Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
SERANGAN JANTUNG


__ADS_3

Begitu mobilnya berhenti, Lio dengan kasar membuka pintu mobil dan membantingnya dan dengan langkah tergesa-gesa memasuki rumah besar, dia begitu sangat khawatir, apalagi nomer Naya sama sekali tidak aktif saat dia mencoba menghubunginya saat dalam perjalanan.


Saat melewati ruang tamu dia melihat mamanya dan Cleo ada disana tengah tertawa-tawa bahagia, dimeja tepat didepan mereka terdapat beberapa perhiasan, Lio lewat begitu saja tanpa menyapa.


"Lio, tadi mama telpon, tapi kamu....." Lio terus bejalan melewati mamanya dan Cleo tanpa menoleh sedikitpun, karna dicuekin sama anaknya membuat mama Renata menghentikan omelannya, "Adelioo." teriak mama Renata karna tidak terima dicuekin begitu saja oleh putra yang telah dia lahirkan dengan susah payah ke dunia


Lio terus saja melangkah seolah-olah tidak mendengar teriakan mamanya.


"Lio, kamu itu benar-benar tidak sopan ya sama mama kamu." mama Renata benar-benar dibuat kesal.


"Anak itu, sejak bersama gadis kampung itu tingkahnya makin menjadi-jadi."


"Tante tenang saja, kalau Cleo menikah dengan Lio, Cleo akan merubah Lio seperti dulu lagi."


Mama Renata tersenyum dan menepuk punggung tangan Cleo, "Buat Lio kembali seperti dulu ya sayang, kamu adalah harapan tante."


"Tante tenang saja, serahkan semuanya sama Cleo."


****


"Ayahhh." teriak Bulan saat melihat ayahnya memasuki dapur, ternyata Bulan berada didapur bersama dengan dua ART lainnya dan ada pak Ridwan juga disana.


"Tuan." sapa para pekerja itu saat melihat tuan muda mereka datang menghampiri dengan wajah merah padam.


Bulan memberikan surat yang ditulis oleh bundanya pada Lio, "Ini surat yang ditulis bunda ayah."


Lio mengambilnya, dia mulai membaca isi surat itu dalam diam, dan begitu selesai membaca surat yang ditulis oleh Naya, rahang Lio mengeras dan menatap tajam pada ketiga para pekerjanya, dengan suara tinggi dia memarahi ketiga para pekerja tersebut, "Kenapa hal ini bisa terjadi lagi hah, kenapa kalian selalu kompakan pergi disaat bersamaan, apa yang kalian lakukan diluar, jalan-jalan." saking emosinya Lio jadi menuduh sembarangan begitu, padahalkan ketiga para pekerjanya tersebut keluar dengan alasan yang jelas dan itu sudah pasti menyangkut kepentingan keluarga Rasyad.


Melihat kemarahan sang tuan, pak Ridwan buru-buru menjelaskan, "Maafkan saya tuan muda, pada saat nona pergi dari rumah, saya tengah mengantar nona kecil ke sekolah bersama dengan Wati."


Mbak Wati mengangguk membenarkan, "Iya tuan."


Bi Darmi yang juga tidak mau jadi sasaran amukan tuan mudanya juga menjelaskan kenapa saat Naya pergi dia tidak ada dirumah, "Kalau saya tuan, saya tengah ke pasar untuk belanja."


Para pekerja itu menunduk, takut melihat kemarahan di wajah tuan mereka.


Suara Lio yang berteriak-teriak ternyata terdengar sampai telinga mama Renata dan Cleo yang saat ini berada diruang tamu, mereka datang ke dapur untuk mencari tahu kenapa Lio sampai berteriak-teriak begitu.


"Lio, ada apa ini, kenapa kamu berteriak-teriak gak jelas." tanya mama Renata menatap wajah putranya yang merah padam dan kemudian dia bergantian menatap para pekerjanya satu persatu, para pekerjanya hanya menunduk tidak ada yang berani mendongak, dan yang terakhir dilihat adalah Bulan, gadis kecil yang tidak disukainya.


Gadis kecil itu terlihat takut karna untuk pertama kalinya mendengar suara ayah angkatnya berteriak-teriak, oleh karna itu, dia menyembunyikan tubuh mungilnya dibelakang tubuh mbak Wati.


