
Yang pertama kali bangun besok shubuhnya adalah Lio, lengannya terasa berat tertindih sesuatu, lewat sinar remang rembulan yang tembus lewat celah gorden dia bisa melihat siluet tubuh Naya bergelung disampingnya memeluk pinggangnya.
"Ngapain sieh dia peluk-peluk gue." lirih Lio.
Dengan pelan Lio menyingkirkan tangan Naya yang melingkari pinggangnya dan mengangkat pelan kepala Naya yang menjadikan lengannya sebagai bantal, Naya hanya menggeliat, tapi tidak bangun, Lio bangun, masih tidak habis fikir kenapa mereka tidur berpelukan begitu, Lio menyibakkan selimut, dan hal tersebut membuatnya membelalak kaget, tubuh mereka polos tanpa sehelai benangpun dibalik selimut. Samar-samar Lio mengingat apa yang terjadi semalam, dia mabuk berat dan, "Astaga, apa yang gue lakukan, jangan bilang gue...." Lio tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, dia beralih memandang wajah polos Naya yang terlelap, dia menjambak rambutnya frustasi seolah apa yang mereka lakukan adalah sebuah dosa besar, "Gue udah berjanji dengan Cleo kalau gue gak bakalan nyentuh dia, sekarang bagaimana ini." lirihnya pada diri sendiri, "Biar bagaimanapun, Cleo gak boleh tahu, gue gak mau kehilangan Cleo, gue sangat mencintainya."
Lio berjalan kearah kamar mandi berniat membersihkan tubuh dan menjernihkan fikirannya yang kalut, dibawah guyuran shower dia bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi semalam, dia mencium paksa Naya dan gadis itu hanya pasrah ketika dirinya melakukan yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri, Lio juga ingat jerit kesakitan Naya karna robeknya selaput dara miliknya, mengingat hal tersebut bisa sedikit menghiburnya karna dialah yang pertama bagi Naya.
****
Naya terbangun, dia meraba-meraba untuk mencari tubuh suaminya, suara gemerisik air membuat Naya menghentikan aktifitas merabanya, dia mencoba untuk duduk, "Awww." lenguhnya karna selangkangannya terasa perih karna aktifitasnya semalam dengan Lio, namun dibalik rasa sakit yang dialaminya hatinya terasa bahagia karna kini dia sudah jadi istri seutuhnya, dia telah menyerahkan mahkota berharga miliknya pada kekasih halalnya, meskipun ada sedikit kesedihan mengingat suaminya menyebut nama perempuan lain. Pintu kamar mandi terbuka yang memampangkan tubuh polos Lio yang hanya melilitkan handuk dipinggangnya, Naya langsung buang muka melihat tubuh itu, meskipun sudah satu bulan lebih menikah tapi karna kejadian semalam dia jadi agak canggung, sedangkan Lio yang baru keluar menelan liurnya melihat tubuh polos Naya.
"Anjirr, apa dia sengaja menggoda gue, walaupun gue gak suka sama dia, melihat pemandangan indah itukan juga bikin iman gue bisa tergoda." batinnya.
Naya yang menyadari kalau Lio masih berdiri ditempatnya merasa heran, dengan memberanikan diri dia memandang mata Lio yang tidak melepaskan pandangan ke arahnya, "Apa yang...." seketika dia sadar dan menjerit setelah sadar kalau Lio memperhatikan tubuh polosnya, "Aaaaa." dia langsung menarik selimut dan menutupi badannya.
Lio terkekeh geli, dia berjalan kearah lemari, "Udah gue lihat juga ngapain pakai ditutupin segala." godanya.
"Mas mesum."
"Emang kenapa, gak dosakan mesum sama istri sendiri, setelah ini siap-siap saja, gue bakalan minta jatah lagi." goda Lio melihat kepolosan Naya.
Naya yang yang percaya dengan ucapan Lio turun dari tempat tidur dan berlari kekamar mandi masih dengan selimut membungkus tubuhny.
"Naya akan ngurung diri dikamar mandi." ujarnya sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Gue punya tenaga gajah, bakalan gue dobrak tuh pintu kamar mandi."
"Isss, apa-apaan sieh mas Lio." desis Naya, wajahnya memerah karna malu.
Setengah jam kemudian, Lio mengetuk pintu kamar mandi karna ternyata Naya belum juga keluar dari kamar mandi, "Kenapa belum keluar."
"Mas mau ngapain, Naya gak mau keluar." balasnya dari dalam.
"Gue cuma bercanda, udah deh sekarang mending lo keluar dan kita turun untuk sarapan."
"Mas duluan aja deh."
"Oke, jangan lama-lama, ntar kakek nayain lo lagi."
Lio turun kebawah untuk sarapan, karna ini hari minggu jadinya dia gak perlu kekantor, dimeja makan sudah ada kakek dan mamanya, bi Dijah yang berpapasan dengannya menyapa, "Pagi tuan muda." dengan senyum ganjil.
"Hmmmm." balasnya heran dengan senyuman bi Dijah.
Lio kemudian duduk, mengambil roti dan selai.
