
"Nay." panggil Rafa mengulangi, "Apa kamu baik-baik saja."
Sebuah pertanyaan bodoh sebenarnya mengingat tidak ada wanita yang akan baik-baik saja saat mengetahui suaminya sendiri menghamili wanita lain.
Dan pertanyaan Rafa tersebut dijawab dengan sebuah isakan oleh Naya, isakan itu sekaligus memberitahukan kalau dia saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Sumpah, Rafa benar-benar tidak tega melihat Naya menangis begini.
"Nay, jangan nangis."
"Kenapa ini harus terjadi sama Naya mas, kenapa,? apa salah Naya sampai mas Lio tega menyakiti Naya sedemikian rupa."
"Aku ngerti perasaan kamu Nay, tapi tidak bisakah kamu mendengar penjelasan suami kamu terlebih dahulu, Lio telah berubah Nay, dia bukan Lio yang dulu, dia sangat mencintaimu, dan aku yakin dia tidak mungkin melakukan hal itu, aku yakin ini hanya salah paham."
"Kalau dia mencintai Naya, kenapa dia menghamili Cleo, tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api." Naya makin terisak, sesak banget rasanya saat mengetahui kalau suami selingkuh apalagi sampai membuat sang selingkuhan hamil.
Rafa menarik nafas, dia tidak tahu apa yang terjadi antara Lio dan Cleo, dia menemui Naya dalam rangka misi menyampaikan kabar duka meninggalnya kakek Handoko, bukan menjadi penengah masalah antara Naya dan Lio, "Entahlah Nay, masalah ini biarlah Lio yang nanti menjelaskanya kepadamu, aku tidak berhak ikut campur dalam masalah rumah tangga kalian." lirihnya pada akhirnya.
Naya diam tidak merespon apa yang dikatakan oleh Rafa.
"Aku menemuimu karna ingin mengatakan sesuatu Nay, aku harap kamu tabah mendengarnya."
Naya tetap diam, namun dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Rafa.
"Hmmmm." Rafa berusaha untuk mencari kalimat yang tepat, "Kakek Handoko telah meninggalkan kita untuk selamanya." Rafa memberitahu dengan cara yang sangat halus.
Naya yang sejak tadi menatap langit-langit kamar rumah sakit langsung menoleh ke arah Rafa, Naya benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Rafa, sebelum Naya sempat bertanya, Leta yang sejak tadi duduk disofa mendekati kakaknya dan berkata, "Maksud kakak apa."
Rafa tidak langsung menjawab pertanyaan adiknya, laki-laki itu menunduk, rasanya dia tidak sanggup mengatakan berita buruk itu untuk kedua kalinya.
"Kak Rafa, jawab kak, jangan diam saja." tuntut Leta tidak sabaran saat kakaknya malah terdiam.
Rafa menarik nafas, beberapa detik kemudian, dia mendongak dan dengan menguatkan hatinya dia berkata, "Kakek sudah meninggal Nay." suara Rafa terdengar lemah.
"Meninggal." ulang Naya tidak percaya.
Rafa mengangguk, "Iya Nay, kakek meninggal."
Naya semakin kuat terisak mendengar berita buruk itu, belum cukup hal buruk yang dialaminya hari ini, kini dia kembali mendengar kalau kakek mertuanya, orang yang selama ini selalu menyayanginya telah tiada, Berat sudah pasti, namun Naya berusaha menerimanya dengan ikhlas tanpa menyalahkan takdir.
"Kak Rafa, beneran kakek Handoko meninggal, kakak bohongkan." tanya Leta menolak untuk percaya, pasalnya beberapa jam yang lalu laki-laki tua yang sudah dia anggap sebagai kakeknya itu bercengkrama dan tertawa dengan keluarganya, dan kini dia sudah pergi begitu saja.
"Iya Ta, kakek Handoko telah pergi."
Mendengar konfirmasi kakaknya, Leta menangis, dia juga merasa kehilangan.
"Ya Tuhann kakek, hiks hikss, kenapa kakek pergi secepat ini, kakek bilang ingin melihat cicit kakek, kakek bilang akan menggendong cicit kakek, kakek sudah berjanji akan berjuang untuk sembuh, tapi kenapa sekarang kakek malah pergi meninggalkan kami." suara Naya terdengar serak karna dia seharian ini dia banyak menangis.
