
Saat ini Rafa tengah berada diluar kota, lebih tepatnya di kota Malang, dia ditugaskan oleh Lio untuk mengurus beberapa pekerjaan disana, sebenarnya pekerjaannya sudah selesai, tapi Rafa sengaja berlama-lama di Malang, dia ingin menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan menikmati indahnya kota malang, merefres otaknya yang bisa dibilang penuh dengan kerja kerja kerja tiap hari.
Dan saat ini jarum jam menunjukkan angka 10.11, dan Rafa masih meringkuk dibawah hangatnya selimut tebal yang membungkus tubuhnya setelah semalam dia berjalan-jalan menikmati indahnya kota Malang dimalam hari, udara dingin kota malang membuatnya malas untuk membuka mata, sampai suara ketukan dipintu kamarnya membuatnya dengan sangat terpaksa membuka matanya.
"Duhhh, siapa sieh pagi-pagi gini menggangu, tidak tahu apa dia kalau gue tengah menikmati mimpi indah." pagi menurut versi Rafa, karna biasanya kalau libur kerja, jam 12.00 masuk dalam kategori pagi untuk Rafa.
Dengan malas-malasan dia mengangkat tubuhnya untuk duduk, menguap berkali-kali dan menggaruk kepalanya, sementara ketukan dipintu kamarnya masih terdengar dibarengi dengan sebuah suara.
"Pak Rafa, apa bapak sudah bangun, ada kiriman paket untuk bapak."
"Hmmm, iya, tunggu sebentar." Rafa masih mengumpulkan nyawanya sebelum beranjak turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu.
Begitu pintu dibuka, karyawan hotel tersenyum ramah dan memberi sapaan, "Selamat siang pak Rafa, tadi ada kurirnya yang mengantarkan ini untuk pak Rafa." sik karyawan menyodorkan map berwarna coklat pada Rafa.
Rafa mengambil map berwarna coklat yang disodorkan oleh karyawan hotel laki-laki tersebut, sekilas dia hanya menatap map coklat tersebut sambil menduga-duga apa isinya dan siapa pengirimnya, fikirnya, mungkin itu Lio yang mengirim berkas pekerjaan, karna satu-satunya orang yang tahu dirinya di Malang dan tahu tempat hotel dan nomer kamar tempatnya menginapkan cuma Lio.
"Terimakasih ya." gumamnya.
"Sama-sama pak Rafa, kalau begitu saya permisi."
Rafa mengangguk.
Karyawan hotel itu berlalu dari hadapan Rafa.
Rafa menutup pintu kamarnya dan kembali berjalan ke arah tempat tidur sambil membawa map coklat tersebut sambil merutuk, "Sialan sik Lio, dia gak bisa apa membiarkan gue bersenang-senang sedikit, ini dia malah menambah beban pekerjaan yang harus gue lakukan." sambil menatap map coklat itu jengkel seolah-olah itu adalah Lio.
Tanpa berniat membukanya dan memeriksa isi dari map coklat tersebut,
Rafa malah melemparkan map coklat tersebut dengan kasar diatas tempat tidurnya, "Nohh, disana saja lo dulu, gue malas ngurusin elo."
Krukkk
Perutnya tiba-tiba berbunyi, jelas saja dia kelaparan, ini sudah siang dan dia melewatkan sarapan.
Rafa memegang perutnya, "Gue lapar lagi."
Dia berniat mandi terlebih dahulu sebelum keluar mencari sarapan, eh salah, maksudnya adalah mencari makan siang, bisa sieh dia memesan dari pihak hotel agar simpel, tapi dia mau mencari makan diluar sekalian jalan-jalan lagi.
__ADS_1
Saat berjalan menuju kamar mandi, ponselnya yang diletakkan dinakas samping tempat tidur berbunyi, dengan ogah dia berbalik dan berjalan menghampiri nakas untuk menjawab panggilan, "Ini pasti Lio yang nelpon gue, dia pasti mau grecokin gue masalah pekerjaan." duganya.
Namun dugaannya salah, bukan Lio yang menelpon melainkan Gunawan, detektif yang dibayar untuk menyelidiki Cleo.
"Gunawan." gumamnya saat melihat nama sik pemanggil dilayar ponselnya, "Semoga saja dia membawa berita baik." Rafa benar-benar berharap Gunawan membawa berita baik untuk mengembalikan moodnya yang memburuk gara-gara Lio yang tib-tiba mengirimkan berkas pekerjaan padanya.
"Iya Gun, lo bawa berita baikkan."
"Tentu saja bos, lo sudah menerima kiriman gue."
"Kiriman." bingungnya, "Kiriman ap...." matanya tertuju pada map coklat yang dia lemparkan ditempat tidur, dia lupa kalau dia yang menyuruh Gunawan untuk mengirimkan entah apapun itu padanya secara langsung ke Malang karna dia akan berada di Malang selama beberapa hari, yang penting apa yang dikirim tersebut menjadi bukti perselingkuhan Cleo.
"Ohhh, jadi lo yang ngirim map coklat itu ke hotel gue."
"Iya, kan bos yang nyuruh."
