
Entahlah apa yang terjadi, tapi tiba-tiba saja Lio merasa kangen dengan Naya dan Bulan, bayangan wajah Naya yang malu-malu saat dirinya mencium kening Naya terbayang-bayang difikirannya, hal itu membuatnya senyum-senyum sendiri, oleh karna itu, begitu jarum jam menunjukkan angka 05.00 tepat, Lio memutuskan untuk pulang.
"Lo udah mau pulang." tanya Rafa saat melihat bosnya itu tengah bersiap-siap untuk pulang saat dirinya memasuki ruangan Lio.
"Hmmm."
Rafa menatap Lio heran, mendapat tatapan seperti itu tentu saja Lio mengajukan pertanyaan, "Kenapa lo natap gue kayak gitu, kayak gue melakukan dosa besar saja."
"Ini benaran lo mau pulang."
Lio mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat angka yang tertera di arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya, "Apa sieh maksud lo, ini memang sudah waktunya pulangkan."
Rafa berjalan mendekati Lio, "Iya ini bukan seperti lo aja, biasanya lo menjadi orang yang paling terakhir pulang."
"Masak sieh." ternyata dia tidak pernah nyadar dengan kebiasaannya selama ini.
"Ini lo mau langsung balik ke rumah besar atau mampir kemana dulu gitu."
"Gue balik ke rumahlah, emang gue mau mampir kemana."
"Syukurlah dia langsung pulang, gue fikir dia mau ketemu Cleo." kata Rafa dalam hati, dia kembali bertanya, "Gak ada masalahkan dirumah besar."
"Keluarga gue baik-baik saja."
"Bos sepuh sehatkan."
"Kakek gue sehat wal'afiat, semua anggota keluarga gue sehat beserta para pekerja dirumah gue juga sehat kalau lo mau tahu."
"Ohhh, gue fikir, syukurlah kalau semuanya baik-baik saja." lisannya.
"Ya udah deh gue balik duluan, lo gak mau balik."
"Gue baliklah, masa bos out duluan gue ngedekam disini."
Mereka kemudian beriringan keluar, begitu melihat dua atasannya tersebut keluar, Rani langsung berdiri dan bertanya, "Pak Adelio dan pak Rafa sudah mau pulang."
"Hmmm." jawab Lio datar.
"Kok tumben bapak pulang cepat." tuh, bahkan asistennya saja heran, karna memang biasanya Liolah yang pulang paling akhir.
"Ini sudah waktunya pulang, ya memang seharusnyalah saya pulang."
"Ohhh." hanya itu yang keluar dari bibir Rani saking tidak menyangkanya dia mendengar jawaban sang bos.
"Kamu tidak berniat pulang." tanya Rafa.
"Iya pak, saya juga akan pulang."
"Ya sudah kalau begitu kami duluan Ran." pamit Rafa.
__ADS_1
"Iya pak."
Lio dan Rafa kembali berjalan menuju Lift.
"Lio."
"Hmmm."
"Apa yang terjadi dengan Cleo, gue lihat wajahnya kayak menahan kesel gitu saat keluar dari ruangan lo, apa dia dan Naya berantem."
"Setahu gue dia baik-baik saja saat pamit pulang, dan tentu saja Naya dan Cleo tidak mungkin berantem." jawab Lio santai karna memang tidak terlalu memperhatikan ekpresi Cleo saat itu.
"Ohhh." gumam Rafa dan kembali bertanya, "Kenapa lo gak nganterin dia pulang."
"Mana bisa gue nganterin dia saat ada Bulan dan Naya, lagian dia sudah dewasa, diakan bisa naik taksi."
"Baguslah, ternyata Lio sekarang lebih mengutamakan Naya dan anak angkatnya ketimbang gadis itu." batinnya.
"Kalian ngomong apa saja saat gue dan Naya belum memergoki lo dan Cleo pelukan."
"Gak banyak, dia bilang kenapa gue nyuekin dia, tidak menghubungi dia." jawab Lio jujur.
"Bener dugaan gue, Cleo hanya mencintai Rafa karna hartanya doank, buktinya, cewek itu kembali menyodorkan dirinya kembali, gue harap Lio bisa menyadarinya." ingin memperingati sahabatnya itu, tapi Rafa tidak mau nanti dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi Lio.
"Terus, perasaan lo sendiri sama dia gimana setelah beberapa hari mampu menjalani hidup tanpa dirinya."
Rafa menghembuskan nafas berat mendengar ucapan sahabatnya itu, hanya beberapa hari jelaslah tidak bisa membuat Lio menghilangkan perasaanya sepenuhnya pada Cleo.
Setelah itu Rafa tidak menanyakan apa-apa lagi sampai mereka berpisah diparkiran dan memasuki mobil masing-masing.
****
"Makasih ya mas Boy karna sudah mau ngasih saran bahkan nemenin Naya beliin kucing untuk Bulan." ucap Naya saat mereka bertiga keluar dari toko yang menjual berbagai jenis kucing.