"Kamu kenapa Lio, aku dan tante jadi khawatir, apa yang terjadi." Cleo mengulang pertanyaan yang sama dengan mama Renata.


Para pekerja tetap menunduk dengan bibir rapat, tidak ada satupun yang buka suara karna memang bukan mereka juga yang ditanya.


Lio juga tidak menjawab pertanyaan mamanya dan Cleo, dia malah berkata, "Aku akan desa nyusulin Naya." Lio berjalan keluar.


Namun mama Renata yang rasa ingin tahunya belum terjawab, dan bertambah heran karna mendengar putranya menyebut-nyebut tentang Naya dan akan menyusulnya ke desa, mama Renata menahan lengan putranya saat Lio melewatinya, "Apa maksud kamu Lio." mama Renata meminta penjelasan.


Lio menyerahkan surat yang ada ditangannya pada mama Renata.


Dengan masih agak bingung mama Renata meraih surat tersebut dan membacanya.


"Ini semua gara-gara mama, gara-gara mama Naya pergi meninggalkan aku." dengan berapi-api Lio menyalahkan mamanya.


Mama Renata yang tidak terima disalahkan membela diri, "Kenapa kamu menyalahkan mama, kalau mau menyalahkan, salahkan dirimu Lio, bukan mamakan yang membuat Cleo hamil, tapi kamu, jadi memang tanggung jawab kamu untuk menikahi Cleo, memang kamu mau nama keluarga kita tercoreng gara-gara kamu menghamili anak gadis orang diluar nikah." mama Renata balik menyalahkan putranya, "Lagian istri kamu itu lebay banget, pakai ngambek-ngambek segala, bilangnya ikhlas dimulut, tapi dihatinya tidak terima, benar-benar gadis munafik."


Cleo mengambil kertas itu dari tangan mama Renata, dia juga penasaran ingin mengatahui isi surat tersebut, dan dia tertawa bahagia begitu selesai membacanya, "Hahaha, bagus sik gadis kampung itu pergi, pergi yang jauh bila perlu, jangan pernah kembali lagi."


"Diam ma, jangan jelek-jelekin Naya didepan Lio." tanpa sadar Lio sampai membentak mamanya.


"Ohhh bagus ya, sekarang kamu berani membentak mama gara-gara gadis kampung itu, kamu sekarang jadi anak durhaka Lio, berani melawan dan membentak mama hanya gara-gara gadis kampungan itu, apa otak kamu sudah dicuci hah sama dia, dia pakai apa sampai kamu begitu membelanya."

__ADS_1


Para pekerja, dan Cleo hanya diam menyaksikan pertengkaran antara ibu dan anak tersebut, mereka tidak berani ikut campur, sementara itu Bulan, gadis kecil itu sampai meremas bagian samping rok mbak Wati karna ketakutan, tidak seharusnya memang Lio dan mama Renata saling adu mulut didepan seorang anak kecil yang masih lugu dan polos karna itu akan berakibat buruk bagi perkembangan mentalnya, namun yang namanya orang yang tengah emosi mana peduli akan hal itu.


"Cukup ma, Naya tidak seburuk yang mama fikirkan, dia gadis baik, mama saja yang tidak pernah melihatnya dan tidak pernah menganggapnya sebagai menantu hanya karna dia gadis desa dan tidak modis seperti Cleo, mama hanya selalu melihat penampilan seseorang dari luar, mama hanya menginginkan menantu yang hobi belanja seperti mama."


"Kamu benar-benar sudah dibutakan oleh cinta Lio, sampai kamu tega mengata-ngatai mama seperti itu, tega kamu Lio, hiks hiks, padahal mama susah payah membesarkan kamu sendirian tanpa seorang ayah, tapi ini balasanmu terhadap mama." duhh, jadi menangiskan tuh mama Renata.


Ada rasa menyesal juga sieh dibenak Lio karna membentak mamanya dan mengata-ngatainya, tapi untuk saat dia tidak punya waktu untuk meminta maaf dengan benar karna dia harus segera pergi ke desa untuk menjemput Naya dan membawanya kembali, "Maafkan Lio ma, tapi Lio harus segera menyusul Naya."


Tanpa mempedulikan mamanya yang kini tengah berlingang air mata, Lio berjalan melewati mamanya.


