Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
BUNDA KANGEN SAMA AYAH


__ADS_3

"Ada apa Nay." tanya Lio begitu dia menempelkan ponsel ditelinganya.


"Hmmm." agak ragu juga Naya mengatakan tujuannya menelpon, "Bulan mas."


"Bulan kenapa, dia baik-baik sajakan." Lio terdengar agak khawatir.


Mendengar nada cemas pada kalimat Lio, Naya menjelaskan, "Iya, Bulan baik-baik saja, mas tidak perlu khawatir, dia hanya...."


"Ayahhh ayah." teriak Bulan memutus ucapan Naya, gadis kecil itu berjingkat-jingkat, "Bunda bunda, Bulan mau bicara sama ayah."


"Iya Bulan sebentar."


Lio terkekeh mendengar suara imut Bulan yang memanggilnya, dia baru menyadari kalau dipanggil ayah merupakan suatu hal yang menyenangkan, "Nay, berikan telponnya." perintahnya.


"Hmmm, nahh ini Bulan, ngomong sama ayah." Naya memberikan ponsel pada Bulan.


"Ayah ayah, ayah lagi sibuk ya." kini suara Bulan terdengar jelas ditelinga Lio.


Lio tersenyum mendengar suara anak angkatnya tersebut, "Gak juga, kenapa."


"Tuhkan Bunda, ayah bilang gak sibuk, bunda bohong ya."


Lio mendengar Bulan bicara dengan Naya, Lio mendengar sepertinya Bulan tengah protes sama Naya.


"Bunda gak bohong sayang, tadi ayah sibuk, ya sekarang mungkin sudah gak sibuk lagi."


"Ada apa memangnya." sela Lio.


"Ayahh, boleh tidak Bulan dan bunda datang ka kantor ayah, kata bunda, bunda kangen sama ayah." bohong Bulan.


Diluar kesadarannya, Lio tersenyum begitu mendengar kalimat anak angkatnya tersebut.


Mendengar ucapan anak angkatnya, tentu saja Naya tidak terima karna dijadikan kambing hitam, "Astagaa Bulan, kenapa jadi bunda yang kangen katanya tadi Bulan yang kangen." serunya, "Mas Lio, jangan dengerkan Bulan, dia yang kangen sama mas, bukan Naya." Naya menjelaskan.


Rafa yang melihat Lio senyum-senyum begitu mengerutkan kening, bertanya-tanya dalam benaknya, "Tumben banget Lio senyum-senyum bagitu saat bicara dengan Naya, apa dia mulai suka ya sama Naya, itu sebabnya mengapa dia mengabaikan telpon dari Cleo, ahh, gue berharap itu benar-benar terjadi." harap Rafa karna dia berfikir Lio tengah ngobrol dengan Naya.


"Kamu yang kangen juga gak apa-apa Nay." goda Lio.


"Ihhh ya gaklah." tandas Naya, "Bulan, gak boleh bohong ya, itu dosa."


Lio bisa mendengar Naya menasehati Bulan.


"Iya bunda, maafin Bulan."


"Kali ini bunda maafkan, tapi lain kali jangan bohong lagi ya."


"Iya bunda."


Lio menyimak percakapan Naya dan Bulan dari sambungan telpon.

__ADS_1


"Ayah, sebenarnya Bulan yang kangen sama ayah, bukan bunda, ayah tidak marahkan sama Bulan karna bohong."


"Gak donk sayang, masak ayah marah sama Bulan."


"Jadi, Bulan dan bunda boleh datang ke kantor ayah."


tanpa perlu berfikir Lio menjawab, "Boleh donk sayang, suruh pak Ridwan yang nganterin kamu dan bunda ya."


"Oke ayah sayang."


"Oke kalau gitu, ayah tunggu."


"Baik ayah, bye."


"Bye Bulan."


Dari percakapan terakhir Lio, Rafa akhirnya tahu Lio tidak sedang bicara dengan Naya, dia kepo dan bertanya, "Bulan, siapa."


"Anak gue."


"Heh, anak lo, sejak kapan lo punya anak, setahu gue Naya juga tidak bunting." bingung Rafa karna tiba-tiba Lio sudah punya anak.


"Anak angkat gue maksudnya."


"Anak angkat, sejak kapan lo ngadopsi anak."


"Ini lo seriusankan."


"Apa sieh maksud lo Raf."


"Iya gue gak percaya saja, kok lo bisa sieh ngadopsi anak, karna setahu gue, lo itu gak suka dengan anak kecil."


"Ya gue dan Naya terpaksa ngadopsi anak demi nurutin keinginan kakek."


"Keinginan tuan sepuh."


"Hmmm, begitulah, lo tahukan kakek gue kalau punya keinginan itu orangnya maksa dan tidak menerima penolakan."


"Maksud gue bukan begitu." ralat Rafa, "Maksud gue kenapa tuan sepuh nyuruh lo dan Naya ngadopsi anak sedangkan lo bisa punya anak sendiri dengan Naya."


