Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
KEDATANGAN MAMA RENATA DIKANTOR


__ADS_3

Siang itu mama Renata menemui Lio di kantornya, mama Renata sangat jarang berkunjung kalau tidak ada sesuatu hal yang penting, seperti saat ini, mungkin dia mendatangi putranya karna ada hal penting yang akan dia sampaikan.


"Siang nyonya." sapa Rani yang sudah mengenal ibu dari bosnya.


"Hmmm." gumam mama Renata malas berbasa-basi hanya sekedar membalas sapaan Rani sekertaris Lio, "Anak saya adakan."


"Ada nyonya, pak Adelio ada didalam ruangannya."


Tanpa mengucapkan apa-apa, mama Renata langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan putranya.


"Dasar orang kaya sombong, bilang terimakasih kek atau apa, main pergi saja, sangat berbeda dengan menantunya nona Naya yang ramah dan baik." desis Rani sambil menatap punggung mama Renata yang semakin menjauh.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mama Renata langsung mendorong pintu berwarna coklat tua yang merupakan ruang presdir, ruang dimana putra tunggalnya bekerja menjalankan perusahaan milik keluarga.


Mendengar suara pintunya dibuka, Lio otomatis menoleh dari berkas yang tengah diperiksanya, agak heran juga saat melihat yang datang ternyata adalah sang mama.


"Mama." sapanya, "Mama mau ngapain."


"Ya mama mau berkunjung saja." jawab mama Renata berdusta.


Tentu saja Lio tidak percaya begitu saja, karna dia tahu mamanya bukan tipe orang yang akan bersusah-susah hanya untuk mengunjungi seseorang jika tidak memiliki keperluan.


"Butik mama gimana."


"Asisten mama yang urus."


Mama Renata berjalan ke arah sofa yang tersedia diruangan Lio, dia mendudukkan bokongnya di sofa empuk tersebut sembari meneliti setiap sudut ruangan kerja sang anak.


Lio menutup berkasnya yang tadi diperiksanya, dan menyusul mamanya duduk disofa.


"Ruang kerja kamu kayak gini-gini saja, tidak berubah sejak terakhir mama datang kemari." komennya setelah puas meneliti ruang kerja putranya.


"Mama kesini sebenarnya ada perlu apa sieh, tidak mungkinkan mama datang hanya untuk mensurvei ruang kerja Lio."


"Hmmm." mama Renata menarik nafas terlebih dahu sebelum menyampaikan penyebab utama dia sampai mendatangi Lio dikantornya, "Mama kesini mau membicarakan hubunganmu dengan Cleo." ungkapnya pada akhirnya.


Lio mendengus, dia mengendurkan dasinya, entah kenapa dia merasa kesulitan bernafas, "Hubungan apaan maksud mama, Lio dan Cleo itu sudah berakhir." jelas Lio berharap mamanya mengerti kalau dirinya telah memilih Naya sebagai wanita yang akan menemani hidupnya.


"Tidak bisakah kamu memikirkannya Lio, Cleo itu gadis yang sempurna, cantik, anggun, berkelas, pintar, berpendidikan tinggi lagi, wanita seperti itulah yang pantas menjadi menantu keluarga Rasyad dan pastinya akan melahirkan keturunan yang berkualitas untuk kamu kelak."


"Lio tidak butuh wanita seperti itu ma, Lio hanya butuh wanita seperti Naya yang tulus mencintai Lio." tandas Lio mematahkan argumen sang mama tentang siapa yang pantas atau tidaknya untuk mendampinginya.


"Wanita seperti Naya." desis mama Renata mengejek, "Huhh, wanita kampung seperti itu kamu bangga-banggakan, apa kamu tidak bisa melihat kalau Cleo itu sangat tulus mencintai kamu, dia menangis setiap malam setelah kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan kalian."


