
"Mas Lio kok lebay banget sieh, ini gak boleh, itu gak boleh, Naya begini mas khawatir, Naya begitu mas khawatir, mas mau jadiin Naya pajangan dirumah."
Tuh, ngambekkan Naya jadinya karna tidak dibolehin untuk mengantar Bulan dihari pertamanya masuk sekolah.
"Bulan sayang, kamu sebaiknya tunggu ayah dan bunda dimeja makan ya, nanti ayah dan bunda nyusulin, sekarang ayah dan bunda mau bicara dulu." perintah Lio karna kemungkinan perdebatan antara dirinya dan Naya akan berlanjut, dan Lio tidak ingin putri kecilnya menyaksikan hal tersebut.
"Baik ayah." patuh Bulan berlalu meninggalkan ayah dan bundanya.
Begitu Bulan sudah pergi, Naya kembali berkata, "Pokoknya aku mau ikut mengantarkan Bulan mas, aku ingin menemaninya."
Lio menarik nafas, pengalaman mengajarkannya kalau meladeni wanita, apalagi yang tengah ngambek tidak boleh dengan membalas dengan suara tinggi, sehingga dia dengan suara selembut mungkin berusaha untuk memberi pengertian untuk Naya, "Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu dan bayi kita Nay, aku hanya merasa tenang kamu berada dirumah saat kamu tidak berada dalam pengawasanku."
"Tapi Naya tidak akan apa-apa mas, percaya deh sama Naya, lagiankan Naya stres dirumah mulu, Naya ingin jalan-jalan menghirup udara segar."
"Yang namanya hidup di Jakarta, tidak ada udara segarnya Nay, berbeda dengan didesa kamu, di Jakarta hanya ada udara yang penuh polusi, dan itu tentu saja itu tidak baik untuk ibu hamil seperti kamu."
"Mas Lio jahat." Naya cembrut, tangannya disilangkan didepan dada.
"Astagaa gadis ini, kenapa dia jadi keras kepala sieh saat hamil begini." keluh Lio dalam hati.
"Baiklah kalau begitu, kamu dan aku akan mengantarkan Bulan." putus Lio mengalah karna tidak mau melihat Naya ngambek.
Bibir Naya kembali normal saat mendengar persetujuan suaminya, "Bener mas."
"Iya."
"Kalau gitu Naya siap-siap dulu." Naya dengan semangat mengarahkan kakinya ke arah kamar mandi.
"Nay."
"Apa." tanya Naya berbalik.
"Jangan dandan berlebihan, aku tidak mau laki-laki diluar sana memandang kamu dengan pandangan mupeng."
"Akukan gak pernah dandan berlebihan mas, aku dandannya natural kok."
"Natural saja cantik, lebih baik gak pakai apa-apa saja, atau jangan mandi saja sekalian." saran Lio berlebihan yang membuatnya berhasil mendapatkan plototan dari Naya.
"Jangan ngaco deh mas." ketusnya, "Mas apa gak malu jalan sama Naya kalau kucel begitu."
"Tentu saja tidak sayang, karna bagaimanapun kamu tetap cantik dimataku." gombalnya dengan senyum jailnya.
"Dasar gombal." tandasnya dan melanjutkan perjalanannya ke kamar mandi.
****
Lio tidak tenang, dia terus kefikiran Naya, dia takut istrinya kenapa-napa, sehingga begitu tiba dikantor, dia sudah menelpon Naya lebih dari lima belas kali hanya untuk memastikan apakah Naya baik-baik saja, Naya sampai dibuat bosan olehnya dan mengomeli Lio yang paranoid.
Lima belas menit berlalu sejak terakhir kali Lio menelpon Naya, sebenarnya tangannya gatal ingin menghubungi Naya lagi, tapi ditahanya karna takutnya Naya ngomel dan mengatakan kalau dia lebay.
Lio kemudian meraih telpon dimejanya dan menghubungi Rafa, "Raf, datang ke ruangan gue." setelah memberi perintah, Lio langsung menutup telpon dan berniat menunggu jawaban.
Gak lama pintu ruangan terbuka, memang beginilah yang terjadi kalau bos adalah sahabat sendiri, tidak perlu mengetuk terlebih dahulu kalau ingin masuk, pokoknya suka-suka deh.