"Sudahlah Nay, ikhlaskan kepergian kakek Handoko biar dia tenang di alam sana."
"Mas Rafa, Naya ingin melihat kakek." pintanya berusaha untuk duduk, melihat hal tersebut Rafa berusaha untuk membantu Naya.
"Kamu istirahat saja Nay, kamu masih belum sehat." Rafa menolak permintaan Naya secara halus, bukannya tidak mengizinkan, hanya saja kondisi Naya masih terlalu lemah, takutnya dia tidak kuat lagi kalau memaksakan diri melihat jasad kakek Handoko.
"Naya tidak apa-apa mas, percayalah."
Karna tidak tega menolak keinginan Naya, Rafa akhirnya menyetujui permintaan Naya, dia membantu Naya turun dari bankar dan memapahnya keluar menuju ruang jenazah tempat dimana jasad kakek Handoko kini berada sebelum dibawa pulang ke rumah.
Leta mengikuti dibelakang, dia beberapa kali membersit hidungnya yang memerah karna menangis.
Saat itu Lio dan mamanya tengah berpelukan didepan ruang jenazah, mereka menoleh saat menyadari kehadiran Naya yang dipapah oleh Rafa.
Lio melepaskan pelukannya dan menyongsong kedatangan Naya, sedangkan mama Renata hanya menatap menantunya tersebut tanpa ekpresi.
"Nayaa, kamu kenapa kesini, kamu seharusnya istirahat, tubuh kamu itu sangat lemah Nay." Lio jelas khawatir dengan kondisi istrinya, apalagi wajah Naya terlihat begitu pucat seperti Vampire.
Naya tidak menggubris kekhawatiran suaminya, untuk saat ini dia benar-benar tidak mau berbicara dengan Lio meskipun hanya satu hurufpun.
__ADS_1
"Naya ingin melihat kakek Lio." Rafa yang menjawab, "Biarkan Naya melihat kakek untuk terakhir kalinya."
"Sini Nay aku bantu." Lio mengambil alih untuk memapah Naya, Rafa yang mengerti langsung melepaskan tangannya pada lengan Naya.
Namun Naya langsung menepis tangan Lio dengan kasar.
"Tidak usah mas, Naya bisa sendiri." tandasnya dan berlalu dengan langkah tertatih-tatih Naya berjalan kedalam kamar jenazah.
Leta mengikuti Naya memasuki kamar jenazah.
Sakit jelas dirasakan oleh Lio, ini untuk kedua kalinya Naya menolaknya. Dia hanya menatap punggung istrinya dengan sedih sampai menghilang dibalik pintu.
"Lo yang sabar ya Lio, Naya hanya tengah emosi saat ini, kalau suasana hatinya sudah membaik, dia pasti akan mendengarkan penjelasan lo."
Lio mengangguk lemah, dia tidak menyangka kalau dia diuji dengan ujian yang begitu hebat saat ini, dia hanya berharap kuat menjalaninya.
****
Hujan air mata mengiringi pemakaman kakek Handoko, semua kerabat, sahabat, karyawan dan rekan kerja datang menghadiri pemakaman tersebut sebagai bentuk penghormatan terakhir.
"Selamat jalan kakek, kakek orang baik, Tuhan pasti menempatkan kakek ditempat yang terbaik disisinya, beristirahatlah dengan tenang disana kakek." doa Naya dalam hati memandangi tanah makam yang masih basah.
Lio beberapa kali mendekatinya, namun Naya menjauh, ampai saat ini Naya menolak berada didekat Lio, karna melihat suaminya itu membuat dada Naya terasa sesak, makanya Lio hanya bisa menatap Naya tanpa bisa mendekat hanya untuk menguatkan Naya, padahal dia juga rapuh dan butuh untuk dikuatkan.
Bulan senantiasa berada didekat ibu angkatnya, meskipun masih berumur lima tahun, namun Bulan sudah lebih dari mengerti apa yang terjadi, dia tahu, kakek buyutnya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Bunda, kakek orang baik, kata ibu guru, kalau orang baik itu akan masuk surga." cloteh gadis kecil itu sambil menaburkan bunga dipusara sang kakek.
Naya tersenyum kecil mendengar ucapan Bulan, anak angkatnya itu benar-benar cerdas untuk anak seusianya, "Iya sayang, kakek pasti akan ditempatkan ditempat yang terbaik disisi Tuhan."
