
4 bulan kemudian.
"Akhhhhhhhhhh....."
Jeritan kesakitan itu sudah sejak 5 jam terdengar menggema diruangan bersalin itu, jeritan itu bahkan terdengar sampai luar yang membuat orang-orang yang menunggu proses persalinan itu gelisah.
"Nenek, itu suara bunda Naya ya, bunda kesakitan ya." tanya Bulan pada mama Renata.
Saat itu hampir semua penghuni rumah besar berada dirumah sakit, menunggu kehadiran bakal penghuni baru keluarga Rasyad.
Mama Renata tersenyum ke arah cucu angkatnya tersebut, "Kamu doakan bunda kamu ya sayang, doakan semoga bunda selamat dan dedek bayinya."
Sejak menyadari kesalahannya, mama Renata kini menjadi pribadi yang lebih baik, dia sudah minta maaf atas semua kesalahan yang pernah dia lakukan sama Naya, bahkan dia juga kini telah menerima Naya sebagai menantunya dan juga menerima Bulan, bahkan mama Renata sangat menyayangi kedua orang yang menjadi bagian penting dari hidup putranya tersebut.
"Bulan akan selalu doain bunda nenek."
Mama Renata mengelus puncak kepala Bulan, "Anak pintar."
"Nenek, dedek bayinya kok gak mau keluar-keluar sieh, padahal Bulan sudah tidak sabar ingin lihat."
Dengan sabar mama Renata menjelaskan, "Iya sayang, bunda kamu didalamkan tengah berjuang untuk menguarkan dedek bayinya, kamu yang sabar ya, sebentar lagi pasti dedek bayinya akan keluar dan bisa berkumpul dengan kita, yang penting sekarang, kita berdoa saja untuk bundamu ya."
"Iya nenek."
Kembali ke dalam ruang persalinan.
"Akhhhhhh..." suara itu tidak henti-hentinya terdengar.
Saat ini Naya tengah berjuang antara hidup dan mati, sudah lima jam dia berjuang dibantu oleh dokter, namun sepertinya, sik dedek bayi masih enggan untuk keluar melihat dunia.
"Ayok nyonya ambil nafas, tarik nafas, nyonya pasti bisa, berjuanglah nyonya demi bayi nyonya." intruksi yang sudah berpuluh-puluh kalinya dikatakan oleh dokter perempuan yang menangani proses persalinan Naya.
Jujur, Naya sudah tidak kuat rasanya, tenaganya terkuras habis, tapi demi mengingat sik bayi, semangatnya tumbuh kembali, dia ingin melihat bayinya, menggendongnya dan membesarkannya, dorongan itu membuat semangatnya kembali tumbuh kembali.
Sedangkan Lio, dia sedikitpun tidak mau beranjak dari sisi sang istri, menamani dan menyemangati, dia sebenarnya tidak tega melihat Naya yang begitu kesakitan, tapi tidak ada hal yang bisa dia lakukan untuk membantu sang istri, yang dia lakukan hanya bisa berada disamping Naya dan memberikan tangannya sebagai pegangan sang istri, hal itu membuat tangan Lio memerah dan terluka karna tertancap kuku Naya, tapi Lio rela, karna itu tidak sebanding dengan perjuangan sang istri yang berjuang anatara hidup dan mati demi melahirkan buah hatinya.
"Akhhhhh." kembali suara jeritan kesakitan terdengar.
__ADS_1
Lio menangis dalam hati, rasanya dia benar-benar tidak tega melihat Naya kesakitan begitu.
"Sakit mas, Naya sudah tidak kuat." desah Naya berurai air mata, peluh membasahi keningnya.
Dengan tangannya yang bebas Lio mengelus puncak kepala istrinya, "Berjuanglah sayang, kamu pasti bisa, kamu wanita yang kuat, aku yakin kamu bisa."
"Mas, kalau seandainya terjadi apa-apa sama Naya, tolong maafkan semua kesalahan Naya, dan tolong rawat bayi kita dengan baik ya mas." sambil mengatakan hal tersebut, air mata Naya jatuh membasahi pipinya.
"Jangan bilang begitu Nay." Lio tidak suka mendengar kata-kata Naya, "Kamu dan bayi kita pasti baik-baik saja, percayalah sayang, berjuanglah, demi aku dan bayi kita, aku mencintai kalian, jangan berani-beraninya untuk meninggalkan aku, karna aku tidak akan memaafkan kamu."
Naya mengangguk, setiap apa yang dikatakan oleh suaminya membuat semangatnya tumbuh lagi, dia kembali menarik nafas sedalam-dalamnya dan mulai mengenjan.
"Akhhhhh."
"Iya nyonya bagus, dorong lagi nyonya, sebentar lagi bayinya keluar, itu kepalanya sudah nampak."