"Bisa gak sieh lo kalau mau masuk ketuk dulu." omel Lio melihat kedatangan sahabatnya tersebut.
"Ngapain sieh pakai ngetuk segala, ngabisin waktu saja, lagiankan lo pasti nyuruh gue masukkan."
"Elo itu ya, selalu ada saja jawabannya." dengus Lio kasar.
"Lo nyuruh gue datang ke ruangan lo ada perlu apa, mau ngajakin gue makan siang dirumah lo lagi ya ntar."
"Gak." tandas Lio menghempaskan harapan Rafa.
"Terusss."
Lio berdiri dari duduknya, tanpa menjawab pertanyaan Rafa, Lio memerintahkan Rafa mengikutinya, "Ikut gue."
"Mau kemana, inikan bukan waktunya makan siang."
"Siapa juga yang mau makan siang."
"Lha terus."
"Ikut saja, jangan banyak tanya."
"Huhhh, begini deh nasib jadi bawahan, harus nurut apa kata bos, bahkan kalau di suruh lompat ke jurang sekalipun bawahan harus nurutin."
"Cepatan, jangan bengong saja lo."
"Iya iya." Rafa berjalan menyusul Lio.
***
Untuk menunggu Bulan, Naya dan ibu-ibu lainnya atau pengasuh menunggu dikantin yang ada di sekolah tersebut, acara menunggu itu tentu saja tidak akan membosankan karna Naya punya teman ngobrol yang baru dikenalnya satu jam yang lalu, saat ini dua orang yang baru saling kenal itu duduk berhadapan dan saling berbicara satu sama lain.
"Mbak ini terlihat masih muda, beneran yang dianterin anaknya, atau itu adiknya mbak."
Naya terkekeh mendengar pertanyaan tersebut, dia memang masih muda, umurnya saja baru masuk dua puluhan, awalnya dia memang belum mau menikah, tapi apa mau dikata, dia terpaksa harus menikah untuk menolong orang tuanya dari jeratan hutang, meskipun awalnya terpaksa dan Lio tidak mau menerimanya sebagai istri, tapi kini Naya bahagia, apalagi Lio begitu sangat perhatian padanya, saking perhatiannya dia sampai melarang Naya ini itu, tapi pada akhirnya Lio luluh dan membiarkan Naya melakukan apapun yang dia inginkan selama Naya dan sik bayi tidak kenapa-napa.
"Berapa sieh umur mbak Naya kalau boleh tahu." tanya teman baru Naya yang bernama Dina itu.
"Saya memang masih muda mbak, hari ini saya resmi berumur dua puluh tahun." jawab Naya jujur.
"Berarti mbak hari ini berulang tahun donk."
"Iya."
"Wahhh, selamat ulang tahun ya mbak Naya, semoga selalu panjang umur dan murah rizki."
"Amin, terimakasih mbak atas doannya."
"Di usia 20 tahun, bukannya mbak seharusnya masih kuliah ya."
__ADS_1
"Iya, tapi karna Naya berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, Naya jadi memutuskan untuk menikah supaya tidak jadi beban orang tua." bohong Naya tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya, ya gak mungkin juga cerita mengingat perempuan yang kini duduk dihadapannya baru saja dikenalnya.
"Ohhh, terus, Bulan itu..."
"Dia anak angkatku mbak, aku dan suamiku mengadopsinya dari panti asuhan, meskipun begitu, kami sudah menganggap Bulan seperti anak kami sendiri."
"Ohhh begitu."
"Semoga Bulan dan Leon bisa berteman baik ya mbak Naya." harap Dina karna melihat anaknya dan Bulan terlihat akrab waktu pertama bertemu.
Leon adalah nama anak Dina yang juga baru masuk sekolah seperti Bulan.
"Iya mbak Dina, saya juga berharapnya begitu."
Dua wanita itu tidak membutuhkan waktu lama untuk akrab, mereka mengobrol tentang banyak hal termasuk masalah kehamilan dan masalah perkembangan anak, Dina bahkan menyarankan Naya untuk ikut senam kehamilan, dan setelah mendengar cerita Dina, Naya mempertimbangkan untuk ikut senam kehamilan tersebut, tentunya dia harus memberitahu Lio terlebih dahulu untuk mendapatkan izinnya.