Naya memang bertanya sama Boy dimana tempat menjual kucing, tidak disangka, bukannya hanya memberitahu tempatnya, Boy malah mau menemani Naya, katanya dia tahu banyak tentang kucing, dan bisa merekomendasikan jenis kucing yang cocok untuk dipelihara, karna alasan tersebut, Naya tanpa ragu menerima tawaran Boy untuk menemaninya untuk mencari kucing untuk Bulan, karna tidak mau merepotkan, Naya meminta bertemu langsung saja ditokonya, meskipun Boy sebenarnya tidak keberatan sieh menjemput Naya.
"Sama-sama Nay, aku seneng kok bantuin kamu, kapan-kapan kalau kamu butuh bantuan, jangan pernah sungkan untuk menghubungiku." jawabnya tulus.
"Makasih sekali lagi mas bos Boy, tapi Naya tidak mau merepotkan."
"Gak repot kok Nay."
Sedangkan Bulan, gadis kecil itu menggendong kucing berwarna putih halus itu dengan penuh suka cita, dia begitu bahagia karna ibu angkatnya menepati janjinya membelikannya kucing. Kucing yang tidak kalah imutnya dengan Bulan tersebut tidak henti-hantinya mengeong dan menggesek-gesekkan bulunya yang lembut dilengan pemilik barunya.
"Kasih nama siapa ya kucingnya." tanya gadis kecil itu pada diri sendiri dengan suara kecil.
Boy yang mendengar kalimat gadis kecil tersebut menyahut, "Karna kucingnya perempuan seperti Bulan, bagaimana kalau kasih nama Bintang saja, cocokkan, sama-sama menyandang nama benda langit." saran Boy.
"Bintang, nama yang bagus itu." Naya menimpali, "Bagaimana sayang, kamu setuju tidak kalau kucing kamu itu dikasih nama Bintang."
__ADS_1
"Setuju bunda, Bulan suka." seru Bulan antusias, "Nahh kucing lucu, nama kamu sekarang Bintang ya, baguskan."
Ngeong
Ngeong
Sik kucing hanya mengeong, mungkin dia setuju dengan nama yang diberikan padanya.
Boy dan Naya berpandangan dan saling bertukar senyum melihat Bulan mengajak kucingnya bicara.
Tadi, awal mereka bertemu didepan toko, Boy berfikir kalau Bulan adalah adiknya Naya, dan saat gadis kecil yang dianggap adik Naya tersebut memanggil Naya dengan panggilan bunda, Boy bertanya dengan rasa ingin tahu.
"Bunda." gumam Boy dengan dahi berkerut, dia memandang Naya dan Bulan bergantian dengan penuh rasa ingin tahu.
"Bulan ini anak angkatku mas." jelas Naya tanpa menyebut-nyebut Lio sebagai suaminya.
"Anak angkat." Boy sudah seperti orang tolol saja karna selalu mengulang apa yang orang lain katakan.
"Iya, kakek bilang dia kesepian, makanya dia menyuruh Naya mengadopsi anak biar rumah rame."
"Ohhh." gumamnya mengerti dengan penjelasan Naya, dan dia tidak bertanya apa-apa lagi setelah itu.
****
"Tuan sudah pulang." sapa bi Darmi heran saat melihat tuan mudanya tersebut sudah berada dirumah, tidak hanya Rafa dan Rani saja ternyata yang heran, bi Darmi ARTnya juga heran karna tumben tuan mudanya itu pulang lebih awal.
"Hmmmm." gumamnya datar.
"Apa tuan mau dibuatkan teh atau kopi." bi Darmi menawarkan.
"Nanti saja." balasnya melepas jasnya dan melonggarkan dasinya, "Ohh ya, Bulan mana."
"Nona kecil sama nona muda pergi tuan."
Lio langsung melirik bi Darmi cepat, matanya memicing, "Pergi." Lio kemudian melihat jam ditangannya, "Dijam segini."
Agak takut juga sieh bi Darmi mendengar nada dingin tuan mudanya tersebut, dia yakin, tuan mudanya itu kesal mendengar sang istri pergi dan belum kembali, apalagi sudah hampir magrib begini, "Iya tuan, kata nona muda, dia mau membelikan nona kecil kucing, memang nona Naya tidak memberitahu tuan."
Tidak mau menjawab pertanyaan terakhir bi Darmi, Lio kembali bertanya, "Sama siapa mereka perginya."
"Pak Ridwan yang nganterin tuan."
Lio kemudian mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu, dia ingin menunggu kedatangan Naya dan Bulan disana, "Buatkan saya teh bi."
"Baik tuan."
Seperginya bi Darmi, Lio memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut, dia pulang cepat hanya ingin bertemu Naya dan Bulan, tidak tahunya, orang yang ingin dilihatnya ternyata sedang pergi.
****
__ADS_1