
Karna ini hari minggu, jadinya Lio tidak masuk kerja sehingga dia berencana mengajak Naya dan Bulan untuk jalan-jalan, hal tersebut dikatakan oleh Lio saat dia dan keluarganya tengah sarapan pagi dimeja makan.
"Karna ayah hari ini tidak kerja, ayah mau ngajak Bulan dan bunda untuk pergi jalan-jalan."
Begitu Lio menyelsaikan ucapannya, Bulan langsung bersorak bahagia, "Horeee, ayah mau ngajak kita jalan-jalan." gadis kecil itu terlihat begitu bersemangat, "Bunda, ayah mau ngajak kita jalan-jalan."
"Iya sayang." Naya tersenyum melihat Bulan yang begitu terlihat antusias, selama dirumah besar memang ini untuk pertamakalinya Lio mengajak dirinya dan Bulan untuk jalan-jalan.
Kakek Handoko juga begitu senang karna melihat Lio memperlakukan Naya dengan penuh perhatian, mulai menggendong Naya saat turun dari lantai dua, melayani Naya saat sarapan dengan mengambilkan ini itu untuk Naya, dan kakek Handoko bertambah senang saat mendengar kalau cucu laki-lakinya itu berniat untuk mengajak Naya dan Bulan untuk jalan-jalan, karna memang ibu hamil seharusnya dimanjain dan diajak jalan-jalan agar tidak stres dirumah terus.
"Anak ini, apa yang terjadi dengan dia sieh, kenapa dia bersikap seolah-olah dia mencintai gadis kampung itu." gumam mama Renata dalam hati, dia jelas tidak suka kalau hal itu sampai terjadi.
"Nahh sayang, sebaiknya kamu siap-siap sana sebelum kita pergi, mandi yang bersih, pakai baju yang bagus, kuncir rambut, suruh mbak Wati yang bantuin kamu siap-siap oke." perintah Naya pada Bulan.
"Oke bunda." jawab Bulan dan langusung tancap gas ke kamarnya untuk siap-siap.
"Renata." tegur kakek Handoko saat Bulan sudah tidak terlihat.
Mama Renata menoleh, "Kenapa pa."
"Papa perhatiin akhir-akhir ini kamu sering cembrut, seperti ada sesuatu yang mengganjal dihati kamu."
Jelas saja mama Renata cembrut, dia tidak suka melihat Lio memperhatikan Naya, karna perhatian itu mengarah pada satu hal, yaitu putranya sudah mulai menyukai Naya, dan mama Renata jelas tidak ingin hal itu terjadi, karna dia tidak ingin Naya menjadi menantunya dalam jangka waktu yang lama, karna yang dia harapkan menjadi menantunya adalah Cleo, gadis anggun dan berkelas yang menurut mama Renata pantas melahirkan penerus keluarga Rasyad.
"Kamu kenapa Renata, apa kamu ada masalah, cerita donk sama papa, jangan dipendam sendiri." lanjut kakek Handoko mencecar sang putri.
Mama Renata memberikan jawaban standar, "Rena tidak apa-apa papa." bohongnya.
Lio nimbrung, "Kalau wanita bilang tidak apa-apa, itu berarti kenapa-napa kek." Lio bener-bener berpengalaman dengan wanita, buktinya, hal seperti itu dia sampai tahu.
"Kamu kenapa sebenarnya Rena, apa kamu ingin menikah." tebak kakek Handoko asal.
__ADS_1
"Ehh, papa apa-apaan sieh, ya gaklah." bantahnya cepat, "Lagian Rena sudah tua, siapa juga yang mau sama Rena."
Kakek Handoko, Lio dan Naya langsung terkekeh mendengar kalimat mama Renata.
"Meskipun mama sudah tua, tapi mama masih tetap cantik kok, asal mama mau, pasti banyak yang mau sama mama." timpal Naya.
Bukannya tersanjung dengan ucapan Naya, mama Renata malah makin kesel sehingga dia menusuk roti bakarnya dengan cukup kuat.
"Nah denger itu Rena, Naya bilang kamu katanya masih cantik, masih banyak yang mau sama kamu." kakek Handoko menyokong ucapan cucu menantunya, "Atau kamu mau aku kenalin dengan anak sahabat papa, papa denger dia duda karna baru ditinggal mati sama istrinya." jelasnya, "Kamu mau ya Rena papa kenalin, lagian kamu sudah lama menjanda sejak papanya Lio meninggal, kamu pasti kesepiankan."
"Apaan sieh papa ini." dengus Renata yang sudah tidak berusaha menyembunyikan kekesalannya lagi, tadinya dia kesal dengan Naya, dan kini kekesalannya merembet karna papanya membahas tentang menikah, diakan tidak punya niatan sedikitpun untuk menikah, "Papa tidak perlu melakukan hal itu karna Renata tidak mau menikah, dan satu hal lagi, Rena tidak kesepian papa, Rena itu sibuk mengurus butik Rena yang makin berkembang."
"Iya iya kalau kamu tidak mau, jangan ngegas gitu juga donk, papakan berniat baik, tidak tega melihat kamu menjanda dalam jangka waktu yang lama."
