
Rafa mengajak Naya ketaman belakang kantor karna suasana disana sepi, tempat itu cocok bagi orang yang ingin meredam kesedihannya. Karna Rafa memiliki jabatan cukup penting diperusahaan Rasyad group sehingga tidak heran sepanjang dalam perjalanan mereka menjadi pusat perhatian para karyawan yang lalu lalang, terutama kaum hawa yang diam-diam tertarik sama Rafa, gak salah memang, karna manusia memilki sifat ingin tahu, mungkin mereka bertanya-tanya siapa gerangan wanita berwajah murung yang saat ini tengah bersama Rafa, mereka menerka-nerka kalau gadis yang saat ini bersama dengan Rafa adalah kekasih Rafa.
Taman belakang kantor tidak terlalu luas tapi adem, taman itu dibuat oleh kakek Handoko ketika masih memimpin perusahaan, taman itu dibuat dengan tujuan untuk bersantai melepas kepenatan ditengah pekerjaan kantor yang membuat kepala stress.
Naya dan Rafa duduk dibangku panjang dekat pohon rindang, begitu tiba ditempat sepi, Naya yang sejak tadi berusaha keras membendung air matanya kini sudah tidak kuat lagi, aliran deras air jebol dari pertahanannya membentuk sungai kecil yang mengalir dipipinya.
"Hikss hiksss, tega banget mas Lio."
Rafa mengelus punggung Naya dan mencoba menghiburnya, "Sudah Nay, kamu jangan sedih, sayangkan kalau make upnya luntur, ntar kecantikannya berkurang lagi."
Namun Naya bukannya berhenti menangis malah makin sesenggukan, "Buat apa cantik, toh mas Lio tetap gak suka sama aku."
Rafa mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan menyerahkannya pada Naya.
Naya menerima sapu tangan pemberian Rafa, bukannya mengahapus air matanya, Naya malah membersit hidungnya, dan setelah membersihkan hidungnya dari ingus, Naya kembali menyerahkan sapu tangan tersebut sama Rafa, "Makasih mas." ujarnya dengan suara sengau.
Rafa memegang sapu tangan bekas ingus Naya, meletakkannya dibawah dengan berjengit.
"Padahal Naya sudah capek-capek datang kemari, malah diusir, kalau bukan karna kakek Handoko, Naya gak mau kesini." mengusap air matanya dengan kasar dengan punggung tangannya, Naya menatap rantang berisi makan siang yang dibawanya untuk Lio dan kemudian menyodorkannya pada Rafa.
"Buat aku." tanya Rafa melihat Naya menyodorkan rantang tersebut.
"Iya, Naya harap mas Rafa mau makan masakan kampung."
Dengan senyum tipis Rafa meraih rantang tersebut dan berkata, "Pasti bakalan aku habisin Nay."
Naya tersenyum tipis mendengar kalimat Rafa, "Kamu udah makan Nay."
Naya menggeleng sebagai jawaba.
"Berarti kita harus makan berdua."
"Gak usah mas, Naya makannya nanti dirumah saja." tolak Naya.
"Gak mau, kamu harus makan bersama, kalau gak aku marah nieh."
Naya terkekeh, "Iya deh kalau gitu."
__ADS_1
"Nahh, gitu donk, meskipun sedih tapi kesehatan harus di nomersatukan." cloteh Rafa.
"Seandainya mas Lio seperti mas Rafa." lirih Naya sendu.
"Untuk saat ini sebaiknya kita jangan inget-inget Lio oke, supaya nafsu makan kamu gak ilang."
Naya mengangguk menyetujui, karna mengingat Lio hanya membuatnya sakit hati.
Dan ketika Rafa akan memisahkan rantang-rantang tersebut, entah dari mana datangnya tiba-tiba Lio sudah berdiri dihadapan mereka dan merebut rantang tersebut dari tangan Rafa.
"Ini punya gue." ujarnya tanpa rasa berdosa, padahal beberapa menit yang lalu dengan tanpa perasaannya mencela masakan Naya.