"Saya benar-benar tidak menyangka tuan akan meninggalkan kita secepat ini." ujar mbak Wati yang ikut menaburkan bunga.
"Iya Wati, padahal baru kemarin tuan ingin di buatkan ini itu, dan sekarang tuan sudah tiada, umur manusia tidak ada yang mengira." sambung bi Darmi, sesekali dia menyeka matanya.
Wajah-wajah para pekerja dirumah besar terlihat mendung, jelas mereka juga merasa kehilangan atas meninggalnya kakek Handoko karna selama hidupnya kakek Handoko selalu memperlakukan mereka dengan baik.
Sedangkan mama Renata hanya bisa terisak didepan pusara papanya, dia tidak mampu untuk berkata-kata, niatnya untuk memisahkan Lio dan Naya harus berakhir membuat papanya pergi untuk selamanya.
Setelah berdoa yang dipimpin oleh seorang ustadz, satu persatu orang-orang yang ikut mengantarkan kakek Handoko ke pristirahatan terakhirnya kini mulai meninggalkan area makam, dan kini hanya tinggal semua anggota Rasyad dan para pekerja rumah besar, Rafa dan Leta yang masih betah berada dimakam, mereka berdoa lebih lama sebelum memutuskan untuk pulang.
Saat pulang ke rumahpun, Naya menolak untuk satu mobil dengan Lio, dia memilih untuk menaiki mobil yang kendarai oleh Rafa dan Leta, Lio tidak mau memaksa, dia membiarkan Naya memasuki mobil Rafa.
****
Naya memasukkan sebagian pakaiannya ke dalam koper begitu tiba dikamarnya, Lio yang baru masuk dan melihat apa yang dilakukan oleh Naya bertanya dengan panik.
"Nay, apa yang kamu lakukan, kamu mau pergi kemana." Lio benar-benar takut kalau Naya meninggalkannya, "Ya Tuhan, jangan sampai Naya meninggalkanku."
"Untuk sementara ini, Naya mau tidur dikamar Bulan, Naya rasanya tidak sanggup untuk satu ranjang dengan mas Lio." ketus Naya tanpa melihat Lio.
Lio menarik nafas lega, meskipun tidak terima sebenarnya kalau Naya harus ngungsi ke kamar Bulan, tapi itu lebih baik daripada Naya pergi dari rumah.
Naya juga membawa serangkaian produk skincarenya dan memasukkannya ke koper.
Begitu selesai mengepak semua hal yang dia butuhkan, Naya menarik kopernya, Lio dengan sigap mengambil alih koper tersebut dari tangan Naya, "Sini aku bawain."
Lio tahu Naya akan menolak, tapi sebelum Naya sempat mengeluarkan penolakannya, Lio sudah berjalan dengan langkah lebar keluar menarik koper milik Naya.
Naya hanya mendengus, padahlkan dia tidak ingin mendapat bantuan dalam hal apapun dari Lio.
"Ayah, kenapa papa bawa koper ke kamar Bulan." heran gadis kecil itu saat Lio memasuki kamarnya dengan membawa-bawa koper.
Naya yang menyusul masuk dan mendengar pertanyaan Bulan menduhului Lio menjawab, "Untuk sementara bunda mau tidur dikamar kamu bolehkan sayang." ujarnya dengan tersenyum karna dia tidak mau Bulan curiga kalau saat ini dia dan Lio tengah perang dingin.
"Bunda mau tidur dikamar Bulan, ayah juga ya, tapi tempat tidur Bulan kecil, mana muat untuk tiga orang." cloteh Bulan polos.
Naya langsung membantah, "Bukan sayang, hanya bunda kok yang ngungsi dikamar Bulan, ayah tidurnya tetap dikamar."
__ADS_1
"Ohhh." bibir mungil Bulan membulat, "Tapi kasihan ayah tidur sendirian bunda, ayah pasti takut."
Lio memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Bulan tidak mengizinkan Naya tidur dikamarnya, "Iya Bulan, ayah takut tidur sendirian, bunda tega sekali membiarkan ayah sendiri."
Naya langsung melotot ke arah Lio, "Apa-apaan sieh mas Lio ini."
"Ayahkan sudah gede sayang, dia pasti tidak akan takut, jadi izinkan ya bunda tidur disini menemani Bulan." bujuk Naya.
"Tapi ayah..."