"Kamu dengar itu sayang, kepala bayi kita sudah nampak, ayok berusahalah, kamu pasti bisa."
Sekali lagi Naya berjuang, dan 15 menit kemudian, perjuangan panjangnya terbayar, bayi yang sangat ditunggu-tunggu akhirnya lahir ke dunia.
"Selamat nyonya, anda berhasil, anda benar-benar wanita tangguh." puji sang dokter menggendong bayi yang masih penuh dengan darah.
"Tuan, selamat juga untuk anda, bayi anda laki-laki dan sehat." beritahu sang dokter, "Apa anda tidak ingin melihat bayi anda sebelum kamu membersihkannya." tawar sang dokter.
Lio menggeleng, saat ini dia hanya ingin berada disamping Naya, sedikitpun dia tidak mau beranjak dari sisi Naya, rasa bahagia campur haru memenuhi relung hati Lio, dia tidak bisa berkata-kata, perasaannya campur aduk, tangisnya yang sejak tadi dia tahan kini akhirnya pecah juga, dia mencium wajah Naya bertubi-tubi dan bibirnya tidak lepas mengucapkan terimakasih, "Terimakasih sayang, terimakasih, terimakasih telah berjuang hari ini." air matanya bahkan sampai menetes diwajah Naya, "Aku sangat mencintaimu dan menyanyangimu, jangan pernah lagi mengatakan akan pergi meninggalkanku, aku tidak bisa hidup tanpamu."
Sik dokter dan para perawat tersenyum simpul melihat adegan mengharukan yang terjadi didepan mata mereka, mereka bisa melihat kalau Lio sangat mencintai Naya.
Dengan suara lemah karna tenaganya yabg terkuras habis Naya memperingatkan, "Mas, jangan kayak gini, malu sama bu dokter dan perawat."
Namun Lio tidak memperdulikan, dia begitu bahagia karna istrinya berhasil melalui masa-masa sulit ini.
"Tidak apa-apa nyonya, kami mengerti." sik dokter maklum.
Naya tersenyum malu.
"Dokter, bisakah saya melihat bayi saya." tanya Naya.
__ADS_1
"Tentu bisa nyonya, tapi kalau nyonya mengizinkan, biarkan kamu membersihkannya terlebih dahulu."
Naya mengangguk, sedangkan Lio, dia yang katanya tidak sabar menunggu kelahiran buah hatinya kini malah mengabaikan karna dia lebih fokus dengan istrinya.
****
Tidak lama kemudian dokter yang menangani persalinan Naya kembali dengan menggendong bayi mungil yang sudah dimandikan terbungkus kain, sik dokter berjalan mendekati Naya dengan senyum cerah.
"Bayiku." gumam Naya saat dokter menyerahkan bayinya padanya.
Bayi itu kini beralih dalam pangkuan Naya, "Mas, bayi kita mas." rasa sakit dan lelah itu seketika menghilang saat melihat bayi merah dan suci yang kini berada dalam buaiannya, rasa haru menyelimuti hati Naya sehingga dia menitikkan air mata bahagia, bayi yang dia tunggu-tunggu kehadirannya siang dan malam.
Dan setelah tadi fokusnya hanya pada Naya, Lio berdiri dari posisi duduknya, ingin melihat bayinya yang sudah dia tunggu-tunggu sejak lama, dia sama seperti Naya, tidak kuat menahan haru saat melihat bayi hasil buah cinta mereka.
"Nay, bolehkah aku menggendongnya." pintanya, dia ingin menggendongnya dan menyapanya.
Naya mengangguk, "Tentu saja mas." menyerahkan sik bayi pada bapaknya.
"Anakku." gumamnya melihat bayinya yang terpejam, "Kamu tampan sekali nak, kamu mewarisi ketampanan ayah, semoga kamu menjadi anak yang sholeh dan berbakti pada ayah dan bunda dan menjadi orang yang berguna bagi banyak orang." doa Lio penuh harap.
"Ya Tuhan terimakasih karna engkau telah memberikan kebahagian yang begitu sangat besar pada hamba."
"Mas, apa mas sudah mempersiapkan nama untuk bayi kita."
Lio mengangguk, "Aku telah memikirkannya Nay." Lio terdiam sebentar, dan berkata, "Arkana Aprilio Rasyad, bagaimana menurutmu."
Naya tersenyum, "Nama yang bagus mas, Naya suka."
"Ahh syukurlah kamu suka, aku sempat khawatir kamu tidak akan menyukainya."
"Kalau mas Lio yang memberikannya, Naya pasti suka mas."
"Terimakasih sayang karna telah memberikan kebahagian yang begitu besar dalam hidupku, kamu dan bayi kita adalah anugrah terindah yang pernah Tuhan berikan dalam hidupku."
Naya menitikka air mata haru mendengar kata-kata tulus dari lisan suaminya.
****
__ADS_1