"Lio, jangan pergi, bagaimana dengan pernikahan kita yang tinggal dua hari lagi." Cleo berusaha mencegah.


Lio tetap berjalan, jangankan menjawab, menoleh saja tidak, pokoknya dia sudah menganggap Cleo seperti mahluk tak kasat mata yang tidak bisa dilihat oleh manusia normal seperti dirinya.


"Lio, jangan pergi." mama Renata mencoba untuk mencegah, namun dia sama sekali tidak mengindahkan perintah mamanya, "Liooo, benar-benar kamu ya."


Mama Renata memegang dadanya yang tiba-tiba terasanya nyeri, wanita itu terlihat begitu kesakitan.


"Tante, tante kenapa." panik Cleo melihat mama Renata menahan sakit.


"Nyonya." para pekerja juga terlihat khawatir.


Untungnya pak Ridwan bisa menahan tubuh nyonyanya sebelum ambruk ke lantai.


"Tante, ya Tuhan."


"Nyonya, bangun nyonya." para pekerja berusaha untuk membuat mama Renata tersadar.


"Tuan muda, nyonya tuan, nyonya tidak sadarkan diri." mbak Wati berteriak memanggil Lio.


Lio yang tadi cuek dan tidak peduli kini berbalik, dia terkejut saat melihat mamanya tergolek lemah dengan kepala disangga oleh pak Ridwan.


Melihat kondisi mamanya, mau tidak mau Lio panik dan berlari ke arah mamanya, "Ma, mama kenapa." Lio menepuk-nepuk pipi mamanya berharap mamanya sadar, namun hasilnya nihil.


Tanpa fikir panjang Lio mengangkat tubuh mamanya, "Pak Ridwan, kita ke rumah sakit sekarang."


"Baik tuan." pak Ridwan berlari duluan.


"Aku ikut." Cleo berjalan mengiringi langkah Lio yang saat ini menggendong mamanya diikuti oleh dua ARTnya dan Bulan yang digandeng oleh mbak Wati.


Lio mendudukkan mamanya dikursi belakang, Cleo menyusul masuk duduk dibelakang menemani mama Renata, sedangkan pak Ridwan sudah duduk di belakang kemudi, sebelum masuk, Lio mendekati putri kecinya.


Lio duduk untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Bulan, "Sayang, kamu dirumah ya sama mbak Wati dan bi Darmi, ayah ke rumah sakit dulu membawa nenekmu."


"Nenek kenapa ayah, apa nenek mati." pertanyaan polos itu terlontar dari bibir mungil Bulan.


"Tidak sayang, nenek hanya sakit, ayah pergi dulu ya, kamu jangan nakal, nurut sama mbak Wati dan bi Darmi."


"Iya ayah, Bulan tidak pernah nakal kok."


"Gadis pintar." mengacak rambut putrinya.


"Jaga Bulan selama saya pergi." pesannya pada dua ARTnya itu.


Mbak Wati dan bi Darmi kompakan mengangguk, "Tuan tenang saja, nona kecil akan baik-baik saja bersama kami."


"Ayah pergi dulu ya sayang." pamitnya untuk terakhir kalinya sebelum memasuki mobil.


"Hati-hati ayah." gadis kecil itu melambaikan tangannya untuk melepas kepergian ayahnya.


****


Beralih ke desa, karna sudah malam, karna khawatir dengan Boy sehingga kedua orang tua Naya meminta Boy untuk menginap saja dirumah sederhana mereka.

__ADS_1


"Nak Boy sebaiknya menginap saja disini, sudah malam lho ini, tidak baik berkendara malam-malam begini, bagaimana kalau ada begal ditengah jalan, apalagi jalan menuju desa kami sangat sepi." ujar ibu Murni saat makan malam.


Kebetulan malam itu didesa Naya mati lampu karna pemadaman bergilir dengan desa sebelah, hanya lilin yang dijadikan sebagai penerangan, namun Boy oke-oke saja dengan kondisi itu, berbeda dengan Lio yang dulu begitu heboh saat mati lampu ketika berkunjung ke rumah mertuanya untuk pertama kalinya. Bagi Boy yang terbiasa dengan listrik yang tetap hidup dua puluh empat jam, merasakan listrik mati menjadi sesuatu hal yang baru untuknya, selain itu suasana desa yang hening dan tenang dengan latar suara hewan malam yang saling bersahutan membuat hatinya tenang dan damai.