"Sudahlam ma, jangan bahas-bahas masalah Cleo didepanku, karna kami telah berakhir, Lio sudah hidup tenang dengan pilihan Lio, dan Lio juga yakin Cleo pasti akan mendapatkan pengganti Lio dengan cepat dengan segala kelebihan yang dia miliki." seru Lio menekankan kata-demi kata yang dia keluarkan supaya mamanya mengerti, "Lagian mama lupa, Naya itu tengah hamil ma, dia mengandung anakku, calon cucu mama, mama kok bisa-bisanya menyuruh Lio untuk kembali bersama dengan Cleo, bagaimana nasib Naya dan anak Lio nantinya ma."


"Mama hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik Lio." mama Renata masih pantang menyerah untuk mempengaruhi putranya.


"Naya yang terbaik buat Lio mama." Lio memotong ucapan mamanya, "Meskipun dia tidak sesempurna Cleo, tapi Naya memiliki hati yang baik dan tulus, itulah yang membuat Lio luluh dan jatuh cinta pada Naya, dan membuat Lio pada akhirnya memilih Naya." seru Lio, "Lio berharap mama mengerti, kalau Naya adalah pilihan terbaik untuk Lio, jangan buang-buang waktu mama hanya untuk membujuk Lio untuk kembali bersama dengan Cleo, karna itu tidak akan mungkin akan terjadi." ucapannya itu seolah-olah mengatakan kalau dia tidak mau lagi sang mama menyebut-nyebut nama Cleo didepannya, apalagi memintanya untuk kembali bersama Cleo, karna Cleo kini hanya tinggal cerita untuknya.


Mama Renata terlihat emosi, dia berdiri dan nada kesal berujar, "Kamu itu ya Lio, memang tidak bisa dikasih tahu, mamanya hanya tidak ingin kamu menyesal nantinya karna telah memilih wanita yang salah."


"Yakinlah ma, Lio telah memilih wanita yang tepat." Lio berusaha meyakinkan.


"Diapakan sieh kamu sama gadis kampung itu sampai kamu tidak mau mendengarkan ucapan mama begini."


"Naya hanya memberi Lio cinta yang tulus ma." jawab Lio.


Mama Renata meraih tasnya dengan kasar, wajahnya merah padam saking dongkolnya mendengar setiap jawaban yang dilontarkan oleh anaknya, "Kamu pasti akan menyesal karna telah memilih wanita yang salah." ketusnya menutup pembicaraannya dengan sang anak dan berlalu pergi dengan kaki dihentak-hentakkan.


Mama Renata membanting pintu ruang kerja putranya dengan sangat keras yang menimbulkan kekepoan para karyawan yang berada dilantai tersebut.


Lio menarik nafas, dia hanya berharap suatu saat nanti mamanya akan menerima Naya sebagai menantunya, "Hati-hati ma." pesan Lio saat pintu tertutup, "Dan jangan pernah lagi meminta Lio untuk meninggalkan Naya." gumamnya menghempaskan bokongnya disofa.


Beberapa detik setelah kepergian mama Renata, pintu ruang kerja Lio kembali terbuka, kali ini yang datang adalah Rafa.


"Ada perlu apa tante datang menemui lo, kok kayaknya dia sangat marah setelah keluar dari ruangan lo." tanya Rafa langsung menanyakan rasa penasarannya.


"Dia nyuruh gue untuk mempertimbangkan hubungan gue dengan Cleo, dengan kata lain, mama menyuruh gue untuk balikan sama Cleo." jawabnya acuh tak acuh.


"Hah." kaget Rafa, "Tante nyuruh lo mempertimbangkan hubungan lo dengan Cleo, emang dia kenal dengan Cleo, setahu gue lo selalu menyembunyikan Cleo dari keluarga lo."


"Mama tidak sengaja bertemu dengan Cleo saat gue menemani Cleo jalan-jalan, dan yahh, mama gue yang sangat menjunjung tinggi kecantikan dan wanita anggun berkelas dan berpendidikan tinggi langsung menyukai Cleo dan langsung memberi restunya."


"Gue fikir selama ini tante Renata menerima Naya sebagai menantunya, secara itukan pilihan bos sepuh, gak gue sangka ternyata dia juga tidak suka dengan Naya, padahalkan Naya gadis yang baik."


"Terus, tanggapan lo gimana."


