Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
MARAH TAPI KHAWATIR


__ADS_3

"Kamu jahat Lio, jahat." Cleo menjerit, "Kamu fikir ini anak siapa kalau bukan anakmu hah, kamu fikir aku serendah itu sampai tidur dengan sembarang laki-laki, asal kamu tahu, aku setia sama kamu, aku tidak pernah main gila dengan laki-laki lain sampai pada akhirnya kamu mengakhiri hubungan kita secara sepihak tanpa mempedulikan perasaanku, aku hancur Lio hancur." Cleo menangis sesenggukan, memposisikan dirinya sebagai wanita yang benar-benar tersakiti, "Dan sekarang, kamu dengan teganya tidak mengakui bayi yang tengah aku kandung ini, dimana hatimu Lio."


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Lio goyah, yang dia ketahui adalah saat masih bermasa dengannya, Cleo tidak pernah bermain gila dengan laki-laki lain, jadi, fikirnya itu anak siapa lagi kalau bukan anaknya, "Anak yang dikandung Cleo adalah anakku, astagaa, kenapa bisa jadi seperti ini."


Melihat wajah Lio yang terlihat bingung membuat Cleo bersorak dalam hati, "Hahaha, Lio sepertinya percaya dengan kata-kata gue, ternyata gue jago juga aktingnya, kenapa gue tidak mencoba peruntungan gue di dunia seni peran ya, mungkin gue bisa dapat piala citra."


Hati bersorak bahagia, dan wajah seperti orang yang benar-benar terluka, Cleo seperti rubah, licik dan tidak peduli dengan hati wanita yang dia sakiti, yang dia fikirkan hanyalah bagaimana dia bisa bahagia.


Lio bungkam seribu bahasa, dia tidak punya kata-kata untuk membalas setiap semburan kebohongan yang keluar dari bibir berbisa Cleo.


Cleo sangat pinter berakting sampai membuat Lio bimbang dan mempercayai kata-katanya.


"Jadi Adelio Rasyad, kamu harus menikahiku." ucap Cleo dengan mantap.


Lio langsung memberikan tatapan bengis, "Jangan aneh-aneh kamu Cle."


"Apanya yang aneh Lio, aku hamil anak kamu, dan sangat wajar kalau kamu menikahiku, emang kamu tega membiarkan bayi kamu ini lahir tanpa seorang ayah hah."


Lagi-lagi ucapan Cleo membuat Lio bungkam, baginya dia tidak mungkin untuk menikahi Cleo, Naya sudah sangat terluka saat mengetahui kalau Cleo hamil, kalau sampai Lio menikahi Cleo, bisa-bisa Naya akan pergi meninggalkannya, "Tidak, aku tidak mau kehilangan Naya, aku sangat mencintainya, aku tidak akan pernah mungkin bisa menemukan gadis seperti Naya lagi, tapi, gimana dengan anak yang dikandung oleh Cleo, biar bagaimanapun, bayi itu adalah anakku, apa yang harus aku lakukan." Lio benar-benar bingung menghadapi situasi seperti ini, untuk saat ini tentu saja dia tidak punya solusi untuk masalah yang tengah dia hadapi.


"Aku pulang." putusnya, dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya, fikirannya benar-benar ruwet, untuk saat ini dia tidak bisa berfikir jernih.


Cleo menahan tangan Lio, "Bagaimana denganku Lio, kamu akan menikahikukan." cecarnya tidak membiarkan Lio lepas begitu saja.


Tanpa menjawab pertanyaan Cleo, Lio melepaskan cekalan tangan Cleo dari tangannya dan langsung pergi dari apartmen Cleo, apartmen yang dia belikan sebagai hadiah ulang tahun untuk Cleo.


"Lioo, kamu harus menikahiku, bayiku membutuhkan seorang ayah." teriak Cleo dibelakang.


Lio tetap berjalan tanpa mempedulikan ucapan Cleo.


Begitu Lio sudah pergi, Cleo menghapus air mata palsu yang digunakan supaya membuat Lio luluh dan kasihan padanya, kini wajah sedih yang sejak tadi ditampilkan berubah menjadi senyum penuh kemenangan.


"Kamu tidak akan bisa lepas dariku sekarang Lio, dan sebentar lagi aku akan menjadi nona Rasyad, dan aku akan mendepak Naya sik istri kampunganmu itu dari kehidupanmu." ocehnya karna merasa diatas angin.


