Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
RESTORAN KOREA


__ADS_3

Memang Lio tidak menyuruh Rafa membelikan Naya seperangkat skincare dan seperangkat kosmetik, Rafa hanya inisiatif ketika mereka melewati toko yang menjual produk-produk kecantikan, menurutnya Naya juga membutuhkan hal-hal tersebut.


"Nay, masuk yuk." Rafa mengedikkan dagunya ketoko kosmetik tersebut


"Mas mau beli produk kecantikan ya, ah, ternyata mas Rafa suka juga ya merawat diri seperti perempuan, gak heran wajah mas Rafa putih bersih gak ada jerawatnya, gak kayak Naya yang hitam, maklum mas gak pernah dirawat."


"Buset, gue disamain dengan cewek." Rafa membatin, namun balasan atas kalimat Naya barusan adalah, "Aku itu putih alami Nay, gak butuh produk-produk pemutih gitu, dan juga aku memang memiliki kulit bersih sehingga gak jerawatan." ujarnya memberi penjelasan.


"Lha, terus kenapa mas Rafa ngajakin Naya masuk kesana mas."


"Ya buat beliin kamu produk-produk kecantikanlah buat kamu, lagian Nay kamu perlu merawat diri, apalagi kamu sebagai istrinya tuan Adelio Rasyad yang kaya dan terhormat."


"Mas Rafa bener juga, sebagai seorang istrikan Naya harus pinter merawat diri agar mas Rafa tidak kepincut ke lain hati."


"Iya benar sekali." lisan Rafa, dalam hati merasa kasihan dengan Naya, "Kasihan banget Naya, kalau dia tahu Lio tidak mencintainya dan tidak akan pernah mencintainya dia pasti sedih, karna Lio hanya mencintai Cleo." Rafa memandang Naya prihatin.


"Mas kok malah bengong, ayok masuk, tadi katanya mau ngajakin Naya masuk."


"Eh iya, yuk."


Mereka memasuki toko yang dipenuhi oleh produk kecantikan wanita, seorang pelayan cantik menghampiri mereka.


"Permisi mas, mbak, apa ada yang bisa dibantu." tanya pelayan itu dengan senyum ramahnya.


"Tolong mbak, bantu Naya mencari produk skincare dan kosmetik yang cocok dan sesuai dengan jenis kulitnya, saya yakin mbak berpengalaman dalam beginian."


"Jangan khawatir mas, mas masuk ke tempat yang tepat." ujar sik pelayan, "Mari mbak ikut saya."


Naya mengikuti pelayan tersebut, pelayan itu menyarankan produk yang sesuai dengan jenis kulit Naya dan juga menjelaskan secara rinci manfaat yang terkandung dalam produk-produk tersebut, dan pada akhirnya, dua paperbag berukuran besar kini resmi berada ditangannya.


"Mas, apa mas Lio gak marah." Naya melihat banyaknya belanjaannya dan banyak mengeluarkan uang, ini untuk pertama kalinya dibelanja sebanyak ini.


"Marah,? marah kenapa."


"Naya belanjaannya banyak, ntar uangnya mas Lio habis lagi."


Ungkap Rafa dalam hati, "Nieh cewek gak tahu aja kalau suaminya kaya raya, coba kalau cewek lain pasti sudah minta mobil mewah." jawabnya adalah, "Kamu borong seisi mall ini beserta karyawannya tidak akan membuat suami kamu bangkrut Nay, apalagi belanjaan kayak gini doank."


Naya bertanya gak percaya, "Masak sieh mas, mas Lio sekaya itu."


"Kalau kamu gak percaya ntar tanya sama Lio sendiri deh."


"Gak ah mas."


"Kenapa."


"Mas Lio kalau diajak ngobrol suka marah-marah, Naya sering disuruh tutup mulut, gak boleh nanya ini, gak boleh nanya itu, gak kayak mas Rafa baik dan gak pernah marah."


Rafa tahu penyebab Lio seperti itu, karna Lio tidak menyukai Naya, ya maklumlah mereka menikah karna dijodohkan, dia sendiri gak yakin bisa cinta sama gadis jika dirinya jodohkan.


"Nay."

__ADS_1


"Iya."


"Apa kamu mencintai Lio."


Naya tidak langsung menjawab, dia terlihat mendesah sebelum memberikan jawaban, "Awalnya sieh gak mas, tapi karna mas Lio sekarang sudah berstatus sebagai suami Naya, jadinya Naya berusaha untuk menumbuhkan rasa cinta itu."


"Sorry ya Nay, kalau pertanyaan aku ke hal yang pribadi, apa ketika didesa kamu punya pacar."


"Ada sieh mas, mas Wahyu namanya."


"Terus, Wahyu membiarkan kamu nikah begitu aja."