"Gak gimana-gimana, gue bilang sama mama kalau hubungan gue dan Cleo sudah berakhir, dan gue akan membuka lembaran baru bersama dengan Naya."


"Itu pilihan yang tepat Lio, gue seneng pada akhirnya mata lo terbuka dan memilih Naya, kalau ada satu wanita yang seperti Naya, tanpa perlu berfikir dua kali langsung gue bawa tuh ke KUA." cletuk Rafa, "Makanya tanyain donk ke Naya, ada gak temennya, minta kenalin ke gue."


"Dihh ogahh, lo cari saja sono sendiri, jangan suruh istri gue buat nyariin jodoh ya buat lo, karna tugasnya itu adalah melayani gue seorang."


"Dihh sialan emang lo." rutuk Rafa.


Lio meraih ponselnya untuk memeriksa apakah ada pesan masuk atau tidak dari sang istri, dan dia tersenyum begitu melihat Naya ternyata memang mengirim sebuah pesan padanya yang berbunyi.


Mas, aku sudah masak masakan kesukaan mas Lio, aku bawain ke kantor ya.


Lio dengan cepat membalas.

__ADS_1


Tidak perlu sayang, biar mas yang pulang agar kamu tidak capek.


Baiklah, Naya tunggu ya mas.


Lio berdiri dan memakai jasnya, melihat hal itu membuat Rafa bertanya.


"Mau kemana lo."


"Makan siang."


"Gue ikut."


"Gue mau makan siang dirumah, Naya sudah masak masakan kesukaan gue."


"Lo mau makan siang dirumah, perasaan sekarang lo rajin amet makan siang dirumah, padahalkan dulu lo paling malas pulang ke rumah dijam kantor seperti ini."


"Ya itu karna masakan istri gue enak, gue hanya nafsu makannya kalau itu masakannya Naya." alibinya.


"Dihh, lo baru sadar sekarang kalau masakan Naya enak, dulu kemana aja."


"Udah ah gue balik dulu, ntar bini gue kelamaan nunggunya." Lio berjalan ke arah pintu.


Rafa berlari menyusul Lio, "Gue ikut."


Lio memandang Rafa tidak percaya, "Apaan sieh lo."


"Gue ikut ke rumah lo Lio, gue yakin Naya akan dengan senang hati menerima kehadiran gue dan memberi gue makan, secarakan gue kakaknya, hehe."


"Gak boleh, lo makan aja sono dikantin." tolak Lio, "Menghabiskan stok beras gue aja lo."


"Ahhh lo pelit amet sieh jadi sahabat, gue telpon Naya nieh." Rafa mengeluarkan ponselnya dan mendial nomer Naya.


"Iya mas Rafa, ada apa." terdengar suara Naya dari seberang.


"Sialan lo Raf, lo beneran nelpon Naya lagi." dengus Lio dongkol saat mengetahui Rafa beneran menelpon Naya.


Rafa tersenyum jail.


"Naya, aku ingin ikut ke rumah besar untuk makan siang, tapi suami kamu sik Lio tidak mengizinkan." lapornya.


"Apa...mas Lio tidak mengizinkan mas Rafa ikut ke rumah."


"Iya Nay, katanya aku menghabiskan stok beras dirumah kalian saja." Rafa sudah seperti anak kecil saja pakai lapor-laporan segala.


"Mas Lio sekarang dimana."


"Suami kamu ada didekat aku Nay."


"Kasih telponnya sama mas Lio, biar Naya yang bicara sama dia."


"Tuhh, bini lo mau ngomong." Rafa menyerahkan ponselnya pada Lio, "Dia sepertinya mau ngomeli elo."


"Bener-bener lo ya Raf." desis Lio.


Rafa hanya nyengir.


"Halo Naya." sapa Lio saat ponsel milik Rafa berpindah ke telinganya.


"Mas Lio, ajak mas Rafa makan siang dirumah, jangan pelit-pelit gitu donk mas sama sahabat sendiri, lagian mas Lio tidak ingat apa, mas Rafalah yang selalu membantu mas Lio menangani pekerjaan dikantor." Lio jadi diomeli dah tuh sama Naya.


