
Rafa membawa adiknya memasuki toko sepatu, pakaian sampai dengan toko tas-tas bermerk, tujuannya tentu saja untuk mengembalikan kecerian diwajah mendung adiknya, namun ternyata, patah hati bener-bener membuat Leta tidak bisa tersenyum, bahkan saat dibawa ke tempat surganya para wanita.
"Ta, ayok pilih tas yang kamu suka, kakak yang bayarin lho."
Leta menggeleng, "Tas Leta banyak dan masih bagus-bagus, Leta tidak butuh tas kak." hanya karna tengah patah hati saja dia bilang begitu, coba kalau suasana hatinya dalam keadaan normal, pasti semua tas yang dipajang ditoko tersebut ingin diborongnya.
Rafa mendesah berat, apapun yang dia lakukan ternyata tidak bisa membuat adiknya kembali ceria.
****
"Boy, gue ke toilet dulu, kbelet nieh gue, lo tungguin ya." ujar Renald.
Saat ini mereka berada ditoko buku yang berada didalam mall yang mereka kunjungi, ya memang Renald bilang ingin cuci mata dengan nongkrong dicafe sembari melihat cewek-cewek cantik yang berjalan hilir mudik, namun Boy langsung menolak usulan sahabatnya, dia lebih memilih untuk masuk ke toko buku, dan pada akhirnya Renald yang mengalah dan mengikuti keinginan Boy.
"Hmmm, jangan lama-lama lo."
"Iya, cuma buang air doank, gak mandi kok gue." ucapnya dan langsung ngibrit ke arah toilet saking kbeletnya.
Boy melihat-lihat buku yang dipajang disetiap rak yang ada ditoko buku tersebut, karna Boy adalah kutu buku, setidaknya buku bisa sedikit mengalihkan rasa patah hatinya.
Saat tengah fokus, Boy merasakan jari tangannya ditarik, dia menoleh ke bawah, dan alangkah terkejutnya dia saat menemukan Bulanlah yang menarik-narik tangannya.
"Astagaa, Bulan." kagetnya dan duduk berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan gadis kecil tersebut.
"Om Boy." sapa gadis kecil itu tersenyum cerah.
Boy melirik ke sekelilingnya, dia mencoba mencari keberadaan Naya atau orang yang sekiranya tengah bersama Bulan saat ini, tapi semua orang yang ada ditoko buku itu terlihat sibuk dengan dunia mereka sendiri, tidak ada tanda-tanda salah satu dari mereka mengenal Bulan.
"Bulan, kamu sama siapa disini."
"Sama ayah Lio dan bunda Naya om."
Mendengar nama Naya disebut membuat hati Boy bergetar, apalagi saat ini anak angkatnya kini berada dihadapannya.
"Ayah dan bunda." ulang Boy kembali Boy mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, "Mereka dimana."
"Ayah dan bunda cari baju buat calon dedek bayi, Bulan bosan makanya pergi jalan-jalan, dan Bulan lihat om Boy disini makanya Bulan samperin." cloteh Bulan dengan polosnya.
Mendengar clotehan Bulan yang menyebut-nyebut tentang bayi membuat hati Boy terasa sesak, kalimat Bulan tersebut seolah memberitahunya kalau Naya tidak akan mungkin bisa dia jangkau, Naya milik orang dan mereka sebentar lagi akan memiliki anak.
"Boy, ini anak siapa." pertanyaan Renald yang baru kembali dari toilet mengembalikan kesadaran Boy ke dunia nyata.
Boy dan Bulan menoleh ke arah Renald yang memandang Bulan dengan penuh keingintahuan.
Boy berdiri dan memperkenalkan mereka, "Ini Bulan Re, anak angkatnya Naya."
"Anak angkatnya Naya, gadis yang lo sukai itu." ceplos Renald.
__ADS_1
Boy langsung memberi tatapan tajam pada Renald, Renald langsung menutup bibirnya yang kadang suka keceplosan, "Sorry sorry." lisannya, "Kenapa anak ini bisa bersama elo, orang tuanya mana."
Boy mengangkat bahu, "Bulan katanya bosan karna orang tuanya pada sibuk sendiri, dan dia memutuskan jalan-jalan dan kebetulan dia lihat gue dan nyamperin gue kemari."
"Astagaa, orang tuanya bener-bener tidak bertanggung jawab, bisa-bisanya mereka lengah begini." Renald geleng-geleng kepala, "Bagaimana kalau kita culik saja anak ini Boy, sebagai gantinya minta Naya untuk menerima cinta lo." canda Renald sambil terkekeh
"Jaga ucapan lo Re."
"Bercanda gue ye elahh, gitu aja dianggap serius."
"Bulan tidak suka sama om ini, om ini jahat tidak seperti om Boy yang baik hati." timpal Bulan menganggap serius ucapan Renald.
"Hehh, om ini baik hati lho, kok bisa Bulan mengatakan om orang yang jahat."
"Om tadi bilang mau nyulik Bulan, hanya orang jahat yang menculik anak kecil."
"Ehh, bocah sekecil ini sudah mengerti ternyata apa yang gue katakan." gumam Renald tidak habis fikir kalau Bulan ternyata mengerti omongannya.
"Tuhh lo denger, makanya lo jangan sembrangan ceplas-ceplos."