****
"Toko perhiasan." komen Rafa saat dia diminta berhenti di depan sebuah toko perhiasan, "Lo mau beli perhiasan Lio."
"Gak, gue mau beli martabak, ya beli perhiasanlah begok secara inikan toko perhiasan."
"Lo mau beliin Naya."
"Iya, hari ini adalah ulang tahunnya."
"Serius ini hari ulang tahunnya Naya."
"Hmmm."
"Wahh gue kayaknya harus ngucapin selamat ulang tahun nieh sama dia." Rafa mengeluarkan ponselnya untuk memberi ucapan selamat ulang tahun lewat sambungan telpon.
"Jangan lakukan hal itu." cegah Lio saat Rafa sudah akan mendial nomer Naya.
"Emang kenapa, gue hanya mau mengucapkan selamat ulang tahun doank."
"Gue tengah merencanakan pesta kejutan untuk Naya, kalau lo nelpon dia dan Naya bertanya darimana lo tahu tanggal ulang tahunnya, bisa-bisa kejutan yang akan gue persiapkan gagal total."
Mendengar penjelasan sahabatnya tersebut otomatis membuat Rafa mengurungkan niatnya tersebut, "Ohhh lo mau kasih kejutan sama Naya, bilang donk sejak tadi."
"Dan tugas lo adalah membantu gue merancang pesta kejutan untuk Naya."
"Oke, gue siap membantu kalau itu berhubungan dengan Naya."
Lio bukannya malah senang karna Rafa mau membantunya tanpa bertele-tele, dia malah curiga, "Kenapa lo terlihat senang gitu saat gue meminta bantuan lo untuk merancang pesta ulang tahun untuk Naya."
"Emangnya kenapa, ada yang salah."
Rafa tahu apa yang ada difikiran Rafa, dan melihat raut wajah Lio yang terlihat mencurigainya, Rafa langsung membantah, "Astagfirullah, lo jangan berfikir yang aneh-aneh deh Lio, guekan sudah sering bilang, Naya itu sudah gue anggap sebagai adek gue sendiri, lagian diakan bini lo, ya kali gue tega ngembat hak milik lo." jelas Rafa, "Heran deh gue sama lo, curigaan banget sama sahabat sendiri, untung gue sahabat yang baik, kalau gak, gue sudah ninggalin elo dan tidak akan mau membantu lo merancang pesta ulang tahun Naya." Rafa marah nieh ceritanya.
"Iya iya maafin gue, etdahh gitu aja lo marah."
"Siapa yang gak marah Lio kalau di curigai yang enggak-enggak, apalagi sama sahabat gue sendiri."
"Iya sorry, jangan marah lagi donk."
"Hmmm."
Mendengar teguran Rafa membuat Lio melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil yang diikuti oleh Rafa.
Mbak pelayan toko perhiasan menyambut mereka dengan ramah, "Selamat datang mas, ada yang bisa dibantu." dihiasi dengan senyuman manis di bibirnya.
"Saya mau cari hadiah ulang tahun untuk istri saya." jawab Rafa.
"Ohhh, hadiah ulang tahun ya."
"Mas mau beliin istrinya hadiah apa, kalung, gelang, anting atau cincin."
"Cincin saja."
"Kalau saya boleh memberi saran, bagaimana cincin mawar ini saja mas." sik mbak mengeluarkan sebuah cincin dari etalase, cincin dengan desain bunga mawar yang sangat cantik.
Lio langsung tertarik saat melihat cincin yang direkomendasikan oleh mbak pelayan toko.
"Saya yakin istri mas akan menyukainya."
"Oke, saya ambil yang ini." ucapnya tanpa perlu berfikir.
"Baik mas, mohon tunggu sebentar."
Dan setelah membayar cincin mawar bertahtakan berlian itu, Lio dan Rafa meninggalkan toko perhiasan tersebut, rencanaya mereka akan menyiapkan sebuah kejutan untuk ulang tahun Naya.