"Cleo Cleo, kamu benar-benar gadis pintar, tinggal selangkah lagi, Lio akan menjadi milikmu." dia memuji dirinya sendiri dan tersenyum licik.


****


Tengah malam Naya terbangun, biasa, semenjak dia hamil, dia sering bangun tengah malam karna lapar, karna kebiasaanya yang selalu membangunkan Lio untuk mengambilkan ini itu, Naya lupa kalau dia tengah marah sama suaminya itu, dan dia juga tidak sadar kalau saat ini tidur dikamar Bulan, sehingga dibalik gelapnya malam dia meraba-raba dan mengguncang tubuh Bulan yang dianggap tubuh suaminya.


"Mas Lio, bangun mas, Naya laper."


Bulan yang merasakan tubuhnya diguncang membuka matanya, dengan mata setengah terpejam dia bertanya, "Kenapa bunda."


"Ya Tuhan, aku lupa kalau saat ini aku tidur dikamar Bulan." batinnya.


Naya meraba nakas untuk mencari remot dan menyalakan lampu, mata ngantuk Bulan jelas terlihat berusaha untuk melek untuk menunnggu apa yang dikatakan oleh bundanya, "Tidak apa-apa sayang, kamu lebih baik tidur lagi ya."


"Hmmm." Bulan kembali memejamkan matanya untuk kembali ke alam mimpinya.


Sementara perut Naya kembali berbunyi meminta sesuatu untuk dimakan, "Iya iya sabar." ujarnya sambil memegangi perutnya.


Naya turun dari tempat tidur dan melangkah keluar untuk menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.


Saat berada diluar kamar, matanya refleks menatap ke arah pintu kamarnya dan Lio yang tepat disebelah kamar Bulan, masih sangat marah sieh dan tidak mau melihat wajah suaminya, tapi penasaran juga hanya sekedar ingin mengintip apakah suaminya itu tidur atau bagaimana. Naya membelokkan kakinya ke arah kamarnya, mendorong kenop pintu perlahan, cahaya terang benderang menyambut matanya karna lampu diruangan tersebut tidak dimatikan, Naya langsung mengarahkan matanya ke arah tempat tidur, matanya melebar saat tidak menemukan tubuh suaminya disana.


"Mas Lio kemana." sedikit khawatir karna tidak menemukan suaminya dikamar, "Apa mungkin dia ruang kerjanya." Naya bergegas melangkahkan kakinya dipintu satunya lagi yang dijadikan ruang kerja oleh Lio, namun ternyata Lio juga tidak ada disana.


Meskipun marah dan kesal, tapi jelas Naya khawatir saat tidak menemukan suaminya dimanapun, rasa laparnya hilang seketika.


"Mas Lio kemana sieh malam-malam begini, bikin orang khawatir saja." omelnya.

__ADS_1


Naya kembali masuk ke kamar Bulan untuk mengambil ponselnya, dia sangat khawatir, dan berniat untuk menghubungi suaminya.


Saat dia akan mendial nomer Lio, Naya mengurungkan niatnya, "Jangan deh, akukan lagi marah sama dia, masak iya aku nelpon dia, lebih baik aku telpon mas Rafa saja, mungkin saja mas Rafa saat ini tengah bersama mas Lio." atas pemikiran tersebut Naya kemudian menghubungi sahabat suaminya itu.


****


Jam sudah menunjukkan angka 01.45 menit, siapapun mahluk bernama manusia rata-rata sudah tertidur lelap dijam segitu, tidak terkecuali Rafa, namun dia dibangunkan paksa saat deringan ponselnya dengan berisik mengganggu mimpi indahnya.


"Duhhh, orang gila mana sieh yang nelpon jam segini." rutuknya kesal.


Rafa meraba-raba untuk mencari ponselnya yang biasanya dia letakkan sembarangan di tempat tidurnya, dia bukannya mau menjawab tapi mau merijek panggilan tersebut, namun dia tidak jadi melaksanakan niatnya saat melihat nama Naya yang tertera dilayar, Rafa memicingkan matanya, "Nayaa, kenapa dia nelpon malam-malam begini, jangan-jangan terjadi sesuatu lagi." daripada berspekulasi sendiri, Rafa menjawab panggilan tersebut.


Sebelum dia membuka bibirnya hanya sekedar untuk mengatakan hallo, dari seberang terdengar suara panik Naya.


"Mas Rafa, ini Naya mas."


"Iya Nay, aku tahu, kan nomer kamu tersimpan di daftar kontak HPku."