__ADS_1
"Mana Naya." kakek Handoko bertanya.
"Masih diatas." jawab Lio singkat.
Gak lama, Naya kemudian datang, dia menyapa, "Pagi kakek, pagi mama." kemudian duduk disamping Lio.
"Pagi say....." kakek Handoko menghentikan kalimatnya, dia tersenyum dan berkata, "Rambut kalian basah."
"Iya." jawab Lio tidak menangkap maksud kakek Handoko.
"Kalian melakukannya semalamkan."
Lio terbatuk-batuk karna tersedak, dia buru-buru meraih gelas berisi air putih, iya memang mereka melakukannya, tapi Lio menganggap itu sebuah kecelakaan, lagi pula menurutnya, kakeknya tidak perlu bertanya pula, bikin dia malu saja.
Sedangkan Naya hanya tersenyum malu, wajahnya terasa panas.
"Melihat reaksi kalian ini sepertinya kalian telah melakukannya, bagus itu, kalian harus semangat kerja keras, supaya generasi keluarga Rasyad cepat tercetak" kakek Handoko menyemangati.
Naya makin malu, sedangkan Lio tidak tahu harus merespon apa, "Papa, lagi sarapan begini, bisa tidak gak usah dibahas hal begituan." timpal Renata.
Namun kekek Handoko mengabaikan protes putrinya, dia malah memandang Lio penuh minat dan berkata, "Kekek punya temen, dia memiliki sepuluh anak, dia pernah cerita rahasianya sama kakek, katanya, kalau dia punya ramuan khusus supaya membuatnya kuat agar bisa menghasilkan banyak anak, kakek akan meminta ramuan itu supaya kamu juga kuat dan memberikan keturunan yang banyak." ujarnya dengan semangat.
Lio buru-buru memberi penolakan, "Gak usah, gak perlu kek, Lio gak perlu hal-hal begituan."
Lio bergumam tidak jelas, Naya jelas hanya diam saja sambil mengunyah sarapannya.
"Pa, papa membuat mereka salah tingkah." tegur Renata.
"Itu wajar Rena, merekakan masih pengantin baru, jadi wajar saja kalau mereka masih malu-malu."
Begitu kegiatan sarapan berakhir, Naya yang seperti kebiasaanya akan membantu membereskan bekas sarapan dimeja dihentikan oleh kakek Handoko.
"Sayang, apa yang kamu lakukan."
Dengan polos Naya menjawab, "Naya membantu bi Djah dan mbak Wati membereskan piring kotor kakek, emangnya kakek gak lihat." Naya sibuk menumpuk piring tanpa melihat ke arah kakek Handoko.
"Sudah biarkan saja, itu biar Dijah dan Wati yang urus, Lio, kamu mending sekarang ajak Naya ke kamar."
"Ngapain sieh pagi-pagi dikamar, enakan juga bersantai ditaman belakang."
"Sudah kami bersantainya dikamar saja sana sambil olahraga, mumpung hari minggu, iyakan Naya."
"Eh."
kakek Handoko tidak bisa dibantah, "Ayok Lio, ajak Naya sana ke kamar" kakek Handoko membantah.
__ADS_1
"Tapi kek."
"Ayok sana." kakek Handoko mendorong punggung Lio dan Naya.
Lio menutup pintu, Naya disampingnya hanya menunduk malu, jantungnya berdegup kencang, Lio memandang kearah Naya, untuk pertama kalinya Lio memperhatikan wajah polos itu, wajah polos tanpa riasan make up dengan rambut basah.
"Lo mau berdiri aja atau gimana." tegur Lio.
Naya yang tengah sibuk menenangkan debaran jantungnya terlonjak kaget mendengar teguran Lio.
"Eh."
"Maksud gue, daripada berdiri begitu mending lo pijitin gue deh, badan gue pegal-pegel." pegel-pegel karna aktifitas semalam.
"Mijit mas."
"Hmm, lo bisakan."
"Iya."
Lio menarik kaos yang dikenakanya melewati kepala dan membuangnya kelantai, tubuh kotak-kotak Lio terekspos tanpa sensor.
Naya jadi salah tingkah, dia jadi gagap, "Ta pi, tapi, apakah harus buka baju begitu."
"Allahu akbar Naya, apa yang ada difikiranmu sieh, ya jelaslah kalau orang yang bakalan dipijit harus buka baju."
"Eh iya benar juga."
"Kenapa nieh cewek jadi menggemaskan gini ya, apalagi dengan sikap malu-malunya." gumam Lio dalam hati.
"Ayokk."
"Sekarang mas."
"Minggu depan, ya sekaranglah." Lio membanting tubuhnya telungkup ditempat tidur.
"Kenapa masih berdiri saja."
"Itu mas, minyak urutnya dimana."
"Oh iya gue lupa, minyak urutnya ada dilaci meja rias."
Naya berjalan ke arah meja rias, menarik laci dan menemukan benda yang dicarinya, jantungnya semakin berdegup kencang seiring dengan perjalanannya menghampiri Lio ditempat tidur.
****
__ADS_1