Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
BENERAN INI SUAMI KAMU


__ADS_3

"Naya." beberapa orang gadis menghampiri Naya dan Lio yang tengah duduk menyantap makanannya.


"Rita, Marni, Dini, Asih, Sinta." absen Naya melihat teman-teman SMAnya berjalan menghampirinya.


Naya meletakkan piring makanannya yang sudah habis, "Sebentar ya mas."


Naya berdiri dan menyongsong kedatangan teman-teman lamanya, Lio hanya menatap punggung sang istri yang terlihat antusias menyongsong kedatangan teman-teman SMAnya.


"Nahh tuhkan benar ini Naya teman kita." ujar Dini begitu mereka sudah dekat.


Gadis-gadis desa itu berpelukan satu sama lain melepas kangen, bisa dibilang pesta pernikahan Eli dan Anton sekaligus menjadi ajang reuni untuk angkatan mereka.


"Nayaa, kamu itu sumpah cuantikkk banget, kami sampai tidak ngenalin kamu lho tadi." puji Marni, "Beberapa bulan hidup diibu kota ternyata bisa merubah kamu kayak boneka begini ya."


"Akhh Marni, kamu itu terlalu berlebihan." balas Naya malu-malu, sudah kesekian orang yang memuji kecantikannya.


"Gimana hidup dikota Nay, pasti asyikkan, tidak kayak dikampung yang membosankan." tanya Asih.


"Enakkan hidup dikampung Sih daripada dikota."


"Akhh masak sieh Nay."


"Yahh begitulah yang aku rasakan, hidup dikampung jauh labih nyaman, jadi, kalian jangan pernah berfikir berjodoh dengan laki-laki kota kayak aku, Jakarta itu keras."


Teman-temannya terkekeh mendengar curhatan Naya.


"Oh ya Nay, suami kamu mana." tanya Rita celingak-celinguk mencari keberadaan suami Naya.


"Oh mas Lio, itu dia." tunjuk Naya pada suaminya yang  baru saja menyelsaikan makannya, "Mas, mas Lio, kesini sebentar." panggil Naya sambil melambaikan tangannya.


Yang dipanggil mendengus sebelum berjalan menghampiri istrinya dan teman-temannya dengan agak terpaksa.


"Nahh teman-teman, ini mas Lio suami aku." Naya memperkenalkan suaminya dengan bangga.


"Beneran ini suami kamu Naya."


"Iyalah, masak suami kambing sieh."


"Masyaallah, Naya suami kamu tampan sekali, mirip Rio Dewanto pemain film itu." kagum Asih tanpa kedip.


"Dasar gadis kampung, norak." batin Lio mendapat tatapan kekaguman begitu dari teman-teman istrinya.


Sementara itu respon Sinta, "Ehh, kok beda Nay sama foto yang kamu posting di fb itu, bukannya suami kamu seharusnya tua ya."


"Iya, suami kamu pasti sudah operasi plastik ya ke Korea sehingga berubah muda dan tampan seperti ini, ayok ngaku, mentang-mentang orang kaya."


"Apa-apaan mereka, main nuduh sembarangan saja, guekan udah cakep sejak lahir, gak levellah itu yang namanya operasi plastik segala." Lio berusaha menahan kedongkolannya akibat kenorakan teman-teman Naya, kan kesel dia dikatakan operasi plastik.


Naya terkekeh menanggapi ucapan Sinta, "Foto yang aku posting waktu itu fotonya kakek mertuaku, alias kakeknya mas Lio." jelas Naya yang membuat teman-temannya mengangguk mengerti.


"Ohhhh, kakek mertua, tak fikir suami, habisnya kamu tidak mengklarifikasi sieh."


"Sengaja untuk ngeprank kalian."


"Akhh Naya, mentang-mentang jadi orang kota main ngeprank-ngeprank saja."


"Beruntungnya Naya dapat suami tampan begini, pantas saja Naya mau dijodohkan, secara Wahyu gak ada apa-apanya dibandingkan mas Lio dari segi apapun." ceplos Asih tidak bisa mengontrol bibirnya.

__ADS_1


Mendengar nama mantan kekasih Naya disebut reflek membuat Lio menoleh tajam pada Naya, Naya yang ditatap begitu jadi serba salah.


"Mas Lio kenapa natap aku begitu sieh, aku kan gak salah." batin Naya melihat tatapan Lio.


"Naya sudah menikah Sih, jadi jangan sebut-sebut tentang Wahyu donk di depan Naya dan suaminya." bisik Dini memperingatkan Asih.


"Duhh iya, keceplosan akunya."


Asih merasa tidak enak, apalagi melihat raut wajah Lio yang berubah jadi dingin begitu, "Duhh Naya, mas Lio maaf ya."


Naya berusaha untuk tersenyum untuk menyatakan kalau dia tidak terlalu ambil pusing dengan kata-kata Asih barusan, "Iya Sih, tidak apa-apa."


"Makasih ya Nay, sekali lagi maafin aku." Asih terlihat menyesal.


"Sudah jangan minta maaf terus Sih."


"Nayaaa."


"Iya Mar."


"Boleh gak aku minta foto sama suami kamu."


"Foto, mas Lio bukan artis Marni."


"Iya, tapikan suami kamu mirip artis Nay, jadi aku ingin foto gitu, boleh ya."


"Aku juga ingin foto Naya, boleh ya Naya, jangan pelit gitu lho sama teman sendiri, kamu tidak akan ngembat kok."


"Ya Tuhannn, gadis-gadis labil ini, bener-bener tidak punya kerjaan mereka, bisa-bisanya minta foto sama gue, gaklah yaww." kesel Lio dalam hati dengan tingkah teman-temannya.


"Mas Lio  bolehkan kami foto sama mas Lio." mohon Dini.