"Mas Rafa, mas Lio tidak ada dirumah, apa mas Lio saat ini tengah bersama mas Rafa."


"Hah." mendengar berita tersebut, mata Rafa langsung on, rasa ngantuknya hilang seketika, "Lio tidak ada dirumah Nay."


"Iya mas, mas Lio tidak ada dirumah, Naya khawatir, aku fikir mas Lio saat ini tengah bersama mas Rafa."


"Tidak Nay, aku ada diapartemenm dan saat ini Lio tidak bersamaku, apa kamu sudah periksa setiap sudut rumah."


"Iya mas, Naya sudah periksa, dikamar tidak ada, diruang kerjanya juga tidak ada, tadi Naya periksa ke bawah juga tidak ada, Naya khawatir mas, inikan sudah tengah malam, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama mas Lio."


"Jangan panik Nay, tenangkan diri kamu dulu, mungkin saja Lio pergi ke kantor karna ada sesuatu yang dia lupakan, kamu sudah mencoba untuk menghubunginya."


Naya menggeleng meskipun Rafa tidak bisa melihatnya, "Tidak mas, Nayakan gengsi untuk menelponnya langsung karna Naya lagi marah sama dia."


"Iya udah deh, biar aku saja yang menghubunginya dan menanyakan dia ada dimana." putus Rafa.


"Iya mas, terimakasih, tapi mas Rafa jangan bilang kalau aku mengkhawatirkannya ya." pesan Naya.


"Iya, tenang saja Nay, aku tidak akan bilang kalau saat ini kamu tengah mengkhawatirkannya." diiyain saja oleh Rafa biar cepat.


"Iya sudah mas, terimakasih, telpon Naya lagi ya mas kalau mas mendapat kabar di mana keberadaan mas Lio."


"Iya, nanti aku telpon."


Setelah sambungan terputus, Rafa kini mencoba untuk menghubungi nomer Lio.


"Dasar perempuan, gengsinya selangit." gumam Rafa sambil menunggu panggilannya diangkat oleh Lio.


***


Lio sangat jarang merokok, dia akan merokok saat dia merasa gundah dan stress, seperti saat ini, Lio yang tengah stres menjadikan rokok sebagai pelariannya hanya untuk mengurangi beban fikirannya.


Lio bertanya-tanya dalam hati, kenapa beban masalah yang dihadapinya begitu berat, mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisinya saat ini adalah, sudah jatuh tertimpa tangga pula.


Dan saat tengah melamun begitu, suara deringan ponselnya mengagetkannya, dia sampai mengumpat saking kesalnya.


"Brengsek, siapa yang nelpon gue malam-malam begini, bikin kaget saja, tidak tahu apa saat ini gue tengah mengasihani diri gue sendiri." meraih ponselnya dengan perasaan dongkol.


"Mau apa sieh sik kunyuk ini nelpon gue." Lio melihat jam digital yang tertera dilayar ponselnya, "Benar-benar tidak punya kerjaan."


Meski berkata begitu, Lio tetap menjawab panggilan dari sahabatnya itu, "Mau apa lo nelpon gue jam segini, lo mau memastiin apa gue masih bernafas atau gak, kalau itu yang mau lo tahu, gue masih hidup dan sehat wal'afiat." jawabnya hanya dalam satu tarikan nafas.


Tanpa mengindahkan ucapan Lio Rafa bertanya, "Lo dimana sekarang."

__ADS_1


"Apa perlu gue jawab."


"Sialan, jawab saja kenapa sieh."


"Ya dirumahlah, memang dimana lagi, gak mungkinkan gue diclub."


"Lo dirumah, terus, kenapa Naya bilang lo gak ada dirumah."


"Ini maksudnya apa, kenapa lo bawa-bawa nama Naya segala."


"Hmmm, jadi begini." padahal tadi Naya berpesan jangan membawa-bawa namanya, tapi ternyata Rafa ingkar janji, memang ya yang namanya laki-laki, semuanya sama, semuanya hanya bisa berjanji tanpa bisa menepatinya, "Tadi bini lo nelponin gue, nanyain apakah lo saat ini lagi sama gue atau gak, Naya khawatir, katanya lo gak ada dirumah, dan ini lo bilang lo ada dirumah, gimana sieh ini ceritanya."


Mendengar kalau Naya mengkhawatirkannya refleks membuat bibir Lio melengkung membentuk kurva, "Meskipun marah, tapi Naya mengkhawatirkan gue, tapi kok Naya bisa tahu ya gue gak dikamar, pasti dia bangun karna lapar dan memeriksa kamar." ujarnya dalam hati.


