suara yang selalu memanggilnya dengan lembut.


"Mas Wahyu." gumamnya tanpa suara tetap pada posisinya.


Hati Naya jadi tidak menentu, seketika rasa bersalah karna telah meninggalkan mantan kekasihnya itu merebak ke permukaan, Naya rasanya tidak punya muka untuk bertemu dengan Wahyu.


"Naya." panggil suara itu karna orang yang dipanggil tidak juga menoleh.


Naya berbalik perlahan, begitu tubuhnya berputar sempurna, dia melihat laki-laki yang telah mengisi hari-harinya dengan indah selama tiga tahun di masa-masa putih abu-abunya tengah berjalan mendekatinya.


Naya membeku, tidak bisa bergerak seolah-olah kakinya berakar.


"Nayaa." sapa Wahyu berusaha untuk tersenyum melihat mantan kekasihnya berdiri dihadapannya, "Akhh ini benaran kamu ternyata, tadinya aku fikir aku salah lihat." mata Wahyu penuh dengan kerinduan, ingin rasanya memeluk wanita yang masih sangat dicintainya ini, namun dia tidak bisa melakukannya mengingat kini Naya telah menjadi milik orang lain.


"Ma ma mas Wahyu." suara Naya bergetar.


"Iya Nay, ini aku, gak sangka ya kita bisa bertemu lagi, kamu semakin cantik saja sekarang setelah menikah dengan orang kaya, kamu pasti bahagia."


Hati Naya merasa tersayat mendengar ucapan Wahyu.


****

__ADS_1


__ADS_2