Rafa sudah tahu kalau Lio akan menikahi Cleo pada bulan-bulan ini, sehingga dia benar-benar menekan Gunawan untuk sesegera mungkin untuk mendapatkan bukti perselingkuhan Cleo, meskipun Lio sendiri bilang kalau saat menjalin hubungan bersamanya, Cleo tidak pernah bermain gila dengan pria lain dibelakangnya, tapi entah kenapa Rafa tidak percaya dengan penuturan Lio sehingga dia membayar Gunawan untuk menyelidiki Cleo.
"Di dalam map tersebut berisi bukti-bukti perselingkuhan Cleo dengan seorang laki-laki yang sudah memiliki istri, menurut informasi yang gue dapatkan, mereka lumayan lama menjalin hubungan gelap, dan mereka masih menjalin hubungan terlarang itu sampai sekarang." Gunawan menjelaskan hasil penyelidikannya.
"Sudah gue duga." batin Rafa tersenyum puas dengan hasil kerja Gunawan, tidak sia-sia dia menyewa jasa Gunawan.
"Sudah pasti tahulah bos, gue susur sampai tuntas sampai akar-akarnya, bahkan nama istri dan anak-anaknya juga gue tahu." lapornya dengan bangga.
"Lo memang bisa diandalkan Gun."
"Gunawan gitu lho."
"Oke, gue mau lo kirim bukti perselingkuhan Cleo dan laki-laki tersebut ke rumahnya, biar istrinya tahu kelakuan suaminya dibelakang."
"Oke, perintah dilaksanakan."
"Oke, terimakasih atas kerja keras lo Gun, gue akan menambahkan bonus atas kerja lo yang gesit."
"Tanks bos, kalau bos perlu bantuan gue lagi, bos jangan sungkan untuk menghubungi gue."
"Hmmm."
__ADS_1
Rafa memutus sambungan, dia beralih meraih map coklat yang tadi difikirnya adalah berkas kerja yang dikirim oleh Lio.
"Dasar gadis licik, berani-beraninya lo selingkuh dibelakang Lio, dan ngaku-ngaku anak yang lo kandung adalah anaknya Lio." Rafa sangat yakin kalau anak yang kini tengah dikandung oleh Cleo adalah anak laki-laki yang menjadi selingkuhan Cleo.
***
Disebuah rumah, rumah yang terbilang cukup elit karna pemiliknya adalah orang yang cukup berada, saat ini, dirumah tersebut tengah terjadi sebuah pertengkaran yang cukup hebat dimeja makan saat sarapan pagi.
"Ternyata begini kelakuan papa dibelakang mama, bermain gila dengan ****** murahan yang entah papa pungut dari mana." wanita yang baru memasuki ruang makan itu menjerit histeris membuat semua yang ada dimeja makan menghentikan aktifitas makan mereka.
Laki-laki yang dipanggil papa oleh wanita tersebut tidak lain adalah Dani, selingkuhan Cleo sekaligus ayah dari janin yang saat ini tengah dikandung oleh Cleo.
"Apa sieh maksudmu ma, datang-datang marah-marah tidak jelas, mengganggu orang yang lagi sarapan saja." Dani tidak kalah berteriak kepada istrinya, kesal dia karna istrinya yang baru tiba diruang makan marah-marah tidak jelas.
Sedangkan dua anak pasutri itu, remaja laki-laki yang memakai seragam SMP dan anak perempuan yang memakai pakaian merah putih hanya menjadi penonton aksi pertengkaran kedua orang tua mereka.
"Apa maksudku, apa maksudku, dasar laki-laki hidung belang, sudah punya istri dan dua anak masih saja bermain gila dengan gadis murahan diluar sana, apa kamu gak puas hanya denganku hah."
Namanya juga orang bertengkar, sudah pasti saling berteriak satu sama lain.
"Hentikan ma, jangan menuduh sembarangan ya."
Istri Dani yang bernama Febi itu melempar map berwarna coklat yang sejak tadi dipegangnya tepat diwajah Dani, map yang sama seperti yang dikirim oleh Gunawan kepada Rafa, dan pagi ini map itu diterima oleh Febi dari seorang kurir.
Nafas Dani kembang kempis karna menahan amarah akibat perbuatan istrinya yang dengan tidak sopan melempar sesuatu ke wajahnya, Dani memungut map coklat tersebut dilantai, membukanya dan mengeluarkan isinya, matanya membelalak saat melihat foto mesranya bersama Cleo disetiap foto tersebut.
"Siapa wanita murahan yang kamu gandeng dengan mesra itu mas." tanya Febi dengan berapi-api.
"Ini...." Dani mati kutu, tapi dia berusaha untuk membela dirinya, "Ini tidak seperti yang kamu bayangkan ma, percayalah kalau aku dan wanita ini tidak hubungan apa-apa, ini hanya salah paham, aku bisa menjelaskannya."
"Bukti sudah jelas didepan mata, dan kamu masih mau ngelak hah."
"Bukan begitu ma...."
Febi tidak mengizinkan suaminya menyelsaikan kalimatnya, "Jadi gara-gara wanita murahan itu kamu selalu memberikan uang belanja sedikit pada mama, dan memberikan uang-uangmu pada wanita simpanan kamu itu, bener-benar ya kamu mas, kamu tidak memikirkan mama dan anak-anakmu."
Dani kini bungkam mendengar dirinya dicaci maki, dia tidak berusaha lagi untuk membela diri.
__ADS_1
*****