"Heh Lio, lo sebenarnya dimana sieh, beneran dirumah lo."


"Ya beneran dirumahlah gue, gue saat ini ada ditaman belakang." setelah pulang dari menemui Cleo diapartmennya, Lio memilih menenangkan fikirannya ditaman belakang rumah besarnya sambil menatap langit yang bertabur bintang, disana dia tengah meratapi nasibnya.


"Ya sudahlah, mending lo temuin Naya deh sono, istri lo itu meskipun marah dan katanya tidak mau melihat wajah lo, tapi dia begitu khawatir dengan lo."


"Hmmm."


Lio bergegas menemui Naya begitu dia mengakhiri sambungan telpon, dia yakin istrinya itu tidak bisa tidur saat ini karna mengkhawatirkannya.


Lio dengan pelan membuka pintu kamar Bulan karna berfikir Naya ada sana, tapi ternyata dia tidak menemukan Naya disana, "Lho, Naya dimana."


Karna tidak menemukan Naya disana, Lio kemudian melangkahkan kakinya ke pintu kamarnya, membukanya, dan disana dia melihat Naya duduk dipinggir tempat tidur sambil memeluk baju tidur miliknya.


Lio sangat senang melihat Naya berada dikamar mereka, "Naya." panggilnya.


Naya yang tidak menyangka Lio akan datang secepat ini terkesiap, dia langsung terbangun dan melempar baju tidur Lio yang sejak tadi dipeluknya, meskipun marah, tapi disaat bersamaan Naya juga merindukan suaminya.


"Mas Lio, kamu...tadi aku...aku hanya..." Naya jadi gelagapan, kan ketahuan jadinya kalau dia merindukan sang suami.


"Apa kamu lapar, apa kamu ingin aku buatkan sesuatu." tanya Lio mengabaikan Naya yang terlihat salah tingkah karna kepergok memeluk bajunya.


"Tidak, Naya tidak lapar." tandas Naya, tadinya sieh dia memang lapar, tapi mengetahui kalau Lio tidak ada dikamar membuat rasa laparnya langsung hilang, "Tadi aku hanya meminjam kamar mandi karna kamar mandi dikamar Bulan salurannya mampet." bohongnya.


"Aku ke kamar Bulan dulu mas, mas Lio sebaiknya tidur." Naya berjalan melewati Lio.


Namun Lio tidak begitu saja melepaskan Naya, dia meraih pergelangan tangan Naya dan menahannya.


"Lepasin mas." Naya meronta.


Tentu saja Lio tidak mengindahkan, dia malah mendekatkan tubuhnya dan memeluk Naya dari belakang, Lio lalu menyandarkan kepalanya dia bahu Naya hanya untuk membuat beban yang dirasakanya sedikit ringan.


"Mas Lio, apa yang kamu lakukan, lepasin Naya mas, Naya mau tidur." Naya berusaha untuk melepas tangan Lio yang melingkar diperutnya.


"Sebentar saja Nay, aku lelah, aku butuh kamu untuk bersandar." suara Lio terdengar begitu rapuh, dan sepertinya Lio benar-benar butuh sandaran.


Mendengar kata-kata Lio membuat Naya berhenti berontak, "Mas kamu...."


"Aku mencintaimu Nay, sangat mencintamu, maafkan aku yang telah menyakitimu, aku tahu aku laki-laki yang buruk, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, aku benar-benar membutuhkan kamu saat ini, aku rapuh Nay, aku butuh tempat bersandar."


Saat tengah rapuh, laki-laki tidak malu untuk mengeluarkan sisi kerapuhannya didepan wanita yang dia cintai.


Naya merasakan getaran pada bahunya, yang kemudian diikuti oleh suara isakan kecil, Naya berbalik dan melihat Lio menangis, laki-laki yang selama ini terlihat kuat itu benar-benar menunjukkan sisi kerapuhannya didepan Naya.


"Mas Lio." runtuh sudah pertahanan yang dibangun oleh Naya saat melihat buliran kristal bening meluncur dari pelupuk mata sang suami, suaminya itu benar-benar rapuh dan butuh seseorang sebagai tempat bersandar, dan seseorang yang dia butuhkan adalah Naya, tapi Naya malah menjauhinya, hal itu membuat Naya merasa menyesal.


****

__ADS_1


__ADS_2