****
Salah satu teman, lebih tepatnya gadis yang selalu bersaing dengan Cleo dalam mengoleksi barang-barang bermerk mengirim gambar tas dengan caption yang membuat Cleo seketika terbakar.
Gimana, baguskan tas aku Cleo, ini baru keluar lho, limited edition, kamu sudah punya belum, belum kayaknya ya, kalau belum buruan beli sana sebelum habis diembat orang.
Tentu saja Cleo iri dengan temannya itu, itukan tas yang dia inginkan, dia meminta Dani untuk membelikannya, tapi laki-laki itu menolaknya yang berujung membuat mereka bertengkar dan menjadi tontonan menarik pengunjung mall yang berlalu lalang.
"Akhhhh, sialan." jerit Cleo membanting ponselnya ditempat tidur dan diikuti dirinya yang juga menghempaskan tubuhnya, gadis itu terlihat frustasi karna tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, dia bertambah frustasi saat mengetahui temannya yang lebih dulu memiliki tas yang dia inginkan.
Kebanyakan wanita memang begitu, saling suka pamer pada satu sama lain dan mengompori, "Sik Rika itu pasti tahu kalau saat ini aku gak mampu beli, makanya dia ngompor-ngomporin aku." Cleo memukul-mukulkan tangannya dikasur, "Ihhhh, kesel gue."
Memang saat Lio memutuskannya, Cleo bener-bener tidak bisa membeli apa yang dia inginkan, meskipun dia memiliki pacar, tapi Dani orangnya cendrung pelit dan perhitungan, beda dengan Lio yang dengan gampangnya mengeluarkan black cardnya dan membelikan apapun yang Cleo inginkan tanpa batas.
"Gimana ini, gue ingin banget lagi tas itu, itukan limited edition." Cleo jadi galau sendiri gara-gara tas, "Satu-satunya harapan untuk membelikan aku adalah Lio, apa tante Renata sudah berhasil belum ya membujuk Lio untuk kembali padaku, daripada aku bertanya-tanya, lebih baik aku bertanya langsung untuk memastikan."
Cleo langsung bangun dari kasur dan berniat menemui mama Renata.
****
"Masuk." perintah mama Renata saat mendengar suara pintu ruangannya diketuk.
__ADS_1
"Maaf bu mengganggu." ucap Kania asisten pribadi mama Renata.
"Ada apa Kania."
"Diluar ada wanita yang mau ketemu sama ibu."
"Siapa."
"Namanya nona Cleo."
"Cleo." gumamnya tanpa suara, "Suruh dia masuk."
"Baik bu."
Gak lama kemudian, nampaklah Cleo dengan penampilan modis dan berkelasnya, gadis itu terlihat begitu cantik dan menawan, hal itu semakin membuat mama Renata ingin menjadikan Cleo sebagai menantunya, karna wanita seperti Cleo bisa dibangga-banggakan dihadapan teman-teman sosialitanya.
"Tante." sapa Cleo begitu memasuki ruangan mama Renata.
Mama Renata tersenyum lebar, dia berdiri dari kursi kerjanya untuk menyambut wanita yang dia idam-idamkan sebagai menantunya.
"Cleo sayang." dua wanita berbeda umur itu berpelukan dan cupika cupiki, "Kamu semakin cantik saja sayang." pujinya.
"Tante juga cantik." puji Cleo hanya untuk sekedar basa-basi.
Mama Renata mengibaskan tangannya, "Kamu ini bisa saja, sudah tua begini dibilang cantik."
"Ayok duduk." ujar mama Renata menunjuk sofa yang ada diruang kerjanya.
"Kamu mau minum apa."
"Apa saja tante asal tidak merepotkan."
"Tentu saja tidak."
"Kaniaaaa, Kaniaaaa." teriak mama Renata memanggil asisten pribadinya.
"Iya bu, ada apa." tanya Kania yang datang dengan tergesa-gesa begitu mendengar atasannya memanggil.
"Tolong buatkan teh untuk kami ya."
"Baik bu."
Setelah kepergian asistennya tersebut, mama Renata kembali kepada Cleo, "Jadi, ada angin apa sampai kamu mengunjungi tante."
"Cleo hanya mau menanyakan tan, apakah tante sudah bicara dengan Lio mengenai pembicaraan kita waktu itu."