"Sudahlah kek, jangan bahas masalah nikah dengan mama, mungkin mama tidak mau menikah karna belum move on dari almarhum papa." simpul Lio, dia kemudian meraih tangan Naya dan tersenyum kepadanya, sejak menyadari perasaannya sama Naya, hati Lio jadi berbunga-bunga dan betah berlama-lama memandang wajah cantik natural istrinya itu, "Aku berharap, semoga aku dan Naya bisa seperti mama dan papa, hanya maut yang akan memisahkan kami, bukan begitu sayang."
Kata-kata romantis itu membuat Naya tersipu, apalagi saat ini Lio tengah menatapnya dengan penuh cinta, Naya rasanya tidak sanggup memandang manik coklat tua milik suaminya cukup lama, sehingga dia menunduk dan berkata, "Iya mas, Naya juga berharap hanya mautlah yang akan memisahkan kita."
"Kakek kenapa, kakek sakit." tanya Naya khawatir saat melihat mata kakek Handoko berkaca-kaca.
"Jantung kakek kambuh ya, kakek sudah minum obat." Lio juga turut khawatir.
Kakek Handoko menggeleng sembari tersenyum tipis untuk menghilangkan kekhawatiran keluarganya, "Kakek tidak sakit, kakek hanya bahagia karna melihat kalian, tetaplah seperti ini, saling menjaga, menyayangi dan mencintai satu sama lain meski suatu saat nanti kakek sudah tiada."
Naya dan Lio mengangguk dan tersenyum, "Dan kakek akan melihat cicit-cicit kakek lahir dan tumbuh besar dirumah kita ini, rumah ini akan ramai oleh suara anak kecil."
Kakek Handoko tersenyum lebar, topik tentang cicit selalu membuatnya bahagia dan bersemangat untuk minum obat supaya dia punya umur panjang untuk menyaksikan kehadiran cicit pertamanya yang kini tengah dikandung oleh Naya.
Sementara semua orang terlihat bahagia, mama Renata satu-satunya orang yang tidak bahagia, mama Renata menyimpan kegeramannya, dia mengepalkan tangannya, "Apa yang anak itu lakukan, dia mencintai Naya, apa-apaan ini, bagaimana dengan Cleo, kenapa dia secepat ini berubah, apa yang gadis kampung itu lakukan sama Lio."
****
__ADS_1
Renald menggeleng begitu pintu apartmen sahabatnya terbuka lebar yang memampangkan dengan jelas tampang Boy yang terlihat kusut. Dua hari belakangan ini, Renald intens mengunjungi sahabatnya itu hanya untuk sekedar memastikan apakah sahabatnya itu sudah makan atau belum, dan untungnya setiap kunjungannya tersebut Renald selalu membawa makanan, karna Boy terlalu sibuk dengan patah hatinya sehingga hanya untuk keluar cari makan saja malas.
"Oh, elo ternyata." ujarnya.
Renald menangkat kantung plastik yang ada ditangannya, "Gue kesini mau memastikan apalah elo sudah sarapan apa belum, lo belum sarapankan." tebaknya.
Boy menggeleng.
Boy kembali masuk dan Renald mengikuti dibelakang. Boy berjalan ke ruang tamu dan menghempaskan bokongnya disana yang kemudian diikuti oleh Renald yang terlebih dahulu meletakkan makanan yang dibawanya di meja ruang tamu.
"Sampai kapan lo begini terus Boy." komennya prihatin melihat kondisi sahabatnya.
Boy hanya mengangkat bahu pasrah, dulu juga dia butuh waktu cukup lama untuk kembali hidup normal saat dirinya ditinggal oleh mantan pacarnya, "Lo tahukan kalau gue sudah jatuh cinta itu akan sulit untuk move on."
Renald mengangguk mengerti, meskipun begitu, dia tetap tidak tega dengan Boy yang terlihat benar-benar seperti orang yang tidak punya semangat hidup, "Boy, lo tahu gak Leta nanyain lo terus ke gue."
Boy menoleh dan menjawab, "Leta."
"Iya Arleta, teman SMA kita itu, teman kampus lo saat ini."
Meskipun hatinya dibuat patah oleh Boy, tapi Leta beberapa sekali mengirim chat pada Boy yang menanyakan apakah Boy baik-baik saja dan Boy mengabaikan chat-chat tersebut, jangankan tubuhnya, bahkan jari tangannyapun malas untuk mengetik hanya sekedar untuk membalas pesan.
"Leta selalu nanyain apakah lo baik-baik saja, atau nanyain lo udah makan atau belum, gue bilang kenapa gak tanyain langsung saja sama elo, dia bilang lo gak balas pesan-pesannya, benar begitu." Renald mengonfirmasi kebenaran hal itu.
"Hmmm." jawab Boy hanya dengan dengusan.
"Kenapa gak lo balas anjirr, Leta sepertinya punya perasaan sama elo, dan gue fikir lo sebaiknya membuka hati lo sama Leta supaya lo tidak sedih berkepanjangan begini."
Boy melirik Renald kesal, "Otak lo dimana, gue baru mengalami patah hati karna mengetahui gadis yang gue suka sudah menikah, mana bisa gue dengan segampang itu berpaling."
****
__ADS_1