"Mas Lio." Kaget Naya dengan kahadiran Lio yang tiba-tiba.
"Lio, ngapain lo disini." tanya Rafa yang juga tidak menduga kalau Lio menyusul mereka.
"Mau ngapain lagi, gue mau ngambil makan siang yang dibawain oleh istri guelah."
"Hehh."
Flasback
Flasbacka on.
"Apa-apaan sieh mas Lio." Naya mengambil rantang tersebut dari tangan Lio, "Ini sudah Naya kasih ke mas Rafa, jadi ini bukan punya mas lagi."
"Tapi itu lo bawain untuk guekan." ngeyel.
"Iya tadinya, tapi karna mas sudah menolak dan menyakiti hati Naya dengan kata-kata pedas mas Lio, Naya sudah tidak berminat lagi memberikan makan siang ini untuk mas Lio, mending Naya kasih ke mas Rafa yang bisa menghargai masakan Naya." Naya kembali menyerahkan rantang yang kini berada ditangannya pada Rafa.
Namun lagi-lagi, baru saja Rafa meraihnya, tuh rantang kembali diambil paksa oleh Lio, "Gak bisa, yang suami lo itu gue, mana bisa lo ngasih makanan yang awalnya lo bawain untuk suami lo untuk orang lain, dosa tahu gak, emang lo mau masuk neraka." Lio udah seperti anak kecil saja yang tidak suka mainannya dikasih ke anak lain meskipun dia sudah tidak lagi menyukainya.
"Mas kok kayak anak kecil begini sieh."
Rafa yang dari tadi diem berusaha menengahi, dia tidak mau lagi mendengar pertengkaran suami istri tersebut, "Sudah-sudah, oke gak apa-apa, lo ambil saja tuh rantang, tapi lo makan, jangan kata-katain masakan Naya." lirih Rafa berbesar hati.
"Ya pastilah gue makan."
__ADS_1
Naya sumpah ingin menendang Lio saking keselnya sama suamimya itu, namun mengingat kalau itu dosa membuatnya mengurungkan niatnya.
"Ngapain lo masih disini." kalimat itu ditujukan pada Rafa, "Masuk sana, kerjaan masih numpuk nungguin lo didalam."
Rafa mendengus, dia membatin, "Dihh, gak tahu terimakasih banget, tadi dia yang bikin bininya nangis, sekarang setelah berhasil gue hibur dia malah ngusir gue."
"Iya iya, gue pergi." gumam Rafa kesal, "Naya, aku masuk dulu ya."
Naya mengangguk, "Makasih mas, dan maaf ya mas atas perlakuan mas Lio."
Rafa tersenyum tipis sebelum berlalu.
"Kenapa lo bilang makasih sama Rafa dan kenapa lo pakai minta maaf segala, emang gue salah."
"Karna dia udah hibur Naya, emang kayak mas yang suka bikin Naya sedih, dan jelaslah mas salah, gak mengakui lagi."
"Sorry, habisnya gue lagi banyak fikiran, banyak berkas penting yang gue periksa."
Mereka duduk, "Kenapa hanya dipandangin, makan donk." perintah Naya karna melihat Lio belum juga membuka rantang.
"Bukain." perintah Lio menyodorkan rantang tersebut pada Naya.
Naya mendengus kasar, namun tetap mengambil rantang yang disodorkan oleh Lio, dalam hati Naya berkata, "Mentang-mentang sebagai suami, seenaknya main perintah, hanya buka rantang begini doank pakai nyuruh-nyuruh."
"Yang ikhlas, inget, melayani suami itu dapat pahala dan masuk surga." ujarnya melihat raut ketidakikhlasan diwajah Naya.
"Iya, Naya ikhlas kok, kalau gak ikhlas ngapain Naya bela-belain jauh-jauh datang ke kantor." dengan wajah masam.
"Kalau ikhlas kok masam sieh wajahnya." mencolek dagu Naya.
"Apa sieh mas colek-colek, emang Naya sambel terasi apa." sewot Naya.
"Idihh baperan."
"Biarin."
****
__ADS_1