"Mas Wahyu gak tahu kalau Naya menikah, saat Naya tahu kalau Naya dijodohkan mas Wahyu saat itu pergi merantau."


Rafa termangu mendengar kisah Naya, dia terharu, Naya berusaha melupakan laki-laki yang dicintainya demi laki-laki yang tidak mencintainya, sungguh ironis.


Rafa melihat kemurungan diwajah Naya, ini salahnya karna menanyai Naya tentang masa lalunya, dia berusaha mengganti topik untuk mengembalikan kecerian Naya.


"Nay, aku lapar nieh, makan yuk."


Naya mengangguk.


Rafa membawa Naya kerestoran Korea, sebuah pilihan yang keliru karna Naya tidak bisa menggunakan sumpit.


"Nay, kamu pesan apa." tanya Rafa ketika mereka tengah melihat menu dibuku menu.


Disana terdapat berbagai masakan dengan nama asing yang baru pertama kalinya Naya lihat, Naya menunjukkan makanan dengan kuah merah.


"Oh, itu kue beras, kamu mau coba, enak lho."


Naya mengangguk, "Boleh deh mas."


Dan selain itu ada beberapa makanan lainnya yang dipesan, begitu makanan yang mereka pesan sudah ada didepan mereka, Naya heran karna tidak ada sendok.


"Mas, sendoknya mana."


"Orang-orang Korea itu makannya pakai sumpit Nay, ini ni." Rafa menunjukkan yang namanya sumpit.


Naya mengambil sumpit yang ada didepannya, "Pakai ini mas, emang bisa kita makan pakai ini."


"Bisa, nieh begini caranya." Rafa mencontohkan.


Setelah melihat apa yang dilakukan Rafa, Naya mengikutinya, namun karna ini pertama kalinya baginya, jadi dia agak kesusahan.


"Susah mas, Naya gak bisa."


"Nieh aku suapin." Rafa mengarahkan sumpit yang berisi makanan ke mulut Naya.


"Eh, gak perlu mas."


"Ayok makan."

__ADS_1


Naya kukuh gak mau, akhirnya Rafa menyerah memaksa Naya, sebagai gantinya dia meminta sendok pada pelayan untuk memudahkan Naya, kasihankan Naya kalau tidak bisa menikmati makanannya.


****


Setelah membeli apa yang dibutuhkan oleh Naya termasuk membeli ponsel baru untuk Naya, dan juga setelah mengisi perut, Rafa mengajak Naya untuk pulang.


Ketika mereka berada dalam mobil, ponsel butut Naya berbunyi, "Naya menjawab telpon dulu ya mas."


"Angkat aja Nay, gak perlu izin begitu."


"Assalamualaikum bu." ternyata yang menelpon adalah ibunya di kampung.


"Walaikumussalan Naya, kamu apa kabarnya." terdengar suara penuh kerinduan dari ibunya.


"Alhamdulillah Naya baik bu, ibu dan bapak gimana."


"Baik juga nak, oh ya nak, sampaikan terimakasih kami ya buat nak Rafa yang telah mengirimkan foto pernikahan kamu, kamu cantik sekali, ibu dan bapak sampai gak ngenalin saking cantiknya." pujinya, "Dan suami kamu juga tampan sekali, ibu dan bapak beruntung punya mantu tampan begitu."


"Iya bu Naya juga beruntung."


"Bagaimana nak, apa kamu sudah hamil."


Naya terbatuk-batuk mendengar pertanyaan ibuny, gimana mau hamil coba kalau dia sama sekali gak pernah disentuh sama suaminya, tapi gak mungkin membeberkan fakta tersebut, sebagai jawaban atas pertanyaan ibunya dia berbohong, "Belum bu, lagian gimana Naya mau hamil kalau nikah saja baru satu minggu."


Terdengar suara kekehan ibunya dari seberang, "Bener juga, maklum Nay, kebelet ingin gendong cucu, kamu harus kerja keras ya Nay."


"Eh, iya." diiyain aja sama Naya biar cepat.


"Bapak mana bu."


"Bapak seperti biasa disawah."


"Bu, bilang sama bapak, jangan capek-capek, ntar sakit asmanya kambuh."


"Ibu sudah larang, tapi bapakmu itu ngeyel, gak mau dikasih tahu."


"Nanti Naya yang ngomong sama bapak, oh ya bu Naya baru pulang belanja nieh ke mall, beli banyak baju dan kosmetik." curhat Naya.


"Nak, kamu jangan boros, pinter-pinter ngelola uang suami." pesan ibunya.


"Iya bu, bu, kalau gitu udah dulu ya, Naya dalam perjalanan pulang nieh."


Dan sambunganpun terputus.


"Ibu kamu Nay."


"Iya mas, ibu bilang katanya makasih karna udah ngirimin foto pernikahan Naya."


"Iya sama-sama."


***

__ADS_1


__ADS_2