"Anak manis, tadi itu om cuma bercanda, tidak mungkin om tega menculik gadis manis seperti Bulan." Renald mengklarifikasi sembari mencubit pipi gembil Bulan dengan gemas.
"Aduhh, sakit om, jangan cubit-cubit, dasar om benar-benar jahat." Bulan memelototi Renald galak.
"Duhhh, benar-benar serba salah gue ini."
"Terus ini gimana Boy."
"Kita harus mengembalikan Bulan ke orang tuanya."
"Ahh iya benar juga."
"Bulan sayang, kita sebaiknya mencari ayah dan bunda kamu ya, nanti mereka khawatir mencari kamu." meskipun saat ini dia tidak siap bertemu dengan Naya, namun, mau tidak mau, dia harus mengantarkan gadis kecil ini ke orang tua angkatnya.
"Iya om." patuh Bulan.
****
Sementara itu, ditoko yang menjual aneka perlengkapan bayi, saking asyikny melihat pernak-pernik bayi yang lucu-lucu membuat Lio dan Naya lupa dengan Bulan, mereka tidak sadar kalau saat ini Bulan tidak ada bersama mereka, barulah saat mereka akan membayar belanjaan Naya tersadar.
"Astaga mas, Bulan mana." paniknya saat Bulan tidak ada bersama mereka.
Lio mengedarkan matanya ke sekelilingnya mencoba mencari keberadaan Bulan, "Bulan." panggilnya namun tidak ada sahutan.
"Aduhh, bagaimana ini mas."
"Kamu tenang Nay, jangan panik." Lio berusaha menenangkan, "Kamu tunggu sebentar disini, aku akan memeriksa setiap sudut toko untuk mencari Bulan."
__ADS_1
Naya mengangguk.
Lio kemudian berjalan menjelajahi ruangan tersebut untuk mencari keberadaan Bulan.
"Ya Tuhan Bulan anakku." Naya rasanya ingin menangis, karna sibuk memilih perlengkapan bayi sampai membuatnya lalai dan melupakan anaknya, "Maafkan bunda nak." gumamnya, dia sangat berharap suaminya menemukan Bulan.
"Bagaimana mas." tanya Naya saat Lio berjalan mendekatinya.
Lio berusaha bersikap tenang meskipun sebenarnya dia panik, "Bulan tidak ada disini Nay, sebaiknya kita mencarinya diluar."
"Bulan, kamu dimana nak." kristal bening sudah mulai menggenang dipelupuk mata Naya.
"Jangan khawatir Nay, kita pasti bisa menemukan Bulan."
"Iya mas."
Mereka keluar dari toko tersebut untuk mencari keberadaan Bulan.
"Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama Bulan mas, bagaimana kalau Bulan diculik." fikiran negatif menguasai Naya.
"Bulan pasti akan baik-baik saja Nay, kita pasti akan menemukannya." Lio mencoba menenangkan.
"Lio, Naya."
Disaat tengah panik begitu, Lio dan Naya mendengar ada suara yang memanggil mereka.
Bersamaan Naya dan Lio menoleh ke arah sumber suara dan melihat Rafa melambai ke arah mereka, bersama dengan Leta, Rafa berjalan menghampiri Lio dan Naya.
Leta tahu dalam hal ini Naya tidak bersalah sama sekali, bahkan Leta yakin Naya pasti tidak tahu kalau Boy menyukainya, meskipun begitu, Leta yang dulunya menyukai Naya dan menganggap Naya sebagai sahabatnya, kini menatap Naya dengan pandangan tidak suka, Leta tahu, dia tidak seharusnya begitu, tapi perasaan tidak suka itu muncul tanpa diundang begitu Leta mengetahui kalau Boy menyukai Naya, memang itu sikap alami wanita yang tidak suka sama perempuan yang disukai oleh laki-laki yang dia sukai.
Tadi begitu kakaknya menunjuk Lio dan Naya, dia bersikeras tidak mau menemui pasutri tersebut, tapi Rafa yang tidak mengetahui penyebab penolakan adiknya tersebut bersikeras mengajak Leta menemui mereka, sehingga begitu tiba didepan Naya, Leta tidak bersusah-susah untuk bersikap ramah dan menyapa seperti yang sering dia lakukan saat bertemu dengan Naya, dan Naya yang tengah dilanda panik karna Bulan menghilang tidak menyadari perubahan sikap Leta kepadanya.
Tanpa mengetahui apa yang tengah dialami oleh sahabatnya, Rafa dengan ceria menyapa, "Wahh, gak nyangka ya kita bertemu disini." pandangan Rafa tertuju pada paperbag yang ada ditangan Lio, "Kalian habis beli perlengkapan bayi ya, cieee yang sebentar lagi akan punya bayi, semangat banget nieh kayaknya." goda Rafa.
"Raf, hentikan ocehan lo." potong Lio, "Lo sebaiknya bantuin gue nyari Bulan."
"Nyari Bulan, maksud lo apa."
"Bulan hilang."
"Hah, kok bisa." lengking Rafa tanpa sadar.
"Ini kesalahanku yang lalai menjaga Bulan." Naya menyalahkan dirinya sendiri sambil menahan tangis.
"Sudah Nay, jangan salahkan dirimu sediri."
"Bener Nay, sebaiknya kita cari Bulan sekarang." usul Rafa.
__ADS_1
****