
Lio menghela nafas berat, dia malas menjawab pertanyaan mamanya, dia ingin pergi ke kamar dan tidur untuk menenangkan fikirannya yang kalut, tapi tidak sopan juga kalau dia mengabaikan mamanya begitu saja, wanita yang telah mengandung dan melahirknya, "Iya karna kami melakukannyalah ma, memang karna apa lagi, tidak mungkinkan Naya bisa tiba-tiba hamil sendiri seperti Siti Maryamkan."
"Kamu ini keterlaluan ya Lio, kamu bilang kamu tidak suka dengan gadis kampung itu, tapi malah kamu sentuh juga, sampai membuat dia hamil lagi."
"Aku khilaf ma." ingatan Lio kembali pada malam saat dirinya mabuk berat dan disaat itulah dirinya lepas kendali dan menyentuh Naya untuk pertama kalinya, ditambah lagi ketika dirinya emosi dan melakukan perbuatan itu untuk kedua kalinya, kekhilafannya ternyata lebih dari cukup untuk membuat Naya hamil.
"Khilaf apa doyan kamu sampai bisa membuat gadis kampung itu hamil."
Mendengar ocehan mamanya, fikirannya yang sejak tadi semeraut kini naik level sehingga membuat kepalanya pusing, "Cukup ma, percuma mama nyalahin Lio, toh Naya juga sudah hamil, mama lebih baik berlapang dada menerima calon cucu mama." tandas Lio kesal, dia kemudian pergi meninggalkan mamanya yang menggeram kesal.
"Terima katanya, sampai kapanpun aku tidak akan mengakui anak yang dikandung oleh gadis kampung itu sebagai cucuku."
****
Naya langsung menelpon orang tuanya dikampung begitu dia tiba dikamar, dia ingin mengabari berita bahagia ini kepada orang tuanya, berita yang sangat ditunggu-tunggu oleh ayah dan ibunya.
Naya mengelus perutnya sembari menunggu panggilannya dijawab, Naya tersenyum dan mengajak janin yang berada diperutnya berbicara, "Kamu jangan khawatir ya sayang, meskipun ayah kamu tidak mengharapkan kehadiran kamu, banyak orang yang akan menyayangi kamu, ada ibu, kakek dan nenek, kakek buyut kamu, kakak kamu Bulan."
"Halo asslamualikum Naya." terdengar suara ibunya dari seberang yang mengalihkan perhatian Naya dari perutnya.
"Walaikumusaalm ibu."
"Anakku, apa kabarmu, apa kamu sehat."
"Alhamdulillah Naya sehat ibu, ayah dan ibu bagaimana."
"Ayah dan ibu sehat juga."
"Ibu, Naya hamil." beritahu Naya setelah sedikit berbasa-basi.
Tidak ada sahutan dari ibunya, Naya menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat apakah sambungan masih terhubung atau tidak, ternyata masih, "Ibu, ibu masih disanakan." panggilnya.
"Iya iya, ibu ada disini, apa kamu bilang tadi nak." ibunya sieh sudah mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Naya, hanya saja dia ingin memastikan sekali lagi tentang berita yang disampaikan tadi oleh putrinya.
"Naya hamil ibu." Naya mengulangi.
Terdengar suara ibunya yang berteriak memanggil ayahnya, "Ayahhhh ayahhh, kemari ayah, Naya anak kita hamil ayah." ibunya Naya jelas sangat bahagia mendengar berita kehamilan putranya.
Naya tersenyum tipis, "Ahh ibu, selalu saja heboh begitu."
"Tidak sia-sia ya ibu memberikan Lio obat kuat, itu ternyata sangat manjur." gumam ibunya.
Mendengar ucapan ibunya, Naya melirik ke arah laci meja riasnya, disana, jamu pengantin dan obat kuat pemberian dari ibunya tersimpan rapi tanpa pernah mereka gunakan.
"Asslamualaikum nak." kini suara ayahnya terdengar menyapanya.
__ADS_1
"Walaikumussalam ayah."
"Beneran kamu hamil nak."
Mendengar suara ayahnya, tiba-tiba saja Naya merasa sedih, laki-laki yang selalu tulus menyayanginya, laki-laki yang akan melakukan apapun untuk dirinya, laki-laki yang tidak akan pernah menyakitinya, berbeda dengan suaminya yang tidak pernah menganggap keberadaan dirinya dan tidak menginginkan anak yang kini berada dalam perutnya, Naya mengelus perutnya, "Seandainya ayahmu seperti kakekmu nak." batinnya, Naya tidak kuasa menahan air matanya yang kini mengalir membasahi pipinya.
"Nak, kamu masih disanakan." panggil sang ayah karna Naya tidak kunjung membalas pertanyaannya.
Naya menghapus air matanya, "Iya ayah, Naya hamil." suara Naya terdengar sengau.
"Syukur alhamdulillah gusti Allah, engkau mengabulkan doa hambamu ini." ucapnya penuh dengan rasa syukur begitu memastikan berita bahagia tersebut dari bibir putrinya, "Tapi kenapa kamu menangis anakku." tebak ayahnya, insting seorang ayah, tidak perlu berhadapan dengan putrinya secara langsung untuk mengetahui kalau sang putri kesayangannya menangis.