"Memang saya boleh menginap bibi." tanya Boy balik.


Ayah Badrun yang menjawab, "Boleh donk nak, apalagi nak Boy telah berbaik hati telah mengantarkan putri kami selamat sampai rumah."


"Saya berterimakasih paman karna diizinkan untuk menginap." Boy sepertinya telihat bersemangat karna diizinkan menginap dirumah keluarga Naya meskipun dengan kondisi rumah yang begitu sederhana.


Disaat orang tuanya menawarkan Boy untuk menginap dirumahnya, Naya malah merasa tidak enak mengingat rumahnya begitu sederhana tanpa fasilitas apa-apa, "Mas Boy yakin mau nginep disini."


"Memangnya kenapa Nay."


"Mas lihat sendirilah kondisi rumah kami, sederhana tanpa fasilitas apapun, bahkan listrik saja mati, ditambah lagi tidak ada tempat tidur empuk, yang ada hanya kasur keras, nanti badan mas Boy pegal-pegal lagi." Nay memberitahu kondisi rumah keluarganya.


"Ahhh gak apa-apa Nay, yang pentingkan ada tempat berteduh dan tidur, itu sudah lebih dari cukup kok untukku."


"Beneran mas Boy tidak apa-apa." Naya memastikan, "Dirumah kami banyak nyamuknya lho."


"Iya gak apa-apa, lagian kalau digigit nyamuk, anggap saja sedekah."


Orang tua Naya terkekeh mendengar banyolan Boy.


"Mas Boy ini ada-ada saja, masak sedekahnya sama nyamuk."


Begitu selesai makan malam, Naya membantu ibunya membereskan meja, sedangkan Boy dan ayah Badrun duduk diluar sambil merokok ditemani oleh segelas kopi hitam.


Berada didesa membuat hati Boy benar-benar tenang, dia bahkan melupakan ponselnya yang mati karna kehabisan daya.


****


Dirumah sakit, dokter Vito keluar dari sebuah ruangan setelah memberikan pertolongan pertama bagi mama Renata, Lio langsung berdiri dan menghampiri dokter Vito begitu sang dokter keluar, Cleo yang saat ini tengah menemani Lio juga ikut berdiri.


"Dokter gimana keadaan mama saya, dia baik-baik sajakan."


Dokter Vito menepuk pundak Lio, "Alhamdulillah, saya dan team dokter lainnya berhasil menangani mama kamu." wajah dokter Vito terlihat lega karna berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.


Lio mendesah lega begitu mendengar penjelasan sang dokter, meskipun begitu, dia tetap menanyakan kenapa mamanya tiba-tiba pingsan, "Memang apa yang terjadi sama mama saya dokter, kenapa mama tiba-tiba pingsan."


"Mamamu kena serangan jantung ringan."


"Mama kena serangan jantung dok."


Dokter Vito mengangguk, "Mungkin diturunkan oleh tuan Handoko kakek kamu, tapi kamu jangan terlalu khawatir Lio, selama mama kamu menjalani pola hidup sehat, dia pasti bisa sembuh."


Lio mangut-mangut mendengar penjelasan sang dokter.


"Saran saya, jangan buat mama kamu shock atau sedih berlebihan karna itu akan memicu serangan jantungnya secara tiba-tiba."


"Baik dokter saya mengerti, terimakasih atas bantuannya."


"Kamu tidak perlu berterimakasih Lio, saya sudah menganggap keluargamu sebagai keluarga saya sendiri, apalagi kakekmu tuan Handoko sangat baik sama saya."


"Meskipun begitu, saya tetap mengucapkan terimakasih kepada dokter."


Dokter Vito tersenyum dan sekali lagi menepuk pundak Lio, "Kalau begitu saya tinggal dulu Lio, ingat jangan bikin mamamu shock atau bersedih berlebihan." pesannya sebelum berlalu pergi.


"Akan saya ingat nasehat dokter."


***


Entahlah, aku fikir ceritanya sangat ngambang dan tidak jelas, tapi author akan berusaha untuk menyelsaikannya, dan terimakasih bagi para pembaca yang telah setiap membaca ceritaku.

__ADS_1


__ADS_2