Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
DATANG BULAN


__ADS_3

Tengah malam, Lio terbangun oleh suara rintihan yang menyayat hati, suara itu membuatnya ketakutan setengah mati, "Astaga, suara apa itu, hantukah." tanyaya pada diri sendiri, "Masak iya kamar gue ada hantunya."


Dan suara rintihan itu masih terdengar, dia menyumpal telinganya dengan bantal untuk meredam suara rintihan tersebut, namun ternyata suara itu bisa menembus bantal yang digunakan sebagai penyumpal telinganya.


"Apa itu jenis hantu kuntilanak, tapi kok bisa hantu kuntilanak nyasar dikamar gue."


Ketakutanya makin bertambah tatkala ada yang menarik-narik piyamanya dari belakang, "Astagfirullah." dia berulangkali beristigfar.


Lio ingat Naya bilang untuk mengusir hantu atau sejenisnya dengan membaca ayat kursi, dengan gemetaran dia mulai membaca, dan begitu selesai dia keheranan, bukannya tuh hantu malah minggat malah makin kenceng narik-narik piyamanya.


"Pergi setan, jangan ganggu gue."


"Mass."


"Apa dia manggil gue, ihhh." Lio bergidik ngeri.


"Mas Lio tolongin Naya."


Mendengar kalimat itu barulah dia sadar kalau dia tidur dengan Naya dan Nayalah yang merintih sejak tadi dan menarik piyamanya, sumpah dia malu banget. Lio menyalakan lampu melihat penyebab Naya merintih.


Begitu ruangan sudah terang benderang, dilihatnya Naya meringkuk seperti janin tengah memegangi perutnya, sepertinya sieh dia tengah kesakitan.


"Kenapa lo." tanyaya mendekati Naya.


"Perut Naya nyeri mas."


"Oh." jawabnya tanpa perasaan, tidak berusaha gitu bertanya kenapa perutnya nyeri, dia malah berkata, "Bisa gak lo jangan merintih dan narik-narik piyama gue, ganggu tidur orang saja."


"Mas bisa tolongin Naya gak, perut Naya nyeri banget." wajah Naya sampai memucat gitu.


"Lo salah makan."


Naya menggeleng.


"Terus kenapa dengan perut lo."


"Naya datang bulan mas."


"Menstruasi maksud lo."


Naya mengangguk, dia terlalu kesakitan untuk menjawab.


"Mas tolong."


"Gue bisa bantu lo apa."


"Beliin kiranti."


"Kiranti,? apaan tuh, merek pembalut."


"Jamu datang bulan mas, untuk meredakan nyeri haid."


"Gak bisa lo tahan aja apa, udah tengah malam banget ini, ada sieh toko yang buka dua puluh empat jam, tapi gue males keluarnya."

__ADS_1


Naya makin heboh merintih, bukan dibuat-buat sieh, tapi memang dia kesakitan beneran, Lio gak tega juga melihat Naya yang kesakitan, dia punya ide, Lio kemudian meraih ponselnya dan mendial nomer Rafa.


"Awas saja kalau dia sampai gak ngangkat panggilan gue, gue potong gajinya."


Dan detik terakhir terdengar suara serak Rafa, kelihatan banget kalau dia gak ikhlas mengangkat panggilan Lio.


"Hoammm." Rafa menguap untuk memberitahu kalau dia tengah tidur nyenyak dan harusnya Lio menunggu sampai besok untuk menghubunginya.


"Raf, beliin kiranti." perintah Lio.


"Beliin apa."


Memang orang kalau baru bangun tidur, apalagi bangunnya karna paksaan tidak bisa mendengar dengan jelas, atau Rafa bisa mendengar dengan jelas, tapi dia gak tau kiranti itu apa.


"Kiranti."


"Kiranti itu siapa."


"Bukan siapa, tapi itu jamu datang bulan."


"Tuh jamu buat apa."


"Pakai nanya lagi, ya buat diminum orang yang datang bulanlah." jawab Lio gemes.


"Setahu gue lo cowok Lio, sejak kapan lo datang bulan."


"Lo minta ditabok."