"Rasain lo dimarahin dah tuh sama Naya." kekeh Rafa.


Lio melotot sama Rafa, "Iya iya, aku akan mengajak Rafa ikut ke rumah."


"Iya, mas Lio memang harus mengajak mas Rafa, lagian kasihan juga mas Rafa gak ada yang masakin, mas Rafakan pasti bosan makan direstoran melulu."


"Salahnya sendiri belum menikah."


"Jangan ngeledek mas Rafa begitu mas, masalah jodoh itu ditangan Tuhan, mas Rafa belum menikah karna belum ditakdirkan saja sama Allah."


"Tuh lo denger kata-kata bini lo." Rafa menyahut, "Perkara jodoh itu urusan Tuhan."


"Iya, aku tidak akan meledek Rafa lagi."


"Ya sudah kalau begitu, Naya tunggu ya mas Lio dan mas Rafa, hati-hati dijalan, jangan ngebut-ngebut."


"Iya sayang." suara Lio lembut.


"Ya sudah mas kalau gitu Naya tutup dulu."


"Ehh, tunggu dulu donk, ada yang kamu lupain Nay."


"Apa."


"Kiss byenya mana."


"Dasar bucin." gumam Rafa.


"Biarin." jawab Lio tanpa suara membalas ledekan Rafa.


"Ehh, mas Lio ini apaan sieh, malu tahu sama mas Rafa."

__ADS_1


"Ngapain malu sieh sama dia, anggap saja dia rumput."


"Lio sialan."


"Mas Lio lebih baik cepatan pulang deh." kata Naya karna malu menuruti keinganan suaminya.


"Iya udah kalau gitu, tapi nanti aku dikasih kiss langsungnya saja ya." goda Lio menahan senyum.


"Mesum." komen Rafa.


"Duhh mas Lio ini, sudah ya mas, Naya tutup ini."


Lio terkekeh, dia yakin saat ini pipinya bersemu.


"Gue tahu lo saat ini tengah bucin-bucinya sama Naya, tapi jangan ngebucinnya didepan sahabat lo yang jomblo ini donk."


"EGP, siapa suruh lo betah ngejomblo." timpal Lio berlalu meninggalkan Rafa.


"Dasar sahabat tidak punya perasaan." desahnya.


****


Cleo bergayut manja dilengan seorang laki-laki yang jauh lebih tua darinya, laki-laki itu adalah selingkuhan Cleo selama ini, laki-laki yang menjabat sebagai seorang menejer disebuah perusahaan properti, saat ini dua insan itu tengah berjalan-jalan dimall.


"Sayang, kita masuk ke sana yuk." Cleo menunjuk sebuh toko yang menjual tas-tas bermerk, "Ada barang baru dan aku sangat ingin memilikinya." beritahunya berharap sang kekasih membelikannya.


Laki-laki yang bernama Dani yang tidak seroyal Lio itu menolak secara halus, "Kamu tas banyak-banyak untuk apa sieh sayang, mubazirkan kalau hanya untuk dijadikan pajangan doank dilemari kamu."


"Tapi aku sangat ingin tas ini sayang, ini benar-benar bagus, aku janji deh, ini yang terakhir kalinya aku membeli tas." janjinya berdusta, karna yang namanya cewek, kalau lihat tas dengan model baru pasti ingin dibeli tidak peduli walaupun tasnya sudah seabrek.


"Cle, bukannya aku tidak mau membelikan kamu, tapi yahh, akhir-akhir ini aku tengah mengalami kesulitan, Mita istriku juga menuntut ingin dibelikan ini itu, sedangkan anak kami juga harus membayar uang sekolah."


Cleo langsung melepas rangkulannya dilengan Dani, dia cembrut karna keinginannya tidak dikabulkan, apalagi Dani membawa-bawa nama istrinya yang membuat hati Cleo panas membara, "Ya sudah kalau gitu, urus saja sana istri dan anakmu, gak usah peduliin aku."