"Menurut bi Darmi, katanya kalau ngadopsi anak itu bisa mancing Naya untuk hamil, dan kakek gue termakan dengan mitos yang disampaikan oleh pembokat gue itu."


"Sebuah hal yang percuma sebenarnya, sebanyak apapun anak yang gue dan Naya adopsi, tetap saja Naya tidak akan bisa hamil."


"Maksud lo apa Lio, jangan bilang lo....."


"Yah begitulah." potong Lio seolah tahu kelanjutan apa yang akan Rafa katakan.


"Yang benar saja lo, jadi selama ini lo tidak pernah menyentuh Naya sama sekali."

__ADS_1


"Bukannya gak pernah, gue pernah menyentuh Naya saat gue mabuk malam itu dan yahhh..." Lio menggantung ucapannya, dia tidak ingin menceritakan kalau dia pernah menyentuh Naya untuk kedua kalinya saat dirinya kalap dan mengkasari Naya, "Dan yahh begitulah." lanjutnya ambigu.


"Lo nyentuh Naya cuma sekali pada saat lo mabuk waktu itu."


"Hmmm." gumamnya tidak jelas, "Dan tidak mungkinkan Naya akan hamil gara-gara itu, dan gue tidak mau melakukannya lagi, karna gue berniat menceraikan Naya setelah satu tahun."


"Hahh, lo mau menceraikan Naya, yang benar saja lo." kaget Rafa mendengar hal tersebut.


"Yahh mau bagaimana lagi, sejak awal gue memang tidak mencintai Naya, gue menikahinyakan karna kakek."


"Terus setelah lo bercerai, lo akan menikah dengan Cleo begitu."


"Hmmm, sepertinya begitu." jawabnya tidak yakin.


"Terus kalau lo bercerai dengan Naya, gimana dengan anak yang lo angkat."


"Iya dia tetap sama guelah, gue sepertinya mulai menyayangi anak itu, kalau gue dan Cleo menikah, maka kami yang akan merawatnya."


"Oke, masalah ini selesai, tapi bagaimana dengan tuan sepuh, beliau pasti akan menentang habis-habisan jika lo menceraikan Naya, apalagi beliau sangat menyayangi Naya."


"Kakek tidak seperti yang lo bayangkan Raf, dia memang keras dan pemaksa, tapi dia juga kadang bijaksana dan pengertian, gue akan menjelaskan kalau gue dan Naya tidak saling cinta dan memutuskan untuk berpisah, gue yakin kakek akan mengerti."


"Ternyata lo sudah merencanakan semuanya dengan matang." sindirnya sarkas, Rafa tidak setuju kalau Lio sampai menceraikan Naya, tapi dia bisa apa, "Saat gue fikir nieh anak sudah mulai menyukai Naya, eh dia malah punya niat untuk menceraikan Naya." kesalnya dalam hati.


"Kalau lo sudah menceraikan Naya, bolehkan kalau gue ngedekatin Naya." jelas Rafa tidak serius dengan ucapannya, namun Lio yang mendengar kata-kata Rafa barusan menoleh dengan cepat ke arah Rafa, menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kenapa lo lihat gue kayak gitu, lo gak suka ya gue punya niatan untuk mendekati Naya saat dia sudah jadi janda nantinya."


Entah apa sebabnya, mendengar Rafa berniat mendekati Naya membuatnya tidak suka, "Kenapa lo ingin mendekati Naya, lokan bisa cari wanita berkelas yang jauh daripada Naya, apalagi nanti Naya itu janda."


"Dihhh, buat apa nyari cewek berkelas kalau kerjaannya cuma morotin doank." tandas Rafa.


"Cleo tidak seperti itu." reflek saja Lio berkata begitu mengingat selama menjalin asmara Cleo selalu minta ini itu, dan Lio dengan suka relanya memberikan apa yang Cleo inginkan, dan entah kenapa mendengar ucapan Rafa barusan seolah-olah tengah mengatakan kalau Cleo selama ini cuma morotin dia doank.


"Guekan gak bilang Cleo merotin lo Lio, tapi tuh, kayaknya lo yang sadar sendiri."


Lio termenung, berfikir bahwa apakah Cleo selama ini tulus mencintainya atau hanya ingin morotin dia doank.


"Heii." tegur Rafa melihat sahabatnya itu malah bengong, "Malah bengong lagi."


Membayangkan kalau Cleo selama ini hanya menginginkan hartanya membuat mood Lio tiba-tiba memburuk, dia menutup berkas-berkas yang tadi tengah diperiksanya dan berdiri dari kursi kerjanya, dia berjalan ke arah pintu.


"Heii Adelio, lo mau kemana, kerjaan lo nieh masih numpuk." teriak Rafa.


"Gue butuh angin segar." jawabnya dan keluar begitu saja dari ruang kerjanya.


"Akhhh dasar, mentang-mentang bos, ninggalin kerjaan seenaknya." dumel Rafa.


*****

__ADS_1


__ADS_2