Mengingat pembicaraannya dengan putranya, mama Renata menghela nafas sebelum kemudian dia menjawab pertanyaan Cleo, "Tante sudah mencoba bicara dengan anak itu Cle."
"Terus tan."
"Pembicaraan kami tidak berjalan mulus, dia yahhh." mama Renata menghentikan ucapannya, "Dia menolak untuk kembali sama kamu."
Wajah Cleo langsung merah padam saat mendengar hal tersebut, dia mengepalkan tangannya, "Dasar Lio brengsek." umpatnya dalam hati, "Awas kamu ya, kamu akan menyesal karna telah mencampakkan aku begini."
"Tapi kamu tenang saja Cleo, tante baru bicara sekali dengannya, dan wajar saja kalau itu gagal, tante akan lebih berusaha untuk meyakinkannya sampai berhasil, karna hanya kamu yang pantas menjadi menantu keluarga Rasyad." mama Renata mencoba untuk meyakinkan.
"Tapi bagaimana kalau Lio tetap tidak mau kembali dengan Cleo tante."
"Kamu jangan pesimis begitu donk sayang, pokoknya tante akan berusaha untuk meyakinkan kalau kamulah yang terbaik untuk dia."
Namun Cleo ternyata sepertinya tidak bisa diyakinkan, terlihat dari wajahnya yang sendu.
Melihat wajah sendu Cleo membuat mama Renata berusaha untuk mencoba menghibur Cleo dengan membebaskan Cleo mengambil baju yang ada dibutiknya, "Bagaimana kalau kamu memilih baju yang ada dibutik tante."
Dalam hati Cleo begitu sangat senang mendengar tawaran tersebut, tapi dia pura-pura menolak supaya dia tidak kelihatan banget matrenya, "Tidak usah tante." dibibir bilang tidak usah, tapi dihatinya Cleo yakin mama Renata akan memaksanya.
Dan seperti yang diharapkan oleh Cleo, mama Renata beneran memaksanya.
"Kamu jangan sungkan Cleo, kamu pilih baju manapun yang kamu suka."
"Tapi tante...."
"Sudah jangan tapi-tapian, hati kamu harus dibuat bahagia." tandas mama Renata.
"Kaniaaaa." mama Renata kembali memanggil asistennya.
"Iya bu."
"Tolong ya temani gadis muda dan cantik ini memilih baju dibutik kita, biarkan dia mengambil baju yang dia sukai."
"Beneran tante, tidak usah, tante tidak perlu melakukan hal ini." masih berusaha jual mahal ternyata sik Cleo ini.
"Jangan menolak, tante marah lho kalau kamu menolak."
"Baiklah kalau tante memaksa." ujarnya terlihat pasrah, padahalkan dalam hatinya bersorak bahagia.
"Ayok nona." ucap Kania mengajak Cleo.
Sebelum keluar, Cleo memeluk mama Renata, "Terimakasih ya tan, tante harapan terakhirku."
Mama Renata tersenyum menanggapi ucapan Cleo, "Tante yakin, Lio pasti akan kembali kepadamu."
*****
Sudah hampir magrib, tapi Lio tidak ada tanda-tandanya akan pulang, tidak sepertinya biasanya Lio pulang terlambat begini, Naya sudah berusaha menghubungi nomernya, tapi nomer suaminya itu tidak aktif, hal itu tentu saja membuat Naya khawatir.
"Mas Lio kemana sieh, kok belum pulang, mana nomernya tidak aktif lagi."
Karna nomer Lio tidak bisa dihubungi, Naya mencoba menghubungi nomer Rafa, namun hasilnya sama saja, nomer Rafa memang aktif, tapi beberapa kali Naya hubungi, Rafa sama sekali tidak menjawab panggilannya.
"Semoga mas Lio baik-baik saja, ya Allah, lindungilah mas Lio dimanapun dia berada."
Naya mengelus perutnya dan mengajak bayinya untuk bicara, "Jangan khawatir ya nak, ayah pasti akan baik-baik saja, dia pasti akan pulang untuk menemui kita."
__ADS_1
Naya berusaha untuk berfikir positif.
****