"Biar Bintang saja ya yang menemani ayah."
Ngeong
Ngeong
Demi mendengar namanya disebut membuat Bintang yang tengah bergelung ditempat tidur mengeong seolah-olah menyetujui ucapan Naya.
"Baiklah, biar Bintang yang...."
"Tidak usah tidak usah." Lio buru-buru menolak mendengar usulan itu, dia benar-benar ogah tidur ditemani oleh seekor kucing, "Ayah berani kok tidur sendirian."
Naya yang masih sangat kesel dengan Lio hanya bisa menahan tawanya.
"Bulan, tolong jaga bunda dengan baik ya saat bunda tidur dikamar kamu."
"Asiaappp ayah."
Sebelum keluar, untuk terakhir kalinya Lio berusaha untuk menggoyahkan Naya, "Nayy, beneran kamu mau tidur disini, tempat tidurnya kecil lho, kamu tidak bisa leluasa bolak-balik ke kiri dan ke kanan."
"Hmmm." gumam Naya masih tidak mau memandang Lio.
"Baiklah kalau begitu, kalau kamu butuh sesuatu atau apa, jangan sungkan untuk mencariku." pesannya sebelum benar-benar keluar dari kamar Bulan.
"Dan aku tidak akan meminta bantuan dari mas Lio." gumam Naya tanpa suara.
***
"Hahaha." Cleo tertawa bahagia setelah berhasil mengacaukan acara syukuran yang digelar oleh Lio, "Sekarang kamu tidak bisa apa-apakan Lio, istri kampung kamu itu pasti akan meninggalkan kamu, dan kamu, akan jadi milikku kembali." Cleo benar-benar sangat bahagia saat ini karna menyangka rencananya berhasil.
Suara bel mengalihkan perhatiannya, Cleo bergegas ke pintu untuk melihat siapa tamu yang datang berkunjung malam-malam begini.
Cleo bisa melihat kalau yang datang adalah Lio, dia tersenyum puas karna berfikir Lio datang untuk memintanya kembali, oleh karna itu, Cleo merapikan rambutnya dan setelah dirasa sempurna, Cleo membuka pintu dengan senyum mengembang sempurna.
"Lio kamu....."
Lio langsung mencengkram lengan Cleo dengan cukup kuat, matanya menatap Cleo dengan tajam, mata itu seolah-olah mengatakan 'Kamu harus membayar apa yang kamu perbuat pada keluargaku.'
Cleo merasakan sakit dilengannya, dia meringis, "Awww, apa-apaan sieh kamu Lio, sakit tahu gak." rengeknya berharap Lio melepas cengkramannya.
"Rasa sakit yang kamu rasakan tidak sebanding dengan apa yang aku alami atas ulahmu brengsek, apa yang kamu lakukakan hah, mengaku-ngaku hamil anakku didepan keluargaku, benar-benar kamu tidak punya kerjaan."
"Faktanya aku memang tengah hamil anak kamu Lio, dan aku hanya ingin kamu tanggung jawab." Cleo berusaha membela diri.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Cleo membuat Lio makin berang, tidak sadar cengkraman tangannya semakin kuat dilengan Cleo, "Jangan mengada-ngada kamu Cleo, kamu bohongkan, kamu hanya ingin menghancurkan keluargakukan, kalau itu yang kamu inginkan, selamat, kamu telah berhasil sampai membuat kakekku pergi untuk selamanya."
Cleo tahu kakek Handoko meninggal, itulah jahatnya Cleo, dia tidak mersa bersalah dan dia tidak peduli sama sekali dengan hal itu, "Jangan menyalahkan aku Lio, aku telah berusaha menghubungi kamu dan berusaha memberitahu kamu akan semuanya, tapi kamu mengabaikan aku dan tidak mau menjawab telponku."
"Kenapa aku harus bertemu dengan kamu kalau aku sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi denganmu, kamu fikir aku sebegitu tidak ada kerjaanya sampai harus menemui kamu hah."
"Lio, tidak bisakah kamu bersikap lembut kepadaku, kamu harus ingat Lio, saat ini aku tengah mengandung, dan itu adalah anak kamu."
"Itu bukan anakku." sangkal Lio.
"Ini anakmu Lio, darah dagingmu, tega sekali kamu tidak mengakuinya." untuk lebih meyakinkan, Cleo menampilkan ekpresi terluka.
****
__ADS_1