"Naya hanya terharu ayah, karna pada akhirnya bisa mengabulkan harapan ayah dan ibu." bohongnya karna tidak mungkin mengatakan dengan jujur penyebab dirinya menangis.
"Itu wajar nak, bukan hanya disaat kita bersedih saja kita menangis, kadang saking bahagianya kita juga menangis."
"Iya ayah."
"Ayahh, sini giliran ibu yang ngomong." suara ibunya mengintrupsi percakapannya dengan sang ayah.
"Naya, ini ibu nak." kembali suara ibunya terdengar menyapanya.
"Iya bu."
Ibu kemudian memberi pesan padanya, "Banyak istirahat ya nak, jangan bekerja terlalu berat seperti didesa, karna saat ini kamu lagi hamil."
"Banyak makan sayur dan buah, agar kamu dan bayinya sehat."
"Iya ibu."
"Kalau dirumah suamimu ada pohon buah-buahan, jangan dipanjat seperti pohon jambu dirumah ya nak, takutnya kamu jatuh yang menyebabkan kamu dan bayimu kenapa-napa." pesan sang ibu karna ingat kelakuan putrinya waktu masih gadis.
Naya terkekeh mendengar pesan ibunya, "Iya bu, Naya tidak akan melakukan hal itu."
"Dan maafkan ayah dan ibu ya yang tidak bisa berada disampingmu disaat kamu tengah hamil begini." suara ibunya kini terdengar merasa bersalah.
"Tidak apa-apa ibu, lagian dirumah mas Lio banyak kok yang baik dan perhatian sama Naya, salah satunya adalah Bulan, anak angkat Naya."
"Anak angkatmu."
"Iya bu, aku dan mas Lio atas saran kakek Handoko mengadopsi anak, anaknya cantik dan menggemaskan ibu, Naya sangat menyayanginya, nanti kapan-kapan Naya bawa ke rumah ya biar ibu dan ayah bisa melihatnya."
"Iya nak, ibu sudah tidak sabar bertemu kamu dan anak angkatmu itu."
"Iya bu, kapan-kapan kami pasti akan berkunjung ke desa."
__ADS_1
"Ya sudah ya bu kalau gitu, Naya matikan dulu, assalamualaikum"
"Walaikummussalam."
Berbarengan dengan itu, pintu kamar terbuka dari luar, yang menampakkan tubuh Lio.
Melihat Lio, Naya kembali menyeka matanya yang masih menyisakan air mata yang belum mengering.
Lio berjalan ke kamar mandi tanpa menyapa Naya, begitu Lio melewatinya, Naya merasakan perutnya bergejolak hebat, dan isi perutnya seperti terdorong ke atas, secepat kilat dia mendahului Lio memasuki kamar mandi dan menutupnya, dia kembali memuntahkan isi perutnya.
Hoek
Hoek
"Padahal aku sudah mandi dan pakai parfum begini masih saja dia muntah-muntah." dengus Lio berjalan ke arah sofa panjang dan duduk sembari menunggu Naya keluar, sebenarnya Lio agak kasihan juga dengan Naya, ingin membantu, tapi apa dayanya mengingat Naya akan kembali mual-mual saat berada dekat dengannya.
Beberapa menit kemudian, Naya keluar, mata mereka beradu sesaat dan kemudian mereka sama-sama membuang pandangan.
Terjadi aksi saling diam-diaman diantara mereka.
"Sebaiknya aku tidur dikamar Bulan saja." ujar Naya membuka percakapan lebih dulu.
"Kenapa kamu harus tidur dikamar Bulan."
"Mas tahu sendirikan aku tidak bisa dekat-dekat dengan mas, itu membuatku mual."
"Tapi kenapa, akukan tidak bau kambing, aku harum kok." menyuarakan keheranannya.
"Mana aku tahu, mau mas mandi kek, pakai parfum satu botol kek, Naya tetap tidak suka menciun bau mas." ucap Naya, dalam hati menambahkan, "Sebenarnya bukan Naya yang tidak suka dengan bau badan mas, tapi anak mas, dia mungkin tidak mau deket-deket dengan ayah yang tidak menginginkannya."
"Aneh." gumam Lio mengerutkan kening sembari menatap perut Naya yang masih rata, "Aku tidak pernah menyangka, Naya akan mengandung anakku." batinnya.
"Kamu tidur disini saja Nay, jarak antara kasur san sofakan lumayan jauh, kamu tidak akan mungkin mencium bau badanku dari jarak sejauh ini, dan aku berjanji, tidak akan deket-deket kamu, bagaimana." saran Lio.
Naya terlihat berfikir, "Ya sudah deh." ujarnya pada akhirnya.
"Ya sudah kamu lebih baik istirahat saja."
Naya dengan patuh naik ke tempat tidur.
"Apa kamu ingin makan sesuatu." tiba-tiba saja Lio bertanya karna setahunya orang hamil gampang lapar.
Naya menggeleng.
"Ya sudah kalau begitu, labih baik kamu istirahat sekarang."
__ADS_1
Lio kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
****