"Iya iya sorry, siapa yang datang bulan."


"Naya, bini lo."


"Siapa lagi, masak kucing gue."


"Kenapa gak lo saja yang beli, kenapa lo malah repotin gue sieh."


"Karna lo sekertaris gue."


"Tapi lo suaminya Naya, suami macam apa sieh lo."


Sementara mereka berdebat, Naya menahan sakit.


"Gue potong gaji lo." Lio menggunakan senjata andalannya.


"Lo bener-bener bos laknat, gaji pakai dibawa-bawa segala."


"Udah sana lakuin perintah gue, beliin kiranti satu dus, kalau perlu sama pabriknya agar orang tahu gue kaya."


Rafa mendengus, setengah sadar dia menaikkan resleting jaketnya, "Dasar sombong."


"Mas, sama pembalut juga." tukas Naya.


"Rafa sama pembalut juga."

__ADS_1


Kalimat itu berhasil membuat mata Rafa on, "Pembalut, lo gila, mau ditaruh dimana muka gue."


"Yeelah beli pembalut aja lo malu."


"Emang lo pernah gitu beliin pembalut buat Cleo."


"Gak, dan gak akan pernah."


"Nah terus kenapa...."


"Pokoknya gue tunggu setengah jam, kiranti dan pembalut, inget Rafa." tandas Lio tanpa membiarkan Rafa menyelsaikan protesnya dan Lio langsung memutuskan sambungannya.


****


"Emang setan terkutuk sik Lio itu." umpat Rafa meraih kunci mobilnya dan keluar dari apartemenya.


Karna ini dini hari, jadi tidak banyak pengunjung diminimarket yang buka duapuluh empat jam yang dimasuki Rafa, sebuah keuntungan mengingat dia pasti akan malu banget kalau banyak yang melihat dia membawa pembalut, namun dikasir ketika dia akan membayar, tak urung kasir yang kelihatan masih muda menggodanya.


"Mas pasti sayang banget sama pacarnya, malam-malam begini rela keluar demi membeli pembalut dan kiranti."


"Ya begitulah mbak." jawabnya asal untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Saya salut banget sama mas, andai saja ada cowok kayak mas yang mau sama saya, saya pasti bahagia banget."


"Itu sudah bisa saya ambilkan mbak." ujar Lio ingin segera pergi dari sana.


"Oh, iya ya, maaf, jadi curhat saya." ujar sik mbak kasir menyerahkan belanjaan Rafa yang sudah diletakkan dalam plastik.


****


Rafa menelpon Lio ketika dia sudah berada diluar gerbang rumah kediaman keluarga Rasyad, gak lama Lio keluar, dia malas membuka gerbang, dia hanya menjulurkan tangannya lewat jeruji untuk mengambil pesanannya.


"Mana pesanan gue."


Rafa menyerahkannya, "Gue gak disuruh masuk dulu nieh, minimal disuguhin teh kek untuk menghangatkan badan."


"Lo balik aja langsung, mana ada orang bertamu tengah malam begini."


"Dan mana ada orang yang ngerepotin orang tengah malam begini kecuali lo." balas Rafa dongkol.


"Sorry, kondisi darurat." jawabnya dengan enteng, "Udah sana balik, istirahat besok masuk kantor pagi-pagi."


"Iya iya, gue pergi." namun sebelum beranjak, Rafa menanyakan keadaan Naya, "Naya baik-baik sajakan."


"Lagi sekarat dia." jawab Lio ngasal, dan percaya lagi.


"Apa, kenapa gak lo bawa kerumah sakit, malah lo jadiin tontonan."


"Serius amet sieh lo, gue cuma bercanda, dia memang kesakitan sieh, tapi gue yakin setelah minum jamu ini dia bakalan baik-baik saja."


"Boleh gak gue masuk sebentar, gue ingin lihat keadaan dia."


"Gak boleh, pulang aja sana, lagian gue akan langsung tidur." Lio mengusir.

__ADS_1


Rafa mendengus dan berjalan kemobilnya, dia berharap Naya baik-baik saja.


****


__ADS_2