"Heii apa yang terjadi ini, jangan genit-genit ya kalian, ingat, mas Lio itu punya Naya."


"Kamu itu Eli, datang-datang main nuduh."


"Kenapa Li." Naya bertanya melihat sahabatnya itu menghampirinya, bukannya dia harusnya diatas pelaminan menyambut tamu yang datang.


"Ada perlu sebentar sama kamu Nay."


Eli beralih memandang Lio untuk meminta izin, "Bolehkan mas Lio aku pinjem Nayanya sebentar saja, cuma lima menit doank."


"Mau ngapain."


"Biasalah mas, urusan cewek."


"Jadi bolehkan mas, Nayanya aku bawa sebentar saja."


"Ya udah, cuma lima menitkan." Lio mengizinkan.


"Iya mas cuma lima menit." Eli menarik pergelangan tangan Naya untuk menjauh.


"Mas, Naya pergi dulu ya sebentar." pamit Naya.


"Hmmm."


"Heii inget, jangan coba-coba goda mas Lio, tuh masih banyak laki-laki lajang yang nganggur." Eli memperingati teman-teman SMAnya itu dengan bercanda.

__ADS_1


"Huhuu." sorak gadis-gadis itu mengiringi kepergian Naya dan Eli.


****


"Mau keman sieh Li." Eli membawa Naya kedalam rumah orang tuanya Anton, atau rumah yang kini juga resmi menjadi rumahnya Eli karna kebetulan resepsi acaranya dilaksanakan dihalaman rumah mertuanya yang luas.


"Lho, kenapa kita masuk ke rumah mertuamu segala sieh Li, emang kita mau apa." Naya heran dan bertanya-tanya.


"Sudah jangan banyak tanya, nanti juga kamu tahu sendiri."


"Mas, ini Nayanya sudah aku bawa." tegur Eli melihat suaminya yang memunggunginya sehingga tidak melihat gadis yang beberapa jam sah menjadi istrinya dan Naya masuk.


Anton berbalik begitu mendengar suara Eli, "Itu Naya Yu."


"Ini ada apa sieh sebenarnya." tanya Naya yang masih belum mengerti kenapa dirinya dibawa masuk ke rumah.


Pertanyaan Naya dijawab dengan HP yang disodorkan oleh Anton, "Wahyu Nay, dia ingin bicara sama kamu." memperlihat layar yang memperlihatkan wajah Wahyu.


Ternyata Wahyu melakukan panggilan vidio untuk memberi selamat secara virtual karna tidak bisa hadir dipernikahan sahabatnya, dan entah kenapa dia ingin bicara dengan Naya begitu Anton memberitahunya kalau Naya hadir dipesta pernikahannya.


Tangan Naya gemetar mengambil ponsel yang disodorkan oleh Anton, dan seolah mengerti, Anton dan Eli sedikit menjauh untuk memberikan privasi untuk dua orang yang pernah saling mencintai tersebut.


"Asslamuaikum Naya, kamu apa kabarnya." tanya Wahyu, wajahnya terlihat sendu, masih jelas rasa cinta terpancar jelas dari mata Wahyu untuk Naya pacar pertamanya itu.


"Walaikumusslam mas Wahyu, alhamdulillah Naya baik kok, mas Wahyu gimana." Naya agak gugup.


"Aku juga baik kok Naya."


Diam, tidak tahu harus berkata apa, hanya hati yang bergemuruh satu sama lain. Meskipun Naya berusaha mencintai Lio, tapi dia belum sepenuhnya bisa melupakan Wahyu sampai saat ini, iya iyalah, tidak semudah itu melupakan laki-laki yang menjadi cinta pertama, laki-laki yang selama tiga tahun yang telah banyak meninggalkan kenangan indah dihati Naya.


"Kamu cantik sekali Naya, kulitmu bersinar, aku sampai silau." Wahyu mencoba untuk bercanda.


Naya tersenyum tipis menanggapi candaan mantan kekasihnya itu, "Mas Wahyu bisa saja bercandanya."


Wahyu terkekeh, matanya tidak sengaja terarah pada leher Naya, disana kalung dengan inisial NW menggantung indah dileher Naya.


"Kalung itu Naya." tunjuk Wahyu pada leher Naya, "Kamu memakainya."


Naya meraba lehernya dan memegang lionton kalung yang diberikan oleh Wahyu saat perpisahan mereka.


"Iya mas, Naya suka, tidak apa-apakan kalau Naya pakai."


"Itukan kalung kamu sekarang Nay, sudah menjadi milik kamu, aku hanya tidak habis fikir, kenapa kamu memakai kalung murah dan jelek  jika kamu mampu membeli kalung yang mahal dan indah."


"Mas, jangan bilang begitu, aku tidak suka, biar bagaimanapun, Naya sangat menghargai pemberian mas Wahyu, dan sampai kapanpun Naya akan selalu mengenakan kalung ini."


Disaat itu Eli kembali datang bersama dengan Anton suaminya, "Sudah lima menit Nay, ayok kita kembali ke suaminya."


"Mas, sudah dulu ya." pamit Naya sedih.


"Iya Naya, semoga kita bisa bertemu lagi." jawab Wahyu seperti tidak rela Naya pergi.


Kalimat perpisahan itu menutup percakapan dua mantan kekasih yang tidak bisa bersatu.


****


Terimakasih pada pembaca karna sudah membaca cerita author, setelah berbulan-bulan tidak update, akhirnya author aktif kembali dicerita ini.

__ADS_1


Cerita yang amburadul memang, karna seharusnya bab 42 43 dan 44 menjadi bab-bab awal, karna kesalahan tehnis jadi seperti inilah jadinya. Jadi kalau mau baca, mulai dari bab 42 ya, terimakasih.


__ADS_2