"Bukan begitu sayang, hanya saja aku meminta kamu lebih mengerti, aku tidak mungkin bisa mengabulkan setiap apa yang kamu minta, sedangkan aku punya istri dan anak yang kebutuhannya harus aku penuhi juga."


Pasangan gelap itu tidak sadar kalau mereka kini menjadi pusat perhatian pengunjung mall tersebut, perdebatan mereka membuat orang yang berlalu lalang kepo dan berhenti untuk menonton.


"Ya sudah kalau begitu, sana kamu sama istri kamu saja, jangan pernah hubungi dan temui aku lagi." Cleo yang emosi tidak menyadari intonasi suaranya yang meninggi.


Mendengar hal tersebut, terdengar bisik-bisik dari kalangan kaum wanita yang menyaksikan drama perselingkuhan tersebut.


"Astaga, wanita itu adalah pelakor."


"Ihhh amit-amit deh, semoga suamiku dijauhkan dari godaan pelakor seperti itu."


"Cantik-cantik kok mau ya jadi simpanan om om, memangnya stok laki-laki didunia ini sudah habis apa."


"Kasihan banget ya istri laki-laki itu, dia pasti sakit hati banget kalau mengetahui suaminya berselingkuh."


"Iya, aku tidak bisa membayangkan kalau aku yang berada diposisi wanita itu."


Itulah beberapa bisik-bisik dari ibu-ibu yang menyaksikan drama live didepan mata tersebut.


Cleo memandang sekelilingnya, dia baru menyadari kalau dirinya kini menjadi pusat tontonan gratis.


"Cantik-cantik kok jadi pelakor." gumam salah satu ibu-ibu dengan suara keras.


"Dasar wanita tidak punya hati, bahagia diatas penderitaan wanita lain." ibu yang lainnya menyahut.


"Ini gara-gara kamu mas." Cleo malah menyalahkan Dani sebelum berlalu pergi dengan langkah lebar saking malunya, dia ingin segera pergi dari sana.


"Cleo." panggil Dani dan berjalan menyusul kekasih gelapnya itu.


Sik ibu-ibu itu bukannya malah membubarkan diri karna pertunjukan telah selesai, mereka malah kembali menghujat sik laki-lakinya.


"Dasar laki-laki hidung belang, melihat yang bening dikit langsung ijo deh tuh mata, lupa sama istri dan anak dirumah."


"Kalau aku punya laki kayak gitu, aku bakalan rantai agar tidak bisa pergi kemana-mana."


****


"Lo bucin banget ya sekarang." komen Rafa saat Lio kembali memasuki mobil dengan membawa buket bunga mawar merah yang indah ditangannya, tadi dia meminta sahabatnya itu menghentikan mobil untuk membelikan bunga untuk Naya, "Gue masih inget dengan jelas lo pernah bilang." Rafa menirukan gaya bicara Lio, "Gue gak akan menyukai gadis kampung seperti Naya, cinta gue hanya untuk Cleo, gue gak bisa hidup tanpa Cleo." kalimatnya ditutup dengan senyum geli, "Sumpah geli gue inget kata-kata lo dulu."


"Diam lo sialan, nyetir saja lo yang benar."


"Lo juga gelikan kalau ingat kata-kata lo yang dulu." rongrong Rafa semakin usil.


"Gue bilang diam, atau gue tendang lo keluar."


"Hahaha." Refa tertawa ngakak, "Makanya jangan pernah sok-sokan bilang tidak akan pernah menyukai seseorang, bucin bangetkan lo sekarang."


Lio menggampar kepala Rafa, saking keselnya karna terus diusilin sama Rafa.


"Sakit bodoh."


"Makanya nyetir yang benar, jangan sibuk mengungkit masa lalu gue lo."


Bukannya berhenti, sik Rafa malah tambah usil, "Habisnya masa lalu lo sangat menarik untuk dibahas, kisah seorang CEO tampan dan kaya raya bernama Adelio Rasyad menikahi gadis desa bernama Kanaya Azzahra da....."


"Lo bener-bener mau mati."

__ADS_1


Langsung kicep sik Rafa mendengar ancaman Lio.


****


__ADS_2